Hari-Hari Yang Diharamkan Berpuasa

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad dan tim LDSI


Puasa merupakan salah satu ibadah yang sangat penting dalam agama Islam. Begitu pentingnya, Nabi sangat menganjurkan umat Islam memperbanyak melaksanakan ibadah puasa. Ibadah puasa sendiri dalam agama Islam memilik banyak ragamnya, mulai waktunya, caranya, kadarnya, dan bahkan penyebabnya. Ada puasa yang disebabkan karena waktunya, seperti puasa di bulan Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal dan sebagainya. Ada juga puasa yang dilakukan secara terus menerus seperti pada bulan Ramadhan, secara terputus-putus seperti puasa Daud, dan ada juga puasa yang dilakukan untuk memperingati sesuatu yang mungkin memiliki arti yang spesial, seperti puasa di hari kelahiran sebagaimana Nabi melakukan puasa pada hari kelahirannya Senin dan puasa Asyura untuk peringatan nabi Musa yang tebebas dari belenggu raja Firaun. Atau puasa-puasa yang karena tidak memiliki makna khusus seperti puasa-puasa sunnah mutlak yang dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun.

Namun, walaupun Nabi sangat menganjurkan umatnya memperbanyak melakukna  ibadah puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, namun begitu ternyata ada waktu-waktu dimana kita diharamkan untuk melakukan ibadah puasa pada waktu tersebut. Berikut beberapa waktu yang diharamkan oleh Allah SWT untuk kita melakukan puasa pada hari tersebut, di antaranya adalah;

  1. Haram berpuasa pada dua hari raya; Idul Fitri dan Idul Adha

Terdapat banyak pandangan alasan kenapa umat Islam tidak diperbolahkanya melaksanakan puasa pada dua hari raya tersebut. Namun dari sekian banyak pandangan, diantara alasan terkuat adalah Idul Fitri dan Idul Adha merupakan hari kemenangan, dimana sangat dianjurkan kita merayakan hari kemenangan tersebut. Sehingga tujuan untuk merayakan hari raya tersebut akan berentangan bilamana kita melakukan ibadah puasa di hari tersebut. Hal ini sangat sesuai dengan sabda Nabi berikut,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ حَدَّثَنَا حَكِيمُ بْنُ أَبِي حُرَّةَ الْأَسْلَمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سُئِلَ عَنْ رَجُلٍ نَذَرَ أَنْ لَا يَأْتِيَ عَلَيْهِ يَوْمٌ إِلَّا صَامَ فَوَافَقَ يَوْمَ أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ فَقَالَ { لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ } لَمْ يَكُنْ يَصُومُ يَوْمَ الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ وَلَا يَرَى صِيَامَهُمَا

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abi Bakr Al Muqaddami] telah menceritakan kepada kami [Fudhail bin Sulaiman] telah menceritakan kepada kami [Musa bin ‘Uqbah] telah menceritakan kepada kami [Hakim bin Abi Hurrah Al Aslami] bahwasanya ia mendengar [Abdullah bin umar] radliallahu ‘anhuma ditanya tentang seseorang yang bernadzar untuk tidak melalui hari selain melakukan puasa, kemudian bertemu dengan hari idul adha dan idul fitri. Ia menjawab dengan mengutip firman Allah; ‘sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah sebagai teladan yang baik bagimu’ (QS. Ahzab 21), beliau tidak pernah melakukan puasa di hari raya adha dan fitri, dan beliau tidak berpandangan berpuasa di kedua hari itu.’ (HR. Bukhari No. 6211)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang puasa pada dua hari, yaitu; pada hari raya Iedul fithri dan An Nahr (Iedul Adlha). (HR. Muslim No. 1923)

  1. Haram berpuasa pada hari Tasyrik

Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Hari Raya Qurban, yakni pada tanggal 11,12,13 Dzulhijjah. Hari tasyrik merupakan hari lanjutan Idhul Adha untuk memperingati peristiwa sejarah Nabi Ibrahim as menyembelih putranya Nabi Ismail as sebagai tanda ketaatannya kepada Allah SWT. Disebabkan ketaatan ayah dan putranya untuk melaksanakan perintah Allah tersebut berbuah hikmah dengan diganti menyembelih seekor domba untuk disedekahkan bagi mereka yang membutuhkannya sebagai tanda berakhirnya ibadah haji. Hari Tasrik juga disebut hari MINA yang artinya adalah hari makan dan minum ketika telah dilaksanakan penyembelihan kurban. Alasan kenapa umat Islam diharamkan berpuasa pada hari tersebut adalah karena hari tersebut memang diperuntukkan bagi umat Islam untuk makan-makan dan minum. Sebagaimana yang disabdakan Nabi,

لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ

“Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari tasyriq kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan korban (Al Hadyu) ketika menunaikan haji”. (HR. Bukhari No. 1859)

أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ و حَدَّثَنَاه عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فَنَادَيَا

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali peribadi yang mukmin, dan hari-hari di Mina merupakan hari makan-makan dan minum.” (HR. Muslim No. 1927)

  1. Haram berpuasa pada hari yang meragukan atau syak

Abu Syuja’ berpendapat makruh bagi yang berpuasa di hari meragukan, yakni pada tanggal 30 Sya’ban. Namun mayoritas ulama madzhab Syafi’i mengharamkan. ‘Ammar bin Yasir pernah berkata,

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang berpuasa pada hari meragukan, maka ia telah mendurhakai Abul Qosim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Dishahihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al Hakim, juga diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad).

Namun tetap diperbolehkan berpuasa pada hari tersebut kecuali bagi orang yang punya kebiasaan berpuasa, seperti bertepatan dengan hari puasa Daudnya (sehari puasa, sehari tidak) atau puasa Senin Kamis, sebagaimana tercantum dalam Al Iqna’, 1: 413.

  1. Hikmah larangan berpuasa di hari yang telah ditentukan

Ada beberapa hikmah dalam larangan berpuasa pada waktu-watu tersebut, diantaranya adalah;

  • Dilarang berpuasa pada akhri bulan Sya’ban dikarenakan agar ada perbedaan atau ada pembeda antara puasa sunnah pada bulan puasa dengan puasa wajib pada bulan Ramadhan.
  • Dilarang berpuasa pada tanggal satu Syawal agar diketahui batas berakhirnya bulan Ramadhan.
  • Dilarang berpuasa pada Idul Fitri karena hari itu merupakan hari kemenangan umat Islam setelah berpuasa penuh selama bulan Ramadhan yang selayaknya dirayakan oleh umat Islam.
  • Dilarang berpuasa pada idul Adha karena pada hari tersebut disyariatkan untuk memperbanyak kurban sebagai bentuk syukur karena telah menjalankan ibadah Haji dan bentuk peringatan bahwa Ibrahin dan putranya Ismail telah menjalankan ketaatan kepada Allah yang rela untuk disembelih.
  • Allah maha mengetahui betapa besar kemurahan Allah terhadap hambanya sehingga kita diringankan pada hari tersebut tidak diwajibkan untuk berpuasa, karena apabila kita berpuasa pada hari tersebut betapa banyak godaan yang membuat orang orang yang berpuasa menjadi tidak kuat menahan nafsunya, oleh karena itu kita patut bersyukur kepada Allah swt yang mana telah memberi kita keringanan terhadap semua itu.
  1. Refrensi
  • Mukhtashor Abi Syuja’, Ahmad bin Al Husain Al Ashfahani Asy Syafi’i, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H.
  • Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsudin Muhammad bin Muhammad Al Khotib, terbitan Al Maktabah At Tauqifiyah.
  • Kifayatul Akhyar fii Halli Ghoyatil Ikhtishor,  Taqiyuddin Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al Hishni, terbitan Darul Minhaj, cetakan pertama, tahun 1428 H.
  • Kitab Bulughul Maram