Hukum Jamaah Shalat Apabila Shaf Tidak Bersambung di Lapangan”

Abu Hanifah (generasi tabi’in) yaitu imam madzhab Hanafi berpendapat bahwa shalat di lapangan hendaknya dalam satu barisan itu tidak kosong lebih dari jarak 9 orang, sedangkan jika satu barisan shaf itu ada kosong kurang dari sembilan orang tidak mengapa.

Imam Syafi’i mengatakan jika imam dan makmum berada di padang pasir (lapangan) jika barisan makmum terpisah dengan imam sampai jarak lebih dari 300 depa maka tidak mengapa dan sah shalat berjamaah asalkan tidak terhalang dinding, pintu atau jendela atau jalan yang orang dan kendaraan berlalu lalang di situ atau sungai besar yang memisahkan imam dan makmum.

Madzhab Hambali berpendapat jika imam dan makmum berada di lapangan maka shalat berjamaah sah dengan syarat makmum dapat melihat punggung imam, maka jika makmum tidak melihat imam atau sebagian dari punggung imam maka tidak sah shalat berjamaah meskipun makmum masih dapat mendengar suara takbir imam. Keharusan melihat punggung Imam oleh Imam Ahmad bin Hambal adalah berdasarkan hadits Aisyah,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فِي حُجْرَتِهِ وَجِدَارُ الْحُجْرَةِ قَصِيرٌ فَرَأَى النَّاسُ شَخْصَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحُوا فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata, “Pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat sendirian (munfarid). Lalu orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau (bermakmum pada Beliau), hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. ” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 687)

Hadits di atas menurut Imam Ahmad menunjukkan dibolehkannya terpisah dan adanya penghalang antara Imam dan Makmum asalkan masih dapat melihat sebagian punggung imam.

Sementara Imam Ahmad juga mengatakan tidak sah shalat berjamaah jika antara imam dan makmum itu terpisah oleh sungai yang bisa dilewati perahu demikian pula jika terputus oleh jalan yang cukup lebar bisa dilewati kendaraan. (Fiqhul Islam wa ‘Adillatuhu Jilid 2 Hal. 354)

Sementara itu Imam Malik (Madzhab Maliki) secara total membolehkan shalat di lapangan dimana Imam dan Makmum terpisah oleh jalan, sungai dan dinding, sehingga sah shalat jamaahnya.

Baca selengkapnya; Hukum Shalat Berjamaah dengan Shaf Terputus

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad, diringkas dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke