Hukum Makmum Terpisah Menyendiri di Belakang Barisan Jamaah

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang sahabat bernama Abu Bakrah radliallahu ‘anhu pernah shalat menyendiri di belakang barisan/shaf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang shalat berjamaah,

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ الْأَعْلَمِ وَهُوَ زِيَادٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

“Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Al A’lam -yaitu Ziyad- dari Al Hasan dari Abu Bakrah, bahwa dia pernah mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang rukuk, maka dia pun ikut rukuk sebelum sampai ke dalam barisan shaf. Kemudian dia menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Semoga Allah menambah semangat kepadamu, namun jangan diulang kembali.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 741)

Seandainya shalatnya tidak sah maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menyuruh Abu Bakrah mengulang shalatnya. Adapun perkataan jangan diulangi lagi menunjukkan ke-sunnah-an sehingga berkurangnya kesempurnaan atau keafdhalan shalat berjamaah. (Bustanul Ahbar Hal. 857)

Berdasarkan hadits di atas Abu Hanifah (Madzhab Hanafi), Imam Malik (Madzhab Maliki) dan Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i) menganggap sah dan tetap mendapat pahala berjamaah bagi orang yang shalat menyendiri di luar barisan atau di belakang barisan tanpa adanya udzur syar’i, namun masih dalam satu masjid.

Walaupun demikian, Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat walaupun sah, hukumnya adalah makruh (tidak disukai) shalat berjamaah secara terpisah menyendiri dari barisan. Dengan kata lain seandainya ia tidak melakukan itu dan shalatnya bergabung dalam barisan, tentu pahalanya akan lebih besar lagi.

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali) berpendapat bukan hanya tidak mendapatkan pahala jamaah bahkan tidak sah shalatnya dan harus mengulang shalatnya yaitu orang yang shalat menyendiri di belakang barisan sampai satu rakaat penuh padahal ia bisa melihat barisan jamaah di depannya. Kecuali jika hanya beberapa gerakan lalu ia berusaha bergabung dengan barisan sehingga tidak sampai satu rakaat penuh menyendiri di luar barisan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, telah menceritakan kepada kami Abdushshamad dan Suraij berkata, telah menceritakan kepada kami Mulazim bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Badr Abdurrahman bin ‘Ali menceritakannya, bapaknya, ‘Ali bin Syaiban berkata,

“Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki shalat di belakang shaf dan berdiri sendiri sampai shalat selesai, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ulangilah shalatmu, karena tidak sah shalat seseorang yang berdiri di belakang shaf sendirian.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 15708)

Dalam redaksi lain disebutkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا صَلَاةَ لِرَجُلٍ فَرْدٍ خَلْفَ الصَّفِّ

“Tak ada shalat bagi orang yang mendirikannya sendirian dibelakang shaf.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 16297)

Imam Bukhari menjelaskan hadits di atas bahwa hadits tersebut khusus untuk laki-laki (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 395) Imam Syaukani berkata: Ulama Salaf berbeda pendapat mengenai sah tidaknya orang yang shalat sendirian di belakang barisan (shaf jamaah). Satu golongan mengatakan tidak sah shalatnya. Yang lain membedakan antara laki-laki atau perempuan. Jika laki-laki tidak sah dan wajib mengulangi shalatnya sedangkan jika perempuan tidak wajib mengulangi shalatnya. Adapun orang yang berpendapat sah berpegang pada hadits (kasus) Abu Bakrah yang sudah mengerjakan sebagian shalat di belakang shaf sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyuruh mengulang shalatnya. (Bustanul Ahbar Hal. 857)

Memang dalam hal ini ada pengecualian untuk barisan wanita, di mana wanita walaupun hanya sendirian dianggap sah shafnya. Hal ini karena wanita tidak ditekankan untuk datang shalat berjamaah ke masjid hal ini sebagaimana hadits berikut ini, telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Ishaq bin ‘Abdullah dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat di rumah Ummu Sulaim,

صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

“Aku shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ibuku Ummu Sulaim di belakang kami.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 824 dan 685)

Ibnu Bathal menjadikan hadits di atas sebagai dalil sahnya shalat sendirian (bagi laki-laki) di belakang imam. Jika hal ini dibolehkan bagi wanita maka demikian pula untuk laki-laki juga dibolehkan (shalat sendirian di belakang barisan. (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 395)

Baca selengkapnya; Hukum Shalat Berjamaah dengan Shaf Terputus

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad, diringkas dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke