Hukum Dzikir dan Doa Secara Berjamaah

Sudah jamak kita temui di berbagai penjuru dunia sejak dulu kaum muslimin berdo’a dan dzikir bersama baik itu untuk keluarganya, kaum muslimin bahkan untuk pemimpin. Baik dzikir yang dilakukan untuk dirinya sendiri maupun dzikir yang niat pahalanya dihadiahkan kepada mereka yang sudah meninggal. Dzikir yang dimaksud adalah kumpulan dari beberapa orang yang membaca dzikir dipimpin dan dikomando oleh seorang pemimpin atau imam. Dan doa yang dimaksud adalah kumpulan dari beberapa orang yang berdoa dipimpin salah satu di antaranya sebagai imam sedangkan yang lain mengamini.

Pertama: Dzikir dan doa bersama tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan berdasarkan dalil-dalil yang bersifat muqayyad terdapat dalil tekstualnya, seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua: Dzikir dan doa bersama tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan berdasarkan dalil-dalil yang bersifat mutlak, yakni terdapat dalil tekstual namun bersifat umum, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Al-Quran. Baik dzikir berjamaah yang dilakukan untuk sebuah syukuran maupun dzikir untuk acara kematian, dan lain sebagainya.

Baca Juga;

Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih*

Hukum Asal Semua yang Didiamkan (tidak Diatur) Agama Adalah Halal*

Hukum Merubah Perbuatan Biasa Menjadi Ibadah, atau Sebaliknya

Hukum Asal Semua Hal Boleh Selama Memenuhi Kriteria

Dalam hal ini terdapat dua golongan yang saling bertentangan. Golongan Salafi atau lebih dikenal dengan Wahabi mengharamkan secara mutlak sebab mereka menganggap hal ini merupakan perkara bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi. Golongan Ahlussunnah wal Jamaah atau lebih dikenal Sunni memperbolehkan dzikir berjamaah baik dilakukan sesekali dilakukan maupun dirutinkan sebab banyak dalil yang mengisyaratkan akan bolehnya hal itu. Untuk lebih memahami maka akan disebutkan kedua pandangan tersebut disertai argumentasi dan dalil dari maing-masing keduanya. Berikut pembahasannya,

Pengingkaran golongan Salafi terhadap dzikir dan doa berjamaah

Golongan Salafi sangat keras sekali menentang dzikir bersama yang dipimpin oleh seseorang kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama. Mereka mengatakan bahwa dzikir bersama yang dipimpin oleh seseorang kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama adalah perkara bid’ah, dalil-dalil yang mengisyaratkan boleh harus diingkari dan tidak diamalkan para Salaf. Mereka mengingkari dzikir dengan cara seperti ini didasarkan pada sebuah atsar (pendapat sahabat) yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berdzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ قُلْنَا لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا قَالَ فَمَا هُوَ فَقَالَ إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ

‘Dahulu kami pernah duduk di depan pintu [Abdullah bin Mas’ud] radliallahu ‘anhu sebelum shalat subuh, ketika ia keluar kami berjalan bersamanya menuju masjid. Kemudian Abu Musa Al ‘Asy’ari radliallahu ‘anhu datang menemui kami dan bertanya: ‘Apakah Abu Abdur Rahman telah datang menemui kalian? ‘, kami menjawab: ‘belum’, lalu beliau duduk bersama kami hingga (Abu Abdur Rahman) datang. Tatkala ia datang, kami semua berdiri dan menghampirinya, Abu Musa berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdur Rahman, baru saja di masjid aku melihat satu kejadian baru yang tidak aku sukai. Setahuku, Alhamdulillah, sekali pun itu diniyati kebaikan. Ia bertanya: ‘apakah itu gerangan? ‘, ‘Jika kamu masih hidup kamu akan melihatnya’, Kata Abu Musa. Abu Musa melanjutkan: ‘Aku melihat di masjid, sekelompok orang yang (duduk) melingkar sambil menunggu shalat, setiap lingkaran ada seorang (pemandu) nya dan tangan-tangan mereka membawa kerikil, lalu si (pemandu) berkata: ‘ucapkanlah takbir seratus kali’ dan mereka bertakbir seratus kali, ‘dan ucapkanlah tahlil seratus kali’ lalu mereka bertahlil seratus kali, ‘dan ucapkanlah tasbih seratus kali’ lalu mereka mengucapkan tasbih seratus kali. Abu Abdurrahman bertanya: ‘Lantas apa yang telah kau katakan kepada mereka? ‘ Abu Musa menjawab: ‘Aku belum berkata apa pun kepada mereka, karena aku menunggu pendapatmu atau perintahmu’. Abu Abdurrahman berkata: ‘Tidak sebaiknyakah kamu perintahkan saja mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka, serta kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan hilang?. Kemudian Abu Abdurrahman beranjak dan kami pun beranjak bersamanya, hingga ia sampai di lokasi jama’ah dzikir yang diceritakannya. Ia berdiri di hadapan mereka, dan berkata: ‘Apa yang sedang kalian lakukan? ‘, mereka menjawab: ‘Wahai Abu Abdur Rahman, ini adalah batu-batu kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih’. Ia berkata: ‘Hendaklah kalian menghitung dosa-dosa kalian (saja), aku menjamin amal kebaikan kalian tidak akan hilang, celakalah kalian umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, alangkah cepatnya masa kehancuran kalian, padahal mereka para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih banyak, dan baju mereka belum basah, juga periuknya belum pecah, demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman tangannya, sesungguhnya kalian seakan-akan memiliki agama yang lebih baik dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, atau kalian sengaja hendak membuka pintu kesesatan?, mereka menjawab: ‘Demi Allah wahai Abu Abdur rahman kami tidak menginginkan kecuali kebaikan’. Abu Abdurrahman menjawab: ‘Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi ia tidak dapat mencapainya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami bahwa ada satu kaum yang membaca Al Qur`an namun tidak melampaui tenggorokan mereka, demi Allah, aku tidak tahu siapa tahu mayoritas mereka adalah dari kalian”, Abu Abdurrahman lantas berpaling dari mereka. ‘Amr bin Salamah berkata: ‘Kami melihat kebanyakan dari yang berada di kelompok jama’ah dzikir tersebut dihari selanjutnya mencaci-maki kami pada hari (perang) Nahrawan bersama orang-orang khawarij ‘ “. (Hadits Darimi Nomor 206)

Berkata Asy-Syathiby rahimahullahu:

فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وبصوت أو في وقت معلوم مخصوص عن سائر الأوقات ـ لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم بل فيه ما يدل على خلافه لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد

“Jika syariat telah menganjurkan untuk dzikrullah misalnya, kemudian sekelompok orang membiasakan diri mereka berkumpul untuknya (dzikrullah) dengan satu lisan dan satu suara, atau pada waktu tertentu yang khusus maka tidak ada di dalam anjuran syariat yang menunjukkan pengkhususan ini, justru di dalamnya ada hal yang menyelisihinya, karena membiasakan perkara yang tidak lazim secara syariat akan dipahami bahwa itu adalah syariat, khususnya kalau dihadiri oleh orang yang dijadikan teladan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti masjid-masjid.” (Al-I’tisham 2/190)

Dzikir jama’i (bersama-sama) dengan suara keras setelah shalat fardhu merupakan perbuatan bid’ah izhafiyyah. Yaitu bid’ah yang asalnya ada dalilnya, tetapi caranya, keadaannya, dan perinciannya, tidak ada dalilnya. Dzikir setelah shalat merupakan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun cara bersama-sama dengan suara keras, tidak ada dalilnya.

Syaikh Syuqairi, penulis kitab as Sunan wal Mubtada’at, berkata: “Beristighfar secara berjama’ah dengan satu suara setelah salam (dari shalat) merupakan bid’ah. (As Sunan wal Mubtada’at, hlm. 70)

Imam Abu Ishaq asy Syathibi rahimahullah berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak selalu mengeraskan doa dan dzikir setelah shalat. Beliau tidaklah menampakkannya kepada orang banyak selain pada tempat-tempat ta’lim (pengajaran)”. (Al I’tisham, 1/351)

Syaikh Masyhur bin Hasan Aalu Salman berkata: “Bukan termasuk Sunnah (Nabi), setelah shalat orang-orang duduk untuk membaca sesuatu dari dzikir-dzikir dan doa-doa, yang diriwayatkan (dari Nabi) atau yang tidak diriwayatkan, dengan mengeraskan suara dan dengan cara berjama’ah, sebagaimana orang-orang di sebagian wilayah biasa melakukan. Pada sebagian masyarakat, kebiasaan ini termasuk telah menjadi syi’ar-syi’ar agama. Orang yang meninggalkannya dan orang yang melarangnya, malah diingkari. Sedangkan pengingkaran terhadap meninggalkannya (perbuatan itu) sesungguhnya itulah kemungkaran”. (Al Qaulul Mubin fii Akh-thail Mushallin, hlm. 304)

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid –seorang ulama Saudi, anggota Majlis Fatwa Kerajaan Sa’udi- telah menjelaskan bentuk-bentuk kesalahan berkaitan dengan doa dan dzikir setelah shalat. Beliau berkata,”Dzikir jama’i (bersama-sama) dengan satu suara yang keras, yang dinamakan metode al jauqah –yaitu jama’ah- dengan (membaca) tahlil, tasbih, istighfar, dan shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini merupakan pelaksanaan yang bid’ah, tidak ada dalilnya dari syari’at yang suci. Ini adalah bid’ah yang kuno, telah dijelaskan oleh al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam (kitab) Tarikh-nya (10/270), kejadian pada tahun 216 H. (Tash-hihud Du’a, hlm. 435-436)

Dzikir berjamaah merupakan perkara baru, dan menurut golongan Salafi perkara baru dalam Islam adalah bid’ah, walaupun perkara tersebut adalah baik (hasanah). Pandangan mereka didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat”. (Hadits shahih riwayat Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; ad Darimi; Ahmad).

Seandainyapun ada dalil-dalil yang terlihat mengisyaratkan bolehnya dzikir berjamaah. Maka, kedudukan Hadits-hadits tersebut adalah hadits yang menunjukkan disyariatkannya al ijtima’ fi al dzikri (berada di suatu tempat yang sama untuk melakukan kegiatan dzikir secara sendiri-sendiri) dan sama sekali tidaklah menunjukkan dianjurkannya al Dzikri al Jama’i (dzikir-dzikir rame-rame dikomando satu orang dengan suara yang dikoorkan).

Ada beberapa orang yang duduk di masjid yang sama lalu masing-masing dari mereka berzikir mengingat Allah atau membaca Al-Qur’an sendiri-sendiri. Itulah yang disebut dengan al ijtima’ fi al dzikri alias berada atau duduk di majelis dzikir. Majelis dzikir adalah berdzikir di majelis alias tempat duduk yang sama, bukan berdzikir ramai-ramai dengan dikomando satu orang lantas bacaan-bacaan dzikir dilantunkan bersama-sama sebagaimana acara panduan suara dalam rangka menyanyikan lagu tertentu.

Hadits-hadits yang terkesan membolehkan dzikir secara berjamaah hanya menunjukkan dianjurkannya duduk atau berada di majelis dzikir. Majelis dalam bahasa Arab artinya adalah tempat duduk. Sehingga majelis dzikir artinya adalah berzikir di sebuah tempat yang sama. Kalimat majelis dzikir sama sekali tidaklah menunjukkan adanya dzikir jama’i, cuma sekedar menunjukkan al ijtima’ fi al dzikri.

Lebih lanjut golongan Salafy berpandangan bahwa kumpul tidak berarti berjamaah. Digunakannya kata ganti jamak atau plural dalam ayat seperti dalam Surat Al-Ahzab Ayat 35 dan hadits yang menunjukkan bolehnya dzikir berjamaah tidaklah menunjukkan anjuran melakukan hal tersebut secara bersama-sama. Banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut:

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Yang artinya, “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS Al-Baqarah: 187)

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mencampuri isteri-isteri mereka di malam hari bulan Ramadhan. Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata ganti jamak atau plural. Berdasarkan logika kaum Salafy tulisan di atas bisa disimpulkan bahwa kaum muslimin di anjurkan pada malam hari untuk kumpul di suatu tempat lalu berjima’ atau melakukan hubungan biologis dengan rame-rame.

Benarkah logika semacam ini? Tentu, ini adalah logika yang sangat tidak berdasar. Sehingga penggunaan kata ganti jamak atau plural sama sekali tidak menunjukkan dianjurkannya melakukan suatu hal secara bersama-sama. Yang benar, perintah yang menggunakan kata ganti plural hanya menunjukkan adanya perintah untuk melakukan suatu perbuatan dan sama sekali tidak membahas cara melaksanakan perintah tersebut.

Golongan Salafi berargumen untuk menolah dzikir berjamaah dengan mengatakan bahwa sesungguhnya amalan membaca dzikir secara berjama’ah dengan dikomando oleh seorang imam atau ustadz semacam ini tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan seperti ini merupakan amalan yang menyelisihi sunnah. Mereka beranggapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkannya. Mereka mengimgkari semua hadits tentang dzikir yang meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengomando jama’ahnya untuk berdzikir, apalagi dengan melantunkan dzikir tersebut menyerupai nyanyian.

Golongan Salafi mengatakan bahwa yang disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membaca dzikir sendiri-sendiri, bukan dengan cara koor.

Sanggahan dari golongan Sunni terhadap Salafi yang membid’ahkan dzikir berjamaah

Pertama, Faktanya adalah tidak ada larangan satupun baik dari Al-Qur’an maupun Hadits terhadap teknis pelaksanaan dzikir secara berjamaah. Bila suatu perkara tidak ada larangannya maka hal ini otomatis masuk ke dalam perkara yang didiamkan. Sedangkan perkara yang didiamkan (tidak diatur) dalam agama maka hukum asalnya mubah. Baca srtikel berikut; Hukum Asal Semua yang Didiamkan (tidak Diatur) Agama Adalah Halal

Kedua, Perhatikan argumentasi dari golongan Salafi di atas yang sangat panjang lebar dari awal sampai akhir. Sayangnya, argumen yang sangat panjang tersebut sedikitpun tidak ada dasar dalilnya sama sekali, semuanya hanya retorika belaka dan logika dari golongannya sendiri. Tidak ada satupun dalil secara tekstual baik dari ayat maupun hadits yang mampu mereka tunjukkan untuk melarang dzikir secara berjamaah. Mereka hanya menggunakan dalil bid’ah yang tergolong hadits mutasyabihat (meragukan) yang sifatnya umum, sedangkan dalil-dalil (bid’ah) umum tidak boleh diunakan untuk menghukumi perkara khusus.

Ketiga, Perkara dzikir merupakan perkara ibadah ghairu mahdah yang hukum asalnya adalah boleh dikreasikan dalam pelaksanaannya sesuai dengan keadaan, kemampuan, dan kemauan (selera) masing-masing umat Islam. Baca penjelasannya di sini; Perbedaan Ibadah Mahdhah dengan Ibadah Ghairu Mahdhah

Keempat, Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud (Hadits Darimi Nomor 206) tersebut sifatnya hanya atsar (pendapat) dari seorang sahabat saja. Dan pendapat dari hanya seorang sahabat tidak bisa mewakili penda[at mayoritas pendapat sahabat lainnya. Sebab mayoritas sahabat tidak mengingkari dzikir yang dilakukan secara berjamaah seperti yang terlihat dari banyak ayat dan hadits yang menganjurkan dzikir secara berjamaah di bagian bawah artikel ini,

Kelima, Pengingkaran golongan Salafi terhadap dzikir berjamaah sangat bertentangan dengan banyak sekali dalil dari Al-Qur’an maupun Hadits yang sangat menganjurkan dzikir berjamaah. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memuji dan memuliakan mereka yang bersemangat untuk dzikir berjamaah. Berikut di antara sebagian dalil yang menganjurkan dzikir berjamaah,

Dalil dari Al-Quran yang menganjurkan dzikri secara berjamaah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai sekalian orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian semua kepada Allah dengan zikir yang banyak.” (Surat Al-Ahzab Ayat 41)

Ayat-ayat yang senada dengan ini dapat dibaca dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 152 dan ayat 200.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 191)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Ahzab Ayat 35)

Yadzkurullah dan Q.S. al-Ahzab ayat 35: Adz-Dzaakiriinallaah dan Adz-Dzaakiraat, diteliti dari sisi tata bahasa Arab semuanya itu menggunakan dhamir jama’/plural (antum, hum dan hunna) bukan dhamir mifrad/singular (anta, huwa, dan hiya). Hal ini jelas mengisyaratkan bolehnya dan dianjurkannya zikir secara berjema’ah.

Dalil dari Hadits yang menganjurkan dzikri secara berjamaah

Ibadah sunnah mutlak seperti dzikir dan doa dengan berjamaah dan dipimpin seorang imam hukumnya sunnah. Banyak bertebaran Hadits yang menunjukkan para sahabat pada zaman Nabi berdoa, berdzikir dan membaca Al-Qur’an dengan secara jama’i dan dipimpin seorang imam, di antaranya,

Dianjurkan bagi kaum muslimin membentuk majelis-majelis dzikir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, ”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR. Tirmidzi No. 3510)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

‘Tidaklah suatu kaum yang duduk berkumpul untuk mengingat Allah, kecuali dinaungi oleh para malaikat, dilimpahkan kepada mereka rahmat, akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah Azza Wa jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 4868, Imam Tirmidzi dan Imam Ibn Majah)

Dalam hadits yang tidak diragukan lagi kesahihannya ini, jelas sekali bahawa dzikir secara berjama’ah (beramai-ramai) sangat baik dan sangat banyak faedahnya, yakni mereka dinaungi oleh para malaikat, dipenuhi rahmat Allah, diberikan kesenangan batin dan nama-nama mereka disebut-sebut oleh Allah di hadapan para malaikat-Nya.

Setiap majelis dzikir akan dibanggakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: ‘Majelis apa ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami. ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini. ‘ Kata Rasulullah selanjutnya: ‘Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tetapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis-salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat. ‘ (HR. Muslim No. 4869, Imam Tirmidzi dan Imam Nasa’i)

Hadits ini dengan tegas menyebutkan, betapa Allah membangga-banggakan di hadapan para malaikat-Nya, terhadap orang-orang yang berzikir di majlis zikir.

Setiap majelis dzikir akan menjadi berkah bagi siapapun yang menghadirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى عَقِيلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Telah menceritakan kepada kami [Isma’il] berkata, telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah] bahwa [Abu Murrah]-mantan budak Uqail bin Abu Thalib-, mengabarkan kepadanya dari [Abu Waqid al-Laitsi], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di mana satu di antaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?” Adapun seorang di antara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya”. (HR. Bukhari No. 64)

Jika hamba mengingat Allah dalam perkumpulan niscaya akan dibalas dengan perkumpulan yang lebih baik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan (jamaah), maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari. ” (HR. Bukhari No. 6856 dan Muslim)

Dalam hadits sahih ini terdapat beberapa pelajaran penting, antara lain yang pertama, tentang hubungan Allah dengan hamba-Nya sesuai dengan persangkaan hamba kepada Allah. Maksudnya adalah agar seorang hamba senantiasa berbaik sangka (husnuzhzhan) kepada Allah dan hendaknya jangan sampai berputus asa dari rahmat-Nya. Yang kedua, apabila seorang hamba berzikir kepada Allah, maka Allah pun akan selalu menyertainya. Dan yang ketiga, apabila seorang hamba berzikir kepada Allah dalam hatinya, maka Allah pun akan mengingat dia seperti itu. Namun apabila seorang hamba bertzikir kepada Allah di suatu majlis, maka Allah akan mengingat dia di majlis malaikat, yakni dengan membangga-banggakannya di hadapan mereka. Kenapa demikian? Kerana hal ini didasari oleh ketaatan manusia. Pebuatan ibadah manusia lebih baik daripada ibadah malaikat, kerana manusia beribadah dengan pandangan yang ghaib, sedangkan malaikat beribadah kepada Allah dengan pandangan musyahadah, yakni menyaksikan secara langsung hal-hal yang berhubungan dengan perkara ghaib, sehingga apabila mereka melihat syurga dan neraka, hal itu tidak ada pengaruhnya terhadap keimanan mereka. Oleh kerana itulah, bagi orang-orang yang taat beribadah dan selalu zikrullah, Allah pun selalu memuji dan membangakannya di hadapan para malaikat.

Akan rugi bagi yang tidak ikut berdzikir dalam sebuah majelis dzikir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنْ اللَّهِ تِرَةٌ

“Dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk pada suatu tempat (majelis), lalu tidak menyebut nama Allah (dzikir) di dalamnya, maka di sisi Allah itu akan menjadi kerugian baginya. ” (HR. Abu Daud No 4215)

Akan menyesal karena diadzab Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi yang tidak menghidupkan majelis dengan dzikir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Dari [Abu Hurairah radhillallahu ‘anhu] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia meng-adzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka. ” (HR. Tirmidzi No. 3302)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

“Tidaklah suatu kaum bangkit dari tempat duduknya, dan mereka tidak menyebut nama Allah dalam majelis tersebut, melainkan mereka seperti bangun dari tempat yang semisal dengan bangkai himar, dan kelak akan menjadi penyesalan baginya (di akhirat). ” (HR. Abu Daud No. 4214)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia mengadzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka. ” (HR. Tirmidzi No. 3302)

Malaikat selalu mencari majelis dzikir untuk menyelimutkan sayapnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

‘Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit. ‘ Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya: ‘Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka: ‘Kalian datang dari mana? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apa yang mereka minta? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka memohon surga-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya lagi: ‘Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala balik bertanya: ‘Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun (beristighfar) kepada-Mu? ‘ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: ‘Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka. ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka. ‘ Maka Allah menjawab: ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tidak bakalan celaka karena mereka. ‘ (HR. Muslim No. 4854)

Hadits sahih ini menjelaskan dengan terang benderang, bahawasanya majlis dzikir itu adalah suatu majlis yang dicari-cari dan dihadiri oleh malaikat. Mereka memenuhi majlis dzikir itu dengan sayap-sayap mereka sehingga barisan mereka sampai ke langit dunia. Dan Allah pun menyatakan di hadapan para malaikat, bahawa Dia telah mengampuni dosa-dosa setiap orang yang hadir di majlis dzikir itu.

Setiap majelis dzikir akan dibanggakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca al-Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 4867)

Nabi lebih menyukai hadir di majelis dzikir dibanding membebaskan budak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat anak Isma’il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari Shalat ‘Ashar hingga matahari tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak. ” (HR. Abu Daud No. 3182)

Berdzikir di majelis dzikir lebih memiliki keutamaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَلِمَاتٌ لَا يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِهِ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا كُفِّرَ بِهِنَّ عَنْهُ وَلَا يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ ذِكْرٍ إِلَّا خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ عَلَيْهِ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Ada beberapa bacaan, tidaklah seseorang membacanya tiga kali saat berdiri dari majelisnya kecuali Allah akan menghapus dosanya karenanya. Dan tidaklah seseorang yang mengucapkannya dalam masjlis yang baik dan majelis dzikir, kecuali dengannya Allah akan menutup amal baiknya sebagaimana kertas yang diakhiri dengan kalimat: (Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan taubat kepada-Mu). ” (HR. Abu Daud No. 4216)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Apabila kami menghitung ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu majelis: “Rabbighfirli watub ‘alayya innaka anta tawwabur rahim (Ya Rabbku ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha penerima taubat dan maha penyayang” beliau mengucapkannya sebanyak seratus kali. ” (HR. Abu Daud No. 3804)

Sehabis memimpin shalat jamaah, Nabi melanjutkan dengan memimpin dzikir dengan menghadap ke makmum. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari menunaikan shalat, beliau menghadapkan wajahnya ke arah kami (makmum). ” (HR. Bukhari No. 800)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ عَن السُّدِّيِّ، عَنْ أَنَسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْصَرِفُ عَنْ يَمِينِهِ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari as-Suddiy, dari Anas: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berpaling dari arah kanan (seusai shalat).” (HR. Muslim No. 3784)

Nabi memimpin doa dengan diiringi bacaan amin dari para sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ وَعُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ حَاضِرٌ يُصَدِّقُهُ قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلْ فِيكُمْ غَرِيبٌ يَعْنِي أَهْلَ الْكِتَابِ فَقُلْنَا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ وَقَالَ ارْفَعُوا أَيْدِيَكُمْ وَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَرَفَعْنَا أَيْدِيَنَا سَاعَةً ثُمَّ وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ اللَّهُمَّ بَعَثْتَنِي بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ وَأَمَرْتَنِي بِهَا وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهَا الْجَنَّةَ وَإِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ثُمَّ قَالَ أَبْشِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ غَفَرَ لَكُمْ

“Dari [Ya’la bin Syadad] berkata; telah menceritakan kepadaku [Abu syadad bin Aus] dan [‘Ubadah bin Shamit] datang membenarkannya berkata; kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bertanya, “Apakah di antara kalian ada orang yang asing yaitu Ahli Kitab?”. Lalu kami menjawab, “Tidak Wahai Rasulullah, ” lalu beliau menyuruh untuk menutup pintu dan bersabda: “Angkatlah tangan kalian dan katakanlah, tidak ada tuhan selain Allah, ” lalu kami mengangkat tangan kami beberapa saat lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan beliau lalu bersabda: “Segala Puji bagi Allah, Ya Allah, Engkau telah mengutus kami dengan kalimat ini dan Engkau telah memerintahkanya dengannya dan Engkau telah menjanjikan kepada kami dengan syurga. Sesungguhnya Engkau tidak akan menyelisihi janji, ” lalu (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Berilah kabar gembira, sesungguhnya Allah Azzawajalla telah mengampuni kalian. ” (HR. Ahmad No. 16499)

Bacaan doa dari seorang hamba akan diiringi bacaan amin dari para malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَوَجَدْتُ أُمَّ الدَّرْدَاءِ فَقَالَتْ أَتُرِيدُ الْحَجَّ الْعَامَ فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَتْ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا بِخَيْرٍ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Setelah itu, Ummu Darda’ bertanya kepada saya; ‘Hai Shafwan, apakah kamu akan pergi haji pada tahun ini? ‘ Saya pun menjawab; ‘Ya. ‘ Ummu Darda’ berkata; ‘Mohonkanlah kepada Allah kebaikan untuk kami, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Muslim No. 4914)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَمَّنَ الْقَارِئُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Apabila imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin, karena para Malaikat pun ikut mengaminkan, maka siapa yang bacaannya amin bertepatan dengan bacaannya Malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (HR. Bukhari No. 5923)

Nabi membacakan amin atas doa sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ قَيْسٍ الْمَدَنِيِّ أَنَّ رَجُلاً جَاءَ زَيْدَ بْنِ ثَابِتٍ فَسَأَلَ عَنْ شَيْءٍ فَقَالَ لَهُ زَيْدٌ: عَلَيْكَ بِأَبِيْ هُرَيْرَةَ فَبَيْنَا أَناَ وَأَبُوْ هُرَيْرَةَ وَفُلاَنٌ فِي الْمَسْجِدِ نَدْعُوْ وَنَذْكُرُ رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ إِذْ خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَلَسَ إِلَيْنَا فَسَكَتْنَا فَقَالَ: عُوْدُوْا لِلَّذِيْ كُنْتُمْ فِيْهِ. فَقَالَ زَيْدٌ: فَدَعَوْتُ أَنَا وَصَاحِبِيْ قَبْلَ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤَمِّنُ عَلىَ دُعَائِنَا ثُمَّ دَعَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ فَقَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ سَائِلُكَ بِمِثْلِ مَا سَأَلَكَ صَاحِبَايَ وَأَسْأَلُكَ عِلْمًا لاَ يُنْسَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آَمِيْن فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَنَحْنُ نَسْأَلُ اللهَ عِلْمًا لاَ يُنْسَى فَقَالَ سَبَقَكُمَا بِهَا الْغُلاَمُ الدَّوْسِيُّ رواه والنسائي في الكبرى والطبراني في الأوسط وصححه الحاكم

“Dari Qais al-Madani, bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit, lalu menanyakan tentang suatu. Lalu Zaid berkata: “Kamu bertanya kepada Abu Hurairah saja. Karena ketika kami, Abu Hurairah dan si fulan berada di Masjid, kami berdoa dan berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, sehingga duduk bersama kami, lalu kami diam. Maka beliau bersabda: “Kembalilah pada apa yang kalian lakukan.” Zaid berkata: “Lalu aku dan temanku berdoa sebelum Abu Hurairah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca amin atas doa kami. Kemudian Abu Hurairah berdoa: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seperti yang dimohonkan oleh kedua temanku. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Amin.” Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah, kami juga memohon ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu beliau berkata: “Kalian telah didahului oleh laki-laki suku Daus (Abu Hurairah) itu”. (HR. Nasai dalam al-Kubra No. 5839)

 

Dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala menceritakan tentang Nabi Musa dan Nabi Harun yang saling mengaminkan doa orang lain. Salah satunya memimpin doa lainnya dan dikabulkannya doa oleh Allah,

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus: 89)

Boleh berdoa dengan suara keras ketika memimpin doa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَرَجَ يَسْتَسْقِي قَالَ فَحَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ يَدْعُو ثُمَّ حَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ

“Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari saat beliau keluar minta turunnya hujan. Beliau kemudian menghadap ke arah kiblat dengan menghadapkan punggungnya ke arah manusia, beliau lalu berdoa sambil membalikkan kain selendangnya. Setelah itu beliau mengimami kami shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan. ” (HR. Bukhari No. 969)

Demikian pula misalkan seorang pemimpin rombongan haji memimpin jamaahnya agar bersama-sama melafadzkan niat haji maka boleh saja bersuara dengan keras sebagaimana Hadits berikut ini:

أَهْلَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَجِّ خَالِصًا لَا نَخْلِطُهُ بِعُمْرَةٍ فَقَدِمْنَا مَكَّةَ لِأَرْبَعِ لَيَالٍ خَلَوْنَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ فَلَمَّا طُفْنَا بِالْبَيْتِ وَسَعَيْنَا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَجْعَلَهَا عُمْرَةً وَأَنْ نَحِلَّ إِلَى النِّسَاءِ فَقُلْنَا مَا بَيْنَنَا لَيْسَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ عَرَفَةَ إِلَّا خَمْسٌ فَنَخْرُجُ إِلَيْهَا وَمَذَاكِيرُنَا تَقْطُرُ مَنِيًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَبَرُّكُمْ وَأَصْدَقُكُمْ وَلَوْلَا الْهَدْيُ لَأَحْلَلْتُ فَقَالَ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكٍ أَمُتْعَتُنَا هَذِهِ لِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِأَبَدٍ فَقَالَ لَا بَلْ لِأَبَدِ الْأَبَدِ

“Kami mengeraskan suara bacaan niat untuk mengerjakan haji saja bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa mencampurnya dengan niat umrah. Dan kami tiba di Mekkah pada malam keempat bulan Dzulhijjah. Maka ketika kami thawaf di Baitullah, dan Sa’i antara Shafa dan Marwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas memerintahkan kami untuk menjadikannya sebagai umrah dan segera berkumpul dengan para istri kami. Maka kami saling berkata; ‘Antara kita kini dari hari Arafah hanya tersisa lima hari. Apakah kita harus pergi ke sana (Arafah) sedangkan kemaluan kita mengucurkan mani (kita tengah berhadast)? ‘Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang paling baik dan jujur di antara kalian, seandainya tidak ada (al hadyu), niscaya akan kubolehkan (untuk melakukannya). ‘ Suraqah bin Malik bertanya; ‘Apakah haji Tamattu’ kami hanya diwajibkan untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak tetapi untuk selamanya’. (HR. Ibnu Majah No. 2971)

Dan masih banyak lagi amal yang boleh dikhususkan

Syubhat syariat

Jadi sudah sangat jelas bahwa banyak dalil yang mengisyaratkan bolehnya dzikir dan berdoa secara berjamaah. Namun apabila golongan Salafi yang mempersoalkan dengan alasan bahwa hal tersebut dilarang dan tidak ada dalilnya atau tidak pernah dicontohkan Nabi. Maka tuduhan itulah sejatinya bid’ah yang nyata. Sebab pengertian (hakikat) bid’ah sejatinya adalah kedustaan atas nama agama dengan melarang atau memerintahkan suatu perkara yang sebetulnya dibebaskan oleh agama. Pengertian ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum) sebagai rahmat bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)-nya” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ad-Daaruquthni dan yang lainnya)

Diperkuat dengan makna Hadits berikut,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.”. (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Sudah sangat jelas, bahwa dalam agama di samping ada wilayah haram (yang dilarang) dan halal (yang dianjurkan) juga ada wilayah netral (didiamkan). Di mana tata cara pelaksanaan amaliah dan ibadah yang sifatnya netral tersebut hukumnya mubah dan diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam.

Sempurnakan pemahaman dengan membaca artikel terkait berikut;

Hakikat Bid’ah

Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih

Hukum Asal Semua yang Didiamkan (tidak Diatur) Agama Adalah Halal

Tidak Semua yang tidak Ada Dalil Al-Qur’an dan Hadits Adalah Haram

Tidak Semua yang tidak Dicontohkan Nabi adalah Bid’ah

Jadi bilama ada segolongan Salafi membid’ahkan, dengan begitu dakwahan merekalah yang sejatinya bid’ah. Maksud bid’ah di sini adalah bahwa mereka telah berbohong atas nama Agama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Surat An-Nahl Ayat 105)

Baca Juga;

Membid’ahkan Tanpa Ada Dalil Larangan Yang Spesifik Itu Kedustaan Agama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat An-Nahl Ayat 116-117)

Jadi mudah menuduh bid’ah dengan mudah mengharamkan perkara yang dibebaskan merupakan kelancangan terhadap wewenang Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Hujurat Ayat 1)

Jadi tuduhan mereka yang membid’ahkan dzikir dan berdoa secara berjamaah merupakan perkara bid’ah yang batal dan batil.

Untuk menyempurnakan pemahaman, baca juga artikel yang terkait berikut,

Tidak Semua yang tidak Ada Dalil Al-Qur’an dan Hadits Adalah Haram

Tidak Semua yang tidak Dicontohkan Nabi adalah Bid’ah

Hukum Asal Semua Hal Boleh Selama Memenuhi Kriteria

Kesimpulan

Sudah sangat jelas sekali akan batal dan batilnya pendapat golongan Salafi yang mengingkari dzikir dan doa yang dikerjakaan secara berjamaah. Mereka berpendapat hanya menggunakan akal dan pikirannya sendiri tanpa didasari dengan dalil-dalil yak kuat. Berdalil menggunakan akal sendiri dengan mengingkari dalil yang sahih dan lebih banyak merupakan kedustaan atas nama agama.

Bagikan Artikel Ini Ke