Hukum Berobat Ketika Berpuasa

Dirumuskan Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad dan tim LDSI


PERTANYAAN:

  1. Uztadz,!!! Apakah menggunakan obat tetes mata itu bisa membatalkan puasa?
  2. Jenis pengobatan apa yang dapat menyebabkab batalnya puasa?
  3. Sertakan dalilnya?

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Menggunakan obat tetes mata  tidak membatalkan puasanya, asalkan tidak terlalu  banyak yang dapat dipastikan sampai ke rongga tenggorokan .
  2. Jenis pengobatan yang dapat mengenyangkan , jenis pengobatan yang menyebabkan sampai pada lambung.
  3. Terdapat dalil Aqli maupun Naqli.

MARAJI’

Menggunakan obat tetes mata  tidak membatalkan puasanya, asalkan tidak terlalu  banyak yang dapat dipastikan sampai ke rongga tenggorokan .

Puasa adalah menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa seperti makan,minum dan memasukkan sesuatu yang dapat  sampai ke saluran pencernaan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa dia antaranya adalah suatu benda atau suntik yang sampai dengan sengaja kedalam perut , atau melalui salah satu dua jalan ( kemaluan depan dan belakang) .

Sesuai dengan penjelsan Syaikh Muhammad bin Qosim Al-Khozi Dalam kitab sarahnya (Fathul Qorib) halaman 26 yang berbunyi;

وَلثَالِثُ اَلْخَفِهُ فِى اَحَدِ السَبِلَيْنِ وَهِيَ دَوَأُ يًخْفِنُ بِهِ تاْمَرِيضُ فىِ قُبُلِ اوْ ذُبُرِ المسُعَبِّرُ عَنْهُمَا في المَتَنِ بِا لسَبِلَيْنِ

Artinya ;

Menuangkan obat di salah satu dua jalan ( Qubul dan Dzubur) maksudnya(berobat dengan cara)menuangkan obat oleh orang yang sakit ke dalam Qubul (Lubang Kemaluan)atau ke dalam Dzubur(Lubang buang air besar) hal mana kedua-duanya itu di dalam kitab di ungkapkan dengan kata-kata dua jalan.

 

Sesuai dengan keterangan diatas bila mana seseorang berobat dalam keadaan puasa dengan cara memasukkan obat ke dalam anggota tubuh terutama dua anggota tubuh yaitu satu dua jalan ( Qubul dan Dzubur)dan sampai ke saluran pencernaan maka puasanya batal. Sedangkan obat tetes mata reaksinya hanya pada bagian mata saja dan tidak sampai ke rongga tenggorokan ataupun ke saluran pencernaan ( perut), maka hokum puasanya tetap sah-sah saja .

 

Sesuai dengan penjelasan di kitab Shahih Bukhari Hal. 308 No. 28., yang berbunyi ;]

 

وَلَمْ يُمَيِّزُ بَيْنَ الصَّائِمُ وَغَيْرِهِ وَقَال الْحَسَنُ لاَ بَأسَ بِا لسَعُوطِ لِلصَائِمِ اِنْ لَمْ يَصِلْ إِلَى حَلْقِهِ وَيَكْتَحِلُ وَقَال عَطاءٌ إنْ تَمَضْمَضَ ثُمَّ أَفْرَغَ مَا فِى فِيهِ مِنَ الْمَاءِ لاَ يَضِرُهُ اِنْ لَمْ يَزْدَرِد رِيقَهُ وَمَذَا بَقِيَ فِي فِيهِ وَلاَ يَمَضَعُ العَلْكَ فَإِنْ ازْدَرَدَ رِيْقَ اَلْعُلْكَ لاَأَقُولُ اِنَّهُ يُفْطِرُ وَلَكِنْ يُنْهَى عَنْهُ فَإِنْ اسْتَنْسَشَرَ فَدَخَلَ الْمَاَءَ حَلْقَهُ لاَبَأٍسَ لَمْ يَمْلُك

Artinya;

Beliau tidak membedakan antara yang sedang berpuasa / tidak.

Al-hasan berkata:”tidak mengapa orang yang berpuasa memakai obat tetes hidung dan bercelak, asalkan tidak masuk ke kerong-kerongkonganya.”

Atha berkata:”apabila berkumur-kumur kemudian mengeluarkan air kumur itu kembali. Tidak masalah, asalkan tidak menelan ludahnya dan apa yang tersisa dalam mulutya. Tidak mengapa mengunyah permen karet.meskipun menelan ludah. Aku tidak menyatakan bahwa hal itu membatalkan puasa, tapi hal itu dilarang. Tidak masalah menghirup ke  hidung, lalu air masuk ke tenggorokan selagi tidak sengaja

(Kitab Shahih Al-bukhori Hal. 308 No. 28)

 

Jenis pengobatan yang dapat mengenyangkan , jenis pengobatan yang menyebabkan sampai pada saluran pencernaan (perut).

Ada beberapa jenis pengobatan yang dapat membatalkan puasa dan ada juga pengobatan yang tidak membatalkan puasa alias diperbolahkan(dalam keadaan berpuasa).

Jenis pengobatan yang diperbolehkan  adalah pengobatan yang sifatnya tidak mengenyangkan dan tidak masuk atau sampai di saluran pencernaan /perut,sepertihalnya mengobati luka-luka goresan,meneteskan obat mata atau meneteskan obat hidung asalakan tidak berlebihan.

Sedangkan pengobatan yang tidak di perbolehkan dalam keadaan berpuasa adalah pengobatan yang bersifat  mengenyangkan atau sampai ke dalam saluran pencernaan , seperti  Infus .

Sesuai dengan penejelasan di di kitab Fathul Qorib  tetang hal yang membatalkan puasa yang berbunyi ;

 

اَلْاِمْسَاكُ عَنِ اْلاَ كْلِ وَالشُّرْبِ وَاِنْ قَلَّ اْلمَأْ كُوْلِ وَالْمَشْرُوْبِ عِنْدَا لتَّعَمُّدِ

Artinya;

Menahan diri dari makan dan minum walaupun yang dimakan dan yang diminum sewaktu dalam keadaan yang sengaja adalah hanya sedikit.

 

Menurut keterangan kitab diatas mengenai hal yang dapat membatalkan puasa adalah makan dan minum. Makan dan minum sediri adalah memasukkan sesuatu yang dapat sampai ke dalam saluran pencernaan/perut dan dapat mengenyangkan, sedangkan Infus adalah memasukkan obat dengan cara suntikan dan reaksinya sampai ke dalam lambung dan dapat mengenyangkan, maka pengobatan dengan cara infus ketika puasa dapat membatalkan puasa karena esensinya sama seperti memasukkan makan ke dalam tubuh.