Hukum Mengaitkan Bencana Alam dengan Sebuah Fenomena

Seringkali kita mengetahui realitas cara beragama masyarakat yang suka menghubung-hubungkan terjadinya bencana alam dengan fenomena alam lainnya. Seringkali kita menyaksikan seseorang mengaitkan gempa bumi dengan terjadinya maksiat. Perbuatan manusia semisal seseorang atau seorang ulama sedang berdoa dianggap merasa telah diridhai oleh Allah ketika di saat bersamaan timbul lafadz-lafadz Allah di awan, di sisik ikan, di bebatuan, di kulit-kulit, binatang, di rumah lebah, atau pepohonan berbentuk lafadz Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya.

Lahirnya seorang bayi dianggap ajaib atau wali ketika dihubungkan dengan kebetulan terjadinya cahaya terang di langit, atau seseorang mati dianggap dikutuk ketika kebetulan ada suara menggelegar di langit, tanah kuburnya longsor, lubang kuburnya terendam air,atau terdapat berbagai macam binatang. Seorang bayi terlahir atau ketika tiba-tiba terjadi hujan badai kemudian dikaitkan dengan kemarahan seseorang, doa seorang ulama, dzikir dari sekelompok umat Islam. Mereka menganggap bahwa hujan tersebut merupakan pertanda restu yang datangnya langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita juga sering melihat sebagian umat Islam yang mengaitkan terjadinya gunung meletus dianggap sebagai murka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika ada orang lain yang kebetulan berbeda pilihan politiknya dengan kita atau orang lain yang tidak mematuhi perintah atau kehendak dari seorang pemimpin, ulama, atau orang tua. Seringkali kita melihat sebagian umat mengaitkan musibah yang dialami seseorang seperti sakit, kecelakaan, atau kematian tragis kemudian dikaitkan dengan sumpah dan mubahalah dari seorang ulama atau habib. Kita juga sering menyaksikan sebuah kegagalan, seperti kegagalan panen, kegagalan usaha, kegagalan hidup, atau kegagalan lainnya dianggap kualat dengan seseorang. Kita sering mengetahui masyarakat mengaitkan banjir atau kekeringan dengan kebohongan janji dari seorang pemimpin.

Fenomena masyarakat yang selalu menghubungkan fenomena alam sebagai bentuk azab sulit dihindari, ketika sejak kecil anak-anak sering dijejali pandangan bahwa bencana alam adalah bentuk hukuman, kemarahan penguasa alam pada manusia.

Benarkah suatu bencana bisa terjadi karena perbedaan pandangan politik? Benarkah suatu bencana bisa terjadi karena kualat dari orang tua atau seorang ulama? Benarkah bencana bisa disebut azab dan kutukan? Benarkan sumpah dan mubahalah seseorang yang dianggap suci menyebabkan terjadinya bencana?

Terkait dengan hal ini, terdapat dua jenis manusia yang berbeda dalam menyikapinya;

Pertama, mereka yang mempercayai bahwa setiap kali terjadi bencana alam merupakan azab, sebuah peringatan dan hukuman dari Allah. Kedua, mereka yang berfikir logis bahwa bencana alam adalah hanya sebuah fenomena alam yang alami sebagai bentuk aktivitas dan sistem alam semesta yang semuanya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Pandangan bahwa bencana adalah azab dari Allah sebab kemungkaran maupun kemaksiatan yang dilakukan manusia sulit dipisahkan dari kepercayaan umat Islam dan umat manusia, baik dari sudut pandang spiritual maupun supranatural.

Dalam Islam, kisah yang paling populer adalah banjir besar untuk umat Nabi Nuh. Kaum Nuh ditenggelamkan banjir (air bah) sebab mendustakan kebenaran agama yang dibawa nabi Nuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَكَذَّبُوهُ فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا عَمِينَ

“Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (Surat Al-A’raf Ayat 64)

Gempa bumi dahsyat disertai dengan letusan petir, keluarnya gas alam, serta lautan api sebagai azab untuk kaum Nabi Luth, sebab perilaku homoseksualnya. Alah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ ۖ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ

“Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim”. (Surat Al-‘Ankabut Ayat 31)

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (Surat Al-A’raf Ayat 81)

Kaum Nabi Hud, Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

Kaum Nabi Saleh, Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).

Kaum Saba, Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma’rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).

Kabar dari Allah dalam Al-Qur’an tersebut menunjukkan bahwa memang ada benarnya bahwa bencana alam merupakan bagian dari azab Allah. Namun itu berlaku untuk orang kafir dan umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Memang dalam sebagian kasus nabi-nabi terdahulu, Allah memberikan azab kepada kaumnya secara langsung di dunia. Sebagaimana fairman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Semua musibah yang menimpa kalian, itu disebabkan kemaksiatan yang kalian lakukan. Dan Dia telah mengampuni banyak dosa.” (QS. As-Syura: 30).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ. فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.” (Surat Al-A’raf Ayat 165-166)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 56)

Namun berbeda dengan umat Nabi Muhammad yang mana azabnya ditangguhkan hingga hari kiamat. Ustadz M. Alvin Nur Choironi dalam tulisannya  “Termasuk Larangan Rasulullah SAW: Menghubungkan Bencana Alam dengan Urusan Politik” mengatakan bahwa untuk orang kafir pun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan azab atau musibah dalam ayat tersebut sebagai sarana untuk bersabar, bukan sebagai hukuman atas hal yang ia lakukan. Hal ini ditegaskan oleh Fakhruddin al-Razi dalam kitab “Mafatih al-Ghaibnya”:

فإنها لا تكون عقاباً بل امتحاناً ، والدليل عليه أنه تعالى يعد الكل بالصبر عليها والرضا بها والتسليم لها وما هذا حاله لا يكون عقاباً

“Karena sesungguhnya ayat (Ali Imran 56, untuk orang kafir) bukan menjadi hukuman, melainkan hanya ujian. Sedangkan argumentasi yang menyebutkan hal itu adalah bahwa Allah memerintahkan semua orang untuk bersabar atas semua musibah, ridha dan berpasrah. Dan hal ini tidak berkaitan dengan hukuman.”

Menurut al-Razi, jika orang kafir diberikan hukuman di dunia, maka akan bertentangan dengan Surat an-Nahl ayat 61, yang menyebutkan bahwa jika Allah menghukum seluruh manusia di Bumi, niscaya tidak akan ada sesuatu yang terlepas dari azab-Nya.

وَلَوْ يُؤَاخِذُ الله الناس بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ

“Jika Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada makhluk yang ditinggalkan-Nya.”

Bagi al-Razi, kata “lau” dalam ayat di atas adalah berfaidah “intifaus syai’ lintifai ghairihi”, yakni jika kata lau itu dihilangkan, maka artinya Allah tidak akan meemberikan hukuman (azab) kepada seseorang secara langsung di bumi. Karena jika Allah memberikan azab, maka semua orang yang ada di bumi ini akan mendapatkannya.

Surat Ali Imran: 56 di atas, menurut al-Razi juga bertentangan dengan Q.S. Ghafir: 17, yang menjelaskan bahwa semua kesalahan yang dilakukan manusia akan diberikan balasannya di akhirat kelak, bukan di dunia:

اليوم تجزى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ

“Pada hari itu (kiamat) Allah akan memberikan balasan kepada setiap jiwa atas segala hal yang telah dilakukan.”

Maka, jjika orang kafir saja tidak diberikan hukuman secara langsung di dunia atas kekafirannya, bagaimana dengan orang yang jelas-jelas beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dua syarat sebuah bencama dapat disebut azab

Kalaupun toh sebuah bencana itu memang merupakan sebuah peringatan atau azab dari Allah. Masalahnya adalah siapa yang lebih berhak untuk penetapan bahwa bencana tersebut bagian dari azab Allah atau tidak. Apakah setiap dari kita berhak untuk menetapkan? Tentunya tidak, sebab butuh syarat-syarat yang bersifat syr’i dan syarat yang bersifat logis dalam penetapannya. Di antaranya;

Syarat syar’i;

Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi, dan orang-orang suci, orang-orang terpilih, seperti seorang ulama, seorang yang memiliki mata batin yang jernih, dekat dengan Allah, memiliki ilmu yang tinggi, ahli ibadah, dan lainnya. Sedangkan mereka orang awam; ahli maksiat, bukan ahli ibadah, tidak memiliki ilmu, dan tidak memiliki kewaskitaan tentunya tertolak ketika ikut menetapkan dan ikut mengatakan bahwa suatu bencana itu adzab.

Di antara syarat suatu perkara yang dapat ditetapkan sebagai peringatan atau azab Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang bersifat ghaib murni, bukan kejadian yang secara sains masih bisa dijelaskan. Dengan begitu, tidak setiap kejadian itu layak ditetapkan sebagai peringatan atau azab Allah. Kategori perkara yang dilarang untuk ditetapkan sebagai peringatan dan adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah geologi di mana peristiwa geologi seperti hujan lebat, gempa bumi, gunung meletus, gerhana, pelangi, atau lainnya merupakan fenomena dan mekanisme alam murni yang dapat dijelaskan secara logis oleh sains.

Jadi selama peristiwa tersebut secara sains dapat dijelasakan maka dilarang untuk dihubung-hubungkan dengan adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Nabi melarang para sahabat yang mengaitkan gerhana dengan wafatnya Ibrahim putra Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan keduanya tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Akan tetapi dengan peristiwa itu Allah Ta’ala ingin membuat para hamba-Nya takut (dengan siksa-Nya).” (Hadits Bukhari Nomor 990)

Dari hadits itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolak dan sangat melarang anggapan bahwa fenomena alam yang bersifat sains murni terjadi karena kematian puteranya. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja tidak mau menghubung-hubungkan fenomena alam dengan puteranya, apalagi dengan yang tidak ada hubungnnya dengan beliau. Bencana terjadi karena kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena si fulan atau fulanah.

Azab atau bukan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu. Sebab, azab merupakan perkara ghaib. Bukan hak dan wewenang manusia untuk menetapkan perkara ghaib. Sebagaimana beberapa sahabat yang dilarang oleh Nabi untuk mendahului perkara ghaib. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَتْ الرُّبَيِّعُ بِنْتُ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ حِينَ بُنِيَ عَلَيَّ فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي فَجَعَلَتْ جُوَيْرِيَاتٌ لَنَا يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ وَيَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِي يَوْمَ بَدْرٍ إِذْ قَالَتْ إِحْدَاهُنَّ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ دَعِي هَذِهِ وَقُولِي بِالَّذِي كُنْتِ تَقُولِينَ

“[Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afran] berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun bermusik dengan memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini (karena itu perkara ghaib), dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.” (Hadits Bukhari Nomor 4750)

Para ulama menggunakan Hadits gerhana di atas sebagai dalil bahwa fenomena Alam dan bencana yang terjadi, sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan duniawi, termasuk kematian seorang, peristiwa politik, mubahalah seorang habib atau ulama. Fenomena alam yang terjadi adalah murni peristiwa sains yang diciptakan oleh Allah murni sebagai mekanisme geologi alam. Untuk media muhasabah dan media penelitian yang bermanfaat bagi kehidupan. Sebagai sarana meningkatkan ibadah (pengabdian) kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (mau meneliti),” (Surat Ali ‘Imran Ayat 190)

Syarat logis;

Perlu diketahui bahwa azab bukan hanya bermakna spiritual atau juga supranatural. Namun ada lagi satu jenis azab yang disebut sebagai azab geologi yang bersifat sains dan diakui oleh Allah. Memahami hakekat makna azab itu sendiri adalah balasan bagi perilaku buruk manusia. Sebuah fenomena alam atau bencana bisa jadi disebut sebagai azab bagi manusia manakala perilaku manusia amat buruk. Perilaku yang melanggar dan menentang perintah-perintah Allah.

Ketika manusia sebagai khalifah yang diperintahkan untuk mengelola, menjaga, dan melestarikan alam sebagai amanah yang akan diwariskan kepada anak cucunya. Namun manusia malah merusak dengan mengeksploitasi alam dan sumber dayanya secara berlebihan. Seingga ketika alam mengalami kerusakan, kehancuran, dan bencana, maka kembalinya juga kepada manusia sendiri yang akan merasakan kerugiannya. Itulah azab geologi yang ditimpakan kepada manusia sebab tangan-tangan manusia sendiri yang merusaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Surat Ar-Rum Ayat 41)

Itulah yang disebut sebagai hukuman alam semesta pada manusia yang menyalahi aturan dari Allah dan aturan dari mekanisme alam. Kemarahan alam semesta itu pada hakikatnya ingin mengajak setiap manusia untuk mawas diri dan memeriksa diri sendiri. Yang menjadi persoalan, kebanyakan manusia lebih memilih untuk menghakimi, saling tuding, dan saling menyalahkan.

Untuk menghindari azab geologi yang hakikatnya juga datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka taati dan ikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dengan cara tidak membuat kerusakan seperti melakukan kemungkaran dan kemaksiatan, serta tidak membuat dosa sosial dan dosa kemanusiaan seperti mengeksploitasi alam berlebihan, tidak mengabaikan keadilan, ketimpangan, tidak saling menindas, tidak korupsi, dan lain sebagainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-A’raf Ayat 56)

Allah juga berfirman,

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;” (Surat Asy-Syu’ara’ Ayat 183)

Jangan buat kerusakan di muka bumi dengan dosa kemungkaran, dosa kejahatan, dosa maksiat, dosa sosial, dosa kemanusiaan, dan dosa geologi agar bencana alam tidak menjadi azab bagi kita semua. Amin.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke