Hukum Memisahkan Anak Hewan Dengan Induknya

Daftar Isi

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

PERTANYAAN:

  1. Saya pernah mendengar sebuah hadits yang melarang memisahkan anak hewan dengan induknya. Namun seringkali kita melihat di pasar ada perdagangan anak-anak hewan yang dipisahkan dari induknya untuk dijual dengan tujuan diternak. Bagaimana sebetulnya hukum memisahkan anak hewan dengan induknya?
  2. Tolong sertakan juga maroji’nya (rujukannya)

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

1.Jika memisahkan anak hewan tidak ada tujuannya alias hanya untuk main-main, maka hukumnya haram.

2.Menurut Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya Ibnu Syaraf Al-Nawawi Jika ada tujuannya maka perlu dirinci lagi penjelasannya;

1) Jika anak hewan tersebut masih menyusu pada sang induk atau masih diberi makan oleh induknya, maka hukum jual belinya adalah batal (tidak sah) menurut qaul adzhar.

2)Jika anak hewan tersebut telah tidak meyusu pada sang induk atau bisa makan sendiri, maka hukum jual belinya adalah hilaf sebagaimana berikut:

a.Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki seperti Imam Al Shamairi dalam kitab Al Bayan juga Imam Al Rafi’i menyatakan bahwa hukum haram dan transaksinya adalah tidak sah, sebagaimana juga pendapat yang disampaikan Syekh Syamsuddin Muhammad Ibnu al-Khatib al-Syarbiniy.

b.Sedang Ulama’ dari kalangan madzhab Sayifi’i dan Hanafi menyatakan bahwa hukum jaul belinya adalah sah namun penjual dan pembeli tetap berdosa karena telah memisahkan dari sang induk. Wallahu a’lam bis shawab.

3)Boleh tidaknya memisahkan anak hewan dengan induknya esensinya adalah keterjaminan anak hewan tersebut dapat terus hidup dan berkembang. Seiring dengan perkembangan teknologi dimana ketika proses pembibitannya sudah tidak melibatkan indudknya seperti proses open pada telur ayam, dan anak-anak hewan tersebut sudah tidak memiliki ketergantungan konsumsinya terhadap induknya karena sudah tergantikan dengan teknologi. Maka hukumnya boleh secara mutlak.

MARAJI’:

Jika memisahkan anak hewan tidak ada tujuannya alias hanya untuk main-main, maka hukumnya haram.

عَنْ الْحَسَنِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ فَرَأَيْنَا حُمَرَةً مَعَهَا فَرْخَانِ فَأَخَذْنَا فَرْخَيْهَا فَجَاءَتْ الْحُمَرَةُ فَجَعَلَتْ تَفْرِشُ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا

“dari Al Hasan bin Sa’d dari [Abdurrahman bin Abdullah] dari [ayahnya], ia berkata; kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, kemudian beliau pergi untuk suatu keperluannya, kemudian kami melihat seekor burung bersama kedua anaknya. Lalu kami mengambil kedua anaknya, kemudian burung tersebut datang dan mengepak-ngepakkan sayapnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan berkata: “Siapakah yang menyakiti (mempermainkan) burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anaknya kepadanya.”

Berikut Beberapa Referensinya:

  1. Al Majmu’ Syarch Al Muhaddzab. IX/ 362

(فَرْعٌ) قَالَ أَصْحَابُنَا التَّفْرِيقُ بَيْنَ الْبَهِيمَةِ وَوَلَدِهَا بَعْدَ اسْتِغْنَائِهِ عَنْ اللَّبَنِ إنْ كَانَ لِغَرَضٍ مَقْصُودٍ كَالذَّبْحِ جَازَ وَإِلَّا فَهُوَ مَكْرُوهٌ وَلَا يَحْرُمُ عَلَى الْمَذْهَبِ وَبِهِ قَطَعَ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ وَحَكَى الصَّيْمَرِيُّ وَصَاحِبُ البيان والرافعي فيه وجها شاذا أنه حرام وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ أَعْلَمُ . المجموع شرح المهذب (9/ 362)

  1. I’anah Al Thalibin. III/ 29

(قوله: ويجوز تفريق ولد البهيمة) أي بذبح له أو لأمه، وبنحو بيع كذلك. وقوله: إن استغنى عن أمه) قيد في جواز التفريق، لكن النسبة لما إذا كان بنحو البيع له أو لها أو بالذبح لها، أما إذا كان بالذبح له فلا يحتاج إلى هذا التقييد، لأنه يجوز ذبحه مطلقا، استغنى أولا – كما صرح به في الروض وشرحه – (وقوله: بلبن) أي لغير أمه. (وقوله: أو غيره) أي غير اللبن، كعلف. (قوله: لكن يكره) أي التفريق في هذه الحالة، ومحل الكراهة ما لم يكن لغرض الذبح له، وإلا فلا كراهة . إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (3/ 29)

  1. Mughni Al Muchtaj. II/ 394

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﻡ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﻤﻴﺰ , ﻭﻓﻲﻗﻮﻝ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ , ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺮﻕ ﺑﺒﻴﻊ ﺃﻭ ﻫﺒﺔ ﺑﻄﻼ ﻓﻲﺍﻷﻇﻬﺮ .)ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﻡ( ﺍﻟﺮﻗﻴﻘﺔ )ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ(ﺍﻟﺮﻗﻴﻖ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﺍﻟﻤﻤﻠﻮﻛﻴﻦ ﻟﻮﺍﺣﺪ ﺑﺒﻴﻊ ﺃﻭ ﻫﺒﺔ ﺃﻭﻓﺴﺦ ﺑﺈﻗﺎﻟﺔ ﺃﻭ ﺭﺩ ﺑﻌﻴﺐ ﺃﻭ ﻗﺴﻤﺔ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻻﺑﻌﺘﻖ ﻭﻭﺻﻴﺔ )ﺣﺘﻰ ﻳﻤﻴﺰ( ﻭﺫﻟﻚ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺍﻟﺪﺓ ﻭﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﺮﻕ ﺍﻟﻠﻪﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﺣﺒﺘﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ” ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ,ﻭﺣﺴﻨﻪ, ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﺻﺤﺤﻪ, ﻭﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “ﻣﻠﻌﻮﻥ ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺍﻟﺪ ﻭﻭﻟﺪﻩ”ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ, ﻭﺳﻮﺍﺀ ﺭﺿﻴﺖ ﺍﻷﻡ ﺑﺬﻟﻚ ﺃﻡ ﻻ ﺭﻋﺎﻳﺔﻟﺤﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ) … ﻭﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ (ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺍﻟﻤﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ… ﻭﻳﻔﻬﻢ ﻣﻦ ﺗﻌﺒﻴﺮﻩ ﺑﺎﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺃﻥ ﻏﻴﺮﺍﻵﺩﻣﻲ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻖ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﻣﻪ ﻭﻫﻮﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺇﻥ ﺍﺳﺘﻐﻨﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﺒﻦ , ﻟﻜﻦ ﻳﻜﺮﻩ ,ﻭﻗﻴﻞ ﻳﺤﺮﻡ . ﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ394

  1. Minhaju AL Thalibin. I/ 47

ويحرم التفريق بين الأم والولد حتى يميز وفي قول حتى يبلغ وإذا فرق ببيع أو هبة بطل في الأظهر . منهاج الطالبين – الجز. 1.صفحة. 47 

  1. Bidayah Al Mujtahid. II/ 168

ومن هذا الباب التفرقة بين الوالدة وولدها وذلك أنهم اتفقوا على منع التفرقة في المبيع بين الأم وولدها لثبوت قوله عليه الصلاة والسلام :”من فرق بين والدة وولدها فرق الله بينه وبين أحبته يوم القيامة ” واختلفوا من ذلك في موضعين في وقت جواز التفرقة وفي حكم البيع إذا وقع. فأما حكم البيع فقال مالك يفسخ وقال الشافعي وأبو حنيفة لا يفسخ وأثم البائع والمشتري. بداية المجتهد – الجز. 2.صفحة. 168 

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 10
    Shares