Hawa Nafsu

Muqaddimah

Ada sekolompok orang menganggap hawa nafsu sebagai “syaitan yang bersemayam di dalam diri manusia,” yang bertugas untuk mengusung manusia kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Erusakan akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang[1].

Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan, atau hawa nafsu malah menyebabkan potensi itu hancur. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan (dalam realita kehidupan). Maka dari itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan bagi siapa saja yang menghendaki keseimbangan, kebahagian dalam hidupnya karena hanya dengan berjalan di jalur-jalur yang benar sajalah menusia dapat mencapai hal tersebut.

Pengertian Nafsu

Menurut Richard Lazarus with Bernice N Lazarus[2] hawa nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu merupakan kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya; namun pada umumnya dihubungkan dengan hawa nafsu seksual.

Sedangkan menurut Syafrein Effendi Usman dan Norain Ishak dalam “Nafsu dan Perkahwinan[3] berpandangan bahwa Hawa (الهوى) bermakna sangat cinta, dan kehendak. Biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik. Nafsu (النفس) bermakna roh; nyawa; jiwa; tubuh; diri seseorang; atau kehendak; Niat; selera; dan usaha. Yaitu keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Sedangkan syahwat (الشهوة) bermakna keinginan untuk mendapatkan yang lezat; birahi. Maksudnya adalah kebirahian atau keinginan bersetubuh.

Sedangkan menurut pandangan Ibnu Athoillah bahwa hawa nafsu adalah kecenderungan yang bersifat tabiat asal manusia dan hewan, baik kecenderungan itu bersifat baik atau buruk. Hawa nafsu adalah watak hewani yang ada dalam diri manusia, pendorong bagi keinginan-keinginannya. Jadi yang dimaksud “nafsu” di sini adalah insting, watak, dorongan, dan tabiat yang dimiliki manusia dan seluruh hewan. Pemahaman ini didasarkan pada firman Allah berikut,

۞ وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Surat Yusuf Ayat 53)

Apakah Nafsu itu Tercela?

Hakikat nafsu adalah daya imunitas (kekebalan) seseorang agar dapat bertahan dalam menjalankan kehidupannya. Sebab nafsu merupakan kecondongan jiwa kepada perkara-perkara yang selaras dengan keinginannya. Kecondongan ini bersifat fitrah, sebab bila tidak ada nafsu maka hilanglah keinginan-keinginan manusia untuk bertahan hidup, seperti tidak ada selera terhadap makanan, minuman dan kebutuhan biologis lainnya. Hilang selera untuk bersetubuh sehingga terancam musnahnya generasi manusia. Bila ini tidak terdapat pada diri manusia, niscaya tidak akan tergerak untuk makan, minum dan memenuhi kebutuhan biologis tersebut.

Jadi, nafsu merupakan dorongan untuk melakukan sebuah tindakan yang dianggap berguna bagi seseorang. Atau dorongan untuk mencegah sebuah tindakan yang dianggap tidak berguna atau mungkin bahaya bagi seseorang. Maka dari itu, tidak ada alasan untuk mencela nafsu secara mutlak dan juga tidak ada alasan memujinya secara mutlak.

Sebetulnya yang menjadi masalah bukan pada nafsunya, melainkan menuruti hawa nafsu tanpa batas. Namun karena kebiasaan orang yang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan emosinya tidak dapat berhenti sampai pada batas yang bermanfaat saja, maka dari itulah hawa nafsu, syahwat dan emosi dicela, karena besarnya mudharat yang ditimbulkannya.

Sehubungan manusia selalu diuji dengan hawa nafsu, tidak seperti hewan dan setiap saat ia mengalami berbagai macam gejolak, maka ia harus memiliki dua peredam,yaitu akal sehat dan agama.

Macam-Macam Hawa Nafsu

Walaupun seringkali Allah mengatakan dalam Al-Qur’an tentang tercelanya hawa nafsu, namun hawa nafsu tidak sepenuhnya buruk. Karena ternyata ada juga hawa nafsu yang dianggap baik dan mendapatkan rahmat dari Allah. Menurut Imam Al-Ghazali secara garis besar membagi hawa nafsu menjadi tiga, yaitu nafsu yang sifatnya buruk (ammarah), nafsu yang sifatnya baik (muthma’innah), dan nafsu yang sifatnya lalai (lawwamah). Berikut penjelasannya;

Nafsu Ammarah Bissu’

Nafsu ini cenderung agresif mendorong untuk memuaskan keinginan-keinginan rendah, dan menggerakan pemiliknya untuk melakukan hal-hal yang negatif dan bahkan mendorong kepada kejahatan[4]. Biasanya jenis nafsu ini cenderung kepada karakter-karakter biologis, cenderung pada kenikmatan-kenikmatan hawa nafsu yang sebenarnya dilarang agama karena menarik hati kepada derajat yang hina[5]. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى

“Sungguh yang sangat aku takutkan dari kalian adalah syahwat keji dari perut, dan kemaluan kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan.” (Hadits Ahmad Nomor 18937)

Dalam nafs inilah, menurut sebagian sufi kesadaran-ego manusia biasa terbentuk sebagai diri indra yang sensual[6]. Sebetulnya keinginan terhadap kenikmatan dunia merupakan sesuatu yang wajar, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Surat Ali ‘Imran Ayat 14)

Namun, keinginan-keinginan tersebut menjadi tidak wajar bilamana dituruti secara berlebihan. Di mana sikap berlebihan terhadap kenikmatan dunia tersebut yang pada akhirnya mendorong pada kejahatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا. وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (Surat Al-Fajr Ayat 19-20)

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengecam mereka yang menuruti nafsu ammarah ini secara berlebihan sebagai bentuk kerugian bilamana menyebabkan kelalaian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berrfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Surat Al-Munafiqun Ayat 9)

Nafsu ini sangat berbahaya apabila melekat pada diri seseorang sebab ia terlalu mengarahkan manusia kepada tindak kejahatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Surat Yusuf Ayat 53)

Terhadap nafsu jenis ini, banyak sekali dalam Al-Qur’an yang sangat mencelanya. Berikut di antaranya. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Surat Al-Jasiyah Ayat 23)

Manakala nafsu memandang akan suatu perkara itu baik, maka nafsu cenderung menderong seseorang untuk mengerjakannya. Sebaliknya, manakala nafsu memandang akan suatu perkara itu buruk, maka nafsu cenderung menderong seseorang untuk meninggalkannya. Diriwayatkan dari Malik dalam tafsirannya yaitu; “Tidaklah seseorang mengikuti sesuatu kecuali orang tersebut akan menghamba kepada yang diikutinya itu.”. Para ulama sufi mengatakan bahwa manusia itu akan menjadi budak dari apa yang dicintai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا. أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Surat Al-Furqan Ayat 43-44)

Mereka yang menganggap baik suatu perkara menurut hawa nafsunya maka itulah yang dijadikannya sebagai pedoman dan jalan hidup. Keadaan mereka lebih buruk dari binatang ternak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Surat Al-Furqan Ayat 44)

Permisalan mereka yang lebih mengikuti hawa nafsunya adalah seperti binatang. Jika kita mengatakan sesuatu kepada hewan-hewan tersebut maka mereka tidak akan mengerti meskipun mereka mendengar apa yang kita ucapkan. Begitu juga orang yang diliputi hawa nafsu, apabila kita menasehati, maka mereka tidak akan mengerti apa yang kita katakan meskipun mereka mendengar suara kita. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah sebagai bentuk ibadah kepadaNya. Apabila setiap perbuatan seseorang mengikuti hawa nafsunya, maka jadilah ia orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai ilah. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Qasas Ayat 50)

Nafsu Lawwamah

Bagi pemilik nafsu ini sebetulnya sudah memiliki kesadaran kuat bahwa apa yang dilakukan merupakan hal yang negatif. Kesadaran tersebut mendorong keinginannya untuk menolak keburukan-keburukan dari nafsunya. Namun terkadang alam bawah sadarnya masih menyeret pemiliknya untuk melakukan keburukan tersebut, walaupun pada akhirnya pemiliknya akan menyesalinya.

Pemilik nafsu jenis ini sebetulnya sudah mengenal baik dan buruk. Nafsu ini mengarahkan pemiliknya untuk menentang kejahatan, tetapi suatu saat jika ia lalai beribadah kepada Allah, maka ia akan terjerumus kepada dosa. Dengan kata lain bahwa mereka yang memiliki nafsu ini belum istiqamah (konsisten) dalam menjalan ketaatan dan meninggalkan perbuatan dosa. Sebagaimana yang tergambar dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Surat Al-Ma’idah Ayat 13)

Lebih lanjut Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa nafsu ini mencemooh pemiliknya sebab masih teledor[7] dalam ketaatan sehingga menjauhkan pemiliknya pada ketenangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (Surat Al-Qiyamah Ayat 1-2)

Jadi nafsu lawwamah telah memiliki sikap rasional dan mendorong untuk berbuat baik. Namun daya tarik kejahata terkadang lebih kuat kepadanya dibandingkan dengan daya tarik kebaikan[8].

Nafsu Muthmainah

Nafsu jenis ini menyebabkan pemiliknya akan menjadi tenang dalam ketaatan. Nafsu ini telah mendapat rahmat Allah, dan manusia yang mendapatkan nafsu ini akan mendapat ridha Allah di dunia dan akhirat. Orang ini akan khusnul khatimah di akhir hidupnya sebagai pintu menuju surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً. فَادْخُلِي فِي عِبَادِي. وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (Surat Al-Fajr Ayat 27-30)

Walaupun awalnya nafsu ini merintah kepada kefasikan, namun ketika seorang sudah mampu memerangi nafsu ini dengan tekadnya sehingga nafsu ini tunduk dan ridha pada Allah. Maka, berkat rahmat dan taufik Allah, nafsu ini menjelma ketaqwa’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,” (Surat Asy-Syams Ayat 7-9)

Syubhat dan Syahwat dalam Kendali Hawa Nafsu

Mengikuti hawa nafsu yang tercela bukan hanya dominasi syahwat yang terkait dengan keinginan-keinginan yang bersifat duniawi belaka, seperti cinta harta, tahta, dan wanita. Namun kecintaan terhadap perkara-perkara yang bersifat ukhrawi juga bisa jadi menjadi laknat sebab sikap berlebihan dalam menjalaninya. Di antaranya adalah,

Pertama, menjalankan ibadah secara berlebihan

Dari sekian jenis golongan umat Islam, ada salah satu golongan yang sangat dibenci oleh Allah. Sebuah golongan yang bersikap ekstrim dalam pikiran, ucapan, dan tindakannya. Sebagaimana yang telah digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya berikut,

قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“bahwa [Ali] radliallahu ‘anhu berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada akhir zaman nanti, akan datang suatu kaum yang muda usianya lagi bodoh. Mereka berkata-kata dengan kebaikan, akan tetapi mereka keluar dari Islam sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Keimanan mereka tidaklah melewati batas tenggorokan (tidak meresap dalam hati). Karena itu, dimana pun kalian menemukannya, maka lawanlah mereka. Karena sesungguhnya melawan mereka merupakan pahala, yakni pahala pada hari kiamat bagi yang melawan mereka.” (Hadits Bukhari Nomor 4669)

Allah sangat melarang hambanya untuk melampaui batas-batas hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala,

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“Itulah batasan-batasan hukum Allah, maka janganlah kalian melampauinya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 187)

Dalam ayat lainnya juga disebutkan,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Surat Hud Ayat 112)

Janganlah berlebihan dalam agama, sebab hal itu akan menghantarkan umat Islam pada kebinasaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama, karena yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (Hadits Nasai Nomor 3007 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 3020)

Sikap berlebih-lebihan sangat dilarang sebab ia muncul dari hawa nafsu yang menyesatkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

“janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 77)

Kedua, Menjalankan amaliah yang disandarkan pada Allah dan Rasulnya

Semua bentuk amaliah duniawi (selain aqidah dan ibadah) hukum asalnya adalah mubah. Sehingga setiap dari umat Islam memiliki kebebasan untuk berkreasi dalam hal tradisi dan budayanya. Sebab hukum berkreasi adalah boleh selama bukan perkara yang mengandung lima unsur-unsur dasar keharaman. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan (1) perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, (2) dan perbuatan dosa, (3) melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (4) (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Surat Al-A’raf Ayat 33)

Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami bahwa suatu perbuatan muamalah duniawi akan menjadi haram bilamana dalam perbuatan tersebut telah mengandung unsur-unsur keharaman. Lima unsur keharaman tersebut adalah, (1) Perbuatan yang mengandung unsur kekejian. (2) Perbuatan yang mengandung unsur kemaksiatan. (3) Perbuatan yang mengandung unsur kerugian sosial. (4) Perbuatan yang mengandung unsur kesyirikan. Dan (5) Berbohong atas nama agama.

Namun perkara-perkara yang bersifat duniawi tersebut menjadi haram dan dilarang manakala disandarkan (diklaim) sebagai ajaran Allah dan Nabi. Seperti ketika kita menyelenggarakan syukuran kenaikan pangkat dengan mengatakan bahwa itu merupakan perintah Nabi yang didapat dari mimpi. Terjadi bencana dengan anggapan bahwa itu karena kuwalat, dan sejenisnya. Sebagaimana pada zaman Nabi bersamaan dengan wafatnya putera Rasulullah, Ibrahim, terjadi gerhana bulan. Para sahabat mengira bahwa gerhana itu terjadi tersebab wafatnya putera Sang Rasul. Rasulullah kemudian melarang mengaitkan fenomena alam dengan wafatnya putera Rasulullah sebab hal itu merupakan kebohongan yang di atasnamakan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan keduanya tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Akan tetapi dengan peristiwa itu Allah Ta’ala ingin membuat para hamba-Nya takut (dengan siksa-Nya).” (Hadits Bukhari Nomor 990)

Dari hadits itu, Rasulullah menolak anggapan bahwa bencana alam atau fenomena alam itu terjadi karena kematian puteranya. Jika Rasulullah tidak mau menghubung-hubungkan fenomena alam dengan puteranya, apalagi dengan yang tidak ada hubungnnya dengan beliau. Bencana terjadi karena kehendak Allah, bukan karena si fulan atau fulanah. Kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala itu yang harus dipahami.

Sebetulnya amaliah yang dilakukan tersebut hukum asalnya boleh, namun menjadi haram (bid’ah) disebabkan perkara tersbut diklaim bahwa perintahnya berasal dari wangsit dalam mimpinya.

Maksudnya adalah untuk membenarkan perbuatannya atau untuk menyalahkan perbuatan oleh orang lain, agama dijadikan tameng dengan mengharamkan tanpa dalil yang jelas (membid’ahkan). Maksudnya, haram hukumnya membid-ah-bid’ahkan amalan umat Islam tanpa dalil yang qath’i. Alias, tidak boleh mengharamkan amaliah yang spesifik menggunakan dalil yang am (umum). Bagaimana bisa mengharamkan setiap amalan yang khusus menggunakan dalil-dalil yang bersifat umum. Itu namanya berdusta atas nama agama.

Ketiga, Melarang sebuah amal yang disandarkan pada Allah dan Rasulnya

Di antara sikap yang didorong oleh hawa nafsu dalam soal agama adalah mudah mengharamkan sesuatu perkara atau membid’ahkan suatu amaliah, padahal tidak ada satupun dalil yang mengatakan bahwa sesuatu dan perkara tersebut dilarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 87)

Bila pada ayat di atas penekanannya lebih pada larangan mengharamkan suatu makanan atau minuman dimana Allah telah membebaskannya sebagai bentuk keringanan dan rahmat dari Allah untuk hambanya. Agar kehidupan umat manusia tidak repot dan rumit, sebab Islam itu agama yang mudah. Sedangkan pada ayat berikut penekanannya lebih pada larangan mempersoalkan tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan yang bersifat amaliyah dan muamalah duniawi. Di mana Allah hanya menetapkan hukum-hukum tauqifi pada pokok persoalan aqidah dan ibadah. Sedangkan pokok persoalan yang bersifat amaliyah duniawiyah (tradisi dan budaya) dihukumi halal pada asalnya. Sehingga bilamana ada pihak-pihak mudah mengharamkan dan membid’ahkan perkara amaliyah duniawiyah maka hal itu merupakan tindakan dusta yang mengatasnamakan Allah yang sangat dilaknat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (Surat An-Nahl Ayat 116)

Melarang dengan tuduhan bid’ah pada semua perkara yang bersifat amaliah duniawiyah merupakan kebohongan dan kedustaan terhadap Allah yang dilaknat.

وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ. قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (Surat Yunus Ayat 59-60)

Mengendalikan Hawa Nafsu

Tekad untuk melawan dan mengendalikan hawa nafsu merupakan jalan yang harus ditempuh. Pertama kali yang akan diserang hawa nafsu adalah hati, sebab dari hati akan berdampak pada seluruh amalan kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

” Ketahuilah, bahwa dalam setiap tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh badannya, namun jika segumpal daging tersebut rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, gumpalan darah itu adalah hati.” (Hadits Muslim Nomor 2996 dan Hadits Bukhari Nomor 50)

Untuk menghindarkan diri kita dari kekuasaan hawa nafsu maka hendaklah kita senantiasa muhasabah (mengoreksi) diri. Begitu pentingnya muhasabah jiwa ini sehingga banyak sekali para ulama salaf yang memberikan perhatian khusus pada hal ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

“Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” Maksud sabda Nabi “Orang yang mempersiapkan diri” dia berkata: Yaitu orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum di hisab pada hari Kiamat. Hisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2383)

Al-Hasan berkata: “Sesungguhnya seorang hamba itu akan terus di dalam kebaikan selama dia mempunyai penasehat dari jiwanya dan (selama) muhasabah di antara cita-citanya (yang dipentingkannya).”.

Penutup

Sudah selayaknya sebagai seorang hamba yang beriman dan bertaqwa mengendalikan hawa nafsu dengan merubah semua kebiasaan-kebiasaan buruk menjadi kebiasaan-kebiasaan baik. Tunduk dan patuhlah atas semua perintah dan ketetapan Allah. Serahkan hidup dan mati dalam penghambaan terhadap Allah, ikuti sunnah-sunnah Allah dan Rasulnya. Niscaya kita akan menjadi hamba yang akan mendapatkan ridhanya. Amin.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Hawa_nafsu

[2] Richard Lazarus with Bernice N Lazarus (1994). Passion and Reason: Making Sense of Our Emotions. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0195104615.

[3] Syafrein Effendi Usman dan Norain Ishak, Nafsu dan Perkahwinan, halaman 1, Penerbitan Kintan Sdn Bhd, Kuala Lumpur, 1992.

[4] Imam Al-Ghazali, Ihya Ulum Al-Din, Juz III, Op. cit. hlm 4

[5] Syekh M.Aamin al-Kurdi, menyucikan hati dengan Cahaya Ilahi, (terj. Muzammal Noer, judul asli : Tanwir Al-Qulub Li Mu’amalati ‘allam Al-Ghuyub), Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2003, Cet.I., hlm.144

[6] Ibsar Ahmad, Konsep Al-Qur’an tentang Psike Manusia, dalam Zafar Afaq Ansari, al-Qur’am bicara tentang jiwa,

[7] Imam Al-Ghazali, Ihya Ulum Al-Din, Juz III, Op. cit., hlm.4

[8] Baharudin, Paradigma Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004, hlm.109

Bagikan Artikel Ini Ke