Hukum Berak Dan Kencing Di Bawah Pohon

Daftar Isi

Dirumuskan Oleh Ustadz Izak Muhibbin Dan Tim LDSI

PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

  1. Ketika seseorang sedang berjalan lalu dia kebelet buang air besar dan tidak bisa menahan, tanpa berusaha mencari sungai atau toilet umum dia membuang hajat di bawah pohon besar di hadapannya, apakah hukumnya?
  2. Adakah dalilnya? Dan,
  3. Apa alasannya?

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Hukumnya Tidak Boleh
  2. Salah satu dalilnya adalah hadits riwayat Abu Daud Nomor 2300.
  3. Di bawah pohon biasanya merupakan tempat umum dimana kebiasaannya dimanfaatkan oleh manusia untuk beristirahat dan berteduh. Wajib hukumnya menjaga tempat umum senantiasa aman dan nyaman. Bila seseorang membuang kotoran apalagi kotoran manusia maka hal itu sama halnya mengganggu dan merugikan banyak orang. Sedangkan alasan kita dilarang berak atau kencing di lubang tanah maka hal itu akan merugikan hewan-hewan yang berkembang biak yang mana mereka juga sama-sama makhluq Allah.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

MARAJI’:

Orang-orang yang buang hajat di jalanan dan tempat berteduhnya mereka itulah orang-orang yang terlaknat, salah satu haditsnya adalah Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 23

اتَّقُوا اللَّاعِنَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّاعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ

“Takutlah kalian terhadap perihal dua orang yang terlaknat.” Mereka (para sahabat) bertanya; “Siapakah dua orang yang terlaknat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang buang air besar di jalanan manusia atau tempat berteduhnya mereka.” (HR. Abu Daud No. 23)

لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي جُحْرٍ قَالُوا لِقَتَادَةَ وَمَا يُكْرَهُ مِنْ الْبَوْلِ فِي الْجُحْرِ قَالَ يُقَالُ إِنَّهَا مَسَاكِنُ الْجِنِّ

” Jangan sekali-kali salah seorang diantara kalian buang air kecil di lubang.” Mereka bertanya kepada Qatadah, kenapa dilarang buang air kecil di lubang? dia menjawab; ada berita itu tempat tinggal jin. (HR. Nasai No. 34)

لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي مُسْتَحَمِّهِ فَإِنَّ عَامَّةَ الْوَسْوَاسِ مِنْهُ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ بْن مَاجَةَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ مُحَمَّدٍ الطَّنَافِسِيَّ يَقُولُ إِنَّمَا هَذَا فِي الْحَفِيرَةِ فَأَمَّا الْيَوْمَ فَلَا فَمُغْتَسَلَاتُهُمْ الْجِصُّ وَالصَّارُوجُ وَالْقِيرُ فَإِذَا بَالَ فَأَرْسَلَ عَلَيْهِ الْمَاءَ لَا بَأْسَ بِهِ

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di tempat pemandiannya, sebab kebanyakan was-was muncul darinya.” Abu Abdullah Ibnu Majah berkata; Aku mendengar Muhammad bin Yazid berkata; aku mendengar Ali bin Muhammad Ath Thanafusi berkata; “Hanyasanya ini di dalam lubang. Adapun hari ini tidak seperti itu, karena tempat mandi mereka terbuat dari semen, kapur dan aspal. Jika ia kencing lalu menyiramnya dengan air maka itu tidak apa-apa.” (HR. Ibnu Majah No. 300)

Syaikh Abu Syujak Al-Ashfahani yang bermadzhab syafi’i dalam Al-Ghayah wat Taqrib ( متن الغاية والتقريب) halaman 6 berpandangan bahwa salah satu etika beristinjak adalah menjauhi tempat-tempat umum, di antaranya menghindari beristinjak di bawah pohon.

ويجتنب استقبال القبلة واستدبارها في الصحراء ويجتنب البول والغائط في الماء الراكد وتحت الشجرة المثمرة وفي الطريق والظل والثقب ولا يتكلم على البول ولا يستقبل الشمس والقمر ولا يستدبرهما.

Artinya; Orang yang sedang buang air besar (BAB) hendaknya tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya apabila dalam tempat terbuka. Kencing atau BAB hendaknya tidak dilakukan di air yang diam, di bawah pohon yang berbuah, di jalan, di tempat bernaung, di lobang. Dan hendaknya tidak berbicara saat kencing dan tidak menghadap matahari dan bulan dan tidak membelakangi keduanya.

Ditashih Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Refrensi
Kitab Sembilan Hadits
Bulughul Maram