Hukum Do’a Qunut Saat Shalat Subuh

Daftar Isi

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

BAB I

HUKUM DO’A QUNUT SAAT SHALAT SUBUH

Harus diakui bahwa dari semua dalil yang terkait dengan doa qunut saat shalat subuh saling bertolak belakang atau kontradiksi antara satu dalil dengan dalil lainnya. Sehingga timbullah pertentangan antara para ulama ahli agama, masing masing dengan dalil-dalil penunjangnya. Bahkan kenyataannya tidak mudah mematahkan satu pendapat dengan pendapat lainnya karena masing-masing menganggap telah didukung dengan dalil yang mereka persepsikan kuat. Berikut kami sebutkan beberapa saja dari sekian banyak hadits mengenai menutup wajah yang saling bertentangan,

  1. Hadits-hadits yang diasumsikan perintah qunut,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman] telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [Qatadah] dari [Anas] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan doa “qunut” selama sebulan, beliau mendo’akan kebinasaan terhadap sejumlah penduduk dusun arab, setelah itu beliau meninggalkannya.” (HR. Muslim Nomor 1092)

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا خَلَفٌ عَنْ أَبِي مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَبِي قَدْ صَلَّى خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَقُلْتُ لَهُ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ قَالَ لَا أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ

Telah menceritakan kepada kami [Husain bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Khalaf] dari [Abu Malik] dia berkata, “Ayahku dulu shalat di balakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -saat masih berumut enam belas tahun-, bersama Abu Bakar, ‘Umar dan Utsman. Aku lalu bertanya kepadanya, “Apakah mereka melakukan qunut?” Dia menjawab, “Wahai anakku, itu adalah perkara yang diada-adakan.” (HR. Ahmad No. 25952)

  1. Hadits-hadits yang berkonotasi makna wajib mengenakan cadar,

عن أنس بن مالك قال: ما زال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت في الفجر حتى فارق الدنيا

“Dari Anasa bin Malik beliau berkata: Rasulullah masih melakukan qunut pada shalat subuh sampai beliau wafat”.HR: Ahmad

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سُئِلَ عَنْ الْقُنُوتِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ فَقَالَ كُنَّا نَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ وَبَعْدَهُ

Telah menceritakan kepada kami [Nashr bin Ali Al Jahdlami] berkata, telah menceritakan kepada kami [Sahl bin Yusuf] berkata, telah menceritakan kepada kami [Humaid] dari [Anas bin Malik] ia berkata, “Ia ditanya tentang qunut dalam shalat subuh?” maka Anas pun menjawab, “Kami melakukan qunut sebelum rukuk dan sesudahnya. ” (HR. Ibnu Majah No. 1173)

Disebabkan karena terdapat dua dalil yang saling bertolak belakang yang sama-sama dianggap kuat, maka hukum membaca do’a qunut saat shalat Subuh tidak sampai naik pada level haram dan bagi yang tidak mengenakannyapun tidak sampai dihukumi bid’ah yang berdosa. Walaupun begitu hukum membaca do’a qunut saat shalat Subuh mayoritas ulama menghukumi hanya sebatas sunnah yang tetap mendapatkan pahala bagi yang mau melakukannya.

Dikarenakan dua hadits yang dzahirnya saling kontradiksi diatas dan hadits-hadits lain yang serupa, para ulam berbeda pendapat dalam qunut shalat subuh, berikut pendapat para ulama dalam hal ini:

1. Madzhab Hanafi

Ulama hanafiyah menghukumi tidak disyari’atkan qunut pada shalat subuh karena sudah dinasakh. Berikut kami kutipkan pendapat salah satu ulama madzhab Hanafi Badruddin Al ‘Aini (Wafat 855 H) dalam kitab al binayah syarah al hidayah;

قد ذكرنا النسخ ووجهه وكل من روى القنوت، وروى تركه ثبت عنده نسخه؛ لأن فعله للمتأخر ينسخ المتقدم

Sudah kami sebutkan sisi dinasakhnya qunut, dan semua rawi yang meriwayatkan qunut dan meriwayatkan tidak qunut sudah menetepkan bahwa qunut sudah dinasakh, karena perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terakhir menasakh yang terdahulu.

2. Madzhab Maliki

Madzhab ini menganggap qunut dalam shalat subah hukumnya sunnah karena masih disyariatkan. Dalam madzhab ini bisa dilakukan sebelum ruku’ pada raka’at kedua shalat subuh atau sesudah ruku’. Berikut kutipan salah satu ulama madzhab Maliki Ibnu Abdi Al-Barr (Wafat 463 H) dalam kitabnya Al Kafi Fi Fiqhi Ahli Al Madinah mengatakan:

ويقنت في صلاة الصبح الإمام والمأموم والمنفرد إن شاء قبل الركوع وإن شاء بعده كل ذلك واسع والأشهر عن مالك القنوت قبل الركوع

Dan dianjurkan bagi imam, makmum atau orang yang shalat sendirian untuk melakukan qunut dalam shalat subuh, jika ia mau, sebelum ruku’ atau setelah ruku’, semua itu ada keluasan, dan pendapat yang masyhur dari Imam Malik adalah sebelum ruku’.

3. Madzhab Syafii

Menurut madzhab ini hukumnya sunnah muakkad melakukan doa qunut saat shalat subuh, menurut ulama syafiiyah dilakukan setelah ruku’ pada raka’at kedu shalat subuh, dan jika seseorang lupa melakukan qunut dan langsung sujud maka dianjurkan untuk sujud sahwi. Berikut kutipan salah satu ulama madzhab Syafi’i Imam An Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Al Majmu’;

القنوت في الصبح بعد رفع الرأس من ركوع الركعة الثانية سنة عندنا بلا خلاف وأما ما نقل عن أبي علي بن أبي هريرة رضى الله عنه أنه لا يقنت في الصبح لأنه صار شعار طائفة مبتدعة فهو غلط لا يعد من مذهبنا

Qunut pada shalat subuh setelah mengangkat kepala dari ruku’ pada raka’at kedua sunnah dalam madzhab kami tanpa ada perbedaan, adapun yang dinukil dari Abu Ali bin Abu Hurairah radiallahu ‘anu bahwa tidak qunut pada shalat subuh, karena hal itu sudah menjadi syi’ar kelompok ahli bid’ah maka itu salah dan tidak termasuk madzhab kami.

4. Madzhab Hanbali

Menurut ulama hanabilah qunut pada shalat subuh tidak disunnahkan, begitu juga pada shalat fardhu yang lain, dan qunut hanya dianjurkan pada shalat witir. Berikut kutipan salah satu ulama madzhab Hambali Al Muwaffaq Ibnu Qudamah (w 620 H) dalam kitabnya al Mughni;

ولا يسن القنوت في الصبح، ولا غيرها من الصلوات، سوى الوتر

Dan tidak disunnahkan qunut pada sholat subuh, dan tidak juga pada shalat fardhu yang lainnya, kecuali shalat witir.

الدُّعَاءُ قُىُوْتٌ

 Hasil gambar untuk do'a qunut

BAB II

KAJIAN HUKUM DO’A QUNUT SAAT SHALAT SUBUH

Sebelum menentukan hukum mengenakan cadar dalam Islam, sebaiknya kita memahami konsep sederhana hukum syari’ah dalam Islam. Dalam Islam ada lima jenis hukum yang telah masyhur; Wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Menyangkut penyikapan persoalan keagamaan dari kelima hukum tersebut terbagi menjadi dua; Pertama adalah hukum-hukum yang telah mencapai kata sepakat oleh seluruh Ahli Agama Islam atau lebih dikenal dengan istilah IJMA’ ULAMA, dan kedua adalah hukum-hukum yang belum mencapai kata sepakat oleh seluruh Ahli Agama Islam atau lebih dikenal dengan istilah IKHTILAFUL ULAMA.

Dalam hal ijma ulama tentunya tidak ada persoalan dalam praktiknya. Namun persoalan akan mulai dirasakan bilamana menyangkut masalah-masalah ikhtilaful ulama. Untuk sedikit memahami kronologis atau asal usul kenapa dalam satu agama Islam terjadi perbedaan pendapat atau pandangan antara ulama, maka kita sebaiknya memahami konsep hukum dalam Islam secara dasarnya. Berikut adalah konsep, mekanisme, dan prosedur dasar menetapkan kriteria sebuah hukum,

A. Wajib Dan Haram

  1. Hukum ke-WAJIB-an atau ke-HARAM-an tersebut bila berasal dari PERINTAH atau LARANGAN nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat mutlak/absolut bukan muqayyad/bersyarat, bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan.

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (QS. Az-Zumar: 23)

  1. Tidak ada satupun nash lain yang menunjukkan makna yang berlawanan atau bertolak belakang dalam sebuah persoalan agama.
  2. Perintah itu bersifat WAJIB apabila diiringi janji pahala dan surga bagi para pelakunya, dan ada ancaman dosa dan neraka bagi yang meninggalkannya. Dan sebaliknya larangan itu bersifat haram apabila diiringi janji pahala dan surga bagi yang meninggalkannya, dan ada ancaman dosa dan neraka bagi para pelakunya.
  3. Contoh hukum kewajiban shalat lima waktu karena berasal dari perintah yang kalimatnya bersifat mutlak, sorih, muhkamat, dan tidak ada satupun dalil yang bertolak belakang,

فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“…maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

  1. Contoh hukum keharaman daging babi karena berasal dari larangan yang kalimatnya bersifat mutlak, sorih, muhkamat, dan tidak ada satupun dalil yang bertolak belakang,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al Maa’idah: 3)

B. Selain Wajib Dan Haram (Sunnah, Makruh, Mubah)

  1. Hukum tersebut bila berasal dari perintah atau larangan nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan, namun kalimatnya bersifat tidak mutlak/absolut alias muqayyad/bersyarat.
  2. Atau larangan atau perintah tersebut berasal dari nash yang kalimatnya bersifat MUTASYABIHAT atau MERAGUKAN walaupun tidak ada dalil lain yang terkesan bertolak belakang. Maksudnya adalah dalam sebuah persoalan agama Islam tersebut dalil-dalilnya tidak menunujukkan makna yang jelas sehingga berpotensi menimbulkan persepsi yang berbeda bagi para penelitinya. Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran: 7)

  1. Terdapat banyak nash yang menunjukkan makna bervariasi dan atau bertolak belakang antara nas satu dengan nash yang lainnya; Sebagaimana ada nash dengan jelas menunjukkan nabi dan sahabat terkadang mengerjakan. Dan ada nash dengan jelas menunjukkan nabi dan sahabat terkadang tidak mengerjakan.
  2. Agama hanya menjanjikan sebuah pahala dan surga bagi yang mau mengerjakan dan atau tidak mengerjakannya. Namun agama tidak sampai mengancam dosa dan neraka bagi yang mau mngerjakan dan atau tidak mau mengerjakannya.
  3. Contoh Kasus:
  • Sunnah: Seperti ibadah shalat berjamaah; Nabi dan sahabat pernah mengerjakan dan juga pernah tidak mengerjakan. Bagi yang mengerjakan mendapat tambahan pahala 27 derajat, dan tidak ada dosa sama sekali bagi yang tidak mengerjakan shalat berjamaah.
  • Makruh: Seperti makan menggunakan tangan kiri; Nabi dan sahabat pernah menggunakan dan juga pernah tidak menggunakan. Bagi yang menggunakan mendapat tambahan pahala, dan tidak ada dosa sama sekali bagi yang tidak menggunakan tangan kiri untuk makan.
  • Mubah: Seperti makan, minum dan bercanda; Nabi dan sahabat pernah melakukan dan juga pernah tidak melakukan. Kedua-duanya sama sekali tidak berdampak apakah dia mendapatkan pahala atau dosa. Ada juga hukum,
  • Aula/Afdhal/Lebih Utama: Seperti diam; Nabi mengatakan bilamana manusia tidak memiliki manfaat dalam pembicaraan maka lebih utama manusia itu diam.

C. Ikhtilaful Ulama (Bisa Wajib, Haram, Sunnah, Makruh, Atau Mubah)

  1. Bisa jadi hukum tersebut berasal dari perintah atau larangan nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat mutlak/absolut bukan muqayyad/bersyarat, bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan namun terdapat nash lain dengan tema sama dengan makna hukum yang bertolak belakang.
  2. Atau bisa jadi terdapat banyak nas dengan sebuah tema agama yang sama namun kesemuanya bersifat kalimat muqayyad/bersyarat bukan mutlak/absolut, bersifat kinayah/samar bukan sharih/jelas, atau kalimatnya bersifat mutasyabihat/meragukan bukan muhkamat/pasti, sehingga berpotensi menimbulkan banyak persepsi penafsiran dan bahkan penakwilan.
  3. Atau bisa jadi persoalan agama tersebut baru muncul ketika sumber hukum Islam yakni Al-Qur’an dan Hadits sudah terhenti sepeninggalnya nabi Muhammad sedangkan tidak ada satu dalilpun dalam Al-Qur’an dan Hadits secara jelas yang dapat mewakili tema persoalan agama yang baru muncul tersebut.
  4. Contoh kasus masalah ikhtilaful ulama ini: Seperti hukum cadar, jenggot, isbal, dll.; Masalah-masalah tersebut para ulama ahli saling menunjukkan kekuatan dalil-dalinya walaupun sumber hukumnya sama-sama dari nash (Al-Qur’an dan Hadits). Biasanya para ulama dalam memutuskan persoalan ini berbeda karena berbedanya metode yang dipakai, yaitu;
  • Naskh

Bilamana terjadi dua dalil yang saling bertentangan secara zhahir dan sederajat, maka dihapus atau dibatalkan bila bukti-bukti dan indikatornya kuat dan jelas dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah, seperti kedua dalil yang bertentangan makna tersebut diketahui tahun rilisnya, dan ada dalil lain dari ayat atau hadits atas telah dibatalkannya nash tersebut. Firman Allah,

إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat atau memindahkan (Membatalkan) apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-Jasiyat: 29)

  • Tarjih (Mengambil satu dalil dan membuang dalil lainnya yang berbeda)

Secara bahasa tarjih berarti menguatkan, yakni mengambil satu dalil dengan mengabaikan dalil lainnya. Dalil yang dikuatkan disebut rajih dan dalil yang dilemahkan disebut marjuh. Mereka yang menggunakan metode ini beralasan; a. Dua dalil yang bertentangan dan tidak mungkin untuk mengamalkan keduanya melalui cara apapun. b. Kedua dalil yang bertentangan itu memiliki kualitas yang sama untuk memberi petunjuk kepada yang dimaksud. c. Ada indikator yang mendukung untuk mengamalkan salah satu diantara dua dalil yang bertentangan dan meninggalkan dalil yang satu lagi.

  • Al-Jam`u wa al-Taufiq (Mengumpulkan dua dalil dengan dihukumi sunnah)

Al-Jam`u wa al-Taufiq adalah menghubungkan dua dalil yang nampak bertentangan, sehingga keduanya bisa dipakai dan diamalkan dengan didapatkan makna yang berserasian. Dengan maksud bahwa agama memang memberikan pilihan variasi beramal dalam beragama.

  • Tasaqut al-Dalalain

Tasaqut al-Dalalain adalah upaya menangguhkan penyelesaian atau keputusan dari dua dalil yang tempak beralawanan karena sulit ditempuh dangan al-jam`u wa al-taufiq, tarjih, maupun naskh. Cara ini sebenarnya bukanlah penyelesaian tetapi penangguhan /dimauqufkan atau di pending untuk sementara waktu, sementara belum didapatkan keterangan atau alasan-alasan lain yang menunjang atau menguatkan salah satunya.

Bila suatu persoalan hukum dalam Islam masih terjadi pertentangan antar para ulama ahli, maka secara otomatis hukumnya tidak bisa naik ke level wajib ataupun haram. Maksudnya walaupun sebagian ulama berpendapat bahwa masalah tersebut wajib atau haram maka bagi yang berbeda pendapat berbeda tidak serta merta dapat dihukumi berdosa apabila melakukannnya atau tidak melakukannya, karena persoalan tersebut tergolong masalah ikhtilafiyah yang masing-masing berhak melakukan ijtihad/meneliti hukumnya. Walaupun berbeda maka tidak bisa untuk salah satunya dihukumi salah dan berdosa, bahkan walaupun kedua-duanya menghasilkan hukum yang berbeda maka kedua-duanya tetap akan mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda nabi,

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (HR. Bukhari Nomor 268, Muslim Nomor 1716)

Oleh karena itu tidak boleh persoalan khilafiyah atau ijtihadiyah dipaksakan dan ditetapkan ke dalam hukum haram atau wajib, pilihannya maksimal hanya dihukumi sunnah, makruh atau mubah saja. Karena untuk menetapkan apakah hukum sebuah persoalan agama itu haram/batal atau wajib/halal harus memenuhi beberapa kriteria yang ketat sebagaimana yang telah disebutkan di poin A (diatas). Disamping itu bila terdapat dua dalil sama-sama kuat namun bertolak belakang, tidak layak bagi kita hanya mengakui sala satunya dan mengingkari dalil lainnya, karena kedua-duanya juga merupakan dalil yang datangnya dari Allah SWT an Muhammad SAW. Oleh karena itu dari penjelasan diatas maka sebaiknya kita gabungkan dua dalil tersebut dengan diberlakukan sebuah kaidah,

“Bila ada dua dalil yang bersifat jelas namun bertolak belakang (Ikhtilaf) dalam satu masalah agama maka tidak bisa dihukumi wajib atau haram, melainkan masuk dalam kategori maksimal hukum sunnah, makruh, aula, khilaful aula, atau bahkan hukumnya mubah saja.”

 “Haram hukumnya mewajibkan atau mengharamkan persoalan yang masih dipertentangkan yang mana kedua-duanya sama-sama dapat mengajukan dalil yang tidak lemah”

BAB III

KODE ETIK DALAM MASALAH IKHTILAFUL ULAMA

Dalam masalah ini para ulama sulit untuk mencapai kata sepakat dalam masalah hukum, karena masing-masing merasa didukung oleh dalil-dalil yang cukup kuat. Namun walaupun para ulama tidak dapat menyepakati dalam masalah hukumnya mereka telah bersepakat dalam masalah menyikapinya, yakni kesepakatan yang telah diambil adalah;

  1. Boleh memilih pendapat atau hukum mana yang lebih diyakini kebenarannya selama juga didasari dengan dalil dari nas agama. Dengan catatan,
  2. Harus saling menghargai
  3. Tidak boleh merasa paling benar.
  4. Tidak boleh menuduh pihak lain melakukan kesyirikan, kurafat, dan bid’ah.
  5. Tidak boleh menghukumi pihak yang berbeda sebagi pihak yang salah, sesat atau bahkan kafir. Kusus bagi mereka yang suka mengkafirkan hanya karena perbedaan ijtihadiyah maka ada hukum tersendiri. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan bahaya mengkafirkan seorang muslim, beliau bersabda:

وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ

“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya.” (HR. Bukhari).

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim).

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Tidaklah seseorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian.” (HR Bukhari).

Inilah sikap golongan Sunni yakni golongan yang berpegang teguh pada Ahlussunnah Wal Jamaah dengan mengambil jalan yang seimbang, harmonis dan moderat, tidak condok ke kanan terlalu keras dan juga tidak condong ke keri terlalu lembek. Inilah jalan ummat yang diridhoi Allah. Firman Allah swt,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat Pertengahan, supaya kamu menjadi saksi ( pembawa keterangan ) kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143)

BAB IV

DAFTAR DALIL-DALIL TERKAIT QUNUT SHALAT SUBUH

Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas dalil-dalil Al-Qur’an maupun Hadits yang diasumsikan perintah qunut shalat subuh.

A. DALIL-DALIL KESUNNAHAN DO’A QUNUT 

  1. Dalil Pertama

CATATAN:

  • .

B. DALIL-DALIL LARANGAN DO’A QUNUT 

  1. Dalil Pertama

CATATAN:

  • .