Hukum Menghadiahkan Manfaat Terlaksananya Wasiat untuk Orang yang Sudah Meninggal

Sebagian orang berkata bahwa melaksanakan wasiat orang yang telah meninggal dunia adalah perbuatan yang tidak ada manfaatnya dan mengada-ada. Alasannya, karena orang yang telah meninggal dunia itu sudah terputus amalnya, sehingga wasiat itu tidak perlu dilaksanakan. Tentu saja pernyataan yang demikian itu tidak benar karena bertentangan dengan dalil-dalil yang ada. Persoalan orang yang meninggal dunia telah terputus amalnya, baca pada pembahasan berikut;

Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Namun yang jelas, menjadikan hal itu sebagai dalil untuk tidak melaksanakan wasiat orang yang telah meninggal dunia adalah tidak tepat, dan justru itulah yang mengada-ada. Mengapa? Karena dalil-dalil tentang wasiat dan pelaksanaannya telah diatur dengan jelas di dalam syariat Islam.

Perlu diketahui bahwa wasiat dari seorang yang sudah meninggal dunia telah diatur dalam syariat Islam dan sangat bermanfaat bagi mayit. Dasar hukumnya bersumber dari Al-Qur’an, Hadits dan Ijma’ para ulama.

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al-Baqarah Ayat 180)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidaklah seseorang mewasiatkan suatu hak untuk seorang Muslim, lalu wasiatnya belum ditunaikan hingga dua malam, kecuali wasiatnya itu diwajibkan di sisinya.” (Hadits Bukhari Nomor 2533, Hadits Abu Daud Nomor 2478, Hadits Nasai Nomor 3557)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ مَرَضٍ أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَ بِي مِنْ الْوَجَعِ مَا تَرَى وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا قَالَ فَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ الثُّلُثُ يَا سَعْدُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ ذُرِّيَّتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“dari [‘Amir bin Sa’ad bin Malik] dari [bapaknya] berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjengukku pada waktu hajji wada’ ketika aku sakit yang tidak menyebabkan kematian. Aku berkata; “Wahai Rasulullah, aku rasakan sakitku semakin parah. Begaimana pendapat anda, aku memiliki banyak harta namun aku tidak memiliki orang yang akan mewarisinya kecuali satu anak perempuanku. Apakah aku boleh mensedekahkan dua pertiga hartaku?”. Beliau menjawab: “Tidak”. Dia berkata; “Apakah boleh aku bersedekah seperduanya?”. Beliau menjawab: “Sepertiga, wahai Sa’ad. Dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya bila kamu meninggalkan keturunanmu dalam keadaan berkecukupan itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, lalu mereka mengemis meminta-minta kepada manusia.” (Hadits Bukhari Nomor 3643)

Sedangkan para ulama sudah sepakat (ijma’) bahwa wasiat itu hukumnya sunnah muakkad. Selain dalam perkara harta (materi), wasiat juga dibolehkan dalam perkara yang bersifat nonmateri, dengan catatan wasiat itu tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah atau yang melanggar aturan-aturan syariat. Misalnya, wasiat seorang ayah agar anaknya menghafal Al-Qur’an setelah kematiannya, atau membangun masjid (mushala) yang kemudian diwakafkan atas namanya, atau menyembelih kurban atas namanya, dan sebagainya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عَنْ حَنَشٍ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ أَمَرَنِي بِهِ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا أَدَعُهُ أَبَدًا

“dari [Hanasy] dari [Ali] Bahwasanya ia pernah berkurban dengan dua ekor kambing; seekor untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan seekor lagi untuk dirinya sendiri, hingga ia pun ditanya tentang hal itu. Ali menjawab; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan hal itu kepadaku, maka aku tidak akan meninggalkannya selamanya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1415)

Dari riwayat di atas bisa dilihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan kepada Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu agar berkurban dengan menyembelih 2 ekor kambing, yang satu untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan lainnya untuk Ali radliallahu ‘anhu sendiri. Maka jelaslah bahwa dalam hal ini Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu memenuhi wasiat seseorang yang telah wafat, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun ada sebagian golongan dari umat Islam yang mengatakan bahwa wasiat seseorang yang sudah meninggal dunia tidak perlu dipenuhi karena sudah terputus amalnya. Tentu saja sikap Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu yang memenuhi wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meskipun beliau telah wafat lebih layak diterima dan sesuai dengan syariat Islam dibandingkan pendapat orang yang mengabaikannya.

Melaksanakan wasiat hukumnya wajib dan bermanfaat bagi si mayit. Di samping itu sebuah wasiat bila tidak dilaksanakan sedangkan tidak ada penghalang sedikitpun untuk dilaksanakan tentunya hal itu akan menjadi beban bagi si mayit. Jika diwasiatkan oleh seseorang untuk menyampaikan sesuatu, lalu tidak disampaikan, maka berdosa. Tentu saja dengan catatan wasiat itu tidak mengandung kemaksiatan dan melanggar hukum-hukum syariat.

Jika seseorang berwasiat dengan sesuatu yang mengandung maksiat dan melanggar aturan syariat, maka wasiat itu tidak boleh ditunaikan. Misalnya, wasiat yang berisi pemutusan hubungan silaturahim, wasiat agar anaknya tidak diberi warisan, dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah, hanyasanya ketaatan itu di dalam kebajikan.” (Hadits Muslim Nomor 3424)

Berdasarkan berbagai keterangan di atas jelaslah bahwa memenuhi wasiat orang yang sudah meninggal dunia adalah wajib, bukan bid’ah atau mengada-ada, selama isi wasiat tidak mengandung maksiat kepada Allah dan tidak melanggar hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.

Lalu, bagaimana dengan dalil yang diajukan oleh orang yang mengabaikan melaksanakan wasiat orang yang telah meninggal dunia dengan alasan telah terputus amalnya?

Mari kita simak dulu dalilnya:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah (tidak lagi bisa menambah) segala amalan(usaha)nya kecuali (tetap mendapat aliran pahala dari) tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 3084)

Hadits itulah yang sering dijadikan dalil untuk menolak wajibnya menunaikan wasiat dari orang yang sudah meninggal dunia.

Coba perhatikan! Adakah bunyi hadits tersebut memperlihatkan bahwa wasiat tidak perlu ditunaikan karena si pemberi wasiat telah meninggal dunia? Sama sekali tidak ada. Jika yang menjadi alasan bahwa sudah tidak ada hubungan antara yang hidup dengan yang mati, maka perlu dipahami bahwa hadits di atas sama sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk memperlihatkan telah terputus hubungan antara yang hidup dengan yang mati.

Makna inqatha’a ‘anhu amaluhu adalah terputus amal si mayit. Maknanya, setelah kematiannya, si mayit tidak bisa lagi menambah amal dari hasil usahanya sendiri (selain 3 perkara yang dikecualikan). Mengapa tidak bisa? Karena dia telah meninggal dunia. Si mayit tidak lagi bisa menambah amal shalatnya, zakatnya, sedekahnya, hajinya, dan sebagainya, karena kemampuannya untuk melakukan itu sudah tidak ada. Dia telah meninggal dunia.

Namun, meskipun telah meninggal dunia tidak berarti hubungannya dengan yang hidup terputus. Yang hidup dengan yang mati masih menjalin hubungan. Apa buktinya? Anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada setiap Muslim agar mengucapkan salam saat melewati kompleks pemakaman kaum Muslimin.

Abu Hurairah radliallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengunjungi kuburan seraya mengucapkan;

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

“Semoga keselamatan untuk kalian wahai penghuni rumah kaum Mukminin, insya Allah kami akan menyusul kalian.” (HR Muslim)

Panggilan salam yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ahli kubur memperlihatkan terjalinnya hubungan antara yang hidup dengan yang mati. Meskipun jasad mereka mati dan hancur di dalam bumi namun ruh mereka hidup dan mengetahui salam yang disampaikan oleh yang hidup untuk mereka. Jika hubungan itu tidak terjalin tentulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan mengajarkan ucapan salam untuk mereka karena ia hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekali-kali takkan mengajarkan kepada umatnya sesuatu yang sia-sia.

Orang yang sudah wafat pun mengetahui apa yang diamalkan oleh orang yang hidup. Jika Anda diamanahi wasiat, lalu tidak Anda tunaikan maka hal itu akan diperlihatkan Allah padanya dan tentu membuatnya kecewa. Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah, beramallah kamu, niscaya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang Mukmin akan melihat amalmu itu” (QS. At-Taubah [9]: 105)

Tatkala menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menuliskan bahwa amal orang-orang yang masih hidup diperlihatkan kepada kaum kerabat dan kabilahnya yang telah meninggal dunia di alam barzahnya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud Ath-Thayalisi dari Jabir bin Abdullah radliallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اِنَّ اَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى اَقْرِبَائِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ فِي قُبُوْرِهِمْ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اِسْتَبْشَرُوْا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوْا: اَللَّهُمَّ الْهِمْهُمْ اَنْ يَعْمَلُوْا بِطَاعَتِكَ

“Sesungguhnya amal-amal kalian ditampilkan (diperlihatkan) kepada kaum kerabat dan famili kalian di alam kubur mereka. Jika amal perbuatan kalian itu baik, maka mereka merasa gembira dengannya. Dan jika amal perbuatan mereka itu sebaliknya, maka mereka berdoa, “Ya Allah, berilah mereka ilham (kekuatan) untuk melakukan ketaatan kepada-Mu.”

Selengkapnya baca;

Hukum Melaksanakan Wasiat Orang yang Telah Wafat

Kirim Manfaat Melaksanakan Wasiat dari Orang yang Sudah Meninggal

Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Melaksanakan Wasiatnya

Berdasarkan penjelasan tersebut jelaslah bahwa kematian seseorang tidaklah membuat terputusnya hubungannya dengan orang lain (apalagi keluarga) yang masih menjalani kehidupan di dunia. Itulah sebabnya, pendapat orang yang tidak mau menunaikan wasiat dengan alasan orang yang berwasiat telah meninggal dunia sehingga telah putus hubungan dengannya merupakan pendapat yang menyalahi syariat Islam dan wajib ditolak. Sekali lagi, wasiat harus ditunaikan selama isi wasiat itu tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah.

Wallahu a’lam

Oleh Ustadz Abiza Elrinaldi

Bagikan Artikel Ini Ke