Hukum Menghadap Sutrah (Penghalang) Ketika Shalat

Salah satu kesunnahan dalam ibadah shalat ada menghadap sutrah (penghalang-penanda). Sedangkan menurut pandangan ilmu fikih, sutrah adalah segala sesuatu yang yang berada atau sengaja diletakkan di depan orang yang sedang shalat, dapat berupa tasbih, sajadah, pensil, tongkat, pilar, batu, lidi, atau mungkin ponsel di zaman ini. Keberadaan sutrah tersebut sengaja diletakkan sebagai penanda yang ditujukan untuk mencegah orang lain lewat di depan seseorang yang sedang shalat.

Hukum menghadap sutrah ketika shalat adalah sunnah secara mutlak apalagi jika dikhawatirkan ada orang lain yang akan lewat atau melintas di depannya dikarenaka dia yang melintas tidak mengerti bahwa kita sedang shalat . Banyak hadits yang menunjukkan pensyariatan perkara ini. Di antaranya sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إذا صلَّى أحدُكم فلْيُصلِّ إلى سُترةٍ ولْيدنُ منها

“Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 698)

Dalam Hadits lain juga diriwayatkan. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

سُتْرَةُ الرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ السَّهْمُ ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ ، فَلْيَسْتَتِرْ بِسَهْمٍ

“Sutrah seseorang ketika shalat adalah anak panah. Jika seseorang diantara kalian shalat, hendaknya menjadikan anak panah sebagai sutrah.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 15042)

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka perangilah ia, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).” (Hadit Riwayat Ibnu Khuzaimah 800)

Hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Hadits Riwayat Bukhari 509)

Bila shalat sendirian di masjid dianjurkan menggunakan sajadah, atau mencari tiang masjid sebagai pembatas dan penanda ketika orang melintas. Sebab tiang masjid juga tergolong sutrah. Sebagaimana Nabi seringkali ketika hendak shalat sendiri di masjid mencari dan kemudia menghadap tiang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُنْتُ آتِي مَعَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ فَيُصَلِّي عِنْدَ الْأُسْطُوَانَةِ الَّتِي عِنْدَ الْمُصْحَفِ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ أَرَاكَ تَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ قَالَ فَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَهَا

“Aku [Yazid bin Abu ‘Ubaid] dan [Salamah bin Al Akwa’] datang (ke Masjid), lalu dia shalat menghadap tiang yang dekat dengan tempat muhshaf. Lalu aku tanyakan, ‘Wahai Abu Muslim, kenapa aku lihat kamu memilih tempat shalat dekat tiang ini? ‘ Dia menjawab, ‘Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk shalat di situ’.” (Hadits Bukhari Nomor 472 dan Hadits Muslim Nomor 788)

Kesunnahan pengguaan sutrah tersebut disebabkan dalam kondisi lain Nabi pernah melaksanakan shalat tanpa menggunakan sutrah. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma,

رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok.” (Hadits Riwayat Bukhari 861)

Dalam Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma meriwayatkan,

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 3/297)

Menurut jumhur ulama, hukum menghadap sutrah ketika shalat hanya sebatas sunnah, tidak sampai wajib. Dan kesunnahan tersebut hanya berlaku bagi imam dan munfarid, yaitu orang yang shalat sendiri.

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke