Hikmah Puasa Sya’ban

Alhamdulillah hampir sebulan penuh kita berada dalam bulan Sya’ban yang sangat istimewa ini. Walaupun kita saat ini masih berada dalam bulan Sya’ban, namun suasana Ramadhan sudah mulai terasa. Bulan di mana umat Islam mulai meningkatkan berbagai amal ibadah. Mereka yang selama ini disibukkan dengan aktifitas duniawinya biasanya akan mulai masuk pada suasana spritiualitas dengan berbagai macam amal kebaikan dan amal ibadah.

Padahal kebiasaan memulai amal kebaikan dan amal ibadah bukan saat Ramadhan tiba. Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salafusshalih mengajarkan kita bahwa perubahan spiritualitas harus dimulai sejak beberapa bulan sebelum Ramadhan tiba. Nabi dan para sahabat biasanya dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan sudah dimulai sejah bulan Rajab dan lebih ditingkatkan pada bulan Sya’ban.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada satu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana puasamu pada bulan Sya’ban.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Itulah bulan (Sya’ban) yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (Hadits Ahmad Nomor 20758)

Kesaksian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ’Aisyah radhiyallahu ‘anha banyak berpuasa di bulan Sya’ban daripada bulan-bulan selainnya. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Beliau paling banyak melaksanakan puasa (sunnat) kecuali di bulan Sya’ban”. (Hadits Bukhari Nomor 1833)

Ummul Mukminin menambahkan,

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melaksanakan shaum lebih banyak dalam sebulan selain bulan Sya’ban, yang Beliau melaksanakan shaum bulan Sya’ban seluruhnya. (Hadits Bukhari Nomor 1834)

Berikut hikmah disyariatkan puasa bulan Sya’ban,yaitu sebagai bulan penanda akan datangnya bulan Ramadan dikarenakan kebanyakan kaum muslimin lalai bila akan datangnya bulan mulia ini. Juga kebanyakan kaum muslimin lalai bahwa bulan Sya’ban ini merupakan bulan di mana amalan manusia disetorkan oleh malaikan kepada Allah. Dengan berpuasa pada bulan Sya’ban, di samping sebagai media latihan untuk mempersiapkan mental dan fisik juga agar manusia senantiasa tidak lupa untuk menyambut Ramadhan dengan berbagai amal ibadah dan berbagai amal kebaikan. Kecenderungan manusia lalai dalam bulan Sya’ban ini diisyaratkan oleh Nabi dalam sabdanya,

ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (Hadits Ahmad Nomor 20758)

Agar kita tidak menjado hamba yang masusk kategori lalai, hendaklah pada bulan ini kita memperbanyak amalan puasa. Sehingga puasa kita pada bulan Sya’ban ini menjadi penyebab mudahnya amalan kita selama setahun diterima dan diridhai Allah subhanahu wa taala.

Oleh Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke