Hukum Berdzikir dan Berdo’a Dengan Suara Keras

Daftar Isi

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Harus diakui bahwa dari semua dalil yang terkait dengan berdzikir dan berdo’a dengan suara keras saling bertolak belakang atau kontradiksi antara satu dalil dengan dalil lainnya. Sehingga timbullah pertentangan antara para ulama ahli agama, masing masing dengan dalil-dalil penunjangnya. Bahkan kenyataannya tidak mudah mematahkan satu pendapat dengan pendapat lainnya karena masing-masing menganggap telah didukung dengan dalil yang mereka persepsikan kuat. Berikut kami sebutkan beberapa saja dari sekian banyak hadits mengenai berdzikir dan berdo’a dengan suara keras yang saling bertentangan,

  1. Rujukan Dalil Bolehnya Dzikir Dengan Nada Keras

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583)

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ

“Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara (dzikir) takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583)

  1. Rujukan Dalil Larangan Dzikir Dengan Nada Keras

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ »

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704

Penjelasan

Disebabkan karena terdapat dua dalil yang saling bertolak belakang yang sama-sama dianggap kuat, maka hukum berdo’a dan berdzikir dengan suara keras tergolong persoalan ikhtilafiyah atau perbedaan pendapat antara para pakar hukum agama Islam. Penetapan masalah ini ke dalam masalah kategori persoalan IKHTILAFIYAH telah memenuhi syarat, yakni;

  1. Berasal dari dalil dengan perintah atau larangan nash (Al-Qur’an dan Hadits) yang kalimatnya bersifat mutlak/absolut bukan muqayyad/bersyarat, bersifat sharih/jelas bukan kinayah/samar, atau kalimatnya bersifat muhkamat/pasti bukan mutasyabihat/meragukan namun terdapat nash lain dengan tema sama dengan makna hukum yang bertolak belakang atau kontradiksi.
  2. Disamping itu juga terdapat banyak nas dengan tema yang sama namun kesemuanya bersifat kalimat muqayyad/bersyarat bukan mutlak/absolut, bersifat kinayah/samar bukan sharih/jelas, atau kalimatnya bersifat mutasyabihat/meragukan bukan muhkamat/pasti, sehingga berpotensi menimbulkan banyak persepsi penafsiran dan bahkan penakwilan.
  3. Terdapat banyak nash yang menunjukkan makna bervariasi dan atau bertolak belakang antara nas satu dengan nash yang lainnya; Sebagaimana ada nash dengan jelas menunjukkan nabi dan sahabat terkadang mengerjakan. Dan ada nash dengan jelas menunjukkan nabi dan sahabat terkadang tidak mengerjakan.
  4. Diantara persoalan yang bisa masuk perkara ikhtilaf adalah persoalan-persoalan agama yang pemahamannya didasarkan atas dalil-dalil yang tergolong mutasyabihat didasarkan munculnya dari dalil-dalil yang sifatnya absurd/membingungkan, tidak jelas objek perkaranya, tidak jelas kategori dan kriterianya, tidak jelas kadarnya, tidak jelas ukurannya, tidak jelas obyeknya, tidak spesifik maksudnya, dan sangat umum maknanya. Apakah yang dimaksud nabi itu urusan ibadah, politik, ekonomi, atau hal-hal yang bersifat duniawi. Maka dalil-dalil tersebut tergolong dalil mutasyabihat yang dilarang keras oleh Allah untuk digunakan sebagai hukum. Bagi yang memaksakan dalil-dalil mutasyabihat untuk menghukumi sesuatu yang sifatnya khusus sangat bahaya sekali, sebagaimana firman Allah,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS.Ali Imran: 7)

Karena persoalan ini (Berdoa dan berdzikir dengan suara keras) masih terjadi pertentangan antar para ulama ahli, maka secara otomatis hukumnya tidak bisa naik ke level wajib ataupun haram. Maksudnya walaupun sebagian ulama berpendapat bahwa masalah tersebut wajib atau haram maka bagi yang berbeda pendapat berbeda tidak serta merta dapat dihukumi berdosa apabila melakukannnya atau tidak melakukannya, karena persoalan tersebut tergolong masalah ikhtilafiyah yang masing-masing berhak melakukan ijtihad/meneliti hukumnya. Walaupun berbeda maka tidak bisa untuk salah satunya dihukumi salah dan berdosa, bahkan walaupun kedua-duanya menghasilkan hukum yang berbeda maka kedua-duanya tetap akan mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda nabi,

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (HR. Bukhari Nomor 268, Muslim Nomor 1716)

Karena terdapat dua dalil sama-sama kuat namun bertolak belakang, tidak layak bagi kita hanya mengakui sala satunya dan mengingkari dalil lainnya, karena kedua-duanya juga merupakan dalil yang datangnya dari Allah SWT dan Muhammad SAW. Oleh karena itu dari penjelasan diatas maka sebaiknya kita gabungkan dua dalil tersebut dengan diberlakukan sebuah kaidah,

“Bila ada dua dalil yang bersifat jelas namun bertolak belakang (Ikhtilaf) dalam satu masalah agama maka tidak bisa dihukumi wajib atau haram, melainkan masuk dalam kategori maksimal hukum sunnah, makruh, aula, khilaful aula, atau bahkan hukumnya mubah saja.”

“Haram hukumnya mewajibkan atau mengharamkan persoalan yang masih dipertentangkan yang mana kedua-duanya sama-sama dapat mengajukan dalil yang tidak lemah”

Kesimpulan

Setelah memahami beberapa aspek pembahasan diatas, maka hukumnya berdzikir dan berdoa dengan suara keras adalah MUBAH yaitu tidak mendapatkan faedah bila dilakukan dan juga tidak sampai dihukumi haram atau bahkan bid’ah. Karena karena masalah ini tergolong persoalan khilafiyah atau ijtihadiyah yang tidak boleh dipaksakan dan ditetapkan ke dalam hukum HARAM atau WAJIB, pilihannya maksimal hanya dihukumi sunnah, makruh atau mubah saja. Karena untuk menetapkan apakah hukum sebuah persoalan agama itu haram/batal atau wajib/halal harus memenuhi beberapa kriteria yang ketat seperti telah disebut diatas. Tidak boleh mengharamkan dan mewajibkan atas dasar dalil-dalil yang tergolong kontradiktif dan dalil-dalil yang tergolong mutasyabihat, hal ini berdasarkan firman Allah QS.Ali Imran: 7 dan hadits nabi,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengucapkan dusta yang disebutkan oleh lidah lidah kamu, ini halal dan ini haram, untuk kamu ada adakan dusta atas nama Allah; sesungguhnya orang orangyang mengada adakan dusta atas nama Allah tidak akan beruntung. Itu hanyalahkesenangan yang sedikit, tetapi bagi mereka ada azab yang pedih (A Nahl: 116-117)

قَالَ حَدَّثَنِي فَصَدَقَنِي وَوَعَدَنِي فَأَوْفَى لِي وَإِنِّي لَسْتُ أُحَرِّمُ حَلَالًا وَلَا أُحِلُّ حَرَامًا

Beliau bersabda: ‘Dari mereka telah berbicara denganku, membenarkanku, berjanji denganku dan menepati janjinya. Dan sesungguhnya aku bukan ingin mengharamkan sesuatu yang halal, bukan pula sebaliknya. (HR. Muslim No. 4484)

Jika seseorang menghukumi sesuatu menggunakan dalil-dalil yang bersifat kontradiktif dan mutasyabihat, maka dia telah berlebih-lebihan dalam soal agama. Allah berfirman,

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77]

Dalam agama tidak ada pengungkungan dan penyempitan bagi manusia terhadap sesuatu yang sebenarnya oleh Allah diberi keleluasaan. Di samping hal tersebut memang karena ada beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh sementara ahli agama yang berlebihan. Jangan mudah mengharamkan sesuatu tanpa dasar dalil yang muhkamat, jelas dan spesifik karena hukum asal segala sesuatu adalah halal sepanjang belum ada dalil yang jelas, muhkamat, dan spesifik yang mengharamkannya.

الأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءُ الحِلّ

“Hukum asal segala sesuatu adalahhalal (sampai ada dalil yang mengharamkannya).”

إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا عَلَّمَنِي فِي يَوْمِي هَذَا كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عِبَادِي حَلَالٌ وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَأَضَلَّتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَجَمِيَّهُمْ وَعَرَبِيَّهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

“Rabbku azza wa jalla menyuruhku mengajari kalian hal-hal yang tidak kalian ketahui, dari yang diajarkan-Nya kepadaku hari ini. (firman-Nya); Segala harta yang aku berikan kepada hamba-Ku adalah halal, Aku ciptakan semua hamba-Ku dalam keadaan hanif, kemudian setan mendatangi mereka, menyesatkannya dari agama mereka, mengharamkan apa yang Aku halalkan untuk mereka, memerintahkan agar menyekutukan-Ku dengan apa-apa yang tidak Aku turunkan penjelasan tentangnya, kemudian Allah melihat penduduk bumi dan Allah murka kepada mereka, baik yang berkebangsaan arab maupun non arab selain sisa-sisa ahli kitab. (HR. Ahmad No. 16837)

Agama itu mudah jangan dipersulit, diperberat, dan diperumit dengan sedikit-dikit menuduh pihak lain bid’ah, syirik, tahayul, kafir. Karena Allah menghendaki kemudahan bagi hambanya, sebagamana firman-Nya,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَوَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

 “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Bila ada perbedaan dalam soal agama selama perbedaan tersebut masih ada dasar dalilnya dari Al-Qur’an dan Hadits walaupun berbeda dengan kita, maka kita harus bersikap toleran. Amalkan saja apa yang kita yakini tanpa harus memperolok-olok pihak lain. Karena belum tentu kita lebih baik dan benar dibandingkan mereka. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang di perolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-ngolok. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mengolok-ngolokkan perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari pada perempuan yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS. AI-Hujarat :11)

Janganlah karena sebuah perbedaan yang kedua-duanya masih didasari oleh dalil-dalil agama menyebabkan kita mudah membid’ahkan, menyesatkan dan apalagi mengkafirkan,

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ.

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim).

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ.

“Tidaklah seseorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian.” (HR Bukhari).

Tidak boleh memaksakan kehendak dalam masalah ikhtilaf,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya” (QS: Yunus: 99)

Jadilah umat yang penuh toleran yang bersikap menghargai dan lapang dada atas perbedaan yang bukan terkait dengan POKOK-POKOK AGAMA, apalagi sesuatu yang sifatnya perkara agama yang ikhtilaf yakni perkara-perkara agama yang masing-masing berbeda namun kedua-duanya juga didasari oleh dalil yang juga tidak lemah,

Dan tentang sifat risalahnya itu beliau tegaskan: “Saya diutus dengan membawa suatu agama yang toleran.” (Riwayat Ahmad)

أَحَبٌّ الدِّيْنِ إِلىَ اللهِ الحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَة

[agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah agama yang berorientasi pada semangat mencari kebenaran secara toleran dan lapang].

Firman Allah: “Aku ciptakanhamba-hamba Ku ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidakturunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)

Inilah sikap golongan Sunni, yakni golongan yang berpegang teguh pada Ahlussunnah Wal Jamaah dengan mengambil jalan yang seimbang, harmonis dan moderat, tidak condok ke kanan terlalu keras dan juga tidak condong ke keri terlalu lembek. Inilah jalan ummat yang diridhoi Allah. Firman Allah swt,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat Pertengahan, supaya kamu menjadi saksi ( pembawa keterangan ) kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143)

Jalan Tengan

Sebagaimana pendapat kelompok yang melarang berdzikir dan berdoa dengan suara keras dengan didasari dengan sebuah dalil, juga bagi yang berpendapat bahwa berdzikir dan berdoa dengan ssuara keras pun juga mampu menghadirkan dalil. Kedua-duanya tidak ada yang salah, namun menurut hemat penulis mungkin perlu dicarikan jalan tengah yakni bukannya dilarang berdzikir dan berdoa dengan suara keras karena pelanpun juga dilarang, Allah berfirman,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا

Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya” (QS. Al Isro’: 110).

Larangan tersebut mungkin bukan pada kerasnya namun pada teriakannya. Selama tidak berdo’a dan berdzikir tidak berteriak-teriak maka suara keraspun dibolehkan. Inilah yang dikehendaki dengan beberapa makna dalil berikut,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’rof: 55)

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.” (QS. Al A’raf: 205).

Berarti yang tidak diperbolehkan adalah berdo’a dan berdzikir dengan berteriak-teriak karena Allah tidak tuli. Keras dan lantangnya suara selama masih dalam koridor kesyahduan, kelembutan, kekhusuan dan ketawadu’an, maka boleh boleh saja.