Hukum Berjamaah Shalat Apabila Shaf Makmum Terpisah Dengan Bangunan Bertingkat”

Pada masa kini sebagian masjid ada yang bertingkat beberapa lantai. Maka dalam hal ini ada empat kemungkinan yaitu:

  1. Imam Berada di Lantai Atas Sendirian Dan Makmum Berada di Lantai Bawah
  2. Imam Dan SebagianBarisan Makmum Ada Di Lantai Atas dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Bawah
  3. Imam Berada di Lantai Bawah Sendirian Dan Makmum Berada di Lantai Atas
  4. Imam Dan SebagianBarisan Makmum Ada Di Lantai Bawah dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Atas

Mari kita bahas hukum dari empat kemungkinan ini satu persatu:

Imam Berada di Lantai Atas Sendirian Dan Makmum Berada di Lantai Bawah

Sebagian ulama mengatakan hal ini tidak boleh dengan berdalil pada hadits yang melarang imam berada lebih tinggi dari makmum,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو خَالِدٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيِّ حَدَّثَنِي رَجُلٌ أَنَّهُ كَانَ مَعَ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ بِالْمَدَائِنِ فَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَتَقَدَّمَ عَمَّارٌ وَقَامَ عَلَى دُكَّانٍ يُصَلِّي وَالنَّاسُ أَسْفَلَ مِنْهُ فَتَقَدَّمَ حُذَيْفَةُ فَأَخَذَ عَلَى يَدَيْهِ فَاتَّبَعَهُ عَمَّارٌ حَتَّى أَنْزَلَهُ حُذَيْفَةُ فَلَمَّا فَرَغَ عَمَّارٌ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ لَهُ حُذَيْفَةُ أَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا أَمَّ الرَّجُلُ الْقَوْمَ فَلَا يَقُمْ فِي مَكَانٍ أَرْفَعَ مِنْ مَقَامِهِمْ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ قَالَ عَمَّارٌ لِذَلِكَ اتَّبَعْتُكَ حِينَ أَخَذْتَ عَلَى يَدَيَّ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada saya Abu Khalid dari Adi bin Tsabit Al-Anshari telah menceritakan kepada saya Seorang laki-laki yang pernah bersama Ammar bin Yasir sewaktu di Mada`in, ketika iqamat shalat telah dikumandangkan, ‘Ammar maju untuk menjadi imam dan dia berdiri di atas bangku panjang, sementara para makmum berada di bawahnya, lalu Hudzaifah maju dan menarik tangan ‘Ammar dan ‘Ammar pun mengikutinya hingga dia diturunkan ditempat yang sejajar oleh Hudzaifah. Setelah ‘Ammar selesai shalat, Hudzaifah berkata kepadanya; Apakah kamu belum pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang mengimami suatu kaum, maka janganlah dia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari tempat mereka”, atau semisal ucapan tersebut. Ammar berkata; Maka dari itu saya mengikutimu tatkala kamu menarik tanganku.” (Hadits Riwayat Abu Daud Jilid 1 Hal. 163 Nomor 506)

Juga hadits berikut ini: Dari Abu Mas’ud Al-Anshari ia berkata,

نهى رسول الله أن يقوم الإمام فوق شيء والناس خلفه – يعني أسفل منه

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang imam untuk berdiri di atas sesuatu sementara orang di belakangnya lebih rendah darinya” (Hadits Riwayat Daruqutni dan Imam Al Hakim)

Jika kita melihat dua hadits di atas maka sepintas dapat disimpulkan bahwa Imam berada lebih tinggi dari makmum adalah dilarang, jika tidak haram maka hukumnya adalah makruh. Namun dalam hadits lain diceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di atas mimbar sementara makmum mengikuti di bawahnya,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ قَالَ سَأَلُوا سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ الْمِنْبَرُ فَقَالَ مَا بَقِيَ بِالنَّاسِ أَعْلَمُ مِنِّي هُوَ مِنْ أَثْلِ الْغَابَةِ عَمِلَهُ فُلَانٌ مَوْلَى فُلَانَةَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ عُمِلَ وَوُضِعَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ كَبَّرَ وَقَامَ النَّاسُ خَلْفَهُ فَقَرَأَ وَرَكَعَ وَرَكَعَ النَّاسُ خَلْفَهُ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى فَسَجَدَ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ عَادَ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ بِالْأَرْضِ فَهَذَا شَأْنُهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim berkata, “Orang-orang bertanya kepada Sahal bin Sa’d tentang terbuat dari apa mimbar Rasulullah? Maka dia berkata, “Tidak ada seorangpun yang masih hidup dari para sahabat yang lebih mengetahui masalah ini selain aku. Mimbar itu terbuat dari batang pohon hutan yang tak berduri, mimbar itu dibuat oleh seorang budak wanita untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika selesai dibuat dan diletakkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri pada mimbar tersebut menghadap kiblat. Beliau bertakbir dan orang-orang pun ikut shalat dibelakangnya, beliau lalu membaca surat lalu rukuk, dan orang-orang pun ikut rukuk di belakangnya. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu mundur ke belakang turun dan sujud di atas tanah. Kemudian beliau kembali ke atas mimbar dan rukuk, kemudian mengangkat kepalnya lalu turun kembali ke tanah pada posisi sebelumnya dan sujud di tanah. Itulah keberadaan mimbar.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 364)

Maka Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i) berpendapat “Boleh kalau imam bermaksud mengajari orang shalat (yakni dengan berdiri di tempat yang tinggi) satu kali, (setelah itu) saya lebih menyukai Imam shalat sejajar dengan makmum. Hal ini karena tidak pernah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau shalat di atas mimbar, kecuali hanya satu kali saja (yaitu hadits dari Sahl bin Sa’d)”(Al Umm Hal. 310)

Senada dengan Syafi’i Ibnu Hibban berkata, “Jika seseorang menjadi imam lalu dia shalat sebagai imam orang-orang yang baru masuk Islam sehingga ia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari makmum untuk mengajari mereka hukum-hukum shalat yang langsung dilihat mata, hal itu diperbolehkan sesuai dengan hadits sahabat Sahl bin Sa’d Tetapi, kalau alasan ini tidak ada, janganlah ia shalat di tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum, sesuai dengan hadits dari sahabat Abu Mas’ud. Dengan demikian, kedua hadits (yang melarang dan membolehkan) itu tidak saling membantah. (Shahih Ibnu Hibban)

Sementara pendapat lain membolehkan secara mutlak dalam semua kondisi (tidak hanya ketika mengajari shalat) Imam boleh sendirian di tempat lebih tinggi (termasuk lantai atas) sementara makmum ada di bawah nya Ini adalah salah satu pendapat dari Ashab Imam Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali), Ibnu Hazm (Mazhab Zhahiri), dan Ad-Darimi.

Hal ini didukung oleh riwayat yang menceritakan bahwa posisi kamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu agak ke atas dari lantai masjid sebagaimana hadits berikut:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ فُرَاتٍ الْقَزَّازِ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ أَبِي سَرِيحَةَ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غُرْفَةٍ وَنَحْنُ أَسْفَلَ مِنْهُ فَاطَّلَعَ إِلَيْنَا فَقَالَ مَا تَذْكُرُونَ قُلْنَا السَّاعَةَ

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz Al Ambari telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Furat Al Qazzaz dari Abu Ath Thufail dari Abu Sarihah Hudzaifah bin Usaid berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berada di kamar sementara kami berada dibawah, beliau melihat kami dari atas lalu bertanya: “Apa yang kalian bicarakan?” Kami menjawab: Kiamat.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 5163)

Sedangkan para sahabat pernah bermakmum pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang shalat ada di kamarnya (yang posisinya lebih tinggi dari lantai masjid),

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فِي حُجْرَتِهِ وَجِدَارُ الْحُجْرَةِ قَصِيرٌ فَرَأَى النَّاسُ شَخْصَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحُوا فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata, “Pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat sendirian (munfarid). Lalu orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau (bermakmum pada Beliau), hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. ” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 687)

Dalam hadits lainnya diceritakan:

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حُجْرَتِهِ وَالنَّاسُ يَأْتَمُّونَ بِهِ مِنْ وَرَاءِ الْحُجْرَةِ

“Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id dari ‘Amrah dari Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat di kamarnya, ternyata orang-orang mengikuti beliau dari belakang kamarnya.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 951)

Ada juga atsar dai Anas bin Malik:

Dari Anas bin Malik beliau melakukan shalat Jum’at di rumah Abu Nafi’ di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi tubuh manusia. Ruangan yang pintunya mengarah ke masjid, di kota Bashrah. Anas mengikuti shalat Jum’at di tempat tersebut dan menjadi makmum. (Atsar R Sa’id bin Manshur sebagaimana dalam kitab Al-Muntaqa)

Abu ‘Abdullah berkata, ‘Ali Al Madini berkata, Ahmad bin Hambal bertanya kepadaku (ali Madini) tentang hadits di atas. Ia katakan, “Yang aku maksudkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam posisinya lebih tinggi daripada orang-orang. Maka tidak mengapa seorang imam posisinya lebih tinggi daripada makmum berdasarkan hadits ini.” Sahl bin Sa’d berkata, “Aku katakan, “Sesungguhnya Sufyan bin ‘Uyainah sering ditanya tentang masalah ini, ‘Apakah Anda tidak pernah mendengarnya? ‘ Ahmad bin Hambal menjawab, “tidak.”

Ibnu Rajab juga mengisahkan sebuah percakapan dengan Imam Ahmad yaitu ketika Beliau ditanya, “Bolehkah seseorang shalat di atas loteng bermakmum dengan imam (di bawahnya)?” Beliau (Imam Ahmad) menjawab, “Boleh, namun jika antara dia dengan imamnya ada jalan atau sungai, tidak boleh.” Beliau ditanya lagi, “Ada riwayat Anas (bin Malik) shalat Jum’at di loteng (rumah Abu Nafi’).” Beliau menjawab, “Pada hari Jum’at tidak ada jalan orang-orang.” Ibnu Rajab menjelaskan bahwa yang dimaksud Imam Ahmad adalah bahwa pada hari Jumat jalan-jalan penuh dengan orang-orang sehingga dapat dianggap shaf-shaf bersambung. (Fathul Bari oleh Ibnu Rajab)

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Shalat pada tempat yang dibangun di atas tanah semacam sebuah ruangan di masjid atau di atas loteng masjid, semuanya boleh dan tidak ada kemakruhan dalam hal ini tanpa ada perbedaan” (Fathul Bari oleh Ibnu Rajab)

Imam Dan Sebagian Barisan Makmum Ada Di Lantai Atas dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Bawah

Jika imam ada di lantai atas dan beberapa barisan shaf ada satu lantai di belakangnya, maka barisan shaf yang lain yang ada di lantai bawah dibolehkan walaupun terpisah dinding. Pada dasarnya barisan makmum dan imam sejajar satu lantai sehingga tidak perlu dipersoalkan. Adapun barisan makmum lainnya yang ada di lantai bawah adalah dihukumi sama dengan kasus shaf yang terhalang dinding namun masih termasuk satu bangunan dengan masjid, maka tidak ada perselisihan hukumnya adalah boleh.

Imam Berada di Lantai Bawah Sendirian Dan Makmum Berada di Lantai Atas

Madzhab Syafi’i berkata bahwa atap masjid dan balkon masjid asalkan masih merupakan bagian dari bangunan masjid maka itu dianggap termasuk masjid, sehingga tidak mengapa makmum berada di atap masjid bermakmum pada imam di bawahnya.

Madzhab Hambali mengatakan dibolehkan orang berada di atap masjid bermakmum pada imam yang ada di bawahnya . Hal ini berdasarkan riwayat Abu Hurairah bahwa ia (Abu Hurairah) pernah bersolat di bahagian atas masjid mengikuti imam (yang berada di bawa) (Atsar R. Ibnu Abi Syaibah)

Ibnu Hajar Asqolani mengatakan bahawa atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi syaibah dari riwayat Sholeh maula Tauamah. Sholeh berkata: “aku pernah bersolat bersama Abu Hurairah di bagian atas masjid dengan mengikuti imam (di bawahnya)“.

Sholeh ini adalah lemah tetapi Sa’id Ibnu Mansur telah meriwayatkan dari jalan yang lain dari Abu Hurairah maka ia menguatkan riwayat Sholeh ini. Sa’id bin Mansur juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Hasan Al Basri tentang seorang lelaki yang shalat di tingkat atas bangunan mengikut imam. Hasan Al Basri berkata: “tidak mengapa dengan keadaan ini”.

Dari Sa’di bin Salim telah berkata: “Aku melihat Salim bin Abdullah shlat maghrib di bagian atas masjid dan ada lelaki lain bersamanya mengikuti imam ( di bawahnya)“. (Atsar R. Ibnu Abi Syaibah)

Imam Syaukani berkata:”Apabila lokasi makmum terlalu tinggi dari imam misalkan 300 kaki dan makmum tidak dapat mengetahui gerakan imam, maka hal ini terlarang berdasarkan ijma ulama, tanpa membedakan apakah shalat berjamaah tersebut dilaksanakan di masjid atau bukan masjid (lapangan yaitu misal makmum di atas tebing). Namun apabila jaraknya kurang dari 300 kaki, maka hukum asalnya adalah boleh sehinggalah datang dalil yang melarang di mana keharusan ini didukung oleh riwayat dari Abu Hurairah yang telah disebutkan di atas dan perbuatan beliau itu tidak diingkari

Imam Dan SebagianBarisan Makmum Ada Di Lantai Bawah dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Atas

Jika imam ada di lantai bawah dan beberapa barisan shaf berada satu lantai di belakangnya, maka tidak ada yang peru dipersoalkan. Adapun barisan shaf yang lain yang ada di lantai atas jika terpisah dinding maka dihukumi menurut pembahasan shalat terpisah dinding yaitu boleh karena masih satu bangunan dengan masjid dan tidak mengapa jika terhalang dinding, pagar dll asalkan masih dapat mengetahui gerakan imam dan mendengar aba-aba takbir imam. Apalagi jika tidak terpisah dinding (seperti balkon) dimana makmum masih dapat melihat sebagian imam dan mendengar suara imam, maka shalat makmum yang di atas itu sah dan dibolehkan.

Baca selengkapnya;

Hukum Shalat Berjamaah dengan Shaf Terputus

Artikel yang sama:

Hukum Berjamaah Shalat Apabila Imam atau Makmum Posisinya Lebih Tinggi Atau Lebih Rendah

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad, diringkas dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke