Hukum Boleh Isbal Tidak Hanya Berlaku Pada Celana Saja

Kebanyakan dari kita hanya mengetahui bahwa persoalan isbal (memanjangkan kain) hanya pada celana saja. Padahal ketika membicarakan masalah isbal, juga termasuk kain sarung, baju dan surban. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْجُعْفِيُّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي رَوَّادٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِسْبَالُ فِي الْإِزَارِ وَالْقَمِيصِ وَالْعِمَامَةِ مَنْ جَرَّ مِنْهَا شَيْئًا خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Telah menceritakan kepada kami [Hannad bin As Sari] berkata, telah menceritakan kepada kami [Husain Al Ju’fi] dari [Abdul Aziz bin Abu Rawwad] dari [Salim bin Abdullah] dari [Bapaknya] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Isbal (menjulurkan kain) itu ada pada sarung, baju dan surban. Siapa yang memanjangkan salah satu darinya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 3571)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ أَبِي الصَّبَّاحِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي سُمَيَّةَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْإِزَارِ فَهُوَ فِي الْقَمِيصِ

“Telah menceritakan kepada kami [Hannad] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ibnul Mubarak] dari [Abu Ash Shabbah] dari [Yazid bin Abu Sumayyah] ia berkata; Aku mendengar [Ibnu Umar] berkata, “Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan dalam (isbalnya) sarung maka juga berlaku pada gamis.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 3572)

Perhatikanlah bahwa masalah isbal tidak pernah terlepas dari penyebutan illat (alasan diberlakukan hukum) pelarangan isbal yaitu karena ada kesombongan di dalamnya. Maka disebutkan dalam Hadits di atas bahwa persoalan isbal tidak hanya masalah celana, melainkan juga kain sarung, selendang, baju bahkan surban. Oleh karena itu, Imam Abu Hanifah (pendiri Madzhab Hanafi) dipersoalkan mantelnya bukan celananya.

Berkata pengarang Al Muhith dari kalangan Hanafiyah, dan diriwayatkan bahwa Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) memakai mantel mahal seharga empat ratus dinar, yang menjulur hingga sampai tanah. Maka ada yang berkata kepadanya: “Bukankah kita dilarang melakukan itu?” Abu Hanifah menjawab: “Sesungguhnya larangan itu hanyalah untuk yang berlaku sombong, sedangkan kita bukan golongan mereka.” (Imam Ibnu Muflih, Al Adab Asy Syar’iyyah, Juz 4, Halaman 226. Mawqi’ Al Islam)

Namun, Abu Hanifah lebih memahami agama dan mewarisi ilmu dari kalangan tabi’in sehingga memahami bahwa dilarangnya isbal karena adanya illat kesombongan sehingga beliau mengatakan bahwa ia memakainya bukan karena sombong.

Sedangkan dalam Hadits-hadits tentang kainnya Abu Bakar radliallahu ‘anhu yang isbal menjadi bukti bahwa yang dipersoalkan sebenarnya bukan soal melebihi mata kaki nya, melainkan selama di situ terdapat kesombongan maka hal itu menjadi haram. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menganggap Abu Bakar kainnya melebihi mata kaki itu karena sombong.

Dari sini kita dapat melakukan qiyas, analogi pada masalah lainnya bahwa memanjangkan lengan baju, seperti kebiasaan raja-raja dan kaisar serta bangsawan Tiongkok, atau pembesar Sikh dan India dengan surbannya yang lebay, atau bagian kain lainnya jika didasari niat karena bermegahan dan kesombongan (sebagaimana tradisi kaum bangsawan dan raja-raja jahiliyah pada umumnya) maka hal itu adalah haram atau minimal makruh.

Imam Qadhi ‘Iyadh berkata :Berkata para ulama: “Secara umumnya memakruhkan setiap hal yang melebihi dari kebutuhan dan berlebihan (isrof) dalam pakaian, baik berupa panjangnya dan lebarnya. Wallahu A’lam.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Kitab Al Libas Waz Zinah Bab Tahrim Jarr ats Tsaub wa Bayan Haddi maa Yajuz, Juz 7, Halaman 168)

Baja juga;

Kupas Tuntas Hukum Isbal (Menjulurkan Pakaian Melebihi Mata Kaki)

 

Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke