Hukum Mencari Sutrah Saat Di Masjid”

Pertanyaan;

Apa hukum mencari sutrah saat di masjid?

Jaawaban;

Hukum mencari sutrah saat di masjid adalah sunnah. Di antara adab berada di masjid adalah memilih tempat yang dapat menyebabkan ibadah kita lebih khusyu. Di antaranya mendekati tiang, tembok atau benda-benda lainnya sebagai sutrah atau penanda. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

“Apabila kalian hendak shalat, laksanakanlah dengan menghadap ke sutrah, dan mendekatlah ke sutrah.” (Hadits Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 509 dan Muslim Nomor 505)

Salah satu tujuan mendekati sutrah adalah agar kita sedang shalat orang lain tidak melintas di hadapan kita. Sebab, bagian dari adab shalat jamaah di masjid adalah tidak lewat di hadapan orang yang sedang shalat. Sebab perkara tersebut sangat dibenci oleh Nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَي الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِيْنَ، خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seandainya orang yang lewat di depan orang yang shalat  mengetahui (dosa) yang ditanggungnya, niscaya ia memilih untuk berhenti selama 40 ( tahun), itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yangsedang  shalat.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 510 dan Muslim Nomor 1132)

Salah satu adab jamaah shalat adalah tidak melintas atau lewat di hadapan orang yang sedang shalat. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 509 dan Muslim Nomor 505)

Maksudnya adalah, larangan melintas di depan orang yang sedang shalat tersebut adalah dilarang lewat di antara seseorang yang sedang shalat dan sutrah yang telah dipasang. Jadi tidak masalah manakala kita melintas di depan orang yang sedang shalat apabila di luar batas (sutrah) yang dipasang tersebut. Atau sebagaimana tidak masalah bila yang dimaksudkan sebagai sutrah (penanda) adalah sajadah. Jadi tidak masalah juga kita melintas di depan orang yang sedang shalat di luar sajadah yang sedang digunakan tersebut. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka perangilah ia, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).” (Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 800)

Baca juga;

Adab Shalat Berjamaah di Masjid

Menggunakan Sajadah Saat Shalat Hakikatnya Adalah Sutrah yang Disunnahkan

Adab Shalat Berjamaah di Masjid

Bagikan Artikel Ini Ke