Hukum Kirim Pahala Bacaan Al-Qur’an Kepada Orang Yang Sudah Meninggal

Daftar Isi

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

PERTANYAAN:

Apa hukum menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang yang sudah meninggal? Apakah pahalanya sampai? Apakah diterima oleh Allah SWT?

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Hukum menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an dari orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal boleh secara mutlak dan pahalanya sampai, karena ada dalil umum (HR. Darimi Nomor 3235) yang menunjukkan kebolehannya, terutama bacaan dari seorang anak kepada orang tuanga. Apalagi perkara ini tergolong amalan yang bersifat ibadah sunnah mutlak.
  2. Disamping itu, tidak ada dalil satupun yang melarang niat mengirim pahala bacaan Al-Qur’an dari orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal.
  3. Walau aqidah (keyakinan) kita meyakini pahala bacaan Al-Qur’an sampai kepada orang yang sudah meninggal, namun diterima atau tidaknya pahala tersebut itu sepenuhnya hak dan kewenangan Allah SWT. Kita sebagai makhluq tidak punya wewenangan ikut mencampurinya.

MARAJI’:

Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala ibadah amaliyah bacaan Al-Qur’an kepada ruh (arwah) mayit adalah keumuman makna firman Allah, seperti pahala bacaan surat Yasin kepada orang meninggal yang bermanfaat dapat menyebabkan pengampunan dari Allah. Kiriman pahala bacaan Al-Qur’an Anak dapat memuliakan orang tuanya di Akhirat.

Kiriman bacaan Al-Qur’an seorang anak menyebabkan orang tuanya disambut oleh Allah dengan mahkota kerajaan di akhirat, sebagaimana sabda Nabi,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya telah meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab(Al-Qur’an)Ku.” (HR. Darimi Nomor 3235)

Perintah membaca surat Yasin untuk orang-orang yang sudah meninggal dan dengan membaca surat Yasin akan dapat keringanan dari Allah

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشْيَخَةُ أَنَّهُمْ حَضَرُوا غُضَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ الثُّمَالِيَّ حِينَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Mughirah] telah menceritakan kepada kami [Shafwan] telah bercerita kepadaku [beberapa orang syaikh], mereka menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu (surat Yasin) dibacakan di sisi mayit (orang yang sudah meninggal), maka akan diringankannya.” (HR. Ahmad Nomor 16355)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Al Baqarah adalah Al Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. (bacaan dzikir tahlil) Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya, sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan di ampuni. Bacakanlah surat (Yasin) tersebut terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (HR. Ahmad Nomor 19415)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوهَا عِنْدَ مَوْتَاكُمْ يَعْنِي يس

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacakanlah ia untuk orang-orang yang sudah meninggal dari kalian, yakni YASIIN. ” (HR.Ibnu Majah Nomor 1438)

Menurut pendapat beberapa ulama bahwa hadits-hadits tersebut shahih dan saling menguatkan antara satu hadits dengan hadits yang lainnya. Walaupun ada anggapan bahwa sebagian kecil hadits tersebut lemah namun tidak ada yang palsu. Hal itu tidak sedikitpun mengurangi kedudukan surat Yasin yang memiliki keutamaan, karena satu hadits dengan hadits yang lainnya saling menguatkan maknanya. Jangan kemudia sebab salah satu hadits yang lemah membuat kita mengingkari banyak hadits yang shahih yang tetap semakna.

Beberapa dalil tersebut sudah sangat cukup kuat membuktikan bahwa bacaan-bacaan Al-Quran baik sebagian maupun keseluruhan pahalanya mutlak bisa sampai dan diterima oleh orang yang sudah meninggal.


Artikel Terkait: Kupas Tuntas Hukum Kiriman Pahala Dan Menanggung Dosa Orang Lain


SYUBHAT SYARIAT:

Pertama: Bila ada pihak-pihak yang mempersoalkan tanpa disertai satupun dalil larangan yang khusus dan spesifik atas kebolehan mengirim pahala bacaan Al-Fatihah kepada orang yang sudah meninggal berdasarkan keumuman sebagian dalil-dalil di atas maka asumsi tersebut tertolak. Hal ini berdasarkan firman Allah bahwa mengharamkan hal-hal yang tidak diharamkan oleh Allah merupakan kedustaan agama, sebagaimana firman Allah,

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung (terlaknat).” (QS. An-Nahl [16]: 116)

Bila sebuah perkara dipaksakan untuk dianggap sebagai sebuah larangan agama Islam namun tanpa ada dasar dari dalil Al-Qur’an dan Hadits maka hal itu akan disebut kidzbah/kedustaan yang mana hal itu tergolong kelancangan terhadap kewenangan Allah SWT, sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan rasulNya, tetapi hendaklah kamu bertakwakepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui…(QS. Al-Hujurat: 1)

Kedua: Bila ada pihak mempersoalkan tidak bisanya orang hidup mengirimkan pahala kepada orang mati karena beranggapan bahwa kematian telah memutus amalnya berdasarkan hadits berikut,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah (tidak lagi bisa menambah) segala amalan(usaha)nya kecuali (tetap mendapat aliran pahala dari) tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 3084)

Maka pemahaman tersebut telah sesat, karena dalil di atas sama sekali tidak salah, namun kesalahannya terletak pada pemahamannya karena mereka memahami sepotong dalil namun mengigkari dalil lainnya. Perlu difahami bahwa maksud yang dikehendaki hadits di atas adalah ketika seseorang telah meninggal dunia adalah terputus amalnya namun tidak terputus pahalanya.

Maksudnya adalah memang ketika seseorang sudah meninggal telah terputus amalnya karena dia sudah tidak bisa lagi menambah jumlah amal shalihnya, tidak lagi bisa meneruskan usahanya, dan sudah tidak lagi bisa menjalankan ibadahnya. Namun amal usaha baiknya (amal shalih) yang pernah dilakukan semasa hidup selama masih tidak musnah kemanfaatannya dan dapat dirasakan oleh mereka yang masih hidup maka pahalanya tetap terkirim dan dapat diterima oleh orang yang sudah meninggal.

Amal dan pahala itu harus dibedakan, ibarat pohon itu sebagai amalnya, sedangkan pahala itu merupakan buahnya, ini menunjukkan bahwa amal usaha seseorang itu berbeda dengan pahala dari hasil amal yang dilakukan seseorang. Amal adalah sebuah usaha kebaikan yang dilakukan seseorang yang dapat bermanfaat bagi orang lain yang mana karena manfaat yang ditimbulkan tersebut kemudian Allah memberi imbalan pahala kepada pelakunya.

Jadi pengertian yang dikehendaki hadits di atas adalah ketika seseorang mati hanya amalnya saja yang terputus namun tidak dengan pahalanya. Dengan bahasa sederhananya adalah walaupun amalnya sudah putus namun tidak dengan pahalanya, karena setiap orang akan senantiasa mendapatkan pahala dari setiap apa yang pernah diusahakannya di masa hidupnya walaupun pelakunya sudah meninggal. Pengertian ini sangat sesuai dengan firman Allah SWT sebagaimana berikut,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang (walaupn sudah) mati dan Kami (tetap) menuliskan apa (pahala) yang telah mereka kerjakan (atau usakahan semasa hidupnya-red) dan bekas-bekas (amal usaha) yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Ya Sin Ayat 12)

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman (yang sudah meninggal), dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan (yang masih hidup), Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (melalui kiriman pahala kebaikan), dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. At-Tur Ayat 21)

Bila mereka menolak pemahaman ini (tidak dapat kirim pahala kepada orang mati) hanya berdasarkan pada satu dalil semisal hadits yang diriwayatkan Imam Muslim nomor 3084 saja dan pemahamannya tidak digabungkan dengan dalil lainya, maka mereka termasuk golongan yang sudah layak disebut “INKARRUSSUNNAH” karena mereka telah menolak dalil lain (semisal surat Yasin ayat 12) yang jelas-jelas menyatakan bahwa pahala orang mati akan tetap terus terkirim kepada seseorang walaupun sudah meninggal.

Ketiga: Bila ada sekelompok umat Islam berkeyakinan bahwa seseorang tidak bisa mendapatkan pahala dari usaha kebaikan orang lain sedangkan seseorang tersebut tidak ikut mengerjaka kebaikan itu hanya menggunakan dasar satu dalil ini,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (sendiri), (QS. An-Najm Ayat 39

Maka aqidah tersebut telah sesat karena sangat betentangan dengan dalil lain yakni sabda Nabi berikut ini,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim Nomor 4831)

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya (walaupun yang menunjukkan tidak ikut melakukannya-red).” (HR. Muslim Nomor 3509)

Barangsiapa beranggapan orang lain berkeyakinan bahwa orang lain tidak bisa mendapat kiriman pahala dari amal baik orang lain sebagai imbal balik kebaikan yang pernah dilakukan semasa hidupnya berarti mereka telah layak disematkan sebagai golongan “INKARRUSSUNNAH” karena hanya menggunakan satu dalil dan menafikan dalil lainnya.

Keempat: Bila ada pemahaman bahwa seseorang tidak dapat menanggung dosa orang lain sebagaimana tidak dapat menerima kiriman pahala dari orang lain, maka pemahaman ini juga keliru karena beberapa hujjah berikut,

  • Bisa dipastikan semua dalil (asal jangan dipotong-potong dalilnya) yang menunjukkan tidak bisanya seseorang menanggung dosa orang lain adalah konteks dan berlakunya hanya di akhirat saat kiamat telah tiba, perhatikan sampel ayat-ayat berikut,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (PADA HARI KIAMAT). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (QS. Az-Zumar: 7)

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ. يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Dan takutlah kamu kepada suatu hari (kiamat) di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. (QS. Al-Baqarah: 122-123)

CATATAN: Hitob ayat ini saat hari kiamat tiba, bukan untuk manusia yang masih di dunia, karena ayat ini termasuk ayat-ayat kisah, yang mengisahkan tentang perbedaan kaum kafir dengan kaumnya nabi Musa yang beriman. Pada ayat ini menggambarkan tentang kondisi di hari perhitungan dimana amal dan syafaat sudah tertutup sehingga setiap manusia hanya akan mempertanggungjawabkan amal baik dan amal buruknya sendiri-sendiri. Indikasi bahwa yang dimaksud “hari” pada ayat tersebut adalah hari kiamat pada indikator yang ditunjukkan di dalam ayat itu sendiri dan juga ditunjukkan pada pada ayat-ayat lainnya seperti di bawwah berikut,

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS. Ta Ha: 109)

  • Dalil semisal Al-Qur’an Surat Az-Zumar: 7 tidak boleh berdiri sendiri karena akan bertentangan dengan banyak ayat yang mana seseorang dapat menanggung dosa orang lain, sebagaimana Allah telah berfirman,

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS. Al-‘Ankabut Ayat 13)

Hal senada juga disebutkan dalam surat An-Nahl ayat 25,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

(sikap mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. (QS. An-Nahl Ayat 25)

Ini bukti yang nyata bahwa seseorang dapat menanggung dosa orang lain, namun walaupun begitu tidak berlaku sembarangan karena harus memenuhi kriteria. Yakni seseorang dapat menanggung dosa orang lain ketika seseorang lalai terhadap apa-apa yang menjadi tanggungjawabnya.

Pemimpin lalai terhadap yang dipimpinnya, sebagaimana sabda nabi,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْأَمِيرُ رَاعٍ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang Amir adalah pemimpin. Seorang suami juga pemimpin atas keluarganya. Seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Nomor 4801)

Orang baik lalai menyampaikan kebenaran dengan berdakwah amar-ma’ruf nahi munkar, sebagaimana sabda nabi,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau jika tidak (atau diam saja) niscaya Allah akan mengirimkan siksa-NYa (karena mendapat limpahan dosa) dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. Tirmidzi Nomor 2095)

Kelima: Bila ada pihak yang tetap memaksa mempersoalkan tersebut menganggap bid’ah dengan dalih nabi tidak pernah mencontohkan amalan tersebut dengan dasar hadits Nabi SAW berikut,

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara (mutasyabihat-red) adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka’. (HR. Nasai Nomor 1560)

Perlu diketahui bahwa istilah BID’AH itu tidak termasuk hukum dalam Islam karena dalam Islam hukum hanya ada lima; Wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Jadi bid’ah merupakan istilah asing dalam hukum Islam sehingga tidak bisa dijadikan hujjah syariah atau tidak bisa dijadikan dasar berhukum dalam Islam. Tertolaknya berhukum dengan istilah BID’AH karena hal ini termasuk perkara syubhat (tidak jelas) dan produk hukumnya pun juga tidak jelas sehingga cenderung menimbulkan fitnah beragama. Disamping itu hadits-hadits yang bertema BID’AH tergolong nash-nash mutasyabihat (tidak jelas) sehingga dilarang dan haram hukumnya menggunakan hadits-hadits tersebut sebagai dasar hukum, hal ini berdasarkan firman Allah SWT,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas kategorinya), itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (tidak jelas kategorinya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka (akan mudah) mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS.Ali Imran: 7)

Ayat ini sangat jelas sekali Allah melarang dengan keras bahkan mengancam orang-orang menggunakan ayat-ayat dan hadits-hadit yang tergolong mutasyabihat, karena nash-nash mutasyabihat akan mudah menimbulkan fitnah dan perpecahan dalam agama. Pertanyaannya kenapa hadits-hadits bertema BID’AH tergolong mutasyabihat yang haram untuk digunakan sebagai dasar berhukum Islam? Karena hadits-hadits bertema BID’AH sudah memenuhi syarat dan memenuhi kategori mutasyabihat.

Lalu apa kategori mutasyabihat?

  1. Bila tidak jelas objek perkaranya.
  2. Bila tidak jelas kategori dan kriteria perkaranya.
  3. Bila tidak jelas kaifiyatnya (tata caranya)
  4. Bila tidak jelas spesifikasi waktunya pelaksanannya.
  5. Bila tidak jelas spesifikasi tempatnya pelaksanannya.
  6. Bila tidak jelas kadarnya.
  7. Bila tidak jelas batasannya (karena keumuman maknanya)

Coba perhatikan dengan seksama dari semua hadits-hadits yang betema bid’ah kata yang digunakan adalah PERKARA/AMRUN (أَمْرٌ) dimana kata “perkara” tersebut sama sekali tidak ada petunjuk satupun bahwa yang dikendaki oleh nabi itu memang benar-benar “PERKARA AGAMA”. Adapun bila ada pihak-pihak yang memaksakan makna “PERKARA” tersebut adalah “PERKARA AGAMA” itu hanya berdasarkan asumsi dan logika pentakwilan mereka saja yang tidak didasari dengan satupun dalil yang secara qath’i dapat mendukungnya. Oleh karena itu, sudah jelas dan dapat disimpulkan bahwa PERKARA BID’AH adalah perkara SYUBHAT dan MUTASYABIHAT yang haram hukumnya digunakan dasar hukum. Dan bila dipaksakan maka hukumnya batal.

Namun tetap boleh menggunakan ayat-ayat mutasyabihat sebagai dasar hukum bila telah memenuhi syarat; Pertama: Bukan sebagai hujjah utama namun setatusnya sebagai hujjah penunjang saja. Kedua: Sedangkan hujjah utama harus ada dalil larangan yang khusus dan spesifik. Bila tidak memenuhi syarat tersebut maka ayat-ayat berkategori “MUTASYABIHAT” statusnya tidak dapat dijadikan dasar berhukum dalam Islam.

وَاللهَ أَعْمُ بِالصَّوَابِ