Hukum Marah Dalam Islam

Pengertian marah

Marah ( اَلْغَضَبُ ) menurut bahasa mempunyai beberapa makna, di antaranya, kemarahan (اَلسُّخْطُ), tidak meridhai sesuatu (عَدَمُ الرِّضَى بِالشَّيْءِ), menggigit sesuatu (اَلْعَضُّ عَلَى الشَّيْءِ), kemuraman (اَلْعَبُوْسُ), buruk dalam bergaul dan berakhlak (اَلْكِدْرُ فِي الْمُعَاشِرَةِ وَالْخُلُقِ),

Sedangkan marah (اَلْغَضَبُ)menurut istilah yaitu perubahan dalam diri atau emosi yang dibawa oleh kekuatan dan rasa dendam demi menghilangkan gemuruh di dalam dada, dan yang paling besar dari marah adalah اَلْغَيْظُ, hingga mereka berkata dalam definisinya: “Kemarahan yang teramat sangat.” (Al-Ihyaa’ [III/247] karya al-Ghazali dan at-Ta’riifaat [no. 162] karya ar-Jurjani)

Hukum Marah dalam Islam

Sesuai dengan kaidah hukum dalam Islam bahwa hukum itu tidak melekat pada benda dan perkaranya, namun melekap pada motif dan tindakannya. Dengan begitu hukum marah bisa berubah-ubah, tergantung situasi dan kondisinya. Berikut beberapa level hukum marah beserta penjelasannya,

Mubah, hukum ini merupakan asal dan pertengahan dari marah. Dalam kondisi netral dan tanpa motif apapun ia diperbolehkan untuk dilakukan hanya sekedar mengepresikan fitrah kemanusiaannya saat mendadak emosinya merespons sesuatu yang mungkin kurang mengenakkan. Sebagaimana kemarahan Abu Bakar yang berselisih dengan Umar bin Khaththab sebab kesalahfahaman

كَانَتْ بَيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ مُحَاوَرَةٌ فَأَغْضَبَ أَبُو بَكْرٍ عُمَرَ فَانْصَرَفَ عَنْهُ عُمَرُ مُغْضَبًا فَاتَّبَعَهُ أَبُو بَكْرٍ يَسْأَلُهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَهُ فَلَمْ يَفْعَلْ حَتَّى أَغْلَقَ بَابَهُ فِي وَجْهِهِ فَأَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَنَحْنُ عِنْدَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا صَاحِبُكُمْ هَذَا فَقَدْ غَامَرَ قَالَ وَنَدِمَ عُمَرُ عَلَى مَا كَانَ مِنْهُ فَأَقْبَلَ حَتَّى سَلَّمَ وَجَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَصَّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخَبَرَ قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ وَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعَلَ أَبُو بَكْرٍ يَقُولُ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنَا كُنْتُ أَظْلَمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ أَنْتُمْ تَارِكُونَ لِي صَاحِبِي هَلْ أَنْتُمْ تَارِكُونَ لِي صَاحِبِي إِنِّي قُلْتُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقْتَ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ غَامَرَ سَبَقَ بِالْخَيْرِ

“Abu Bakr dan Umar pernah berdebat hingga Abu Bakr marah kepada Umar. Umar pun berpaling darinya dalam keadaan marah. Lalu Abu Bakr mengejarnya untuk meminta maaf. Namun Umar tidak memberi maaf hingga ia menutup pintu rumahnya dihadapan Abu Bakr. Abu Bakr kemudian menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Darda berkata; pada waktu itu aku berada disamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya temanmu ini telah berbuat baik lebih dahulu.” Abu Darda berkata; maka Umar menyesal atas apa yang telah dia perbuat. Lalu ia datang dan mengucapkan salam serta duduk di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang telah ia perbuat. Abu Darda berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun marah, hingga Abu Bakr berkata; ‘Demi Allah ya Rasulullah, Akulah yang telah berbuat zhalim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Bukankah kalian pernah meninggalkan sahabatku untukku, Bukankah kalian pernah meninggalkan sahabatku untukku?. Sesungguhnya aku pernah berkata; Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan kepada kalian semua, lalu kalian katakan; ‘Anda telah berdusta, namun Abu Bakr berkata; ‘Anda benar.’ Abu Abdullah berkata; Ghamara artinya; telah berbuat baik lebih dahulu. (Hadits Bukhari Nomor 4274)

Makruh, hukum ini berlaku bilamana kemarahan yang menimbulkan sesuatu yang kurang pantas dan kuran baik, namun belum menimbulkan kerugian. Sebagaimana kemarahan Aisyah yang sedang cemburu pada Nabi,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا يَعْنِي أَتَتْ بِطَعَامٍ فِي صَحْفَةٍ لَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ فَجَاءَتْ عَائِشَةُ مُتَّزِرَةً بِكِسَاءٍ وَمَعَهَا فِهْرٌ فَفَلَقَتْ بِهِ الصَّحْفَةَ فَجَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ فِلْقَتَيْ الصَّحْفَةِ وَيَقُولُ كُلُوا غَارَتْ أُمُّكُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَحْفَةَ عَائِشَةَ فَبَعَثَ بِهَا إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ وَأَعْطَى صَحْفَةَ أُمِّ سَلَمَةَ عَائِشَةَ

“dari [Ummu Salamah] bahwa dia datang dengan membawa makanan di atas piringnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau, lalu datanglah ‘Aisyah dengan bersarungkan pakaian, dia datang membawa batu, lalu memecah piring itu dengannya, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan dua pecahan piring dan bersabda: ” Makanlah, ibu kalian telah cemburu, ” dua kali, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil piring ‘Aisyah dan mengirimnya kepada Ummu Salamah dan memberikan piring Ummu Salamah kepada ‘Aisyah. (Hadits Nasai Nomor 3894)

Haram, Adalah kemarahan yang telah menimbulkan unsur-unsur keharaman, seperti kemarahan yang mengandung unsur kemaksiatan, kesyirikan, kemungkaran, kerugian sosial. Seperti kemarahan yang sertai dengan caci maki, hinaan, dan kata-kata yang keji. Sebagaimana larangan bagi seorang hakim yang marah sehingga memutuskan perkara yang tidak adil dan tidak bijaksana,

كَتَبَ أَبُو بَكْرَةَ إِلَى ابْنِهِ وَكَانَ بِسِجِسْتَانَ بِأَنْ لَا تَقْضِيَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ فَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ

 [Abu Bakrah] menulis surat untuk anaknya yang ketika itu berada di Sijistan yang isinya; ‘Jangan engkau mengadili diantara dua orang ketika engkau marah, sebab aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Seorang hakim dilarang memutuskan antara dua orang ketika marah.” (Hadits Bukhari Nomor 6625)

Wajib, Wajib hukumnya untuk marah manakala secara nyata kita melihat perbuatan maksiat atau dosa tepat dihadapan kita. Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda yang artinya,

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ بِهَا لِلَّهِ

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa bingung terhadap dua pilihan melainkan beliau akan memilih perkara yang lebih mudah (ringan) selama hal itu tidak mengandung dosa. Jika perkara itu mengandung dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhkan diri dari padanya. Dan tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah terhadap suatu perkara, melainkan bila beliau melihat larangan Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah.” (Hadits Bukhari Nomor 5661)

Sunnah, Sunnah hukumnya marah untuk memperbaiki sesuatu yang bukan haram sehingga sesuatu tersebut akan menjadi lebih baik manakala kita sedikit memarahinya. Sebagaimana Nabi marah untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an dari sahabat Abu ‘Amir Al Asy’ari,

عَنْ أَبِي عَامِرٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ كَانَ رَجُلٌ قُتِلَ مِنْهُمْ بِأَوْطَاسٍ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا عَامِرٍ أَلَا غَيَّرْتَ فَتَلَا هَذِهِ الْآيَةَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ أَيْنَ ذَهَبْتُمْ إِنَّمَا هِيَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ مِنْ الْكُفَّارِ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

“dari [Abu ‘Amir Al Asy’ari] berkata (membaca Al-Qur’an); ada seorang laki-laki dari mereka yang terbunuh di Authas, lalu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda kepadanya, “Wahai Abu ‘Amir, tidakkah engkau cemburu??, ” lalu (Abu ‘Amir Al Asy’ari Radliyalllahu’anhu) membaca ayat ini, ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk’ lalu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam marah dan bersabda: “Bagaimana pendapatmu ini?, yang benar adalah: ‘Wahai orang-orang yang beriman, tidak akan membahayakan kalian orang yang sesat dari orang kafir, jika kalian telah mendapatkan petunjuk. (Hadits Ahmad Nomor 16539)

Hakikat Marah

Marah adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh manusia yang tidak akan pernah bisa untuk dihilangkan dari perasaannya, karena hal tersebut adalah salah satu fitrah atau tabi’at dalam diri manusia. Jadi dalam hal ini kita diperintahkan untuk bisa menahan, mengendalikan atau menjaga amarah kita sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist di bawah ini,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

“bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Berilah aku wasiat?” beliau bersabda: “Janganlah kamu marah.” Laki-laki itu mengulangi kata-katanya, beliau tetap bersabda: “Janganlah kamu marah.” (Hadits Bukhari Nomor 5651)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Jadi marah yang terpuji dilakukan untuk membela diri, agama, kehormatan, atau menolong orang yang didzalimi. Sedangkan marah yang tercela merupakan marah yang dilakukan atas dasar balas dendam atau keegoisan diri sendiri. Marah yang tidak untuk menegakkan kebenaran atau marah yang diiringi dengan perbuatan tercela lainnya.

Bahaya Sifat Marah

Dihimpun dari beberapa penjelasan para ulama bahwa marah dapat menimbulkan beberapa bahaya. Di antaranya, Marah menyebabkan seseorang kehilangan harga diri sebab terkadang ketika seseorang sedang marang cenderung akan menumpahkan segala macam isi hatinya sehingga akan bertindak sesuatu yang vulgar di mana hal itu terkadang akan disesalinya karena diketahui sisi-sisi buruk oleh orang lain tentang diri kita yang mana seharusnya hal itu menjadi rahasia pribadi.

Kehilangan kendali diri, sehingga tidak bisa berpikir jernih dan tidak mampu membedakan mana perbuatan yang baik mana yang buruk.

Merugikan diri sendiri, manakala kemarahan kita pada akhirnya berujung pada urusan hukum di kepolisian. Di samping kita kehilangan banyak teman juga waktu habis untuk berurusan dalam persidangan.

Dapat menodai agama, dalam kemarahan tak jarang seseorang mulut dan tindakan yang tidak terkontrol melecehkan agamanya sendiri. Dari sumpah serapah yang dilakukan bisa melecehkan simbol-simbol agama dimana hal itu sangat dibenci oleh Allah dan Rasul.

Hikmah Marah

Di samping marah memiliki bahaya, namun ternyata marah juga memiliki hikmah bila dilakukan sewajarnya dan dan bila ditempatkan pada porsi dan situasi yang tepat. Seperti mencegah keburukan yang semakin meraja lela bila kita tidak marah. Menolak keburukan yang akan menimpa diri bila ada pihak lain yang mencoba mengitimidasi dan mengeksploitasi seseorang yang dianggapnya kita lemah sebab tidak bisa marah. Pada perinsipnya marah merupakan sifat yuang diciptakan Allah berfungsi sebagai daya imunitas seseorang untuk menjaga keamanan diri sendiri.

Cara Menahan dan Meredam Kemarahan

Terus bagaimana ketika kita terlanjur menumpahkan amarah kita dan bagaimana cara kita agar tidak mudah marah? Hal ini juga sudah dijelaskan dalam Islam. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi kita di bawah ini,

Pertama, Ketika marah segera memohon perlindungan kepada Allah

Marah bersumber dari setan, untuk meredakan tiada lain selain memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca ta’awudz “A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM” (أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ). Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat Hadits,

إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ

“Sungguh aku mengetahui satu kalimat yang seandainya diucapkan, maka marahnya akan hilang.” (Hadits Bukhari Nomor 5588 dan Hadits Muslim Nomor 4726)

Kedua, Menahan amarah

Walaupun marah merupakan tabiat manusia yang dibenarkan. Namun ketika marah hendaklah diredam dengan cara menahan amarahnya. Sebelum kita menyesali efek negatif yang akan dimunculkan dari kemarahan yang tidak terkendali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الْحُورِ شَاءَ

“Barangsiapa mampu menahan amarahnya sedangkan ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari Kiamat hingga Dia memberinya (kebebasan) memilih bidadari yang ia suka.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4176)

Ketiga, Jika dalam keadaan marah, lebih baik segera diam

Bawaan orang marah adalah meluapkan ucapan tanpa kendali. Bila menyadari bahwa ucapan tanpa kontrol tersebut beresiko menimbulkan keburukan, maka hendaklah segera diam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Keempat, Untuk meredakan marah dengan segera merendahkan diri

Marah biasanya berawal dari perasaan merasa tinggi dan ingin selalu lebih tinggi. Untuk meredakan marah salah satu jalan yang dapat dicoba adalah segera merendahkan diri. Atau dengan mengambil posisi yang lebih rendah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

“Jika salah seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri, hendakah ia duduk. Jika rasa marahnya hilang (maka itu yang dikehendaki), jika tidak hendaklah ia berbaring.” (Hadits Abu Daud Nomor 4151)

Kelima, Padamkan marah dengan air

Marah berasal dari nafsu syetan. Setan tercipta dari api, sedangkan api dapat padam dengan air. Dengan begitu, marah dapat dipadamkan dengan wudlu dan mandi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan diciptakan dari api, sementara api akan mati dengan air, maka jika salah seorang dari kalian marah hendaklah berwudhu.” (Hadits Abu Daud Nomor 4152)

Abu Muslim menyebutkan sebuah riwayat hadis,

الغضب من الشيطان ، والشيطان من النار ، والماء يطفئ النار ، فإذا غضب أحدكم فليغتسل

“Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.” (HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365)

Etika Saat Marah

Ada sebuah kata mutiara dari sahabat Ali bin Abi Thalib yang sering kita dengarkan,

“Jangan membuat keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji sewaktu sedang gembira”

Walaupun marah itu dibenarkan, namun ada beberap pesan Nabi yang penting untuk diamalkan. Yaitu, jangan memutuskan perkara dalam keadaan marah. Hal ini tidakklah aneh sebab kecenderungan manusia saat dikendalikan oleh rasa marah akan kehilangan keadilan dan kebijaksanaannya. Agar kita tidak menyesal dari dampak dari tindakan dan keputusan kita yang ditimbulkan saat kemarahan memuncak, maka jangan memutuskan sesuatu saat kita sedang dalam pengaruh rasa amarah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ أَبُو بَكْرَةَ إِلَى ابْنِهِ وَكَانَ بِسِجِسْتَانَ بِأَنْ لَا تَقْضِيَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ فَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ

“[Abu Bakrah] menulis surat untuk anaknya yang ketika itu berada di Sijistan yang isinya; ‘Jangan engkau mengadili diantara dua orang ketika engkau marah, sebab aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Seorang hakim dilarang memutuskan antara dua orang ketika marah.” (Hadits Bukhari Nomor 6625)

Di antara etika marah adalah meminta maaf setelah kita meluapkan rasa marah walaupun tidak ada keburukan yang ditimbulkan dalam kemarahan tersebut. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

كَانَ حُذَيْفَةُ بِالْمَدَائِنِ فَكَانَ يَذْكُرُ أَشْيَاءَ قَالَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ حُذَيْفَةُ إِلَى سَلْمَانَ فَيَقُولُ سَلْمَانُ يَا حُذَيْفَةُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْضَبُ فَيَقُولُ وَيَرْضَى وَيَقُولُ لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ فَقَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي سَبَبْتُهُ سَبَّةً فِي غَضَبِي أَوْ لَعَنْتُهُ لَعْنَةً فَإِنَّمَا أَنَا مِنْ وَلَدِ آدَمَ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُونَ وَإِنَّمَا بَعَثَنِي رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ فَاجْعَلْهَا صَلَاةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Hudzaifah berada di Mada`in, ia menyebut banyak hal yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian Hudzaifah mendatangi Salman lalu [Salman] berkata: Hai Hudzaifah! Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu kadang marah lalu bersabda, kadang senang lalu bersabda, aku tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah lalu bersabda: “Siapa saja dari ummatku yang aku cela saat aku marah atau aku laknat, sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, aku marah seperti halnya kalian marah, sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam maka jadikanlah itu sebagai doa baginya pada hari kiamat.” (Hadits Ahmad Nomor 22593)

Bukan hanya meminta maaf dari pihak yang marah, namun bagi yang mengalami telah dimarahi oleh orang lain akan menjadi pahala bila ikhlas memaafkannya. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (Surat Asy-Syura Ayat 37)

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke