Hukum Mencari Barang yang Hilang di dalam Masjid

Sudah jamak diketahui bahwa masjid merupakan tempat datang dan perginya umat Islam untuk mengikuti berbagai macam kegiatan. Seperti jamaah shalat, majlis ta’lim, dan lain sebagainya. Tidak jarang ketika kaum muslimin mendatangi masjid dengan membawa berbagai barang pribadinya. Ketika hendak pulang sebagian tidak sadar bahwa barang pribadinya tertinggal. Ketika sadar barang pribadinya tertinggal dan mereka kembali untuk mencoba mencarinya namun barangnya ternyata tidak diketemukan.

Hukum mencari barang yang hilang di masjid ternyata tidak boleh. Mengenai ini Nabi pernah mengingatkan bagi mereka yang mencari barangnya di masjid. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

وَعَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي اَلْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ : لَا رَدَّهَا اَللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ اَلْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا ) رَوَاهُ مُسْلِم

“Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendengar ada seseorang yang mencari barang hilang di masjid hendaknya mengatakan: Allah tidak mengembalikannya kepadamu karena sesungguhnya masjid itu tidak dibangun untuk hal demikian.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 568, Ahmad Nomor 8572, Abu Daud Nomor 473, Ibnu Majah Nomor 767, Ibnu Khuzaimah Nomor 1302, Ibnu Hibban Nomor 1651, Abu ‘Uwanah Nomor 1212)

Larangan mencari barang yang hilang di dalam masjid seperti mengumumkan dengan mikrofon adalah bahwa karena memang masjid tidaklah dibangun untuk kepentingan itu. Masjid dibangun hanyalah untuk peribadatan kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Masjid dibangun untuk berzikir kepada Allah dan pengajian, karena masjid adalah rumah Allah. Allah memerintahkan supaya asma-Nya disebut di dalam masjid.

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafizhahullah menjelaskan,

إنشاد الضالة في المسجد هي: أن ينادي إنسان فيقول: من وجد لي كذا، أو ضاع مني كذا وكذا؟ هذا هو المقصود بإنشاد الضالة، قالوا: هي في الأصل تُطلق على الإبل، لكن المقصود بها هنا ما هو أعم من ذلك، سواء كانت من بهيمة الأنعام أو غيرها فليس للإنسان أن ينشد شيئاً ضائعاً له في المسجد مطلقاً؛ لأن المساجد ما بُنيت للكلام في أمور الدنيا، وإنما بُنيت لذكر الله عز وجل. قوله: [ (من سمع رجلاً ينشد ضالة في المسجد فليقل: لا أداها الله إليك) ]. أي: يعامل بنقيض قصده، فكما حرص على الدنيا يدعى بألا يحصل له مقصوده من الدنيا؛ لأنه فَعَل ذلك في مكان لا يسوغ له أن يفعله فيه. فهذا فيه دليل على منع ذلك في المسجد؛ لأنه لا يسوغ، ويدل أيضاً على أن الاشتغال بأمور الدنيا عموماً حكمه كذلك؛ لأن قوله: (فإن المساجد لم تُبْنَ لهذا) يشمل ما يتعلق بالضالة وغير الضالة من أمور الدنيا، حيث أن المساجد بُنيت لذكر الله، ولتعلم العلم، ولقراءة القرآن، وللصلاة وعبادة الله عز وجل

Mencari barang yang hilang di masjid artinya dia memanggil manusia dengan mengatakan: “Siapa yang menemukan punya saya begini begitu? Atau telah hilang milik saya begini begitu?” Inilah maksud mencari barang yang hilang. Mereka (para ulama) mengatakan: pada dasarnya ini diawali pencarian terhadap unta, namun maksud di sini lebih umum dari itu. Sama saja, apakah itu hewan ternak atau selainnya, maka janganlah manusia mengumumkan barang hilang di masjid secara mutlak. Sebab masjid tidaklah dibangun untuk membicarakan urusan dunia, dia didirikan untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sabdanya: (Barang siapa yang mendengar seseorang mengumumkan barang hilang di masjid maka hendaknya dikatakan: “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.”) yaitu sikapilah dengan hal yang berlawanan dengan maksudnya. Maka, ini sebagaimana orang yang berkeinginan kuat terhadap urusan dunia lalu diarahkan kepada yang bukan pada maksud dunianya itu, karena dia melakukan hal itu di tempat yang tidak sepantasnya dia lakukan. Maka, ini merupakan dalil larangan melakukan hal tersebut di masjid, karena hal itu tidak layak. Ini juga dalil bahwa hukum menyibukkan diri dengan perkara dunia di masjid juga demikian. Sabdanya (karena masjid dibangun bukan untuk itu) memuat hal-hal yang terkait dengan barang hilang dan selain barang hilang yang merupakan termasuk urusan dunia, di mana masjid dibangun untuk berdzikir kepada Allah, mempelajari ilmu, membaca Al Quran, shalat, dan beribadah kepada Allah. (Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, 3/269)

Sebuah solusi; Apabila mikrofon itu berada di luar masjid seperti di kantor ta’mir, atau menempelkan pengumuman di papan informasi masjid, atau menanyakan kepada pengurus masjid, maka hukumnya boleh. Dengan kata lain bahwa barang siapa merasa kehilangan sesuatu di dalam masjid, maka hendaklah bertanya kepada juru kuncinya dan tidak perlu mencarinya di dalam masjid, sekalipun barangnya itu hilang di dalam masjid.

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke