Hukum Mencegah Orang Lain Melintas di Depan Orang yang Sedang Shalat

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ketika kita sedang melaksanakan shalat di tempat-tempat umum seperti masjid atau mushalla, seringkali kita melihat seseorang melintas atau lewat persis di hadapan kita. Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita diam saja atau kita harus mencegahnya? Dan apakah ada konsekwensi hukumnya dalam agama islam? (Muhammad Hafidz/Lampung)

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

JAWABAN:

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Apabila kita melihat seseorang melintas atau lewat persis di hadapan orang yang sedang shalat, baik kita sendiri atau orang lain yang sedang mengerjakan shalat, maka harus kita cegah.

إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 509 dan Muslim Nomor 505)

Maksudnya adalah, larangan melintas di depan shalat tersebut di antara seseorang yang sedang shalat dan sutrah yang telah kita pasang. Jadi tidak masalah manakala kita melintas di depan orang yang sedang shalat apabila diluar batas (sutrah) yang dipasang tersebut. Atau sebagaimana tidak masalah bila yang dimaksudkan sebagai sutrah (penanda) adalah sajadah. Jadi tidak masalah juga kita melintas di depan orang yang sedang shalat di luar sajadah yang sedang digunakan tersebut. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka perangilah ia, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).” (Hadit Riwayat Ibnu Khuzaimah 800)

Hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Hadits Riwayat Bukhari 509)

Hadits tersebut menunjukkan anjuran bagi siapa saja yang melihat seseorang yang terlihat hendak melintas di depan seseorang yang sedang shalat untuk mencegahnya semisal dengan menjulurkan tangan sebagai pertanda ada orang yang sedang shalat.

Melintas di depan orang yang sedang shalat hukumnya berdosa, maka sudah selayaknya untuk kita berhati-hati dan menjaga perkara ini.

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنَ الإِْثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya dari pada lewat.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 510 dan Muslim Nomor 507)

Agar tidak banyak orang yang menjadi berdosa sebab melewati orang yang sedang shalat, maka Islam memberikan solusi dengan cara bagi mereka yang hendak shalat baik menjadi imam atau shalat sendirian disunnahkan dalam ibadah shalat menghadap sutrah (penghalang-penanda). Sedangkan menurut pandangan ilmu fikih, sutrah adalah segala sesuatu yang yang berada atau sengaja diletakkan di depan orang yang sedang shalat, dapat berupa tasbih, sajadah, pensil, tongkat, pilar, batu, lidi, atau mungkin ponsel di zaman ini. Keberadaan sutrah tersebut sengaja diletakkan sebagai penanda yang ditujukan untuk mencegah orang lain lewat di depan seseorang yang sedang shalat.

Hukum menghadap sutrah ketika shalat adalah sunnah secara mutlak apalagi jika dikhawatirkan ada orang lain yang akan lewat atau melintas di depannya dikarenaka dia yang melintas tidak mengerti bahwa kita sedang shalat . Banyak hadits yang menunjukkan pensyariatan perkara ini. Di antaranya sebagaimana sabda.Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إذا صلَّى أحدُكم فلْيُصلِّ إلى سُترةٍ ولْيدنُ منها

“Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 698)

Dalam Hadits lain juga diriwayatkan. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

سُتْرَةُ الرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ السَّهْمُ ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ ، فَلْيَسْتَتِرْ بِسَهْمٍ

“Sutrah seseorang ketika shalat adalah anak panah. Jika seseorang diantara kalian shalat, hendaknya menjadikan anak panah sebagai sutrah.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 15042)

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka perangilah ia, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).” (Hadit Riwayat Ibnu Khuzaimah 800)

Hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Hadits Riwayat Bukhari 509)

Bila shalat sendirian di masjid dianjurkan menggunakan sajadah, atau mencari tiang masjid sebagai pembatas dan penanda ketika orang melintas. Sebab tiang masjid juga tergolong sutrah. Sebagaimana Nabi seringkali ketika hendak shalat sendiri di masjid mencari dan kemudia menghadap tiang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُنْتُ آتِي مَعَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ فَيُصَلِّي عِنْدَ الْأُسْطُوَانَةِ الَّتِي عِنْدَ الْمُصْحَفِ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ أَرَاكَ تَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ قَالَ فَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَهَا

“Aku [Yazid bin Abu ‘Ubaid] dan [Salamah bin Al Akwa’] datang (ke Masjid), lalu dia shalat menghadap tiang yang dekat dengan tempat muhshaf. Lalu aku tanyakan, ‘Wahai Abu Muslim, kenapa aku lihat kamu memilih tempat shalat dekat tiang ini? ‘ Dia menjawab, ‘Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk shalat di situ’.” (Hadits Bukhari Nomor 472 dan Hadits Muslim Nomor 788)

Kesunnahan penggunaan sutrah tersebut disebabkan dalam kondisi lain Nabi pernah melaksanakan shalat tanpa menggunakan sutrah. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma,

رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok.” (Hadits Riwayat Bukhari 861)

Dalam Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma meriwayatkan,

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 3/297)

Termasuk penyebab shalat tidak wajib menggunakan sutrah manakala shalat dalam kondisi darurat seperti di Masjidil Haram, di mana sebagaimana yang sudah diketahui bahwa orang shalat sulit menghindari ada orang yang berlalu lalang dan melintas di depan orang yang sedang shalat. Sebab Masjidil Haram bukan hanya berfungsi sebagai tempat shalat, namun juga berfungsi sebagai tempat thawaf.

Dengan begitu, sudah sangat jelas bahwa dalam kondisi normal hukumnya berdosa manakala kita melintas di hadapan orang yang sedang shalat. Syekh Kamil Muhammad Uwaidah dalam “Fiqh an-Nisaa berpendapat “tidak boleh seorang Muslim, baik laki-laki maupun perempuan berjalan di hadapan orang yang sedang mendirikan shalat, kecuali jika ada atau terdapat sutrah (pemisah) di antaranya. Namun demikian, tidak diperkenankan berjalan di balik sutrah itu.

Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Fiqh as-Sunnah” menyatakan haram hukumnya seorang berdiri atau melintas di depan orang yang sedang shalat. Bahkan, kata Sayyid Sabiq, ada yang menyatakan perbuatan tersebut sebagai dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengecam orang yang suka berlalu-lalang di hadapan orang yang sedang mendirikan shalat. Sebab, pada hakikatnya, orang yang shalat itu sedang berhadapan dengan Allah SWT. “Lebih baik salah seorang di antara kalian berdiri seratus tahun daripada berjalan di hadapan saudaranya yang sedang shalat.” (Hadits Riwayat Muslim)

Berjalan di hadapan orang yang sedang mengerjakan shalat akan mengurangi nilai shalatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Dari Amr bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya, berkata,  “Nabi SAW pernah mengerjakan shalat menghadap ke dinding sebagai arah kiblat, sedang kami berada di belakangnya. Lalu datang seekor hewan berjalan di hadapan beliau. Beliau berusaha untuk mengusirnya sampai menempelkan perutnya ke dinding dan hewan itu berjalan di belakangnya.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Bila kita sudah mengetahui hukum dan konsekwensi melintas di depan orang yang sedang shalat, maka hendaknya kita semampu mungkin untuk mencegahnya. Baik yang hendak melintas orang dewasa maupun anak kecil, baik itu manusia maupun binatang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليهلكان يقف أربعين خيراً له من أن يمر بين يدي ) ، وقال أبو الـنضر – أحد رواة الـحديث -:[ لا أدري أقال أربعين يوماً أو شهراً أو سنة]. رواه البخاري ومسلـم

“Seandainya orang yang melintas di depan orang yang sedang shalat mengetahui apa (dosa) yang ditanggungnya (lantaran melintasi itu), niscaya dia berdiri (atau behenti untuk menunggu) selama empat puluh (hari atau bulan atau tahun, Busr kelupaan), lebih baik baginya daripada berjalan di depan orang yang sedang mengerjakan shalat.” (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Nasai, Ibnu Majah, dan Abu Daud)

Artikel yang sama;

Menggunakan Sajadah Saat Shalat Hakikatnya Adalah Sutrah yang Disunnahkan

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan Artikel Ini Ke