Hukum Jamaah Shalat Apabila Shaf Makmum dengan Imam Diselingi Jalan dan Sungai”

Imam Syafi’i berpendapat jika Imam berada di dalam masjid sedangkan makmum ada di luar masjid maka tidak mengapa jika terpisah sampai jarak 300 depa terhitung dari akhir bangunan masjid. Tidak mengapa pula jika ada pemisah atau terhalang jalan, sungai besar yang bisa dilalui perahu dan dapat direnangi. (Fiqhul Islam Wa’adillatuhu Jilid 2 Hal 353)

Al Hasan berkata: “Tidak mengapa engkau shalat sedangkan antara engkau dan imam terdapat sungai” (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 397)

Imam Malik bin Anas (Madzhab Maliki) berpendapat adanya penghalang baik sungai jalan atau tembok tidak mencegah sahnya shalat berjamaah selama ia bisa mengetahui gerakan imam dan dapat mendengar takbirnya (komando gerakan imam). Hal ini mengambil keumuman hadits:

Dari Anas bin Malik, beliau bersabda: “Sesungguhnya dijadikannya imam itu untuk diikuti.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 365 dan Ad-Darimi Nomor 1228)

قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya dijadikannya imam agar diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 365 dan Darimi Nomor 1228)

Maka Imam Malik berpendapat sepanjang makmum dapat mengikuti gerakan imam, dan dapat mendengar suara takbir imam, sah shalat berjamaahnya walaupun terhalang jalan, sungai atau lainnya kecuali shalat jum’at yang memang disyaratkan agar barisannya bersambung. Jika seorang makmum mengikuti imam shalat jum’at di rumah yang bersebelahan dengan masjid maka shalatnya batal karena bergabungnya itu adalah syarat sahnya shalat jum’at (Fiqhul Islam Wa’adillatuhu Jilid 2 Hal 351)

Baca selengkapnya; Hukum Shalat Berjamaah dengan Shaf Terputus

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad, diringkas dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke