Hukum Asal Semua Hal Boleh Selama Memenuhi Kriteria

Mengutip apa yang dikatakan Ahmad Sarwat, dalam menetapkan hukum syariat atas setiap perkara, ada prinsip paling dasar yang menjadi pegangan, yaitu:

اَلْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ اَلْإِبَاحَةُ

“Hukum asal pada sesuatu adalah kebolehan”

Dari kaidah ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa asal sesuatu perkara halal hukumnya dan boleh dikerjakan. Kecuali setelah adanya dalil qath’i yang melarangnya. Kaidah tersebut didukung dengan dalil yang cukup kuat yaitu,

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,” (QS. al-Baqarah[2]: 22)

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.” (QS. al-Jasiyah: 13)

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)-mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (QS. Luqman: 20)

Ketiga ayat di atas jelas dan tegas menyebutkan bahwa Allah telah menyerahkan segala sesuatu di bumi ini untuk manusia. Inilah dalil tentang hukum asal segala sesuatu halal bagi manusia. Dan mustahil bagi Allah menciptakan segala sesuatu untuk manusia sebagai karunia, namun Dia sendiri mengharamkannya. Kalaupun ada sesuatu yang Allah haramkan, bukan karena sesuatu tersebut haram, namun pasti ada faktor luar yang menyebabkan sesuatu tersebut akhirnya diharamkan.

Dengan demikian, arena haram dalam syariat Islam itu sebenarnya sangat sempit. Sedangkan arena halal justru sangat luas. Sebab nash-nash yang shahih dan tegas untuk mengharamkan, jumlahnya sangat minim sekali. Sedang sesuatu yang tidak ada keterangan halal-haramnya, jumlahnya sangat banyak.

Dan hukumnya kembali kepada hukum asal yaitu halal dan termasuk dalam kategori yang dimaafkan Allah. Untuk soal ini, ada satu Hadits yang menyatakan sebagai berikut:

“Dahulu orang-orang jahiliyah biasa makan beberapa macam makanan dan meninggalkan beberapa makanan karena jijik. Kemudian Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya dan menurunkan Kitab-Nya, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan (tidak diatur) maka hukumnya dimaafkan (semuanya halal). ” (HR. Abu Daud No. 3306)

كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَأْكُلُونَ أَشْيَاءَ وَيَتْرُكُونَ أَشْيَاءَ تَقَذُّرًا فَبَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ وَتَلَا { قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

“Dahulu orang-orang jahiliyah biasa makan beberapa macam makanan dan meninggalkan beberapa makanan karena jijik. Kemudian Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menurunkan Kitab-Nya, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan maka hukumnya dimaafkan. ” Kemudian Ibnu Abbas membaca ayat: ‘ (Katakanlah: “Aku tidak mendapatkan dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan…) ‘ (Qs. al-An’aam: 145) hingga akhir ayat. ” (HR. Abu Daud No. 3306)

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ فَقَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang mentega, keju dan al-Fara (sejenis baju dari kulit). ” Beliau lalu menjawab: “Halal adalah sesuatu yang telah Allah halalkan dalam kitab-Nya, dan haram adalah sesuatu yang telah Allah haramkan dalam kitab-Nya. Adapun yang Allah diamkan, maka itu adalah sesutau yang Allah maafkan. ” (HR. Tirmidzi No. 1648)

Rasulullah tidak ingin memberikan jawaban dan menerangkan satu per satu kepada si penanya, dengan maksud, hal-hal yang asalnya tidak diharamkan namun disebabkan terlalu banyak penjelasan dari Nabi, malah menyebabkan menjadi diharamkan, sehingga hal itu akan memberatkan umat Islam. Tetapi beliau mengembalikan kepada suatu kaidah yang kiranya dengan kaidah itu mereka dapat diharamkan Allah, sedang lainnya halal dan baik. Dan sabda beliau juga,

إن الله فرض فرائض فلا تضيعوها، وحد حدودا فلا تعتدوها، وحرم أشياء فلا تنتهكوها، وسكت عن أشياء رحمة بكم غير نسيان فلا تبحثوا عنها

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu menyia-nyiakannya dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar. Dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia. Allah telah mendiamkan (sengaja tidak mengatur detail dan rinci) beberapa hal (ajaran agama Islam) sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia. ” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Kaidah asal segala sesuatu adalah halal ini tidak hanya terbatas dalam masalah benda, tetapi meliputi masalah perbuatan dan pekerjaan, yaitu yang biasa kita istilahkan dengan adat atau mu’amalat dan juga termasuk masalah ibadah.

Prinsip pokok dalam masalah ini adalah tidak haram dan tidak terikat, kecuali sesuatu yang memang oleh syaari’ sendiri telah diharamkan dan dikonkritkannya, sesuai dengan firman Allah SWT.:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, (QS. al-An’am: 119)

Ayat ini umum, meliputi soal-soal makanan, pakaian, perbuatan dan lain-lain. Untuk urusan ibadah dan aqidah, walaupun kerangka dasarnya sudah ditetapkan, namun diperkenankan untuk dikreasi. Kreasi yang dilakukan dalam hal ibadah yang perlu diingat adalah bukan kerangka dasarnya, namun terkait dengan variasinya saja. Misalkan kerangka dasar shalat wajib adalah seperti terpenuhinya syarat dan rukun shalat. Memang syarat dan rukun shalat yang menjadi pakem (sandard) tersebut tidak boleh dirubah, namun kita boleh mengkreasi ibadah shalat dengan ditambah dan dikombinasi amalan-amalan sunnah yang dapat meningkatkan nilai tambah, sehingga pahala yang didapat juga ditambah. Misalkan dalam kondisi dan situasi tertentu, dalam shalat kita tambah dengan do’a-do’a dan bacaan-bacaan tertentu sesuai dengan pilihan kita. Mengkreasikan soal ibadah selama bukan pakem-nya, tidaklah mengapa, sebagaimana sabda Nabi,

“Ketika kami shalat bersama Rasulullah SAW., tiba-tiba seseorang mengucapkan ALLAHU AKBAR KABIRAW WAL HAMDU LILLAHI KATSIIRAW WASUBHAANALLAAHI BUKRATAN WA ASHIILAN, Lantas Rasulullah SAW. bertanya: “Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?” Seorang sahabat menjawab; “Saya wahai Rasulullah. ” Beliau bersabda: “Sungguh aku sangat kagum dengan ucapan tadi, sebab pintu-pintu langit dibuka karena kalimat itu. ” Kata Ibnu Umar; “Maka aku tidak pernah lagi meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah SAW. mengucapkan hal itu. ” (HR. Muslim No. 943)

Hadits ini sangat jelas, bahwa bacaan doa iftitah dalam shalat tersebut bukan merupakan kalimat yang dibuat Nabi, namun selama hal itu tidak merubah pakem-nya shalat dan dapat menambah nilai lebih, Nabi tidak menolak dan bahkan memujinya. Dalam situasi lainnya juga banyak terjadi, sebagaimana seorang sahabat mengkreasi bacaan yang mana Nabi tidak pernah memerintahkan, namun karena inovasi dalam ibadah tidak merubah pakem dan hal itu sesuatu yang baik, Nabi pun juga menerimanya, sebagaimana kejadian yang digambarkan dalam Hadits berikut,

“Seorang sahabat Anshar mengimami mereka di Masjid Quba’, setiap kali mengawali untuk membaca surat (setelah al fatihah) dalam shalat, ia selalu memulainya dengan membaca QUL HUWALLAHU AHAD hingga selesai, lalu ia melanjutkan dengan surat yang lain, dan ia selalu melakukannya di setiap rakaat. Lantas para sahabatnya berbicara padanya, kata mereka; “Kamu membaca surat itu lalu menurutmu itu tidak mencukupimu, hingga kamu melanjutkannya dengan surat yang lain, bacalah surat tersebut atau tinggalkan lalu bacalah surat yang lain!. ” Sahabat Anshar itu berkata; “Aku tidak akan meninggalkannya, bila kalian ingin aku menjadi imam kalian dengan membacanya, maka aku akan melakukannya dan bila kalian tidak suka, aku akan meninggalkan kalian. ” Sementara mereka menilainya sebagai orang yang paling mulia di antara mereka, maka mereka tidak ingin diimami oleh orang lain. Saat Nabi SAW. mendatangi mereka, mereka memberitahukan masalah itu, lalu beliau bersabda: “Hai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan yang diperintahkan teman-temanmu dan apa yang mendorongmu membaca surat itu disetiap rakaat?” ia menjawab; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukainya. ” Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke dalam surga. ” (HR. Timidzi No. 2826)

Dalam Hadits tersebut seorang sahabat juga membuat kreasi dalam ibadah shalat yang tidak ada petunjuk dalam agama namun dibenarkan oleh Nabi, dikarenakan tidak merubah pokok ibadah shalatnya. Yang dimaksud pakem atau pokok ibadah adalah tidak merubah syarat dan rukun shalat. Ini menunjukkan bahwa berkreasi dalam ibadah hukum asalnya boleh, selama tidak melanggar prinsip-prinsip dasar ibadah mahdhah tersebut. Kebolehan kreasi dalam ibadah bukan hanya pada ibadah mahdhah saja, ibadah-ibadah sunnah mutlak juga banyak dikreasi dan diserahkan sepenuhnya kepada umatnya baik kaifiyatnya, kadarnya, waktu, maupun tempatnya. Di antaranya adalah,

قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

“Berkata Ubai: Wahai Rasulullah, aku sering membawa shalawat untuk baginda, lalu seberapa banyak aku bershalawat untuk baginda? Rasulullah SAW. menjawab: “Terserah. ” Aku bertanya: Seperempat? Rasulullah SAW. menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu.” Aku bertanya: Setengah? Beliau menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Dua pertiga? “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku berkata: Aku akan menjadikan seluruh doaku untuk baginda. Beliau bersabda: “Kalau begitu, kau dicukupkan dari dukamu dan dosamu diampuni. ” (HR. Tirmidzi No. 2381)

Kalimat “terserah” dari Nabi tersebut menunjukkan bahwa keleluasaan berkreasi dan berinovasi dalam beragama, dan khususnya ibadah, dibenarkan selama tidak merubah ibadah mahdhah, yakni tidak merubah pakem syarat rukunnya.

Islam itu sangat luas dan leluasa! Jadi sangat salah bila golongan Salafi mempersempit dan mempersulit urusan agama Islam dengan  mudah mengatakan ini tidak boleh dan itu tidak boleh, ini bid’ah dan itu bid’ah tanpa dalil dan hanya menggunakan logika mereka saja. Perhatikan saja jawaban Aisyah yang ditanya cara ibadah Nabi oleh para sahabat Nabi, kemudia Aisyah menjawab bahwa semua model cara ibadah pernah dilakukan Nabi, sebab urusan agama Islam sangat luas dan leluasan. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ هُوَ رَجُلٌ بَصْرِيٌّ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَ يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ فَقَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَصْنَعُ رُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً فَقُلْتُ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ قَدْ كَانَ رُبَّمَا أَسَرَّ وَرُبَّمَا جَهَرَ قَالَ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً قُلْتُ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ فَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“dari [Abdullah bin Abu Qais] seorang penduduk Bashrah, ia berkata; Aku bertanya kepada [‘Aisyah] tentang shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimana beliau shalat witir, apakah di permulaan malam atau di akhirnya?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu pernah beliau lakukan, kadang beliau shalat witir di awal malam dan kadang shalat witir di akhirnya.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini, lalu aku bertanya; “Bagaimana bacaan beliau? Apakah beliau membaca lirih atau dengan suara keras?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau membaca lirih dan kadang dengan suara keras.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” Aku bertanya lagi; “Bagaimana yang beliau lakukan ketika jinabat? Apakah beliau mandi sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur dan kadang wudlu lalu tidur.” Aku menjawab; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2848)

Bilamana dalam ibadah saja banyak terjadi kreasi dengan prinsip dasar untuk mencari nilai tambah, lebih lebih dalam persoalan muamalat dan adat istiadat. Kebolehan sebuah kebiasaan, tradisi, budaya, dan adat istiadat masyarakat setempat sesuai kaidah,

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan (tradisi sebuah kaum) dapat dijadikan hukum”             

Kaidah tersebut berdasarkan Hadits Nabi,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Tidak satu pun yang terlarang, kecuali yang memang telah diharamkan. Nabi biasa melakukan dan memang membiarkan para sahabat melakukan kreasi atau meniru perilaku-perilaku umat lain, selama tidak diatur oleh agama Islam, kriteria itu sangat jelas tercantum dalam sabda Nabi berikut,

“Rasulullah SAW. lebih suka mencontoh (kebiasaan) para Ahli kitab, selama belum ada perintah tertentu mengenai urusan itu. ” (HR. Muslim No. 4307)

Kalau golongan Salafi menolak fakta ini, dengan mengatakan bahwa ini haram dan itu haram hanya menggunakan dalil bid’ah yang maknanya sangat umum dan sangat samar, padahal apa-apa yang tidak diatur oleh Allah merupakan perkara yang masuk wilayah bebas untuk dikerjakan, maka golongan Salafi akan termasuk dalam laknat Allah, disebabkan mereka telah mengharam-haramkan perkara yang Allah sendiri tidak mengharamkannya,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. Yunus: 59)

Ini adalah suatu kaidah yang besar sekali manfaatnya. Dengan dasar itu pula dapat disimpulkan kebolehan jual-beli, hibah, sewa-menyewa dan adat lain, yang selalu dibutuhkan manusia untuk mengatur kehidupan mereka seperti makan, minum, dan pakaian. Agama membawakan beberapa etika yang sangat baik sekali, yaitu mana yang sekiranya membawa bahaya maka akan diharamkan. Sedangkan perkara yang telah pasti, maka akan diwajibkannya. Perkara yang tidak layak, maka dimakruhkan. Sedangkan perkara yang jelas membawa maslahah, maka disunnatkan. Sangat tidak bisa jika Hadits bid’ah yang syubhat tersebut dijadikan dalil mengharamkan setiap perkara yang Allah sendiri telah membebaskannya. Kejanggalannya adalah bilamana Allah memang berkehendak untuk mengharamkannya, niscaya Allah dan Nabi pasti akan mengeluarkan aturan tersendiri untuk mengharamkannya.

Sudah disepakati, hukum asal apapun adalah boleh selama tidak ada dalil pasti yang melarangnya. Namun sebatas mana kebolehan tersebut? ternyata Allah telah memberikan kriteria yang jelas dalam hal perkara-perkara yang asalnya boleh namun menjadi tidak boleh atau haram bila telah memenuhi salah satu dari lima unsur yang telah ditetapkan oleh Allah berikut dalam firmannya,

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan (1) perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, (2) dan perbuatan dosa, (3) melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (4) (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. al-A’raf: 33)

Dari ayat tersebut setiap larangan yang Allah tetapkan pasti menggunakan kriteria. Kriteria perbuatan yang diharamkan Allah adalah;

  1. Perbuatan yang mengandung unsur kekejian.
  2. Perbuatan yang mengandung unsur kemaksiatan (dosa).
  3. Perbuatan yang mengandung unsur kerugian sosial.
  4. Perbuatan yang mengandung unsur kesyirikan.
  5. Berbohong atas nama agama dengan mengharamkan tanpa dalil yang jelas. Maksudnya, haram hukumnya membid-ah-bid’ahkan amalan umat Islam tanpa dalil yang qath’i.

Kriteria larangan yang kelima, sangat jelas, harus menggunakan dalil yang qath’i, berbeda dengan Hadits-Hadits bid’ah yang tidak dapat dijadikan rujukan hukum karena tidak jelas kriterianya. Bahkan, sangat berbahaya, bila Hadits bid’ah dijadikan dalil hukum, karena akan berdampak hal-hal yang hukum asalnya boleh menjadi diharam-haramkan. Hal ini akan bertentangan dengan banyak dalil, bahwa perkara yang didiamkan oleh agama, yakni semua perkara yang tidak ada dalil yang melarangnya, maka hukumnya halal, sebagaimana sabda Nabi berikut,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan. “. (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Dengan dasar itulah, manusia dapat mengatur hidupnya menggunakan adat kebiasaan baik umat manusia, di samping tetap menjalankan prinsip-prinsip dasar yang telah ditetapkan agama sesuka hatinya, selama itu tidak masuk kriteria keharaman segaiamana telah dijelaskan di atas. Begitu juga, mereka bisa makan dan minum sesukanya, selama dia itu tidak diharamkan oleh syara’, sekalipun sebagian ada yang oleh syara’ kadang-kadang disunnatkan dan ada kalanya dimakruhkan. Sesuatu yang oleh syara’ tidak diberinya pembatasan, mereka dapat menetapkan menurut kemutlakan hukum asal. Maka, dibolehkan, menjadikan perbuatan-perbuatan muamalah diniatkan karena Allah SWT., sehingga bernilai ibadah. Mengkreasikan ibadah mahdhah dengan ditambah ibadah-ibadah sunnah mutlak, selama tidak merubah pakem ibadah mahdhah, sangat dibolehkan.

Prinsip di atas, sesuai dengan apa yang disebut dalam Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jabir bin Abdillah:

كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ زَادَ إِسْحَقُ قَالَ سُفْيَانُ لَوْ كَانَ شَيْئًا يُنْهَى عَنْهُ لَنَهَانَا عَنْهُ الْقُرْآنُ

“Kami biasa melakukan azl (mencabut penis saat ejakulasi agar istri tidak hamil) di saat al-Qur’an masih turun. ” [Ishaq] menambahkan; [Sufyan] berkata; Sekiranya azl dilarang, tentu al-Qur’an akan melarang perbuatan kami. (HR. Bukahari dan Muslim No. 2608)

Ini menunjukkan, apa saja yang didiamkan oleh wahyu, bukanlah terlarang. Mereka bebas untuk mengerjakannya, sehingga ada nash yang melarang dan mencegahnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, Hadits-Hadits bid’ah bertentangan dengan banyak dalil yang secara tegas menghalalkan semua hal selama tidak ada dalil rincian yang mengharamkannya. Sedangkan Hadits bid’ah tidak memberikan rincian keharamannya. Sehingga, karena ketidakjelasan batasan larangan Hadits-Hadits bid’ah, maka dengan sendirinya Hadits-Hadits bid’ah, gugur sebagai hujjah syariat. Di samping itu, hukum asal dari semua hal, baik urusan muamalah, adat, dan bahkan ibadah, adalah diperbolehkan, selama memenuhi kriteria-kriteria berikut; Selama tidak mengandung unsur kekejian. Selama tidak mengandung unsur kemaksiatan (dosa). Selama tidak mengandung unsur kerugian sosial. Selama tidak mengandung unsur kesyirikan. Dan, Selama tidak berbohong atas nama agama dengan mengharamkan tanpa dalil yang jelas. Maksudnya, haram hukumnya membid-ah-bid’ahkan amalan umat Islam tanpa dalil yang qath’i; Selama tidak diatur oleh agama. Selama tidak merubah (dengan menambah, mengurangai, menghapus) esensi ibadah mahdhah. Dan, Selama menimbulkan kemaslahatan.

Dikutip dari buku “Menyoal Kehujahan Hadits Bid’ah”, Penulis KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke