Hukum Menghitung Dzikir Menggunakan Tasbih

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Syukur alhamdulillahhirabbil ‘alamin yang telah menganugerahkan nikmat lisan yang dengannya kita dapat berbicara dan berkomunikasi. Berkat kenikmatan yang besar ini, sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah Ta’ala. Dan salah satu bentuk syukur kita terhadap Allah dengan memperbanyak doa dan dzikir kepadaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya di waktu pagi dan petang.” (QS Al-Ahzab [33]: 41-42)

Allah sangat memuji hamba-hambaNya yang senantiasa berdzikir kepadaNya. FirmanNya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali ‘Imran [3]: 190-191)

Tidak menjadi soal bila kita melakukan beribadah di waktu dan kondisi yang kita inginkan karena Nabi beribadah di setiap keadaan yang beliau inginkan, seperti yang disabdakan Nabi,

النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya.” (HR. Muslim Nomor 558)

Situasi dan kondisi juga bagian dari ciptaan Allah yang boleh kita manfaatkan untuk beribadah, namun begitu Allah menyerahkan penuh terhadap hambanya untuk beribadah ditentukan dan disesuaikan dengan keadaannya masing-masing dari pelakunya. Allah berfirman,

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Hai kaumku, beramallah (bekerja dan beribadah) sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan beramal (pula), maka kelak kamu akan mengetahui, (QS. Az-Zumar: 39)

Yang dimaksud sesuai dengan keadaan masing-masing hambanya adalah setiap dari kita dalam hal ibadah sunnah mutlak boleh mengkususkan cara ibadahnya, mengkhususkan waktunya dan juga mengkususkan tempatnya, sebagaimana yang dicontohkan Nabi,

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ فَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mempunyai sebuah tikar yang biasa beliau bentangkan pada siang hari dan beliau jadikan seperti kamar  pada malam hari, lalu beliau shalat padanya. Kemudian para sahabatnya paham hal ini (shalat beliau yang sedemikian dahsyat panjangnya), maka mereka shalat dan diantara beliau Shallallahu’alaihi wasallam dengan mereka ada tikar. Hingga beliau bersabda, ‘Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak pernah jenuh hingga kalian merasa jenuh. Sesungguhnya perbuatan yang paling disukai Allah Azza wa Jalla adalah yang berkesinambungan, walaupun sedikit’. (HR. Nasai Nomor 754)

Dalam hadits tersebut di atas ada tiga point yang disyariatkan oleh Nabi, tempat, waktu, dan hitungan. Ini menunjukkan dalam beribadah sunnah mutlak kita boleh mengkhususkan tempatnya, waktunya dan hitungannya sesuai dengan kondisi kita. Dalam soal hitungan banyak hadits yang menunjukkan variasi berapa jumlah dzikir yang kita lakukan, namun pada prinsipnya kita boleh melakukan ibadah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kita, seperti cotoh hitungan dalam sebuah hadits berikut,

إِذَا صَلَّيْتُمْ فَقُولُوا سُبْحَانَ اللَّهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَشْرًا فَإِنَّكُمْ تُدْرِكُونَ بِذَلِكَ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ مَنْ بَعْدَكُمْ

‘Apabila kalian telah mengerjakan shalat maka ucapkanlah ‘Subhaanallah’ tigapuluh tiga kali, ‘Alhamdulillah’ tigapuluh tiga kali, ‘Allahu Akbar’ tigapuluh tiga kali, dan Laailaaha Illallah sepuluh kali maka dengan semua itu kalian dapat mengejar orang-orang yang telah mendahului kalian dan mendahului orang-orang setelah kalian. (HR. Nasai Nomor 1336)

Dalam hadits di atas disebutkan tentang berapa jumlah dzikir yang dianjurkan untuk dibaca di dalam shalat, setelah shalat atau di luar shalat. Mulai dari bacaan 1 kali, 3 kali, 7 kali, 10 kali, 33 kali dan lainnya. Berikut ini akan disebutkan jumlah-jumlah yang secara jelas dianjurkan dalam beberapa hadits untuk dibaca lebih dari seratus kali. Sekaligus ini sebagai bantahan atas sebagian orang di masayarakat kita yang “mengharamkan” membaca dzikir dengan hitungan-hitungan tertentu dan juga kita boleh menggunakan alat apapun dalam menghitung amal ibadah kita seperti menghitung menggunakan ruas jari tangan, atau menggunakan benda-benda lain seperti biji-bijian, bebatuan, atau alat hitung seperti tasbih. Disamping Nabi pernah melakukan dan membiarkan istrinya berkreasi dalam berdzikir menggunakan benda-benda tertentu seperti biji kurma, kerikil dal lain sebagainya. Sebagaimana tergambar dalam hadits berikut,

Hadits 1:

رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا فَقَالَ لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذِهِ أَلَا أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ فَقُلْتُ بَلَى عَلِّمْنِي فَقَالَ قُولِي سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku sementara ditanganku terdapat empat ribu biji kurma, yang aku gunakan untuk (Menghitung dzikir subhanallah-red) bertasbih. Kemudian beliau berkata: “Sungguh engkau telah bertasbih dengan ini! Maukah aku ajarkan kepadamu sesuatu (kalimat dzikir) yang lebih banyak pahalanya daripada apa yang engkau gunakan untuk bertasbih (kalimat dzikir subhanallah)?” Maka aku katakan; ya, ajarkan kepadaku. kemudian beliau bersabda: “Ucapkanlah; SUBHAANALLAAH, ‘ADADA KHALQIHI (Maha suci Allah, sebanyak jumlah makhluqNya).” (HR. Tirmidzi No. 3477)

Hadits 2:

عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهَا أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلُ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلُ ذَلِكَ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِثْلُ ذَلِكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلُ ذَلِكَ

“dari [Aisyah binti Sa’d bin Abu Waqqash] dari [ayahnya] bahwa ia bersama Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam menemui seorang wanita sementara dihadapannya terdapat biji-bijian atau kerikil yang dipergunakan untuk bertasbih. Kemudian Nabi Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku akan memberitahukan kepadamu sesuatu yang lebih mudah bagimu dari pada ini dan lebih utama!” Lalu beliau mengucapkan: (Maha Suci Allah sebanyak makhluk yang Dia ciptakan dilangit, dan Maha Suci Allah sebanyak makhluk yang Dia ciptakan di bumi, dan Maha Suci Allah sebanyak makhluk yang Dia ciptakan diantara keduanya dan Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan, dan Allah Maha Besar seperti itu, segala puji bagi Allah seperti itu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah seperti itu, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali karena Allah seperti itu) (HR. Abu Daud Nomor 1282)

Hadits 3:

عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهَا أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ قَالَ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ

“dari [Aisyah binti Sa’d bin Abu Waqqash] dari [ayahnya] bahwa ia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui seorang wanita (Shafiyyah) dan dihadapannya terdapat biji kurma, atau kerikil yang ia gunakan untuk bertasbih (Untuk menghitung kalimat dzikir: SUBHANALLAH): . Kemudian beliau berkata: “Maukah aku kabarkan kepadamu mengenai apa (Lafadz dzikir tasbih) yang lebih ringan (afdhal) bagimu dari hal ini (Kalimat dzikir SUBHANALLAH) atau lebih baik? Yaitu mengucapkan; SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIS SAMAA’I, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIL ARDHI, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA BAINA DZALIK, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA HUWA KHALIQUN. ALLAAHU AKBAR MITSLA DZALIK, WAL HAMDULILLAAHI MITSLA DZAALIK, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHI MITSLA DZAALIK. (Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan di langit, Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptaan di bumi, Maha Suci Allah sebanyak apa yang ada diantara hal itu, Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan, Allah Maha Besar sebanyak itu, segala puji bagi Allah sebanyak itu, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah sebanyak itu).” (HR. Tirmidzi Nomor 3491)

Dalam hadits di atas dapat disimpulkan beberapa point pemahaman, diantaranya;

  1. Nabi membiarkan Shafiyyah menghitung dzikir menggunakan benda-benda kayu seperti biji kurma ataupun sejenis bebatuan seperti kerikil.
  2. Pada hadits-hadits yang sejenis di atas (terkait menghitung dzikir menggunakan benda) sama sekali tidak ada kalimat larangan dari Nabi menghitung dzikir menggunakan alat bantu benda.
  3. Ada sebuah kalimat “lebih baik tersebut tidak membandikan antara benda yang digunakan Syafiyah untuk berdikir dengan lafadz dikir yang diajarkan nabi, namun sebetulnya dengan kata “lebih baik tersebut perbandingan antara bacaan dzikir tasbih Shafiyah yang umumnya menggunakan kalimat SUBHANALLAH oleh nabi diberi tambahan kalimat yang lebih panjang sehingga bobot pahalanya lebih banyak. Dan kalim tasbih tersebut dianggap lebih afdhal, yakni kalimat: (SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIS SAMAA’I, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIL ARDHI, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA BAINA DZALIK, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA HUWA KHALIQUN. ALLAAHU AKBAR MITSLA DZALIK, WAL HAMDULILLAAHI MITSLA DZAALIK, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHI MITSLA DZAALIK). Hadits di atas bukan dimaksudkan membandingkan keutamaan dzikir tasbih dengan dengan alat tasbih, namun perbandingan keutamaan tersebut antara apa yang dibaca Shafiyah yaitu kalimat SUBHANALLAH dengan kalimat yang diajarkan oleh Nabi yakni SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIS SAMAA’I….. dan seterusnya. Berarti ketika nabi mengatakan maukah kamu aku ajari dzikir tasbih yang lebih utama bukan bentuk pelarangan penggunaan alat-alat menghitung dzikir seperti “tasbih” yang terbuat dari biji-bijian, bebatuan dan alat lainnya. Pemahaman ini berdasarkan sabda Nabi,

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْلَى آلِ طَلْحَةَ قَالَ سَمِعْتُ كُرَيْبًا مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ جُوَيْرِيَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ قَالَتْ أَتَى عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُدْوَةً وَأَنَا أُسَبِّحُ ثُمَّ انْطَلَقَ لِحَاجَةٍ ثُمَّ رَجَعَ قَرِيبًا مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالَ مَا زِلْتِ قَاعِدَةً قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ أَلَا أُعَلِّمُكِ كَلِمَاتٍ لَوْ عُدِلْنَ بِهِنَّ عَدَلَتْهُنَّ أَوْ لَوْ وُزِنَّ بِهِنَّ وَزَنَتْهُنَّ يَعْنِي بِجَمِيعِ مَا سَبَّحَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“dari [Muhammad bin ‘Abdurrahman] bekas budak keluarga Thalhah, ia berkata; aku mendengar [Kuraib] budak Ibnu Abbas, menceritakan dari [Ibnu Abbas] dari [Juwairiyah binti Al Harits] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku waktu Shubuh, ketika itu aku sedang bertasbih (berdzikir kalimat SUBHANALLAH), kemudian beliau pergi untuk suatu keperluan dan kembali lagi sebelum pertengahan siang, beliau bersabda: “Masihkah kamu duduk (bertasbih)?” aku menjawab, “Ya.” Beliau lalu bersabda: “Maukah kamu aku ajari beberapa kalimat jika ia diseimbangkan dengannya (bacaan dzikir SUBHANALLAH) maka ia akan seimbang, atau jika ia ditimbang maka ia akan sama timbangannya, yakni dengan semua yang kamu tasbihkan; SUBHAANALLAH ‘ADADA KHALQIHI (Maha suci Allah sejumlah hitungan makhluk-Nya) tiga kali, SUBHAANALLAH ZINATA ‘ARSYIHI (Maha Suci Allah menurut kebesaran Arsy-Nya) tiga kali, SUBHAANALLAH RILHA NAFSIHI (Maha Suci Allah menurut keridlaan-Nya) tiga kali, dan SUBHAANALLAH MIDADA KALIMATIHI (Maha Suci Allah sebanyak paparan kalimat-Nya) tiga kali.” (HR. Ahmad Nomor 25533)

Namun walaupun berdzikir menggunakann benda-benda diperbolehkan dan tidak dilarang, kebiasaan nabi dalam berdzikir menggunakan ruas-ruas jari, sebagaimana makna yang terkandung dalam hadits berikut,

Hadits 1:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَّتَانِ لَا يُحْصِيهِمَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ يُسَبِّحُ أَحَدُكُمْ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا وَيَحْمَدُ عَشْرًا وَيُكَبِّرُ عَشْرًا فَهِيَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ فِي اللِّسَانِ وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ وَأَنَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهُنَّ بِيَدِهِ

” Abdullah bin ‘Amru melanjutkan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda lagi: ‘Shalat lima waktu lalu setiap selesai shalat bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali. Semua hal tersebut bernilai seratus lima puluh di lisan dan seribu lima ratus di mizan (timbangan amal di akhirat). Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghitung dzikir dengan jari-jarinya,

Hadits 2:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُنَّ أَنْ يُرَاعِينَ بِالتَّكْبِيرِ وَالتَّقْدِيسِ وَالتَّهْلِيلِ وَأَنْ يَعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ

“bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka (para wanita) agar menjaga takbir, pensucian Allah, serta tahlil, dan menghitung dzikir menggunakan ruas-ruas jari, karena ruas-ruas tersebut akan ditanya dan diminta untuk berbicara. (HR. Abu Daud Nomor 1283)

Hadits 3:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ بِيَمِينِهِ

aku melihat Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam menghitung tasbih. Ibnu Qudamah berkata: yaitu dengan tangan kanannya. (HR. Abu Daud. No. 1248)

Hadits 4:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam bertasbih dengan menggunakan jarinya -untuk menghitung jumlah tasbihnya.-” (HR. Nasai Nomor 1338)

Hadits di atas mengenai kebiasaan Nabi bedzikir menggunakan ruas jari bukan sebuah perintah keharusan namun sekedar anjuran menghitung bilangan dzikir menggunakan jari). Semua makna tentang cara menghitung dzikir nabi menggunakan ruas jari merupakan kebiasaan yang boleh tidak menirunya, namun juga lebih baik bila kita menirunya karena hal semacam ini (menghitung dzikir menggunakan alat hanya tergolong masalah furuk yang sifatnya mubah).  Sehingga dapat disimpulkan bahwa menghitung dzikir menggunakan benda bukanlah perkara yang dilarang karena bukan masalah pokok agama, karena tidak ada satuk bukti dari teks Al-Qur’an maupun Hadits dengan nyata melarangnya, namun begitu kitika kita menghitung bilangan dzikir menggunakan berbagai benda bukanlah sesuatu yang sunnah yang akan menambah nilai pahala ketika kita lakukan. Namun benda-benda seperti biji-bijian, bebatuan, atau mesin penghitung yang semuanya disebut “TASBIH” merupakan hanya alat bantu saja agar kita lebih konsentrasi dalam menghitung dzikir yang banyak kita lakukan. Menggunakan alat “tasbih” bukan larangan tapi juga bukan kesunnahan, jangan berlebihan dalam beragama dengan menganggap sunnah sesuatu amalan yang memang tidak disunnahkan. Begitu juga sudah dianggap berlebihan dalam beragama bilamana ada pihak yang mempersoalakan dan membid’ahkan penggunaan alat “tasbih” dalam berdzikir ketika tidak ada dalil satupun yang melarangnya, sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maidah[5]: 87)

Jangan mudah menghukumi sesuatu yang Allah sendiri tidak melarangnya, karena hal itu termasuk kelancangan dalam hal agama. Allah SWT berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka adzab yang pedih. (QS. An-Nahl [16]: 116-117)

Agama Islam itu mudah jangan dipersulit, karena Allah menghendaki kemudahan kepada semua hambanya. Allah berfirman,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَوَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Namun begitu, walaupun dalam menjalankan syariat agama mudah jangan kemudian kita sepelekan.