Hukum Mengajak Anak Kecil ke Masjid

Banyak dari kalangan muslim ketika hendak mengejar keutamaan i’tikaf maupun shalat berjamaah terpaksa harus mengajak anaknya yang masih kecil ke masjid disebabkan di rumah tidak ada seseorang yang dapat dititipi untuk mengawasi anak-anak mereka.

Agar umat Islam tidak merasa was-was untuk mengajak anaknya yang masih kecil ke masjid, berikut penjelasan mengenai hukum membawa anak kecil ke masjid.

Berdasarkan kesepakatan ulama hukum membawa anak kecil ke masjid hukumnya boleh. Banyak dalil yang menunjukkan diperbolehkannya membawa anak kecil ke masjid. Di antaranya;

عن أبي قَتَادَةَ رضي الله عنه: بَيْنَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ جُلُوسٌ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْمِلُ أُمَامَةَ بِنْتَ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ وَأُمُّهَا زَيْنَبُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ صَبِيَّةٌ يَحْمِلُهَا عَلَى عَاتِقِهِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ عَلَى عَاتِقِهِ يَضَعُهَا إِذَا رَكَعَ وَيُعِيدُهَا إِذَا قَامَ حَتَّى قَضَى صَلَاتَهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِهَا

“Abu Qotadah radhiallahu ‘anhu mengatakan: Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam muncul ke arah kami sambil menggendong Umamah binti Abil Ash, -ibunya adalah Zainab binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam-, ketika itu Umamah masih kecil (belum disapih)-, beliau menggendongnya di atas pundak, kemudian Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- mengerjakan shalat, sedang Umamah masih di atas pundak beliau, apabila ruku’ beliau meletakkan Umamah, dan apabila berdiri beliau menggendongnya kembali, beliau melakukan yang demikian itu hingga selesai shalatnya. (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 783, dan Nasa’i Nomor 704)

Dalam hadits tersebut terlihat bahwa Nabi membenarkan anak kecil berada di dalam masjid saat sebuah ibadah dilaksanakan. Tidak ada masalah bila anak kecil tersebut ada kemungkinan akan menangis keras. Nabi tidak mengingkari keberadaan anak kecil di dalam masjid-masjid, bahkan Nabi mengingatkan kepada para Imam saat mengimami untuk mempertimbangkan para ibu yang sedang membawa anaknya dengan tidak terlalu memperpanjang shalatnya agar memberatkan ibunya. Dalam hadits lain diriwayatkan,

عَن أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ مَعَ أُمِّهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَقْرَأُ بِالسُّورَةِ الْخَفِيفَةِ أَوْ بِالسُّورَةِ الْقَصِيرَةِ

“Anas radhiallahu ‘anhu mengatakan: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mendengar tangisan seorang anak kecil bersama ibunya, sedang beliau dalam keadaan shalat, karena itu beliau membaca surat yang ringan, atau surat yang pendek.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 722)

Senada dengan riwayat Hadits berikut,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنِّي لَأَدْخُلُ الصَّلَاةَ أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأُخَفِّفُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ بِهِ

“Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan: Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam– bersabda: “Sungguh aku pernah memulai shalat yang ingin ku panjangkan, lalu karena kudengar tangisan seorang anak kecil, maka kuringankan (shalat tersebut), karena (aku sadar) kegusaran ibunya terhadapnya”. (Hadits Bukhari 666 dan Muslim 723)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

عَنْ بريدة رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ فَجَاءَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَعَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ فِيهِمَا فَنَزَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَطَعَ كَلَامَهُ فَحَمَلَهُمَا ثُمَّ عَادَ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ قَالَ صَدَقَ اللَّهُ ” ( إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ) رَأَيْتُ هَذَيْنِ يَعْثُرَانِ فِي قَمِيصَيْهِمَا فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ كَلَامِي فَحَمَلْتُهُمَا”

“Buroidah mengatakan: Suatu saat Nabi –shallallahu alaihi wasallam– berkhutbah, lalu datanglah Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhu yang memakai baju merah, keduanya berjalan tertatih-tatih dengan baju tersebut, maka beliau pun turun (dari mimbarnya) dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, lalu mengatakan: “Maha benar Allah dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan)’, aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, maka aku tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya”. (Hadits Riwayat Nasa’i 1396 dan Ibnu Majah 3590)

Namun begitu walaupun boleh membawa anak-anak ke dalam masjid tetap harus dalam bimbingan orang-orang dewasa agar kehadiran mereka tidak terlalu mengganggu kekhusu’an dalam beribadah. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

عن أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي، فَإِذَا سَجَدَ وَثَبَ الْحَسَنُ عَلَى ظَهْرِهِ وَعَلَى عُنُقِهِ، فَيَرْفَعُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَفْعًا رَفِيقًا لِئَلَّا يُصْرَعَ، قَالَ: فَعَلَ ذَلِكَ غَيْرَ مَرَّةٍ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَ بالْحَسَنِ شَيْئًا مَا رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَهُ قَالَ: ” إِنَّهُ رَيْحَانَتِي مِنْ الدُّنْيَا وَإِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَعَسَى اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ”

“Abu Bakroh radhiallahu ‘anhu mengatakan: Sungguh Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam– suatu ketika pernah shalat, jika beliau sujud, Hasan melompat ke atas punggung dan leher beliau, maka beliau pun mengangkatnya dengan lembut agar dia tidak tersungkur (jatuh)… Beliau melakukan hal itu tidak hanya sekali… Maka seusai beliau mengerjakan shalatnya, para sahabatnya bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihat engkau memperlakukan Hasan sebagaimana engkau memperlakukannya (hari ini)”… Beliau menjawab: “Dia adalah permata hatiku dari dunia, dan sungguh anakku ini adalah sayyid (seorang pemimpin), semoga dengannya Allah tabaroka wa ta’ala mendamaikan dua kelompok kaum muslimin (yang bertikai)”. (Hadits Ahmad Nomor 19611)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

عَنْ شداد رضي الله عنه قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ، فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا، قَالَ أَبِي فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ قَالَ : ” كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ” [النسائي 1129 والحاكم 4759 وصححه ووافقه الذهبي]

“Syaddad radhiallahu ‘anhu mengatakan: Suatu ketika Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam pernah datang kepada kami dalam salah satu shalat fardhu malamnya (maghrib atau isya’), sambil menggendong Hasan atau Husein, lalu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- maju ke depan (untuk mengimami), beliau pun menurunkannya (Hasan atau Husein), lalu bertakbir untuk memulai shalatnya, di tengah-tengah shalatnya beliau sujud dengan sujud yang panjang.” (Hadits Riwayat Nasa’i Nomor 1129 dan Hakim 4759)

Hikmah membiarkan anak kecil di lingkungan masjid adalah kelak mereka saat dewasa hatinya akan selalu terpaut dengan masjid. Ketika sejak kecil anak-anak kecil diajak ke masjid untuk melihat orang-orang dewasa beribadah shalat, berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya. Tentunya merekalah harapan untuk memakmurkan masjid di usia dewasanya, sebab jiwa mereka sudah tertancap cinta masjid sejak kecil. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

عن عائِشَةَ رَضيَ الله عَنْهَا قَالَتْ : أَعْتَمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً بِالْعِشَاءِ وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يَفْشُوَ الْإِسْلَامُ فَلَمْ يَخْرُجْ حَتَّى قَالَ عُمَرُ نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ فَخَرَجَ فَقَالَ لِأَهْلِ الْمَسْجِدِ ” مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ غَيْرَكُمْ ”

“A’isyah radhiallahu ‘anha mengatakan: Pada suatu malam, Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam– pernah mengakhirkan shalat isya’, -itu terjadi ketika Islam belum tersebar luas-. Beliau tidak juga keluar hingga Umar berkata: “Para wanita dan anak-anak (yang menunggu di masjid) sudah tertidur“. Dan akhirnya beliau keluar dan mengatakan kepada mereka yang berada di masjid: “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menunggu shalat ini selain kalian”. (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 533 dan Muslim Nomor 1008)

Imam Nawawi membantah sebagian kalangan yang melarang anak kecil diajak ke masjid. Beliau berkata; Sebagian pengikut Madzhab Maliki beranggapan bahwa hadits ini mansukh, sebagian lagi beranggapan hadits ini termasuk salah satu kekhususan Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, dan sebagian lagi beranggapan bahwa itu merupakan keadaan darurat… Semua anggapan itu adalah anggapan yang batil, tertolak, dan tidak berdasar… Dalam hadits tersebut tidak ada sesuatu yang menyelisihi kaidah syariat, karena tubuh anak adam itu suci, adapun yang ada di dalam jasadnya, maka najisnya tidaklah dianggap. Sedangkan pakaian dan badan anak kecil itu dianggap suci hingga benar-benar diyakini ada najisnya… dan gerakan di dalam shalat, tidak membatalkannya apabila masih tergolong sedikit atau terpisah-pisah… dan dalil-dalil syariat dalam masalah ini sangatlah banyak… Nabi -shallallahu alaihi wasallam- melakukan hal tersebut itu untuk menerangkan (kepada umatnya) bolehnya (melakukan hal tersebut).

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke