Hikmah Puasa Ramadhan

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada jungjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat-sahabatnya. Berikut beberapa fakta menurut para ulama terkait hikmah atau manfaat berpuasa di bulan Ramadhan yang telah kami ringkas. Semoga menambah spirit kita menyambut kedatangan bulan suci Ramdhan.

Pertama, Menjadi Insan Kamil

Dalam bulan Ramadhan kita bisa berlatih meneladani sifat-sifat mulia yang dimiliki Allah SWT. Sehingga kita menjadi insan kamil. Manusia yang lahir batinnya menjadi baik dan terpuji. Di dalam Hadits Qudsi Allah SWT berfirman,

أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلْفَةُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“bahwa ia mendengar [Abu Hurairah] radliallahu ‘anhu berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla telah berfirman; ‘Setiap amal anak Adam adalah teruntuk baginya, kecuali puasa, karena ia adalah bagi-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.’ Maka demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh, bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (Hadits Muslim Nomor 1942)

Dari ibadah puasa, kita dapat meneladani sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al Asma’ul Husna. Misalnya, As-Shaabiru-sabar. Ar-Rahiim-pengasih. Al Waasi’-luas, lapang dada. Al Ghafuur-pengampun, dan masih banyak lagi. Sifat-sifat mulia Allah tu bisa diteladani melalui puasa Ramadlan. Manusia akan mulia dan menjadi kamil dengan sifat-sifat Allah tersebut.

Kedua, Mudah Mendapat Pengampunan

Manusia tempat salah dan lupa. Dan sebaik-baik manusia bukanlah tanpa dosa, melainkan orang yang telah berbuat dosa, kemudian segera memohon ampunan kepada Allah SWT. Walau dosa manusia setinggi langit, namun Allah telah menyiapkan media untuk menghapusnya. Itulah bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda;

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ (رواه الترمذى)

Artinya: “Dan rugi benar seseorang apabila telah datang kepadanya bulan Ramadhan, kemudian (Ramadhan itu) meninggalkan, tetapi belum terampuni (dosa-dosa) baginya”. (HR. Tirmidzi).

Hadits mengisyaratkan sebuah pengertian bahwa bulan Ramadhan adalah bulan pengampunan. Siapa yang beribadah dengan sungguh di dalam bulan itu, dia akan mendapat pengampunan. Dan siapa yang tidak mau mengoptimalkan ibadah di bulan pengampunan itu, dia tidak mendapatkan pengampunan dari Allah secara maksimal.

Ketiga, Do’a dikabulkan

Allah taala menyukai hamba-hamba-Nya yang senantiasa memohon kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Surat Al-Baqarah Ayat 186)

Spesial bagi orang yang berpuasa, doa-doanya tidak ditolak. Sebagaimana hadits Nabi SAW, kurang lebih artinya sebagai berikut,

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak; imam adil, orang puasa saat berbuka dan doa orang yang terzhalimi, doanya diangkat diatas awan dan pintu-pintu langit dibukakan, Rabb ‘azza wajalla berfirman: Demi keperkasaanKu, aku akan menolongmu meski setelah selang berapa lama.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2449)

Mumpung kita berada dalam suasana Ramadhan, hendaklah kita memperbanyak memohon dan memanjatkan segala permintaan dengan tulus dan ikhlas, niscaya doa-doa kita akan mudah terkabulkan. Amin.

Keempat, Disediakan Lailatul Qadar Sebagai Sarana Melipat Gandakan Pahala

Satu malam yang diharapkan dan ditunggu-tunggu umat Islam sedunia ialah “Lailatul Qadar”, malam penuh misteri, malam penentuan. Di bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia, di mana nilainya lebih baik dari seribu bulan. Bukan sekedar sama dengan seribu bulan. Melainkan lebih baik daripada itu, sebagaimana firman Allah,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam Qadar (itu) kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Surat Al-Qadr Ayat 3)

Rasulullah SAW membangunkan keluarga dan mengencangkan ikat pinggang untuk mengintip Lalatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah SAW meningkatkan ibadah pada malam-malam itu untuk mendapatkan lipat gandanya pahala dari amalan ibadah dan kebaikan yang kita lakukan. Pergunakan kesempatan untuk meraih berkah lailatul qadar agar kita kelak di akhirat menjadi hamba yang beruntung. Amin.

Kelima, Sarana Menggapai Ketakwaan

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).

Ayat tersebut mengisyaratkan salah satu keutamaan puasa adalah dapat menghantarkan seseorang pada derajat takwa. Di mana ketakwaan itu sendiri memiliki pengertian sebuah upaya dari kaum muslimin agar senantiasa melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Wujud ketakwaan seseorang dalam hal ibadah puasa dapat kita temui dari beberapa hal berikut ini,

Pertama, Seseorang yang sedang berpuasa akan meinggalkan setiap larangan yang Allah sendiri sudah jelas-jelas melarangnya, dalam hal ini tentunya terkait dengan perkara yang membatalkan puasa seperti meninggalkan makan, minum, bersenggama di siang hari dan lain sebagainya, yang sebetulnya hati seorang manusia sangatlah memiliki keinginan untuk melakukanNya.

Namun kecondongan tersebut bukan berarti Allah hapuskan, namun dengan berpuasa Allah hanya menghendaki kecondongan tersebut untuk ditunda saat waktu berbuka telah tiba. Dengan begitu esensi puasa bukan menghilangkan sama sekali syahwat yang dimiliki manusia, namun hanya untuk ditahan tidak dilakukan pada waktu siang hari disaat kita sedang berpuasa. Dengan kata lain kecondongan manusia untuk makan, minum, bersetubuh, hukumnya tetap halal dilakukan di saat bulan suci Ramadhan namun di malam hari. Jadi, esesi puasa adalah bukan berarti menghilangkan fitrah asal manusia namun hanya mengelola fitrah tersebut agar syahwat manusia tetap terkendali sebagai bentuk bukti ketakwaan kita terhadap Allah.

Hal ini dilaksnakan tentunya tiada lain hanyalah semata-mata untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. agar mendapat limpahan pahala dari sisi-Nya. Inilah perwujudan takwa.

Kedua, Seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa sebetulnya sangatlah bisa untuk sekedar mengerjakan kebahagian-kebahagiaan yang sifatnya duniawi. Namun tidak demikian dikarenakan dalam hatinya menyakini bahwasanya Allah maha mengetahui dan selalu mengawasi gerak-gerik disetiap langkahnya.

Ketiga, Ketika berpuasa, setiap muslim tentunya lebih semangat dalam melaksanakan perbuatan-perbuatan (amal shaleh) yang berkaitan dengan ketaatan karena ketaatan tersebut juga menjadi cerminan untuk dapat meraih derajat takwa disisi Allah SWT. Ini juga salah satu bentuk ketakwaan seseorang ketika berpuasa

Keenam, Sebagai Sarana Pengendali Syahwat Dan Kesenangan Dunia

Ketika berpuasa setiap insan yang beragama Islam diperintahkan untuk mengendalikan berbagai macam syahwat berupa makan dan minum. Ini semua dikerjakan hanya semata-mata karena Allah SWT. Menunda keinginan makan di siang hari dengan maksud menghimpun kenikmatan makan dan minum yang lebih besar saat berbuka puasa. Di dalam hadits qudsi Allah SWT. Berfirman;

مَا مِنْ حَسَنَةٍ عَمِلَهَا ابْنُ آدَمَ إِلَّا كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ جُنَّةٌ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Tidak ada kebaikan yang dikerjakan anak Adam kecuali akan ditulis untuknya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Allah -Azza wa Jalla- berfirman: ‘Kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makanannya hanya karena Aku. Puasa itu perisai. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan; satu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Rabb-nya. Dan aroma mulut orang yang berpuasa sungguh lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi.” (Hadits Nasai Nomor 2185)

Sebagian manfaat mengendalikan syahwat dan kenikmatan duniawi ketika melaksanakan ibadah puasa di antaranya ialah;

Pertama, Bisa mengendalikan hati dan membuat fikiran lebih tenang. Mengumbar kenikmatan makan, minum, danbersetubuh tanpa ada batasasannya menyebabkan kenikmatan yang diperoleh terasa semu. Dengan syari’at puasa kenikmatan akan terasa lebih dikarenakan kita dapat merasakan lapar sebelumnya, itulah salah satu hikmah disyari’atkan puasa . dengan rasa lapar tersebut akan menyebabkan seseoarang akan mudah mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang selama ini terabaikan. Dengan melakukan ibadah puasa, hati dan pikiranpun akan menjadi tenang dan nyaman ketika kita bisa mengendalikan itu semua.

Kedua, Jiwa raga kita akan selalu bertindak positif dan ingin selalu berdzikir kepada Allah. Ketika manusia selalu memikirkan kesenangan pribadinya dan terbuai dengan perihal yang berbau negatif, maka jiwa kitapun sulit untuk bertindak positif apalagi mengingat Allah.

Oleh sebab itu, ketika kita sebagai umat manusia jangan sekali-kali membuang-buang waktu dalam urusan yang percuma (tidak menimbulkan kemanfaatan), maka hati pun bercahaya dan fikiran kita akan jernih mudah berfikir positif dan mudah untuk mengingat Allah dalam setiap aspek kehidupannya.

Ketiga, Apabila manusia bisa mengendalikan kesenangannya yang sifatnya duniawi, maka manusia yang demikian mudah disenangi orang lain karena hatinya bercahaya dan selalu diberikan kenikmatan yang cukup oleh Allah SWT, dari pada orang yang suka meninggalkan puasa, dan selalu merasa benar, dan selalu merasa kekurangan sebagaimana yang dialami oleh fakir miskin.

Dalam upaya bersyukur atas semua yang diberikan kepadaNya, orang-orang yang punya hartapun lebih suka bershodaqoh kepada orang yang tidak berkecukupan.

Keempat, Dengan berpuasa akan membuat badan lebih sehat karena peredaran darah lebih lancar karena disebabkan lemak-lemak yang menghalangi peredaran darah terbakar oleh aktifitas puasa. Karena setan berada pada peredaran darah manusia. Berikut sabda nabi Muhammad SAW,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ فَخَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا أَوْ قَالَ شَرًّا

“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya aliran darah. Maka aku takut dia akan memasukkan sesuatu ke dalam hati kalian.” Atau beliau mengatakan, “(memasukkan) Keburukkan.” (Hadits Abu Daud Nomor 4342)

Maka berpuasalah agar setan kesulitan untuk menggoda manusia, melakukan ibadah puasapun dapat mengendalikan rasa marah dan tindakan yang kurang baik.

Oleh sebab itu, ibadah puasa adalah salah satu tindakan yang paling tepat menurut nabi Muhammad SAW. bagi seseorang yang memiliki gejolak untuk segera menikah namun kesempatan belum ada.

Ketujuh, Disediakan Pintu Rayyan

Bagi orang yang berpuasa Ramadhan akan diundang masuk surga dengan melalui pintu Rayyan. Pintu itu tertulis besar, spisial bagi orang berpuasa. Tentu, tidak perlu ribut mencari jalan untuk masuk ke surga. Santai, tidak berjejal dan tidak gontok-gontokan memasukinya. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada hari qiyamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali para shaimun (orang-orang yang berpuasa). Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka; Mana para shaimun, maka para shaimun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut”. (Hadits Bukhari Nomor 1763)

Kedelapan, Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik

Setiap muslim yang melaksanakan ibadah puasa hendaknya menjauhi kemaksiatan dan kemungkaran agar puasa yang kita jalani tidak sia-sia. Dan tidak hanya merasakan lemas serta lapar dan haus yang dialaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الظَّمَأُ

“Berapa banyak orang yang melaksanakan puasa, namun ia tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali dahaga. (Hadits Darimi Nomor 2604)

Melakukan berbagai macam maksiat pada bulan Ramadhan akan menyebabkan puasa menjadi sia-sia. Padahal sebaiknya bagi orang yang sedang mengerjakan ibadah puasa seharusnya berusaha mengendalikan hawa nafsunya dengan cara menjaga lisannya dari membicarakan kejelekan orang lain atau menggunjing orang lain (ghibah), berkata dusta, bersumpah bohong dan perkaataan serta perbuatan yang sia-sia lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan kotor, melakukan hal itu dan masa bodoh, maka Allah tidak butuh (amalannya) meskipun dia meninggalkan makanan dan minumannya (puasa).” (Hadits Bukhari Nomor 5597)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.

Lagwu: perkataan sia-sia (tidak mengandung faidah/manfaat sama sekali, Sedangkan Rofats memiliki arti kata-kata kotor seperti misuh dan lain sebagainya.

Berpuasa juga dapat mengendalikan kita untuk tidak terlibat dalam pertikaian dan pertengkaran. Nabi bersabda,

إِنَّ رَبَّكُمْ يَقُولُ كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ وَإِنْ جَهِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ جَاهِلٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ

“Sesungguhnya Rabb kalian berfirman: Setiap kebaikan diberi pahala sebanyak sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan puasa diperuntukkan untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahala puasanya (tanpa batasan jumlah pahala), puasa merupakan tameng dari api neraka, dan bau mulut orang yang berpuasa, lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misk (minyak wangi) dan jika salah seorang diantara kalian mengajakmu bertengkar padahal dia sedang berpuasa, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang berpusa.” (Hadits Tirmidzi Nomor 695)

Oleh sebab itu, selayaknya ketika bulan Ramadhan telah usai setiap pribadi muslim seharusnya ada peningkatan kebaikan yang lebih pesat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Karena dia sudah dibimbing (gembleng) selama sebulan penuh guna memperbaiki kepribadian yang tidak produkif atau aktifitas yang sama sekali tidak menimbulkan kemanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain pada umumnya.

Yang dulunya masih malas dalam melaksanakan shalat lima waktu sebaiknya menjadi meningkatkan kesadaran sehingga semakin istiqamah melaksanakan berbagai ibadah setelah usainya bulan Ramadhan. Juga tidak kalah pentingnya shalat berjama’ah bagi kaum muslimin, hendaklah diistiqamahkan berjama’ah di masjid, surau atau langgar, mushalla sebagaimana telah menjadi rutinitas dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Begitu pula bagi mayoritas wanita muslimah yang sudah susah-susah berusaha memperbaiki dirinya. Salah satunya dengan berkerudung untuk menutup auratnya, maka sehabis bulan Ramadhan selayaknya tetap dipelihara sesempurna mungkin. Karena kebiasan ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Beramallah dan berlaku imbanglah, dan ketahuilah bahwa salah seorang tidak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yang dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus walaupun sedikit.” (Hadits Bukhari Nomor 5983)

Dari hadits di atas bisa ditarik kesimpulan bahwasanya kita tetap dianjurkan mengerjakan pekerjaan atau amal ibadah walaupun sedikit dengan cara istiqomah agar kita lebih dicintai oleh Allah SWT.

Kesembilan, Puasa Dapat Menumbuhkan Rasa Kasih Sayang, Lemah lembut Dan Merasakan Penderitaan Terhadap Fakir Miskin

Puasa akan dapat menumbuhkan kepedulian berupa kasih sayang terhadap fakir miskin(kaum duafa’. Dikarenakan seseorang yang berpuasa pasti mengalami penderitaan yang sama berupa lapar dan dahaga disepanjang waktunya selama berpuasa.

Akhirnya timbullah rasa dalam hatinya untuk bersikap lebih ramah, lebih menghargai antar sesama manusia dan saling berbuat baik tanpa memandang sebelah mata kepada saudara-saudari yang menjalani kehidupan serba kekurangan seperti orang fakir miskin.

Dengan berpuasalah Allah akan meningkatkan derajatnya karena pada dasarnya orang yang berpuasa juga merasakan penderitaan lapar dan dahaga yang sama persis sebagaimana fakir miskin mengalami penderitaan tersebut. Hal ini yang menjadi penyebab meningkatnya derajat kita disisi Allah SWT.

Inilah sebagian hikmah besar yang terkandung dalam puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salafus shalih Ahlussunnah Waljama’ah benar-benar sangat merindukan akan datangnya bulan Ramadhan agar memperoleh keutamaan-keutamaan yang tersimpan di dalamnya.

Sebagian besar ulama’ salaf menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan do’a-do’a pada bulan Rajab sebagai bentuk expresi kebahagiaan untuk menyambut bulan Ramadhan. Sebagaimana do’a berikut,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Allahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya’ban wa ballignaa Ramadhan”, Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan. (Hadits Riwayat Imam Ahmad 1/259, dan Bazzar)

Begitu hebatnya bulan suci Ramadhan, disediakan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Tujuannya, untuk mengembalikan jati diri manusia sebagai makhluq paling mulia. Mari kita berusaha untuk meraih kehebatan bulan suci itu dengan sekuat tenaga. Jangan sampai terlena oleh dorongan nafsu yang merugikan.

Oleh Ustadz Junaidi Ibnu Salim, disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 198
    Shares