Hukum Berjamaah Shalat Apabila Imam Dan Makmum Berbeda Bangunan”

Menurut Madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali tidak sah makmum yang berbeda tempat dengan imam. Jika berbeda tempat dengan imam maka batal-lah keikutsertaan dalam jamaah tersebut. Definisi berbeda nya tempat itu berbeda beda lagi pendapat. Sebagain berpendapat terpisah nya barisan makmum dengan imam, itu jika dipisahkan oleh shaf wanita, tembok, jalanan, dan sungai. Hal ini berdasarkan atsar (perkataan) sahabat Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu: “Seorang makmum yang terpisah tempatnya dengan imam karena adanya sungai, jalan atau shaf wanita, maka shalatnya tidak sah”

Menurut Madzhab Syafi’i jika imam dan makmum berada di dua bangunan yang terpisah maka tergantung dari posisi bangunan makmum. Jika bangunanmakmum di belakang bangunan imam maka sah jamaahnya jika jaraknya tidak melebihi 300 depa terhitung dari akhir bangunan tempat imam dan makmum bisa mengetahui gerakan dan aba-aba imam. Tidak mengapa jika diselingi jalan atau sungai antara satu bangunan dengan bangunan lainnya.

Jika bangunan itu di sebelah kanan atau kiri bangunan imam, maka disyartkan barisan shalat bersambung dari satu bangunan ke bangunan lainnya dan tidak mengapa jika ada satu sela kecil yang tidak memungkinkan orang shalat di dalamnya.

Sedangkan untuk perahu yang terpisah maka Imam Syafi’i berpendapat: Tidak mengapa jika imam berada di satu perahu dan makmum berada di perahu lain sepanjang jaraknya tidak lebih dari 300 depa dan makmum bisa mengetahui gerakan dan aba-aba imam. (Al Mughni Al Muhtaaj Jilid 1 Hal 248-251)

Madzhab Hambali mengatakan tidak sah jika seseorang makmum berbeda gedung dengan imam hal ini berdasarkan riwayat Anas bin Malik: Demikian pula tidak boleh seorang makmum berada di suatu unta dan imam ada di unta yang lain atau makmum berada di satu kapal dan imam berada di kapal yang lain. Namun Imam Ahmad bin Hambal membolehkan hal ini jika situasinya dalam keadaan perang atau alasan lain yang tidak bisa dihindari. Hal ini sebagaimana hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah juga shalat berjamaah dalam keadaan berada di unta masing-masing. (Kasysyaf Al Qinaa ‘ Jilid 1 Hal 579-580)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الرَّمَّاحِ الْبَلْخِيُّ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ بْنِ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ فَانْتَهَوْا إِلَى مَضِيقٍ وَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَمُطِرُوا السَّمَاءُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَالْبِلَّةُ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَأَذَّنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَأَقَامَ أَوْ أَقَامَ فَتَقَدَّمَ عَلَى رَاحِلَتِهِ فَصَلَّى بِهِمْ يُومِئُ إِيمَاءً يَجْعَلُ السُّجُودَ أَخْفَضَ مِنْ الرُّكُوعِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa berkata; telah menceritakan kepada kami Syababah bin Sawwar berkata; telah menceritakan kepada kami Umar bin Ar Rammah Al bakhil dari Katsir bin Ziyad dari Amru bin Utsman bin Ya’la bin Murrah dari Ayahnyadari Kakeknya bahwasanya mereka bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, hingga sampailah mereka pada jalan sempit, lalu waktu shalat tiba sedangkan langit dalam keadaan hujan dan kondisi tanah tergenang air. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian adzan di atas kendaraannya, lalu beliau iqamah dan maju ke depan. Setelah itu beliau shalat bersama para sahabat dengan merunduk, beliau menjadikan sujud lebih rendah dari rukuk.” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 376)

Abu Isa (Tirmdizi) berkata; “Hadits ini derajatnya hasan dan gharib. Umar bin Ar Ramman Al Bakhil meriwayatkan hadits ini secara gharib (asing), tidak diketahui ada hadits lain kecuali dari haditsnya, dan tidak hanya satu orang ulama yang meriwayatkan darinya. Maka Tirmidzi menaikkan derajat hadits ini yang semula dha’if karena terdapat riwayatkan oleh ulama lain dari berbagai jalur maka yang dha’if tadi bisa dinaikkan menjadi hasan.

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Hisyam bin Urwah bahwa Bapaknya berkata kepadanya,

“Jika kamu dalam sebuah perjalanan, sementara kamu ingin adzan dan iqamat, maka lakukanlah. Dan jika mau, kamu boleh iqamat saja tanpa adzan.” Yahya berkata, “Saya mendengar Malik berkata, “Tidak mengapa seorang laki-laki mengumandkan adzan, meskipun ia di atas kendaraannya.” (Atsar Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatha’ Nomor 145)

Shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas kendaraan (Yang dikisahkan pada hadits di atas) bersama-sama dengan para sahabat (berjamaah) dengan didahului oleh adzan dan iqomah jelas adalah shalat fardhu, karena tidak pernah shalat sunnah didahului adzan dan iqomah. Hal ini merupakan dalil bahwa dalam situasi memang tidak memungkinkan untuk turun dari kendaraan (yaitu karena hujan dan becek) maka shalat wajib di atas kendaraan adalah dibolehkan.

Madzhab Maliki berpandangan bahwa jika imam berada di satu bangunan dan makmum berada di bangunan lain maka hal ini dibolehkan dan sah shalat jamaahnya sepanjang makmum bisa mengetahui gerakan imam dan dapat mendengar takbir imam. Adapun ketersambungan barisan shaf hanya disyaratkan pada shalat Jum’at dan tidak disyaratkan pada shalat lainnya termasuk shalat fardhu.

Sementaa sebagian ulama lain membolehkan Imam dan Makmum terpisah bangunan jika ada alasannya seperti masjid telah penuh. Hal ini berdasarkan Atsar dari Hisyam bin Urwah,

“Suatu saat aku bersama ayahku datang (ke masjid). Ternyata kami dapati masjid telah penuh. Kami pun tetap shalat bersama imam di sebuah rumah di sisi masjid, dan antara keduanya ada jalan” (Atsar Riwayat Abdurrazzaq, Jilid 3 Hal 82)

Dan Juga berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik:

Dari Anas bin Malik beliau melakukan shalat Jum’at di rumah Abu Nafi’ di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi tubuh manusia. Ruangan yang pintunya mengarah ke masjid, di kota Bashrah. Anas mengikuti shalat Jum’at di tempat tersebut dan menjadi makmum. (Atsar Riwayat Sa’id bin Manshur sebagaimana dalam kitab Al-Muntaqa)

Atsar dari Anas bin Malik di atas menjelaskan bahwa ia shalat Jum’at pada bangunan yang terpisah dari bangunan tempat imam berada, yaitu di sebuah rumah yang terletak di sebelah kanan masjid di kota Basrah dan letaknya pun lebih tinggi dari masjid.

Baca selengkapnya; Hukum Shalat Berjamaah dengan Shaf Terputus

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad, diringkas dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke