Hukum Kirim Pahala dan Menanggung Dosa Orang Lain yang Sudah Meninggal (Kupas Tuntas)

Penulis mencoba menyederhanakan pembahasan ini walaupun sebetulnya pembahasan ini berat seberat dua golongan yang terus berkeyakinan bertolak belakang tanpa menemukan ujung pangkalnya. Dalam masalah ini harus jujur kita akui telah terjadi pertentangan di kalangan umat Islam dengan berbagai macam variasi perbedaan aqidahnya, namun secara garis besar kita cukupkan pada dua kelompok yang sangat bertolak belakang. Yakni,

Pendapat pertama: Golongan yang berkeyakinan bahwa baik pahala maupun dosa tidak dapat diberikan dan ditanggung oleh orang lain secara mutlak.

Pendapat kedua: Golongan yang berkeyakinan bahwa baik pahala maupun dosa dapat diberikan dan ditanggung oleh orang lain dengan catatan.

Dalil-dalil dan penjelasan yang digunakan kelompok pertama

Golongan yang menyakini bahwa pahala tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain dan dosa seseorang tidak dapat ditanggung orang lain secara mutlak biasanya menggunakan tiga dalil andalannya, yakni sebagai berikut;

Pertama: ORANG MATI PUTUS AMALNYA

Kedua: SESEORANG HANYA MEMPEROLEH USAHANYA SENDIRI

Ketiga: DOSA TIDAK BISA DITANGGUNG ORANG LAIN

Berikut penjelasannya;

Orang mati putus amalnya

Ketika seseorang meninggal dunia semua amalnya otomatis terputus. Pemahaman ini didapatkan karena mereka beranggapan bahwa apabila seseorang telah meninggal dunia maka saat itu juga semua amalnya terputus, dia sudah tidak lagi bisa menambah pahala amalnya, tidak lagi bisa meneruskan usahanya, dan sudah tidak lagi bisa menjalankan ibadahnya. Hal ini didasarkan atas sabda Nabi,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah (tidak lagi bisa menambah) segala amalan(usaha)nya kecuali (tetap mendapat aliran pahala dari) tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 3084)

Seseorang hanya memperoleh usahanya sendiri

Seseorang hanya akan mendapatkan dosa dan pahala dari hasil usaha dan jerih payahnya yang dilakukannya sendiri, dan mereka tidak akan mendapatkan pahala dari amal baik yang dikerjakan oleh orang lain. Pemahaman ini didapatkan karena mereka beranggapan bahwa bagaimana mungkin seseorang yang diam saja tanpa memiliki usaha sendiri dapat menerima aliran pahala dari usaha orang lain, hal ini tentunya mustahil disebabkan seseorang bila ingin mendapatkan sebuah pahala harus berusaha sendiri, dan bahaya bila tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk berusaha melakukan amal shalih akan berdampak pada tidak adanya semangat beribadah dan beramal karena sudah dapat diwakilkan kepada orang lain. Pemahaman ini didasarkan pada firman Allah SWT berikut,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (sendiri),” (QS. An-Najm Ayat 39)

Dosa tidak bisa ditanggung orang lain

Seseorang hanya akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dilakukannya sendiri, dan mereka tidak akan menanggung dosa dari perbuatan buruk yang dikerjakan oleh orang lain. Pemahaman ini didapatkan karena mereka beranggapan bahwa bagaimana mungkin seseorang yang diam saja tanpa ikut melakukan keburukan dapat menanggung dosa dari perbuatan orang lain, hal ini tentunya mustahil disebabkan seseorang bila mendapat dosa harus dari perbuatannya sendiri. Bila seseorang harus menanggung dosa orang lain tanpa ikut melakukannya maka berarti Allah telah berlaku aniyaya dan zalim, padahal Allah jauh dari sifat dzalim. Pemahaman ini didasarkan pada firman Allah SWT berikut,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (DI HARI KIAMAT). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS. Az-Zumar: 7)

Ayat di atas senada dengan firman berikut,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ. ۞ إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ ۚ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. Kepada-Nya-lah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat.” (QS. Fussilat: 46-47)

Tanggapan dari kelompok kedua beserta dalil-dalilnya

Golongan yang menyakini bahwa pahala tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain dan dosa seseorang tidak dapat ditanggung orang lain biasanya hanya menggunakan tiga dalil andalan tersebut saja tanpa mempertimbangkan dalil-dalil lainnya, tanpa bermaksud menuduh golongan inkarussunnah, namun seringkiali golongan yang menamakan dirinya sebagai Salafiyun ini dalam berhujjah selalu mengambil sepotong dalil dan mengingkari dalil-dalil lainnya. Dalil apa saja yang menjadi andalan aqidah mereka yang berasumsi bahwa baik dosa maupun pahala tidak bisa ditransfer kepada orang lain, berikut kutipannya sekaligus tanggapannya;

DALIL PERTAMA: ORANG MATI PUTUS AMALNYA

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah (tidak lagi bisa menambah) segala amalan(usaha)nya kecuali (tetap mendapat aliran pahala dari) tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 3084)

DALIL KEDUA: SESEORANG HANYA MEMPEROLEH USAHANYA SENDIRI

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (sendiri),” (QS. An-Najm Ayat 39

DALIL KETIGA: DOSA TIDAK BISA DITANGGUNG ORANG LAIN

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (DI HARI KIAMAT). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS. Az-Zumar: 7)

TANGGAPAN

Dalil pertama: Orang mati putus amalnya

Dalil semisal hadits yang diriwayatkan Imam Muslim nomor 3084 tersebut memang menyatakan putus amalnya namun tidak dengan pahalanya, atau lebih sederhananya amal dan pahala itu harus dibedakan. Ibarat pohon itu sebagai amalnya sedangkan pahala itu merupakan buahnya, ini menunjukkan bahwa amal usaha seseorang itu berbeda dengan pahala dari hasil amal yang dilakukan seseorang.

Baca Juga;

Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Amal adalah sebuah usaha kebaikan yang dilakukan seseorang yang dapat bermanfaat bagi orang lain yang mana karena manfaat yang ditimbulkan tersebut kemudian Allah memberi imbalan pahala kepada pelakunya. Jadi pengertian yang dikehendaki hadits di atas adalah ketika seseorang mati hanya amalnya saja yang terputus namun tidak dengan pahalanya. Dengan bahasa sederhananya adalah walaupun amalnya sudah putus namun tidak dengan pahalanya, karena setiap orang akan senantiasa mendapatkan pahala dari setiap apa yang pernah diusahakannya di masa hidupnya walaupun pelakunya sudah meninggal. Pengertian ini sangat sesuai dengan firman Allah SWT sebagaimana berikut,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang (walaupn sudah) mati dan Kami (tetap) menuliskan apa (pahala) yang telah mereka kerjakan (usakahan semasa hidupnya) dan bekas-bekas (amal usaha) yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ya Sin Ayat 12)

Pengertian firman Allah di atas bisa jadi amal seseorang sudah terputus amal usahanya karena meninggal namun pahalanya akan terus diterima dan bahkan pahala dari amal usaha yang pernah dilakukan semasa hidupnya akan terus berkembang. Hal ini sangat dimungkinkan bilamana di semasa hidupnya dia memiliki investasi amal yang disebut dengan amal jariyah, yakni sebuah amal yang pahalanya akan tetap terus mengalir dan bahkan kemungkinannya akan terus bertambah seiring bertambahnya manfaat kebaikan yang dapat dirasakan oleh pihak lain,

Di samping itu bila dikatakan disebabkan kematian amal seseorang terputus sekaligus pahalanya juga terputus maka akan bertentengan dengan banyak dalil yang mengatakan bahwa walaupun seseorang mengalami kematian selama sisa amalnya yang pernah dilakukan semasa hidupnya tidak musnah dan masih dapat memberikan manfaat bagi orang lain maka pelaku yang sudah meninggal tersebut akan tetap mandapatkan aliran dan kiriman pahala, pemahaman ini didasari oleh banyak dalil diantaranya sebagai berikut,

Berikut tiga jalur amal usaha manusia yang pahala kebaikannya tetap akan mengalir kepada pelakunya walaupun sudah meninggal dunia,

Pahala dari jalur amal jariyah

Semua kebaikan yang pernah dikerjakan semasa hidupnya baik kepada anak cucunya maupun kepada orang lain maka pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya walaupun telah meninggal,

Kebaikan seseorang semasa hidupnya kepada orang lain juga merupakan amal jariyah, sehingga bila orang-orang yang pernah mendapatkan kebaikan kita dengan balasan kebaikan maka pahalanya dapat diterima oleh orang yang sudah meninggal

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslimpun yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman lalu tanaman itu dimakan oleh burung atau menusia atau hewan melainkan itu menjadi shadaqah baginya.” (HR. Bukhari Nomor 2152)

Balasan kebaikan dari orang yang pernah dibantu merupakan amal jariyah yang pahalanya akan tetap mengalir kepada pelakunya walaupun sudah meninggal.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menuntunkan sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah melakukannya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

Bukan hanya manfaat pahala dari anak cucunya saja, melainkan dari pahala yang dikirmkan orang lain juga dapat diterima oleh orang yang sudah meninggal, karena kebaikan-kebaikan kita semasa hidup merupakan apa yang diusahakannya, pengertian ini sangat cocok dengan sabda Nabi berikut,

فِي حِجْرِي يَتِيمٌ أَفَآكُلُ مِنْ مَالِهِ فَقَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Dalam asuhanku terdapat seorang anak yatim (orang lain). Apakah aku boleh memakan sebagian dari hartanya? Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik dari apa yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah yang berasal dari hasil usahanya, dan anak (anak yatim yang telah diasuhnya) adalah hasil dari usahanya.” (HR. Abu Daud Nomor 3061)

Tidak salah bila orang lain berniat mengirimkan pahala dari amal ibadahnya kepada seseorang yang sudah meninggal sebagai bentuk balasan atas kebaikan yang pernah diterima dari orang yang telah meninggal di saat dia masih hidup. Sebagaimana anak-anak yatim yang telah mendapat kebaikan dari sorang dermawan. Bila anak yatim berhasil dikarenakan merasa dari jasa orang lain maka status anak tersebut juga merupakan bentuk amal jariyah. Hal ini layak karena anak yatim yang statusnya orang lain tersebut ingin membalas budi dan berterimakasih dengan cara kebaikan-kebaikan yang dilakukan pahalanya diniatkan kepada orang dermawan yang telah meninggal tersebut. Kewajiban berterima kasih kepada orang lain sesuai dengan yang diperintahkan dalam sabda Nabi berikut,

مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَهُ كَانَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Barang siapa yang diberi suatu pemberian lalu dia memperoleh kelebihan harta, maka hendaknya dia memberi. Dan barang siapa yang tidak mendapatkan kelebihan harta hendaknya dia memuji, karena barang siapa yang memuji dia telah bersyukur dan barang siapa yang menyembunyikan nikmat berarti dia telah kufur nikmat. Dan barang siapa yang bersikap (mengaku) dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, maka dia ibarat orang yang memakai dua buah baju kebohongan.” (HR. Tirmidzi Nomor 1957)

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barang siapa mendambakan untuk dijauhkan dari [adzab] api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah [ketika] kematiannya datang menjemput, dia [dalam keadaan] beriman kepada Allâh dan hari Akhir. Dan hendaklah memperlakukan (membalas budi kebaikan) manusia dengan cara yang dia sukai untuk diperlakukan oleh orang lain dengan cara tersebut.” (HR. Muslim Nomor 3431)

Membalas dengan pahala amal ibadah do’a

Membalas dengan pahala dari ibadah doa yang kita lakukan kepada kebaikan orang lain yang telah meninggal. Balas budi orang lain dengan memperbanyak doa untuknya walaupun kita tahu doa kita tidak semustajabah doa Nabi namun mari kita tetap berdoa untuk orang yang sudah berjasa bagi kita, hingga kita merasa doa kita telah senilai dengan doa nabi. Rasulullah berpesan,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“dari [Utsman bin ‘Affan], ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (HR. Abu Daud Nomor 2804)

يَقُولُا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkan jenazah, dan saya hafal do’a yang beliau ucapkan: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka.” (HR. Muslim Nomor 1600)

Membalas dengan pahala amal ibadah shalat jenazah

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Mayat yang dishalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendo’akannya, maka do’a mereka untuknya akan dikabulkan.” (HR. Muslim Nomor 1576)

Diantara kaum muslimin yang bermanfaat kepada orang yang sudah meninggal adalah ikut menshalati jenazah

لَا يَمُوتُ أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَتُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ أَنْ يَكُونُوا مِائَةً فَيَشْفَعُوا لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim yang meninggal, lalu dishalati oleh umat Islam yang jumlahnya mencapai saratus (orang), yang semua mendoa’kannya untuk mendapat syafaat, kecuali (Si mayit)akan diberi syafaat (pertolongan).” (HR. Tirmidzi Nomor 950)

Pahala dari manfaat masjid yang pernah dibangunnya semasa hidup, Nabi bersabda

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا مِنْ مَالِهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa membangun masjid dari hartanya, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga.” (HR. Ibnu Majah Nomor 729)

Pahala dari manfaat pohon yang pernah ditanamnya semasa hidup, Nabi bersabda

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya, apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya, dan tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkah ia menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim Nomor 2900)

Pahala dari manfaat sumur yang pernah ditanamnya semasa hidup, Nabi bersabda

قَامَ أَبُو طَلْحَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ فَقَالَ بَخْ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ أَوْ رَايِحٌ

“Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: (“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”), dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’ (sumur) itu dan sekarang dia menjadi shadaqah di jalan Allah dan aku berharap kebaikannya dan sebagai simpanan pahala di sisi-Nya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepada Tuan”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Wah, inilah harta yang menguntungkan, atau harta yang pahalanya mengalir terus.” (HR. Bukhari Nomor 2562)

Kiriman pahala bacaan Al-Qur’an dan surat Yasin dari orang lain dapat mengalir kepada orang yang sudah meninggal

Perintah membaca surat Yasin untuk orang-orang yang sudah meninggal dan dengan membaca surat Yasin akan dapat keringanan dari Allah

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشْيَخَةُ أَنَّهُمْ حَضَرُوا غُضَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ الثُّمَالِيَّ حِينَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Mughirah] telah menceritakan kepada kami [Shafwan] telah bercerita kepadaku [beberapa orang syaikh], mereka menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu dibacakan di sisi mayit, maka akan diringankannya.” Shahwan berkata; ‘Isa bin Al Mu’tamir membacakan di sisi Ma’bad.” (HR. Ahmad Nomor 16355)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Al Baqarah adalah Al Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. (bacaan dzikir tahlil) Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya, sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan di ampuni. Bacakanlah surat tersebut terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (HR. Ahmad Nomor 19415)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوهَا عِنْدَ مَوْتَاكُمْ يَعْنِي يس

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacakanlah ia untuk orang-orang yang sudah meninggal dari kalian, yakni YASIIN.” (HR.Ibnu Majah Nomor 1438)

Menurut pendapat beberapa ulama bahwa hadits-hadits tersebut shahih dan saling menguatkan antara satu hadits dengan hadits yang lainnya. Walaupun ada anggapan bahwa sebagian hadits tersebut lemah dan tidak ada yang palsu namun tidak sedikitpun mengurangi kedudukan surat Yasin yang memiliki keutamaan, karena satu hadits dengan hadits yang lainnya saling menguatkan maknanya. Jangan kemudia sebab salah satu hadits yang lemah membuat kita mengingkari banyak hadits yang shahih yang tetap semakna.

Pahala bacaan ibadah do’a orang lain dapat diterima orang yang sudah meninggal

Semua do’a orang lain dari kaum muslimin bagi setiap muslim lainnya akan bermanfaat bagi (ruhnya) si mayit. Hukum bolehnya bersifat mutlak dari kaum muslimin secara umum. Dalilnya adalah keumuman firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu (sudah meninggal) dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10).

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan (termasuk yang sudah meninggal) tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Muslim Nomor 4914)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

“dari [Utsman bin ‘Affan], ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian (yang sudah meninggal), dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (HR. Abu Daud Nomor 2804)

Ayat dan hadits di atas bukti nyata bahwa di antara bentuk kemanfaatan yang dapat diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah do’a karena ayat ini mencakup umum, yaitu orang yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia. Maksud do’a di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah mereka yang sudah meninggal dunia.

Pahala shalat jenazah disamping untuk yang melakukan shalat juga bermanfaat untuk mayit

Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala ibadah amaliyah shalat jenazah kepada ruh (arwah) mayit adalah keumuman makna hadits Nabi,

Seperti pahala pelaksanaan shalat jenazah dari orang yang masih hidup kepada orang meninggal yang bermanfaat dapat menyebabkan si mayyit mendapat syafaat,

مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ النَّاسِ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ فَسَأَلْتُ أَبَا الْمَلِيحِ عَنْ الْأُمَّةِ فَقَالَ أَرْبَعُونَ

“Tidaklah seseorang meninggal dunia, kemudian mati dishalati oleh segolongan umat manusia, kecuali akan diberi syafa’at’.” Lalu aku bertanya kepada Abul Mulih apa maksud tentang segolongan umat? Ia menjawab; “Empat puluh orang.” (HR. Nasai Nomor 1966)

لَا يَمُوتُ أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ النَّاسِ فَيَبْلُغُوا أَنْ يَكُونُوا مِائَةً فَيَشْفَعُوا إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang dari kaum Muslimin meninggal dunia kemudian dishalati oleh umat manusia yang jumlah mereka seratus, lalu kemudian mereka memberi kesaksian baik, kecuali akan diberi syafa’at padanya.” (HR. Nasai Nomor 1965)

مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ أَنْ يَكُونُوا مِائَةً يَشْفَعُونَ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ قَالَ سَلَّامٌ فَحَدَّثْتُ بِهِ شُعَيْبَ بْنَ الْحَبْحَابِ

“Tidaklah seorang mayit dishalati oleh umat dari kalangan kaum Muslimin yang jumlah mereka mencapai seratus, semuanya memberikan kesaksian baik, kecuali akan diberi syafa’at padanya.” (HR. Nasai Nomor 1964)

لَا يَمُوتُ أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَتُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ أَنْ يَكُونُوا مِائَةً فَيَشْفَعُوا لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim yang meninggal, lalu dishalati oleh umat Islam yang jumlahnya mencapai saratus (orang), yang semua mendoa’kannya untuk mendapat syafaat, kecuali akan diberi syafaat.” (HR. Tirmidzi Nomor 950)

Pahala doa saat ziarah kubur juga dapat diterima oleh ahli kubur

قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

“Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi kuburan ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat.” (HR. Tirmidzi Nomor 974)

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَلْتَزِدْكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْرًا

“Aku pernah melarang kalian dari tiga hal; ziarah kubur, sekarang berziarahlah, semoga dengan berziarah akan menambah kebaikan.” (HR. Nasai Nomor 5559)

Mendoakan Ahli Kubur saat menziarahi

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْمَغْرَمِ وَالْمَأْثَمِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengucapkan doa (saat ziarah kubur): “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, fitnah neraka, fitnah kubur dan siksa kubur, kejelekkan fitnah Al Masih dajjal, kejelekkan fitnah kekayaan dan fitnah kejelekkan kafakiran. Ya Allah, basuhlah kesalahanku dengan air es dan embun, bersihkan hatiku dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan kain putih dari kotoran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kepikunan, hutang yang tidak terbayar dan sebab yang mendatangkan dosa.” (HR. Nasai Nomor 5382)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ فِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ وَفِي رِوَايَةِ زُهَيْرٍ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada mereka apa yang mesti mereka kerjakan apabila mereka hendak keluar ziarah kubur. Maka salah seorang dari mereka membaca do’a sebagaimana yang tertera dalam riwayat Abu Bakar; “AS SALAAMU ‘ALA AHLID DIYAAR -sementara dalam riwayat Zuhair- AS SALAAMU ‘ALAIKUM AHLAD DIYAARI MINAL MUKMINIIN WAL MUSLIMIIN WA INNAA INSYAA`ALLAHU BIKUM LAAHIQUUN ASALULLAHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH (Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyulul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al ‘Afiyah (keselamatan).” (HR. Muslim Nomor 1620)

Menziarahi Kubur Dengan Tabur Bunga Basah Untuk Meringankan Beban kuburnya

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ فَغَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan lalu beliau bersabda: “Kedua penghuni kubur ini tengah disiksa dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu ini, tidak bersuci dari kencingnya, sedangkan yang ini disiksa karena selalu mengadu domba.” Kemudian beliau meminta sepotong pelepah kurma yang masih basah. Beliau membelahnya menjadi dua dan menancapkannya pada dua kuburan tersebut. Beliau kemudian bersabda: ‘Semoga ini bisa meringankan keduanya selagi belum kering.” (HR. Bukhari Nomor 5592 dan Muslim Nomor 439)

Pahala bacaan dzikir shalawat sampai kepada nabi (yang sudah meninggal)

Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala ibadah amaliyah membaca shalawat kepada ruh (arwah) nabi yang suda meninggal adalah keumuman makna firman Allah,

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzaab: 56)

Seperti pahala pembacaan shalawat kepada nabi dari ummatnya yang masih hidup kepada nabi yang sudah meninggal tetap dapat memberikan kemanfaatan. Sebagaimana sabda nabi,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ يَعْنِي بَلِيتَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya hari yang paling utama dari hari-hari kalian adalah hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, sangkakala ditiup dan di hari itu datang hari kiamat. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku. ” Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami bisa sampai kepadamu, sementara engkau telah tiada dan jasadmu telah hancur?” Beliau menjawab: “Allah telah mengharamkan bagi bumi untuk makan jasad para Nabi.” (HR. Ibnu Majah Nomor 1075. Abu Daud Nomor 883. Nasai Nomor 1357. Darimi Nomor 1526)

Bahkan pahala bacaan shalawat kepada nabi Muhammad dan nabi Ibrahim beserta para keluarganya yang sudah meninggalpun masih memberikan manfaat. Sebagaimana sabda nabi,

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ قَالَ فَقَالُوا لَهُ فَعَلِّمْنَا قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ إِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah). ” Al Aswad berkata; “Orang-orang pun berkata Abdullah bin Mas’ud, “Ajarkanlah kepada kami, ” Abdullah bin Mas’ud berkata; “Bacalah; (Ya Allah, jadikanlah shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada pemimpin para Nabi yang diutus, imam orang-orang yang bertakwa dan penutup para Nabi, Muhammad, hamba dan rasul-Mu. Seorang imam dan pemimpin kebaikan, serta rasul pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji, kedudukan yang menjadikan iri orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.” (HR. Ibnu Majah Nomor 896)

Walaupun sudah meninggal tanggungan semasa hidupnya akan lenyap bila pemiliknya mengikhlaskannya

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah Ayat 280)`

Pahala dari jalur ilmu yang bermanfaat

Berkat kemurahan dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang yang telah meninggal dunia masih bisa menikmati manfaat dan pahala dari sebagian amalan yang pernah diusahakannya semasa hidupnya. Dia juga bisa mendapatkan manfaat dari sebagian amalan orang-orang yang masih hidup. Di antara perkara yang terus bermanfaat bagi seorang yang telah meninggal adalah:

Hasil karya dan dakwah berkat ilmu yang dimilikinya selama mendatangkan kemanfaatan maka pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya walaupun sudah meninggal dunia. Seperti pembuatan karya teknologi, buku agama, buku ilmiyah, situs dakwah, dan media-media dakwah dan karya lainnya

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim Nomor 4831)

Ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain akan terus mengalirkan pahala baginya walaupun ia telah meninggal, sebagaimana sabda Nabi,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim Nomor 3509)

Mendapat pahala dari suri tauladan yang pernah dilakukan semasa hidupnya

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

‘Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya (yang masih hidup), maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh.” (HR. Muslim Nomor 4830)

Orang mati tetap mendapat pahala dari jalur ibadah-ibadah anaknya yang diniatkan untuk orang tuanya

Kenapa kebaikan-kebaikan seorang anak pahalanya juga dapat mengalir kepada orang tuanya, dikarenakan anak adalah merupakan apa yang pernah diusahakannya. Orang tualah yang menafkahi anaknya hingga anaknya menjadi seorang yang berhasil dan mulia, makna ini sangat sesuai dengan sabda Nabi berikut,

وَلَدُ الرَّجُلِ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِهِ فَكُلُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Anak seseorang merupakan hasil dari usahanya, dan sebaik-baik hasil usahanya. Maka makanlah sebagian dari harta mereka!” (HR. Abu Daud Nomor 3062

Apapun yang dikerjakan seseorang semasa hidupnya baik kepada anak cucunya sendiri atau kepada orang lain pasti pahala dari amal yang diusahakannya akan sampai kepadanya walaupun sudah meninggal, sebagaimana firman Allah,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Tur Ayat 21)

Kiriman pahala dari ibadah jasadi anak cucunya sebagai balas budi kepada orang tuanya, diantaranya; Ibadah doa, ibadah dzikir istighfar.

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

“dari [Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As Sa’idi] ia berkata, “Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari bani Salamah datang kepada beliau. Laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada ruang untuk aku berbuat baik kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal?” beliau menjawab: “Ya. Mendoakan dan (membaca drikir istighfar) memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan wasiatnya, menyambung jalinan silaturahmi mereka dan memuliakan teman mereka.” (HR. Abu Daud Nomor 4476)

Memperbanyak kiriman pahala bacaan dzikir-dzikir diantaranya bacaan istighfar karena dapat mengangkat derajat mayit di akhirat

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya seseorang akan di angkat derajatnya di surga, lalu orang tersebut akan bertanya, ‘Bagaimana ini bisa terjadi? ‘ lalu dijawab, ‘Karena anakmu telah memohonkan ampun (kirim pahala dzikir istighfar) untukmu’.” (HR. Ibnu Majah Nomor 3650)

Kiriman pahala dari ibadah jasadi anak cucunya sebagai balas budi kepada orang tuanya, diantaranya; memenuhi janji dan menjalin silaturahim dengan koleganya.

إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ قَالَ نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا

“tiba-tiba seorang laki-laki Anshar datang dan berkata; Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam apakah masih tersisa kewajiban atasku untuk berbuat baik kepada orang tuaku setelah kematian mereka berdua?. Beliau menjawab ‘Ya’, masih tersisa empat perkara yaitu: mendoakan untuk mereka berdua, meminta ampunan mereka, memenuhi janji mereka yang belum terselesaikan dan memuliakan teman teman mereka serta silaturrahim yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kamu kecuali dari jalur mereka. Itulah semua yang tersisa dari kewajibanmu untuk (membalas budi) berbuat kebaikan kepada orang tuamu setelah mereka meninggal.” (HR. Ahmad Nomor 15479)

Kiriman pahala bacaan Al-Qur’an

Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala ibadah amaliyah bacaan Al-Qur’an kepada ruh (arwah) mayit adalah keumuman makna firman Allah, seperti pahala bacaan surat yasin kepada orang meninggal yang bermanfaat dapat menyebabkan pengampunan dari Allah. Kiriman pahala bacaan Al-Qur’an Anak dapat memuliakan orang tuanya di Akhirat, sebagaimana yang disabdakan Nabi,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab(Al-Qur’an)Ku.” (HR. Darimi Nomor 3235)

Do’a anaknya sendiri yang sholih, sedekah jariyah dan ilmu yang diambil manfaatnya

Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala do’a, jariyah, dan ilmu bermanfaat dari seorang anak kepada orang tuanya adalah,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 3084)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)

Pahala dari sedekah-sedekah yang dilakukan anaknya akan diterima orang tua

Hukum bersedekah harta untuk orang yang telah meninggal juga dapat bermanfaat secara mutlak, baik itu berupa benda padat maupun benda cair, benda hidup maupun benda mati, benda mentah maupun benda matang. Sebagaimana yang sering dilakukan oeh kebanyakan orang pada saat salah satu keluarganya meninggal para peziarah disuguhi makanan oleh tuan rumah atau ahli waris bukan untuk kenduri foya-foya atau pesta pora, melainkan sebagai bentuk (diniatkan) sedekah yang pahalanya dikirimkan kepada si mayit. Hal ini sangat dianjurkan karena sesuai dengan sabda Nabi,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

“dari [‘Aisyah radliallahu ‘anha] bahwa ada seorang laki-laki berkata, kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bershadaqah untuknya (atas namanya)?”. Beliau menjawab: “Ya, benar.” (HR. Bukhari Nomor 1299)

إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَإِنَّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقَ عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah meninggal secara tiba-tiba, sekiranya dapat bicara niscaya ia akan bersedekah. Apakah aku boleh bersedekah untuknya?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya.” (HR. Nasai Nomor 3589)

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِيَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia sedang saat itu aku tidak ada di sisinya. Apakah akan bermanfaat baginya bila aku menshadaqahkan sesuatu untuknya?” Beliau bersabda: “Ya”. Dia berkata: “Aku bersaksi kepada Tuan bahwa kebunku yang penuh dengan bebuahannya ini aku shadaqahkan atas (nama) nya.” (HR. Bukhari Nomor 2556)

Memperbanyak kirim pahala untuk orang tua dengan bersedekah makanan saat menyabut para kolega orang tua yang bertamu untuk bertakziyah

قَالَ أَبَرُّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya kebajikan yang utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturrahim) dengan keluarga sahabat baik ayahnya.” (HR. Muslim Nomor 4630)

Karena para kolega yang bertakziah termasuk tamu maka perlu dimuliakan

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya, tidak halal bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait) mengeluarkannya.” (HR. Bukhari Nomor 5670)

Salah satu bentuk memuliakan para tamu yang dari jauh adalah menyuguhkan hidangan sebagai bentuk sedekah yang diniatkan pahalanya dikirim kepada orang tuanya

إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah aku boleh bershadaqah atas namanya?” Beliau menjawab: “Ya bershodaqolah atasnya.” (HR. Bukhari Nomor 2554)

إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَإِنَّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقَ عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah meninggal secara tiba-tiba, sekiranya dapat bicara niscaya ia akan bersedekah. Apakah aku boleh bersedekah untuknya?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya.” (HR. Nasai Nomor 3589)

Dengan menyuguhkan makanan kepada para tamu yang bertakziyah tentunya akan mendapatkan tiga pahala sekaligus yakni, pahala memuliakan tamu, pahala sedekah atas nama orang tua, dan pahala karena kita telah berbakti kepada orang tua dengan melanjutkan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan orang tua kita

خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ أَوْ الَّذِينَ يُطْعِمُونَ الطَّعَامَ

“Yang terbaik diantara kalian adalah yang memberi makan atau orang-orang yang memberi makan.” (HR. Ahmad Nomor 22803)

Dengan banyaknya kolega dan handaitaulan yang bertakziyah maka para saudara dan tetangga terdekat dianjurkan membantu kerepotan tuan rumah yang menyambut dan melayani para tamu dengan menyediakan suguhan makanan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْنَعُوا لِأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

“dari [Abdullah bin Ja’far] berkata; “Ketika tiba kabar kematian Ja’far, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; ‘Persiapkanlah makanan buat keluarga Ja’far karena telah datang urusan (dengan datangnya para pelayat) yang menyibukkan mereka’.” (HR. Tirmidzi Nomor 919)

Para handaitolan dianjurkan menghibur ahlul bait yang sedang bersedih diantaranya dengan menyediakan makanan untuk menyenangkan

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلَّا أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِينَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِينَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ التَّلْبِينَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ

“dari [‘Aisyah] istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa bila ada orang dari keluarganya (Aisyah) yang meninggal maka para wanita pun berkumpul, kemudian mereka pergi kecuali keluarganya dan orang-orang terdekat. Lalu (Aisyah) memerintahkan untuk mengambil periuk yang terbuat dari batu dan diisi dengan talbinah (makanan terbuat dari tepung dan kurma), lalu dimasaklah makanan tersebut, kemudian dibuat bubur dan dituangkanlah makanan tersebut diatasnya. Lalu (Aisyah) berkata; “Makanlah ia, karena sungguh saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Makanan yang terbuat dari tepung dan kurma tersebut penyejuk bagi hati yang sakit dan dapat menghilangkan sebagian kesedihan.” (HR. Muslim Nomor 4106)

عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوْسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ سَبْعاً فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَياَّمَ.

“Dari Sufyan berkata: “Thawus berkata: “Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut.”

Pahala dari ibadah puasa yang dilakukan anaknya akan diterima orang tua

أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كُنْتُ تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِوَلِيدَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ وَتَرَكَتْ تِلْكَ الْوَلِيدَةَ قَالَ قَدْ وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَجَعَتْ إِلَيْكِ فِي الْمِيرَاثِ قَالَتْ وَإِنَّهَا مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَيُجْزِئُ أَوْ يَقْضِي عَنْهَا أَنْ أَصُومَ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَتْ وَإِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ أَفَيُجْزِئُ أَوْ يَقْضِي عَنْهَا أَنْ أَحُجَّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

“bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; dahulu aku bersedekah kepada ibuku dengan memberikan seorang budak wanita, dan beliau meninggal serta meninggalkan budak tersebut. Beliau berkata: “Telah tetap pahalamu dan budak tersebut kembali kepadamu diantara harta warisan.” Wanita tersebut berkata; beliau meninggal dalam keadaan memiliki kewajiban berpuasa satu bulan. Apakah sah atau dapat menunaikan untuknya apabila aku berpuasa untuknya? Beliau berkata: “Ya.” Wanita tersebtu berkata; sesungguhnya beliau belum berhaji, apakah sah atau dapat menunaikan untuknya apabila aku berhaji untuknya? Beliau berkata: “Ya.” (HR. Abu Daud Nomor 2492)

Pahala dari ibadah haji dan umrah yang dilakukan anaknya akan diterima orang tua

Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala haji dan umrah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

أَمَرَتِ امْرَأَةُ سِنَانَ بْنِ سَلَمَةَ الْجُهَنِىِّ أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ أُمَّهَا مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَيُجْزِئُ عَنْ أُمِّهَا أَنْ تَحُجَّ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّهَا دَيْنٌ فَقَضَتْهُ عَنْهَا أَلَمْ يَكُنْ يُجْزِئُ عَنْهَا فَلْتَحُجَّ عَنْ أُمِّهَا

Istri Sinan bin Salamah Al Juhaniy meminta bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ibunya yang meninggal dunia dan belum sempat menunaikan haji. Ia tanyakan apakah boleh ia menghajikan ibunya. “Iya, boleh. Seandainya ibunya punya utang, lalu ia lunasi utang tersebut, bukankah itu bermanfaat bagi ibunya?! Maka silakan ia hajikan ibunya”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Nasai No. 2634)

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

“Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?”. Beliau menjawab: “Tunaikanlah haji untuknya. Bagaimana pendapatmnu jika ibumu mempunyai hutang, apakah kamu wajib membayarkannya?. Bayarlah hutang kepada Allah karena (hutang) kepada Allah lebih patut untuk dibayar.” (HR. Bukhari Nomor 1720)

Dalam riwayat lain,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَبِيهَا مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ قَالَ « حُجِّى عَنْ أَبِيكِ ».

“Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya seorang wanita pernah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ayahnya yang meninggal dunia dan belum berhaji, maka beliau bersabda, “Hajikanlah ayahmu.” (HR. Bukhari 1513 dan Muslim 1334, lafazhnya adalah dari An Nasai dalam sunannya no. 2635).

Begitu pula boleh mengumrohkan orang yang tidak mampu,

عَنْ أَبِى رَزِينٍ الْعُقَيْلِىِّ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِى شَيْخٌ كَبِيرٌ لاَ يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلاَ الْعُمْرَةَ وَالظَّعْنَ. قَالَ « حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ ».

“Dari Abu Rozin Al ‘Uqoili, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ayahku sudah tua renta dan tidak mampu berhaji dan berumrah, serta tidak mampu melakukan perjalanan jauh.” Beliau bersabda, “Hajikan ayahmu dan berumrahlah untuknya pula.” (HR. Nasai no. 2638).

Juga didukung oleh hadits,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ.فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ شُبْرُمَةُ ». قَالَ قَرِيبٌ لِى. قَالَ « هَلْ حَجَجْتَ قَطُّ ». قَالَ لاَ. قَالَ « فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ احْجُجْ عَنْ شُبْرُمَةَ ».

“Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang yang berucap ‘labbaik ‘an Syubrumah’ (aku memenuhi panggilan-Mu -Ya Allah- atas nama Syubrumah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, “Siapa Syubrumah?” “Ia adalah kerabat dekatku”, jawab orang tersebut. “Apakah engkau sudah pernah berhaji sekali sebelumnya?”, tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia jawab, “Belum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatinya, “Jadikan hajimu ini untuk dirimu, nanti engkau berhaji lagi untuk Syubrumah.” (HR. Ibnu Majah no. 2903, Abu Daud 1811, Ibnu Khuzaimah 3039, Ibnu Hibban 962)

Harta warisan yang ditinggalkan orang tua kepada anak cucunya menjadi ladang pahalanya bagi orang yang sudah meninggal

مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Jika kamu memberi makan pada diri kamu, maka itu menjadi sedekah bagimu, jika kamu memberi makan pada anakmu maka itu menjadi sedekah bagimu, jika kamu memberi makan pada istrimu maka itu menjadi sedekah bagimu, jika kamu memberi makan pada pelayanmu maka itu menjadi sedekah bagimu.” (HR. Ahmad Nomor 16550)

Memperbanyak pahala orang tua dengan bersedekah manfaat pohon

أَيُّمَا مُسْلِمٍ ضَمَّ يَتِيمًا بَيْنَ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ إِلَى طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةَ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَعْتَقَ رَقَبَةً أَوْ رَجُلًا مُسْلِمًا كَانَتْ فِكَاكَهُ مِنْ النَّارِ وَمَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ

“Siapa saja seorang muslim yang menjamin makan dan minum anak yatim karena ditinggal orang tuanya yang muslim, hingga ia mandiri, maka wajib baginya surga. Dan siapa saja dari orang muslim yang memerdekakan budak atau membebaskan seorang muslim, maka ia terbebas dari Neraka, dan barangsiapa mendapatkan kedua orang tuanya (yang bersedekah) atau salah satu dari keduanya masuk Neraka maka Allah telah menjauhkannya (Membebaskan dari neraka karena sedekah anak yang diatasnamanak orang tuanya).” (HR. Ahmad Nomor 19441)

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756)

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِيَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia sedang saat itu aku tidak ada di sisinya. Apakah akan bermanfaat baginya bila aku menshadaqahkan sesuatu untuknya?” Beliau bersabda: “Ya”. Dia berkata: “Aku bersaksi kepada Tuan bahwa kebunku yang penuh dengan bebuahannya ini aku shadaqahkan atas (nama) nya.” (HR. Bukhari Nomor 2556)

إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَإِنَّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقَ عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah meninggal secara tiba-tiba, sekiranya dapat bicara niscaya ia akan bersedekah. Apakah aku boleh bersedekah untuknya?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya.” (HR. Nasai Nomor 3589)

Pahala membayarkan hutang (qadho’) nadzar ibadah maliyah dapat diterima orang yang sudah meninggal dunia

Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala ibadah maliyah adalah,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756)

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ أَفَيُجْزِئُ عَنْهَا أَنْ أُعْتِقَ عَنْهَا قَالَ أَعْتِقْ عَنْ أُمِّكَ

“dari [Sa’ad bin ‘Ubadah] ia mendantangi nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Ibuku meninggal dunia dan ia memiliki tanggungan nadzar, apakah aku bisa mencukupinya dengan memerdekakan budak untuknya? Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakan (budak) untuk ibumu.” (HR. Ahmad Nomor 22726)

Pahala membayarkan hutang dapat diterima orang yang sudah meninggal dunia

عَنْ سَعْدِ بْنِ الْأَطْوَلِ قَالَ مَاتَ أَخِي وَتَرَكَ ثَلَاثَ مِائَةِ دِينَارٍ وَتَرَكَ وَلَدًا صِغَارًا فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْفِقَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَخَاكَ مَحْبُوسٌ بِدَيْنِهِ فَاذْهَبْ فَاقْضِ عَنْهُ قَالَ فَذَهَبْتُ فَقَضَيْتُ عَنْهُ ثُمَّ جِئْتُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ قَضَيْتُ عَنْهُ وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا امْرَأَةً تَدَّعِي دِينَارَيْنِ وَلَيْسَتْ لَهَا بَيِّنَةٌ قَالَ أَعْطِهَا فَإِنَّهَا صَادِقَةٌ

“dari [Sa’ad bin Al Athwal] berkata; saudara laki-lakiku meninggal, ia meninggalkan hutang tiga ratus dinar dan seorang anak kecil. Saya pun berkehendak menginfakkan harta untuk mereka. lalu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda kepadaku, “Saudara kamu tertahan karena hutangnya, pergilah dan bayarlah!” (Sa’ad bin Al Athwal Radliyallahu’anha) berkata; “Saya pun pergi untuk membayarnya, saya kembali dan berkata; ‘Wahai Rasulullah, saya telah memenuhinya dan tidak tersisa kecuali seorang wanita yang mengakui dengan dua dinar namun dia tidak mempunyai bukti.” Beliau bersabda: “Berikanlah sesungguhnya dia adalah jujur.” (HR. Ahmad Nomor 16593)

كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ الْمُتَوَفَّى عَلَيْهِ الدَّيْنُ فَيَسْأَلُ هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ فَضْلًا فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ لِدَيْنِهِ وَفَاءً صَلَّى وَإِلَّا قَالَ لِلْمُسْلِمِينَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ قَالَ أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فَتَرَكَ دَيْنًا فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah disodorkan kepada beliau seorang yang sudah merninggal dunia (jenazah) yang meninggalkan hutang maka Beliau bertanya: “Apakah dia meninggalkan harta untuk membayar hutangnya?” Jika diceritakan bahwa jenazah tersebut ada meninggalkan sesuatu untuk melunasi hutangnya maka Beliau menyolatinya, jika tidak maka Beliau berkata, kepada Kaum Muslimin: “Shalatilah saudara kalian ini”. Ketika Allah telah membukakan kemenangan kepada Beliau di berbagai negeri Beliau bersabda: “Aku lebih utama menjamin untuk orang-orang beriman dibanding diri mereka sendiri, maka siapa yang mneninggal dunia dari kalangan Kaum Mukminin lalu meninggalkan hutang akulah yang wajib membayarnya dan siapa yang meninggalkan harta maka harta itu untuk pewarisnya.” (HR. Bukhari Nomor 2133)

Pahala membayarkan Utang (qadho’) nadzar ibadah amaliyah dapat diterima orang yang sudah meninggal dunia

Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala utang nadzar baik berbentuk ibadah amaliyah seperti hutang maupun ibadah maliyah seperti memerdekakan budak dan lain sebagainya adalah,

إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ فَقَالَ اقْضِهِ عَنْهَا

“Sesunguhnya ibuku meninggal dunia sedangkan dia punya nadzar (yang belum ditunaikan) “. Maka Beliau bersabda: “Tunaikanlah nadzarnya.”(HR. Bukhari Nomor 2555)

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ اسْتَفْتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ لَمْ تَقْضِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْضِهِ عَنْهَا

“bahwa Sa’d bin ‘Ubadah telah meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; sesungguhnya ibuku telah meninggal, dan ia memiliki tanggungan nadzar yang belum beliau tunaikan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tunaikan nadzar tersebut untuknya!” (Hadits Abu Daud Nomor 2876)

Dalil kedua: Seseorang hanya memperoleh usahanya sendiri

Pertama: Dalil semisal Al-Qur’an Surat An-Najm Ayat 39 memang seseorang mendapat pahala dari amal usahanya sendiri, namun ternyata amal usaha kita pahalanya semakin meningkat bila ada kontribusi dan sokongan dari orang lain. Sebagaimana makna yang dapat dari penjelasan dalil-dalil berikut,

Kita dapat tambahan 26 drajat pahala dari orang lain disebabkan kita melaksanakan jamaah bersama orang lain, sabda Nabi,

تَفْضُلُ صَلَاةُ الْجَمِيعِ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا…تَفْضُلُهَا بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjama’ah lebih utama dibanding shalatnya salah seorang dari kalian dengan sendirian dengan dua puluh lima bagian. …”(Shalat berjama’ah) dilebihkan dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari Nomor 612)

Semua amal ibadah yang kita lakukan pahalanya masih bernilai separuh selama kita belum menikah, karena dalam ibadah yang belum berada dalam status pernikahan nafsu birahinya belum tenang, sebagaimana yang telah disabdakan Nabi,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Ini menunjukkan bahwa kedudukan dan usaha orang lain dalam masalah amal ibadah dapat melimpahkan pahala kepada orang lain.

Kedua: Bila dikatakan manusia tidak mendapatkan pahala dari apa yang diusahakan orang lain secara saklek/membabi buta maka akan sangat bertentangan dengan banyak dalil yang mana seseorang juga bisa mendapatkan pahala dari usaha orang lain walaupun dia tidak ikut mengerjakannya. Hal ini bisa terjadi dikarenakan dia ikut terlibat atau sebagai penyebab orang lain bisa melakukan kebaikan, seperti ditunjukkan oleh makna dalil-dalil berikut,

Bila ada sekelompok umat Islam berkeyakinan bahwa seseorang tidak tidak bisa mendapatkan pahala dari usaha kebaikan orang lain sedangkan seseorang tersebut tidak ikut mengerjaka kebaikan itu, maka aqidah tersebut telah sesat karena sangat betentangan dengan sabda Nabi berikut ini,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim Nomor 4831)

Orang tua mendapatkan pahala dari anaknya walaupun belum baligh

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَفَعَتْ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا مِنْ هَوْدَجٍ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِهَذَا حَجٌّ قَالَ نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ

“dari [Ibnu Abbas], ia berkata; ada seorang wanita yang mengangkat bayinya dari tandu seraya berkata; wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; apakah anak ini boleh melakukan haji? Maka beliau bersabda: “Iya, dan engkau mendapatkan pahala.” (HR. Nasai Nomor 2598)

Walaupun tidak mengamalkan kebaikan tetap mendapatkan pahala dari amalnya orang lain selama orang lain yang mengerjakan kebaikan tersebut ilmunya berasal dari yang mengajarkannya

مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ

“Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah Nomor 236)

Orang mati tetap mendapat limpahan pahala dari amal orang lain yang berasal dari pengajarannya

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Sedekah yang paling utama adalah seorang muslim yang mempelajari satu disiplin ilmu kemudian mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim.” (HR. Ibnu Majah Nomor 239)

Hasil karya dan dakwah berkat ilmu yang dimilikinya selama mendatangkan kemanfaatan maka pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya walaupun sudah meninggal dunia. Seperti pembuatan karya teknologi, buku agama, buku ilmiyah, situs dakwah, dan media-media dakwah dan karya lainnya Ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain akan terus mengalirkan pahala baginya walaupun ia telah meninggal, sebagaimana sabda Nabi,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menuntunkan sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah melakukannya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim Nomor 3509)

Mendapat pahala dari suri tauladan yang pernah dilakukan semasa hidupnya

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

‘Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh.” (HR. Muslim Nomor 4830)

Jelas sekali pandangan bahwa orang lain tidak bisa mendapat pahala dari usaha orang lain merupakan pandangan yang sangat sesat dan menyesatkan.

Dalil ketiga: Dosa tidak bisa ditanggung orang lain

Dalil semisal Al-Qur’an Surat Az-Zumar: 7 memang seseorang tidak dapat memikul dosa-dosa orang lain, namun ternyata pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat karena bertentangan dengan ayat berikut,

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (QS. Al-‘Ankabut Ayat 13)

Hal senada juga disebutkan dalam surat An-Nahl ayat 25,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“(sikap mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl Ayat 25)

Dalam ayat di atas jelas-jelas menunjukkan bahwa setiap manusia dapat memikul dosa orang lain. Namun seseorang dapat menanggung beban dosa orang lain tetap dengan membutuhkan penjelasan dan kriteria yang yang lebih mendalam. Sedangkan dalil-dalil yang banyak digunakan oleh firqah Salafiyun yang mengatakan bahwa seseorang tidak dapat menanggung beban dosa orang lain tersebut ternyata tidak sesuai dengan kriteria berikut, yakni;

Pertama: Berlakunya hanya di akhirat saat hari perhitungan sudah selesai

Kedua: Berlakunya seseorang tidak dapat menanggung beban dosa orang lain tidak berlaku mutlak

Berikut penjelasannya;

Seseorang tidak dapat menanggung beban dosa orang lain berlakunya hanya di akhirat ketika hari perhitungan sudah selesai, kenapa seseorang sudah tidak bisa lagi memberikan dosa bagi orang lain saat kiamat, karena pasa saat kiamat merupakan batas terakhir umat manusia bisa bermal ibadah. Sesuai dengan firman Allah,

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (QS. Ta Ha: 109)

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

“Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu (kiamat) seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah: 123)

Ini bukti bahwa tidak dapatnya seseorang menanggung dosa orang lain itu berlaku di alam akhirat saat sangkakala telah ditiup oleh malaikat. Hal ini sangat sesuai dengan dalil-dalil berikut,

عَنِ الْمُجْرِمِينَ. مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ. وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ. وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ. وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ. حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ. فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

“tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka) (saat hari kiamat)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS. Al-Muddassir Ayat 41-48)

Di samping itu juga seseorang sudah tidak bisa menanggung dosa orang lain saat hari kiamat bila Allah tidak mengizinkan para malaikat dan Nabi untuk memberikan syafaat. Karena syafaat hanya milik Allah,

Syafaat itu hanya milik Allah dan diizinkannya Nabi dan malaikat memberi syafaat hanya bersifat pelaksana. Allah berfirman,

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Az-Zumar: 44)

Perhatikan semua dalil-dalil yang menyampaikan berita tentang tidak dapatnya seseorang menanggung dosa orang lain khitob dan konteksnya saat hari kiamat sudah terjadi. Itu menunjukkan bahwa selama seseorang masih hidup di dunia dan selama seseorang masih beramaliyah dan bermuamalah interaksinya dengan manusia lain maka dia akan terkena resiko mendapat limpahan dosa dari orang lain walaupun dia sendiri tidak ikut melakukan kemungkaran.

Berikut dalil-dalil yang menunjukkan manusia tidak dapat menanggung dosa orang lain berlakunya hanya saat kiamat sudah terjadi,

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ. يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melabihkan kamu atas segala umat. Dan takutlah kamu kepada suatu hari (kiamat) di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah: 122-123)

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (DI HARI KIAMAT). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS. Az-Zumar: 7)

Senada dengan firman lainnya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ. ۞ إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ ۚ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. Kepada-Nya-lah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat.” (QS. Fussilat: 46-47)

CATATAN: Hitob ayat ini saat hari kiamat tiba, bukan untuk manusia yang masih di dunia, karena ayat ini termasuk ayat-ayat kisah, yang mengisahkan tentang perbedaan kaum kafir dengan kaumnya nabi Musa yang beriman. Pada ayat ini menggambarkan tentang kondisi di hari perhitungan dimana amal dan syafaat sudah tertutup sehingga setiap manusia hanya akan mempertanggungjawabkan amal baik dan amal buruknya sendiri-sendiri.

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۚ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan (Di Hari Kiamat).” (QS. Al-An’am: 164)

أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ. وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ. أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ. وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ. وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak (Di Hari Kiamat) akan diperlihatkan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 36-40)

CATATAN: Penjelasan ayat ini mengenai kisah umat nabi Musa, memang benar orang lain tidak bisa menanggung dosa orang lain namun hitob kalam tersebut di alam akhirat setelah kiamat datang saat manusia telah dibangkitkan menuju padang mahsar untuk menjalani perhitungan amal saat semua pintu amal sudah tertutup. Pemahaman makna ini didapat dari ayat-ayat di atas, yakni; pada ayat ke 2 (ketika hari itu datang). Masalah ini terkait pemisahan yang jelas mengenai antara umat kafir dan umat yang beriman sudah tidak ada kaitannya.

وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ. وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ. وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

“Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik. Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu”, dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta. Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (QS. Al-‘Ankabut: 11-13)

Itu hanya beberapa dalil saja yang kami tunjukkan bahwa dalil-dalil tersebut sifatnya hanya sebuah kabar bahwa selayaknya setiap manusia memperbanyak amal dan menjauhi kemunkaran selama belum berlakunya masa seseorang sudah tidak bisa lagi menanggung dosa dan pahala orang lain disebabkan amalnya. Namun begitu walupun dosa sudah tidak bisa ditanggung lagi oleh orang lain ternyata Allah berkat karunia, kasih sayang, dan ridlonya kepada umat manusia Dia tetap memberikan satu kesempatan lagi kepada manusia untuk mendapatkan keringanan dari syafaatnya para pemberi syafaat. Inilah pihak-pihak yang diberikewenangan oleh Allah untuk memberikan syafaat (menghapus dosa) di hari kiamat kepada orang lain, dintaranya;

Nabi Muhammad manusia pertama kali yang diberi syafaat,

أنا قائد المرسلين ولا فخر وأنا خاتم النبيين ولا فخر وأنا أول شافع وأول مشفع ولا فخر

“Saya adalah pemimpin para Rasul, dan tidak ada kesombongan, saya adalah penutup para Nabi dan tidak ada kesombongan, saya adalah orang pertama yang akan (diizini Allah) memberi syafa`at dan orang pertama yang diberi syafa`at dan tidak ada kesombongan.” (HR. Darimi Nomor 49)

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَأَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الْأَرْضُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Aku adalah pemimpin anak Adam, orang yang pertama kali keluar dari perut bumi (dibangkitkan) dan orang yang pertama kali memberi syafaat dan mendapat izin untuk memberikannya.” (HR. Abu Daud Nomor 4053)

Pihak kedua yang akan diberi izin untuk memberi syafaat (menghapus dosa) orang lain adalah para malaikat dan para Nabi, sabda Nabi,

۞ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. An-Najm: 26)

Pihak ketiga pemberi syafaat yang diizinkan Allah adalah para maikat dan para rasul kepada mereka yang diridlai Allah. Nabi bersabda,

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ فَحَدَّثَ أَحَدُهُمَا حَدِيثَ الشَّفَاعَةِ وَالْآخَرُ مُنْصِتٌ قَالَ فَتَأْتِي الْمَلَائِكَةُ فَتَشْفَعُ وَتَشْفَعُ الرُّسُلُ وَذَكَرَ الصِّرَاطَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ فَإِذَا فَرَغَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ خَلْقِهِ وَأَخْرَجَ مِنْ النَّارِ مَنْ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَ أَمَرَ اللَّهُ الْمَلَائِكَةَ وَالرُّسُلَ أَنْ تَشْفَعَ فَيُعْرَفُونَ بِعَلَامَاتِهِمْ إِنَّ النَّارَ تَأْكُلُ كُلَّ شَيْءٍ مِنْ ابْنِ آدَمَ إِلَّا مَوْضِعَ السُّجُودِ فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ مِنْ مَاءِ الْجَنَّةِ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

“dari [‘Atha bin Yazid] dia berkata; “Aku pernah duduk di samping [Abu Hurairah] dan [Abu Sa’id], lalu salah seorang dari keduanya memberitahukan tentang hadits syafaat, sedangkan yang lain diam, ia berkata; ‘Lalu malaikat datang dan memberi syafaat. Para Rasul juga memberi syafaat’. la menyebutkan tentang Shirath. Dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: ‘Aku menjadi orang pertama kali yang diperbolehkan. Jika Allah Azza wa Jalla selesai memutuskan (hukum) di antara hamba-hamba-Nya, maka Dia mengeluarkan orang yang dikehendaki-Nya dari neraka. Allah memerintahkan para malaikat dan rasul-Nya untuk memberi syafaat, kemudian mereka dapat dikenali dengan tanda-tanda mereka. Sesungguhnya api neraka memakan segala apa yang ada pada manusia, kecuali tempat sujud. Lalu mereka akan disiram dengan air dari surga, lalu mereka akan tumbuh laksana tumbuhnya tanaman pada hanyutan banjir’.” (HR. Nasai Nomor 1128)

Pihak keempat sesama umat Islam yang diberi izin Allah juga dapat saling memberi syafaat (membebaskan dosa) muslim lainnya kelak di akhirat. Nabi besabda,

إِنَّ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَشْفَعُ لِلْفِئَامِ مِنْ النَّاسِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلْقَبِيلَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلْعَصَبَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلرَّجُلِ حَتَّى يَدْخُلُوا الْجَنَّةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

“Sesungguhnya diantara ummatku ada yang memberi syafaat kepada sekelompok orang, ada yang memberi syafaat untuk sekabilah, ada yang memberi syafaat untuk segolongan dan ada yang memberi syafaat untuk seseorang hingga mereka masuk surga.” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan.” (HR. Tirmidzi Nomor 2364)

Pihak kelima orang orang yang pernah kita bantu juga dapat membebaskan dosa kita kelak di akhirat, sabda Nabi,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُفُّ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صُفُوفًا وَقَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَيَمُرُّ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عَلَى الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا فُلَانُ أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ اسْتَسْقَيْتَ فَسَقَيْتُكَ شَرْبَةً قَالَ فَيَشْفَعُ لَهُ وَيَمُرُّ الرَّجُلُ فَيَقُولُ أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ نَاوَلْتُكَ طَهُورًا فَيَشْفَعُ لَهُ قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ وَيَقُولُ يَا فُلَانُ أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ بَعَثْتَنِي فِي حَاجَةِ كَذَا وَكَذَا فَذَهَبْتُ لَكَ فَيَشْفَعُ لَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang akan membuat shaf-shaf pada hari kiamat.” Ibnu Numair menyebutkan, “Yaitu penghuni surga, lalu seorang lelaki dari ahli neraka melewati seorang lelaki (dari ahli surga), kemudian dia berkata, “Wahai fulan, masihkah kamu ingat di hari ketika kamu meminta minum kemudian aku memberimu minuman?” Ibnu Numair melanjutkan, “Maka dia memberi syafaat kepada laki-laki (ahli neraka) tersebut. Dan lewat pula seorang lelaki dan berkata, “Masih ingatkah kamu di hari ketika aku memberimu air untuk bersuci?” Maka laki-laki itu pun memberi syafaat kepadanya.” Ibnu Numair melanjutkan, “Lalu (seorang laki-laki) berkata, “Wahai fulan, masih ingatkah kamu di hari ketika kamu mengutusku untuk satu kebutuhan seperti ini dan seperti ini, maka aku pergi untukmu?” Maka dia pun memberi syafaat kepadanya.” (HR. Ibnu Majah Nomor 3675)

Dan berapa banyaknya di antara para Malaikat di langit yang sangat dimuliakan oleh Allah di sisi-Nya syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah sudah mengizinkan kepada mereka untuk memberikan syafaat bagi orang yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan diridai oleh-Nya, karena ada firman lainnya yang menyatakan, “.. dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah.” (Q.S. Al Anbiya, 28) Sudah kita maklumi bahwa syafaat para malaikat itu baru ada setelah terlebih dahulu mendapat izin dari Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya, “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (Q.S. Al-Baqarah, 255)

Kenapa sesama makhluq dapat memberi syafaat kelak di akhirat, tidak ada lain kecuali mereka mendapat izin dari Allah. Sebagaimana sabda Nabi,

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (QS. Ta Ha Ayat 109)

Pada hari itu tidak berguna syafaat seseorang kecuali syafaat orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya untuk memberi syafaat. Namun walaupun di hari kiamat tetap ada orang-orang yang diizini membantu menghapus dosa orang lain namun tetap dengan kriteria-kriteria berikut ini,

Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang sudah mendapatkan ridlo Allah,

۞ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. An-Najm Ayat 26)

Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang bertahuid kepada Allah,

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf Ayat 86)

Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang bertakwa

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya Ayat 28)

Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang sudah mendapat janji dari Allah

لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam Ayat 87)

Namun ada juga para malaikat dan nabi bermaksud menghapus dosa seseorang, namun karena tidak masuk kriteria hamba yang dapat syafaat dari Allah karena dzalim,

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.” (QS. Al-Mu’min Ayat 18)

Kekafiran yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan syafaat

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf Ayat 86)

Orang pelaknat tidak akan diberi kewenangan mensyafaati

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَبِي الزَّرْقَاءِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ وَزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ أَنَّ أُمَّ الدَّرْدَاءِ قَالَتْ سَمِعْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ

“Telah menceritakan kepada kami [Harun bin Zaid bin Abu Az Zarqa] berkata, telah menceritakan kepada kami [Bapakku] berkata, telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Sa’d] dari [Abu Hazim] dan [Zaid bin Aslam] bahwa [Ummu Darda] berkata; Aku mendengar [Abu Darda] berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang suka melaknat tidak akan bisa memberi syafaat atau saksi.” (HR. Abu Daud Nomor 4261)

Yang tidak bisa menanggung dosa orang lain adalah mereka yang berdosa dan kafir, namun para malaikan, nabi dan orang-orang shaleh dapat menanggung dosa orang lain dengan pengertian orang baik itu dapat menebabkan hapusnya dosa orang lain karena syafaat yang diberikannya atas izin dan keridhoan Allah. Buka berarti orang baik itu ketika menanggung osa orang lain tewrsebut dia mendapatkan limpahan dosa mereka, namun dosa yangd itanggung oleh orang soleh tersebut menjadi terhapus berkat syafaat yang diberikan orang shaleh atas izin Allah, hal ini sesuai denga dalil,

Bila kita telah fahami seseorang yang tidak bisa menanggung dosa orang lain hanya berlaku di akhiratnya kelak, bukan berarti semua orang yang masih hidup seenaknya sendiri saling melempar dosa kepada orang lain. Di samping itu pula bila dikatakan orang lain tidak bisa menerima dan tidak bisa menanggung dosa orang lain hanya berhenti pada satu dalil di atas tanpa melihat dalil lainnya maka hal ini sangat bertentangan dengan banyak dilil yang menunjukkan bahwa seseorang dapat menanggung dosa orang lain walaupun dia tidak ikut melakukan perbuatan munkar tersebut namun tetap dengan beberapa kriteria berikut,

Kita otomatis mendapat dosa dari orang yang berada di bawah tanggung jawab kita, sebagaimana sabda Nabi,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-NYa dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan. Telah menceritakan kepada kami [‘Ali bin Hujr]; telah mengabarkan kepada kami [Isma’il bin Ja’far] dari [‘Amr bin Abu ‘Amr] dengan sanad ini dan dengan hadits semisalnya.” (HR. Tirmidzi Nomor 2095)

Seseorang akan mendapatkan dosa dari orang lain bila belum pernah menyampaikan dakwah

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ قَالَ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ يَعْنِي ابْنَ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسٍ قَالَ قَامَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ هَذِهِ الْآيَةَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } وَإِنَّا سَمِعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُنْكِرُوهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابِهِ

Telah menceritakan kepada kami [Abdullah Bin Numair] dia berkata; telah mengabarkan kepada kami [Isma’il] dari [Qais] dia berkata; [Abu Bakar] berdiri lalu memuji Allah dan mensucikan-Nya kemudian berkata; wahai manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al Maidah ayat 105). Dan sesungguhnya kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran kemudian mereka tidak mengingkarinya, maka hampir saja Allah akan menimpakan siksa kepada mereka semua.” (Hadits Ahmad Nomor 1)

Nuh tidak menerima limpahan dosa kaumnya karena telah menyampaikan dakwah. Dan Nabi Nuh akan mendapat dosa dari maksiat kaumnya bila nabi Nuh belum mendakwahinya. Allah berfirman,

وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ ۚ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ. وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. Malahan kaum Nuh itu berkata: “Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja”. Katakanlah: “Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat” (TIDAK MENDAPAT DOSA BILA DAKWAH SUDAH DISAMPAIKAN). Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud: 34-36)

Bila tidak bertanggugjawab dengan baik, maka pemimpin akan mendapat dosa dari dosa rakyatnya, ayah akan mendapat dosa dari dosa anak istrinya, ibu akan mendapat dosa dari dosa anaknya, dan seterusnya,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْأَمِيرُ رَاعٍ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang Amir adalah pemimpin. Seorang suami juga pemimpin atas keluarganya. Seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Nomor 4801)

Pemimpin keluarga akan mendapat limpahan dosa dari anggota keluarga yang bermaksiat karena tidak dijaga

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim Ayat 6)

Setiap orang akan mendapat dosa dari orang lain yang dipengaruhi melakukan kemunkaran walau tidak melakukannya sendiri,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ اتَّبَعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, baginya pahala seperti pahalanya orang yang orang yang mencontohnya (mengikutinya), tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak pada kesesatan, ia menanggung dosa sebanyak dosa orang yang mencontohnya (mengikutinya), tanpa dikurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Darimi Nomor 512)

Mendapat dosa dari maksiat oranga lain karena terinspirasi dari keburukaan yang dilakukan

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat. (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang. (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang (karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat, atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka), berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari begini dan begini.” (HR. Muslim Nomor 3971)

Orang Islam bila tidak mau mendukung dakwah agama Islam maka akan mendapatkan dosa dan resikonya dari umat yang melakukan kemunkaran

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang diam terhadapnya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah perahu. Lalu orang yang berada di bawah perahu bila mereka mencari air untuk minum mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas seraya berkata; “Seandainya boleh kami lubangi saja perahu ini untuk mendapatkan bagian kami sehingga kami tidak mengganggu orang yang berada di atas kami”. Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu maka mereka akan binasa semuanya. Namun bila mereka mencegah dengan tangan mereka maka mereka akan selamat semuanya.” (HR. Bukhari Nomor 2313)

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim Nomor 70)

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-NYa dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. Tirmidzi Nomor 2095)

Apabila ada orang bodoh melakukan kemungkaran maka seseorang akan dapat dosanya karena telah menyembunyikan ilmunya

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ. إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 159-160)

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa ditanya mengenai suatu ilmu dan ia menyembunyikannya, maka ia akan dicambuk dengan cambuk dari api neraka pada hari kiamat.” (QS. Abu Daud Nomor 3173)

Seorang yang mampu tidak perduli akan mendapat dosa dari kejahatan orang di lingkungannya karena dorongan kemiskinan dan kelaparan

لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ

“Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga (yang di sebelah)nya kelaparan.” [HR. Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad: 112)

Seseorang akan mendapat kiriman dosa bila diam saja ketika disekitarnya ada orang yang teraniaya

مَنِ اغْتُيِبَ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَنَصَرَهُ جَزَاهُ اللهُ بِهَا خَيْرًا فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ مَنِ اغْتُيِبَ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَلَمْ يَنْصُرْهُ جَزَاهُ اللهُ فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ شَرًّا

“Barangsiapa yang di sisinya dighibah seorang mukmin lalu ia menolongnya maka Allah akan memberikan balasan kebaikan untuknya didunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang di sisinya dighibah seorang mukmin, lalu ia tidak menolongnya maka Allah akan memberikan balasan keburukan untuknya di dunia dan akhirat.” [HR. Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad)

Provokator Sebagai Penanggung Dosa Semua Korban Nyawa Saat Kerusuhan

لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

“Tidak satupun jiwa yang terbunuh secara zhalim melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung dosa pertumpahan darah itu karena dialah orang pertama yang mencontahkan pembunuhan.” (HR. Bukhari Nomor 3088)

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan,

Pertama: Setiap orang yang sudah meninggal memang telah teputus amal usahanya, namun pahala dari usaha yang pernah dilakukan semasa hidupnya namun pahalanya tetap mengalir walaupun sudah meninggal dunia

Kedua: Setiap orang memang hanya akan mendapatkan pahala dari apa yang hanya diusahakannya, namun apabila amal usaha yang dilakukannya berdampah faedah kepada orang lain kemudian orang lain tersebut terinspirasi dan meniru kebaikan kita maka kita akan tetap bisa mendapatkan pahala dari pahala usaha orang lain walaupun kita tidak melakukan amal usaha kebaikan tersebut.

Ketiga: Memang seseorang tidak akan mendapatkan limpahan dosa dari orang lain apabila orang lain tersebut tidak dibawah tanggungjawab kita. Namun bila kita memiliki tanggungjawab melindungi keluarga, atau bertanggungjawab dakwah namun kita tidak melakukan tanggungjwab tersebut maka apapun kemunkaran yang timbul maka kita akan mendapatkan limpahan dosa walaupun kita tidak ikut melakukan kemunkaran tersebut.

Olehkarena itu agar kita tidak banyak mendapat kiriman dosa walaupun kita diam saja, maka sebaiknya kita senantiasa bertanggungjawab terhadap lingkungan kita dan jangan saling menginspirasi keburukan. Dan dianjurkan kita salim mengirim pahala, Allah berfirman,

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 85)

اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا فَإِنِّي لَأُرِيدُ الْأَمْرَ فَأُؤَخِّرُهُ كَيْمَا تَشْفَعُوا

“Berilah syafaat (kemudahan) maka engkau akan mendapat pahala, sungguh aku sangat menginginkan perkara ini hingga aku menangguhkannya. Maka setiap kali kalian memeberi syafaat maka kalian akan mendapat pahala.” (HR. Abu Daud Nomor 4467)

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 39
    Shares