Hukum Berjamaah Apabila Shaf Antara Imam dan Makmum Laki-laki Diselingi Shaf Wanita”

Imam Hanafi berpendapat bahwa tidak sah barisan jamaah pria yang terhalang dengan shaf wanita. Juga dimakruhkan jika seorang pria shalat sementara di hadapannya ada seorang wanita yang juga sedang shalat. Abu Hanifah mengambil keumuman hadits. Dari Abdurrazaq dari Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu merafa’kan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَخِّرُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَخَّرَهُنَّ اللهُ

“Akhirkanlah barisan mereka (wanita) sebagaimana Allah mengakhirkan mereka” (Hadits Riwayat Thabrani)

Zayala’i mengatakan bahwa hadits di atas adalah hadits gharib (asing) yang dirafa’kan (dikatakan bersambung pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mauquf (terputus) pada perkataan Ibnu Mas’ud sehingga dianggap sebagai atsar (perkataan) Ibnu Mas’ud dan bukan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Nashab Ar-Raayah Jilid 2 Hal. 36)

Ada juga yang berdalil dengan perkataan Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu sebagai berikut; Umar radliallahu ‘anhu berkata: “Seorang makmum yang terpisah dengan imam oleh sungai atau jalan atau barisan wanita maka shalatnya tidak sah”.

Namun Imam Nawawi berkata: ”atsar tersebut tidak ada asalnya”. Atsar yang diriwayatkan dari Umar melalui jalur Laith bin Abi salim dari Tamim adalah dha’if karena Laith ini adalah perawi dha’if dan Tamim tidak dikenal (majhul). Sehingga atsar ini tidak dapat dijadikan dalil.

Hadits yang shahih menyebutkan tentang urutan shaf dalam shalat adalah sebagai berikut;

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –: (( خيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا ، وَشَرُّهَا آخِرُهَا ، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا ، وَشَرُّهَا أوَّلُهَا )) رَوَاهُ مُسلِمٌ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya shaf laki-laki adalah yang pertama, dan sejelek-jeleknya adalah yang terakhir. Sedangkan sebaik-baiknya shaf perempuan adalah yang terakhir dan yang paling jeleknya adalah yang pertama.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 440)

Ada juga yang berdalil dengan hadits,

صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

“Aku shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ibuku Ummu Sulaim di belakang kami.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 824 dan 685)

Maka hadits-hadits di atas menunjukkan urutan shaf wanita yang harus di belakang shaf laki-laki. Ibnu Hajar Asqolani mensyarah hadits di atas mengatakan: “Hadits di atas menjadi dalil bahwa wanita jika sendirian tetap tidak boleh satu shaf dengan barisan laki-laki dan sah membentuk barisan walau hanya seorang diri. Hadits ini menjelaskan bahwa wanita tidak boleh masuk barisan laki-laki karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah bagi laki-laki. Walaupun demikian, apabila wanita menyalahi hal ini shalatnya tetap sah menurut jumhur ulama kecuali madzhab Hanafi.

Menurut madzhab Hanafi rusak shalatnya laki-laki jika masuk di dalamnya seorang wanita. Pendapat ini berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud: “Tempatkanlah mereka dibelakang sebagaimana Allah menempatkan mereka”. Maka menurut Imam Hanafi perintah ini mengindikasikan wajib sehingga jika dilanggar rusaklah shalatnya. (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 394)

Namun Zayala’i mengatakan bahwa hadits di atas adalah hadits gharib (asing) yang dirafa’kan (dikatakan bersambung pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) Yang benar adalah hadits tersebut mauquf (terputus) pada perkataan Ibnu Mas’ud sehingga dianggap sebagai atsar (perkataan) Ibnu Mas’ud dan bukan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Nashab Ar-Raayah Jilid 2 Hal. 36)

Sedangkan menurut Mazhab Maliki, Hambali dan Syafi’i hadits yang menyebutkan tentang urutan shaf wanita di belakang laki-laki adalah sunnah namun tidak membatalkan shalat barisan laki-laki maupun barisan wanita seandainya shaf wanita sejajar dengan laki-laki. Demikian pula jika ada seorang wanita atau barisan wanita berada di shaf laki-laki tidak batal shalatnya orang yang berada di sampingnya atau belakangnya atau di depannya maupun shalat si wanita itu sendiri, melainkan hanya berkurang kesempurnaanya (Fiqhul Islam Wa ‘Adillatuhu Jilid 2 Hal. 361)

Baca selengkapnya; Hukum Shalat Berjamaah dengan Shaf Terputus

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad, diringkas dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke