Hukum Menghias Masjid dengan Ornamen dan Kaligrafi Al-Qur’an

Nyaris tidak ada satupun masjid di seluruh dunia tidak terdapat hiasan, baik yang berupa ornamen maupun berupa kaligrafi. Bahkan Masjidl Haram dan Masjid Nabawi hingga makam Nabi tidak luput juga terdapat hiasan dan kaligrafinya. Mereka tidak mengingkari fakta tersebut, sehingga hal ini sudah cukup dianggap bahwa umat Islam telah bersepakat (ijma umat wal ulama) bahwa menghias dan membangun masjid secara megah dibenarkan.

Terlepas dari telah terjadinya ikhtilaf di kalangan kecil ulama, namun secara umum mayoritas ulama dan mayoritas umat Islam sepakat menerima masjid untuk dihiasi. Ada beberapa pertimbangan kenapa hampir semua masjid dibangun secara megah dan penuh dengan hiasan adalah sebab masjid merupakan simbol harga diri umat Islam di hadapan umat lain.

Di samping memang masjid sebagai pusat syiar kegiatan umat Islam, seperti menghidupkan masjid dengan banyak kegiatan di luar salat, zikir, dan mengaji. Keindahan bangunan masjid itu sendiri juga bisa sebagai syiar agama Islam di hadapan umat lain.

Hiasan kaligrafi dipasang pada dinding-dinding masjid bukan hanya sekedar hiasan, pada prinsipnya, penggalan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditempel pada dinding masjid memiliki pesan untuk mendorong umat Islam yang membacanya senantiasa berpegang teguh pada firman-firman Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya tetap di atas kesabaran.” (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3)

Salah satu cara dalam mengingatkan sesama muslim bisa menggunakan berbagai macam media, di mana salah satu medianya adalah kutipan-kutipan ayat di dinding masjid. Perkara mengingatkan umat Islam pada kebaikan menggunakan kutipan ayat yang ditempelkan pada dinding masjid tentunya merupakan hal yang boleh hukumnya. Bahkan menulis ayat dan hadits tertentu dengan maksud memberikan motivasi ibadah, syi’ar Islam serta agar masjid terlihat indah dengan kaligrafi yang bagus, termasuk persoalan yang diperbolehkan. Islam disamping memperhatikan aspek hukum, juga sangat memperhatikan aspek etika dan estetika.

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha-Indah dan menyekai keindahan.” (Hadits Muslim Nomor 147, Tirmidhy Nomor 61, dan Ahmad Juz IV; hal. 133, 134)

Terkait dengan mengutip dan menulis ayat-ayat Al-Qur’an sudah menjadi bagian dari syariat agama Islam. Penulisan al-Qur’an (al-jam’u fi ash-shuthur) baik di pelepah kurma, bebatuan, dedaunan hingga kulit binatang yang sudah disamak, merupakan perkara yang jamak dilakukan oleh para sahabat dan juru tulis wahyu (kuttab an-Nabi/kuttab al-wahyi), sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut ini,

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ جَمَعَ الْقُرْآنَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعَةٌ كُلُّهُمْ مِنْ الْأَنْصَارِ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَبُو زَيْدٍ

“Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, (ia) berkata; saya telah bertanya kepada Anas bin Malik ra., siapakah orang yang telah mengumpulkan al-Qur’an pada masa Nabi saw? Anas menjawab: ada empat orang seluruhnya dari kaum Anshar, yaitu; Ubai bin Ka’ab, Muaz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar bin Khattab orang yang pertama kalinya mengusulkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq untuk mengumpulkan dan membukukan (memushafkan) al-Qur’an agar tidak hilang seiring dengan banyaknya para huffazh (para penghafal Al-Qur’an) yang meninggal baik saat peperangan maupun lainnya. Sebagaimana dijelaskan dalam penggalan riwayat al-Bukhari berikut ini,

قَالَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَعُمَرُ عِنْدَهُ جَالِسٌ لَا يَتَكَلَّمُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلَا نَتَّهِمُكَ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … فَقُمْتُ فَتَتَبَّعْتُ الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ مِنْ الرِّقَاعِ وَالْأَكْتَافِ وَالْعُسُبِ وَصُدُورِ الرِّجَالِ

“Zaid bin Tsabit berkata dan Umar duduk bersamanya tanpa bicara sedikitpun. Lalu Abu Bakar berkata (kepada Zaid bin Tsabit): sesungguhnya engkau adalah seorang yang muda belia, cerdas dan kami tidak menyangsikanmu sedikitpun. Engkau telah menulis wahyu bagi Rasulullah saw … … lalu saya berdiri (menerima amanah tersebut), lalu saya mencari dan mengumpulkan al-Qur’an dari kulit-kulit binatang (yang sudah disamak), tulang-tulang, pelepah-pelepah kayu (kurma) dan dari hafalan para sahabat.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Menghias masjid juga bagian dari cara umat Islam memakmurkan masjid. Memakmurkan masjid bukan hanya diisi dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Namun menghiasi masjid menjadi indah sehingga banyak umat Islam yang tertarik dan lebih betah untuk mendatangi masjid juga bagian dari upaya untuk memakmurkan masjid itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ. إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ}

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18)

Bukanlah yang dimaksud dengan memakmurkan masjid-masjid Allah adalah dengan hanya berdzikir kepada Allah dan menegakkan syariat-Nya di dalamnya. Namun memakmurkan masjid juga dapat diartikan dengan menghiasi dan mendirikan fisik (bangunan)nya sehingga dapat menarik umat berkujung ke masjid.

Namun walaupun hukumnya boleh menghiasi masjid dengan berbagai ornamen dan kaligrafi, namun tidak boleh sampai berlebih-lebihan sehingga terjerumus pada sikap berbangga-bangga. Maksud dari berbangga-bangga di sini adalah masjid dibangun dengan megah sehingga dapat memalingkan niat asal bahwa masjid itu dibangun untuk kepentingan beribadah mendekatkan diri kepada Allah.

Jangan sampai masjid sudah dibangun dengan indah dan megah namun sepi dari kegiatan keagamaan. Berbangga-bangga dengan cara seperti inilah yang pernah dikecam oleh sahabat Anas bin Malik Al-Anshoriy radhiyallahu anhu ketika beliau berkata,

يَتَبَاهَوْنَ بِهَا ثُمَّ لاَ‏‎ ‎يَعْمُرُوْنَهَا إِلاَّ‏‎ ‎قَلِيْلاً

“Mereka berbangga-bangga dengan masjid-masjid, lalu mereka tidak memakmurkannya, kecuali jarang.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Dapat disimpulkan bahwa hukumnya boleh menulis ayat Al-Qur’an baik pada pelepah kayu (papan dan sejenisnya), kulit dan tulang binatang yang halal dimakan seperti sapi dan kambing dan media lainnya. Namun, walaupun hukumnya boleh tidak berlaku mutlak, maksudnya dilarang menulis kutipan Al-Qur’an pada benda yang najis dan berada di tempat-tempat najis dan kotor, seperti di toilet dan sejenisnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ نَزَعَ خَاتَمَهُ

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk ke kamar kecil beliau menanggalkan cincinnya (yang bertuliskan Muhammad Rasulullah).” (Hadits Riwayat Tirmidzi, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Riwayat Hadits tersebut merupakan dalil bahwa walaupun hukum menulis kutipan Al-Qur’an boleh, namun dilarang membawa, menyebut maupun menuliskan nama-nama Allah, Rasulullah dan al-Qur’an pada tempat-tempat yang dianggap jorok dan najis.

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke