Hari-Hari Istimewa di Bulan Ramadhan

Muqaddimah

Nabi senantiasa beribadah kepada Allah, meskipun beliau sebagai manusia pilihan telah dijamin Allah masuk surga. Namun hari-harinya beliau senantiasa bersemangat melakukan ibadah. Dalam satu kesempatan Al Mughirah rahimahullah pernah protes pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam manakala Al Mughirah mengetahui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu bersungguh-sungguh dalam ibadah shalat malam, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan hamba yang dijamin masuk surga. Namun alangkah terkejutnya Al Mughirah mengetahui jawaban yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dalam sebuah riwayat berkut,

حَدَّثَنَا زِيَادٌ هُوَ ابْنُ عِلَاقَةَ أَنَّهُ سَمِعَ الْمُغِيرَةَ يَقُولُ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَرَّمَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Telah menceritakan kepada kami [Ziyad] yaitu Ibnu ‘Ilaaqah bahwa dia mendengar [Al Mughirah] berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat hingga kedua telapak kakinya bengkak-bengkak. Maka dikatakan kepada beliau; ‘Bukankah Allah telah mengampuni anda terhadap dosa-dosa anda yang lalu maupun yang akan datang? Beliau menjawab: “Tidak bolehkah saya menjadi hamba yang bersyukur.” (Hadits Bukhari Nomor 4459)

Begitulah akhlaq Nabi yang tetap besyukur walaupun sudah ada jaminan surga dari Allah. Apalagi kita sebagai umat yang tidak ada jaminan surga, maka hendaklah semangat dalam beribadah selayaknya melebihi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, walaupun belum ada jaminan dari Allah terhadap kita, jangan kemudian membuat kita berputus asa, karena yakinlah bahwa Allah maha pengasih terhadap hamba-hambanya. Salah satu bentuk kasih sayang Allah terhadap diri kita adalah Dia memberikan banyak pilihan ibadah untuk kita mendapatkan limpahan pahala.

Di samping itu Allah juga memberikan banyak pilihan dan kemudahan dalam meraih pahala, di antaranya adalah Allah memberikan pilihan waktu-waktu yang istimewa yang dapat kita pilih sesuai dengan keadaan kita. Bila kita tidak dapat menyempurnakan ibadah selama setahun, ternyata Allah masih memberikan kemudahan dengan dihadirkannya Ramadhan sebagai bulan pelipatgandanya pahala. Bila kita juga tetap tidak dapat menyempurnakan selama sebulam penuh dalam Ramadhan, Allah masih memberikan kesempatan pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.

Selanjutnya, bila kita tidak bisa menyempurnakan sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, Allah masih memberikan kesempatan pada hari-hari ganjil dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Dan bila kita tetap tidak bisa menyempurnakan hari-hari ganjil tersebut, Allah tetap menunjukkan kasih sayangnya dengan menyediakan satu malam yang disebut lailatul qadar yang mana nilai pahalanya setara dengan seribu bulan, bagi mereka yang mengisinya dengan amalan ibadah di dalamnya.

Berikut waktu-waktu istimewa yang disediakan baki kaum muslimin untuk meningkatkan pahala atas ibadah yang dilakukannya, sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya.

Ramadhan lebih mulia dibanding bulan lainnya

Dari dua belas bulan yang kita lalui selama setahun banyak ibadah yang harus dikerjakan kaum muslimin. Namun dari dua belas bulan yang ada, Ramadhan merupakan bulan yang lebih spesial. Sebab bulan ini banyak keistimewaannya, sehingga Nabi sangat mengajurkan umatnya untuk lebih meningkatkan amal ibadah dan amal baiknya pada bulan Ramadhan. Keistimewaan Ramadhan tergambar dari firman Allah taala berikut,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,” (Surat Al-Baqarah Ayat 185)

Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala menyebutkan dua keistimewaan bulan Ramadhan yang agung, yaitu;

Pertama, diturunkannya Al-Qur’an di dalam bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dengan kitab ini, Allah memperlihatkan kepada mereka kebenaran (al-haq) dari kebatilan. Kitab yang di dalamnya terkandung kemaslahatan (kebaikan) dan kebahagiaan (kemenangan) bagi umat manusia, serta keselamatan di dunia dan di akhirat.

Kedua, diwajibkannya berpuasa di bulan tersebut kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika Allah Ta’ala memerintahkan hal tersebut dalam firman-Nya (yang artinya),” Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu(QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih Istimewa

Dalam bulan Ramadhan Nabi shallallahu`alaihi wa sallam senantiasa bersemangat menyambut dengan mengisi berbagai amal ibadah dan amal kebaikan, terutama sepuluh hari di akhir bulan. Di samping dalam bulan Ramadhan semua amal kebaikan akan dilipatgandakan, juga pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan terdapat malam-malam lailatul qadar di mana nilainya setara dengan seribu bulan.

Sebagian ulama kita membagi bulan ini dengan tiga fase: fase pertama sepuluh hari awal Ramadhan sebagai fase rahmat, sepuluh di tengahnya sebagai fase maghfirah dan sepuluh akhirnya sebagai fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.” Sebab kemuliaan sepuluh hari bulan Ramadan melebihi hari-hari lainnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga biasanya lebih meningkatkan ibadahnya pada waktu ini. Sebagaimana sabda Nabi,

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”. (Hadits Bukhari Nomor 1884)

Dalam redaksi Imam Muslim disebutkan juga,

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki sepuluh terakhir (Ramadlan), maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamullail) dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan ikatan kainnya (menjauhi isterinya untuk lebih konsentrasi beribadah).” (Hadits Muslim Nomor 2008)

Ada alasan sebab kenapa sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan lebih istimewa karena,

Pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:

“اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك”

“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”

Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia mengakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Sebagaimana sabda Nabi,

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. رواه أحـمـد وغـيْره.

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah (pahala) Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa bershadaqah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga. (HR Imam Ahmad dan selainnya)”.

Kedua, karena pada sepuluh terkahir ini terdapat malam lailatul qadar, di mana kedudukannya melebihi seribu bulan. Maka bagi kita dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadah dengan mencari kemuliaan lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Nabi bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (Hadits Malik Nomor 612 dan Hadits Abu Daud Nomor 1173)

Hari-hari ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan

Dari sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan yang sudah Istimewa, masih terdapat yang lebih istimewa, yakni hari-hari ganjil yang terdapat di dalamnya. Berikut hadits-hadits yang melandasinya,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan”. (Hadits Bukhari Nomor 1878)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوْسَطِ مِنْ رَمَضَانَ فَاعْتَكَفَ عَامًا حَتَّى إِذَا كَانَ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَهِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي يَخْرُجُ مِنْ صَبِيحَتِهَا مِنْ اعْتِكَافِهِ قَالَ مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفْ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ مِنْ صَبِيحَتِهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ فَمَطَرَتْ السَّمَاءُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَكَانَ الْمَسْجِدُ عَلَى عَرِيشٍ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فَبَصُرَتْ عَيْنَايَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ الْمَاءِ وَالطِّينِ مِنْ صُبْحِ إِحْدَى وَعِشْرِينَ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ‘i’tikaf pada sepuluh malam pertengahan bulan dari Ramadhan lalu orang-orang mengikutinya. Hingga ketika malam kedua puluh satu, yaitu malam ketika Beliau kembali ke tempat i’tikaf Beliau, Beliau berkata: “Siapa yang telah beri’tilkaf bersamaku maka hendaklah dia beri’tikaf pada sepuluh malam-malam akhir. Sungguh aku telah diperlihatkan tentang malam Lailatul Qadar ini namun kemudian aku dilupakan waktunya yang pasti. Maka carilah pada malam sepuluh akhir dan carilah pada malam yang ganjil”. Kemudian pada malam itu langit menurunkan hujan. Pada waktu itu atap masjid masih terbuat dari dedaunan hingga air hujan mengalir masuk kedalam masjid. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pada dahi Beliau ada sisa air dan tanah di waktu pagi pada hari kedua puluh satu”. (Hadits Bukhari Nomor 1887)

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ مَا قَدْ عَلِمْتُمْ فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وِتْرًا فَفِي أَيِّ الْوِتْرِ تَرَوْنَهَا

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang lailatul Qadar sebagaimana kalian telah mengetahuinya, maka intailah dia pada malam malam sepuluh hari terakhir yang ganjil dan di waktu waktu yang kamu anggap ganjil.” (Hadits Ahmad Nomor 81)

Dan sesuai dengan hadits yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di atas bahwa malam yang istimewa atau sering disebut dengan malam seribu bulan (Lailatul Qadar) itu akan terjadi pada malam-malam yang ganjil dari pada malam-malam yang genap. Anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh hari terakhir di bulan yang penuh berkah.

Pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan pun ada hadits yang telah menunjukkan keistimewaannya di banding dengan bulan lain selain bulan Ramadhan. Dan di dalam hadits itu pun menyatakan bahwasannya seluruh umat Muslim berlomba-lomba dalam melakukan ibadah. Ibadah yang dijalankannya pun tidak lah berbeda dengan ibadah yang mereka lakukan pada hari-hari yang lain seperti misalnya shalat, i’tikaf, dzikir dan juga tilawah Al-Qur’an.

Tidak hanya hal itu yang menjadi perihal utama dalam hadits tersebut melainkan kita sebagai umat Muslim lebih utamanya seorang imam mengajak keluarganya untuk shalat malam walau pun itu hanya sekedar anjuran. Ada baiknya perihal itu di lakukan pada malam-malam istimewa di bulan Ramadhan.

Akan tetapi anjuran yang telah dinyatakan pada hadits tersebut tidak hanya berlaku pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan saja pada bulan selainnya pun anjuran itu berlaku. Walau tidak di sebutkan dalam hadits di atas akan tetapi disebutkan di dalam hadits lainnya.

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِى وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِى وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang di malam hari melakukan shalat malam, lalu ia membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, maka ia memerciki air pada wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang wanita yang di malam hari melakukan shalat malam, lalu ia membangungkan suaminya. Jika suaminya enggan, maka istrinya pun memerciki air pada wajahnya.” (HR. Abu Daud no. 1308 dan An Nasai no. 1148. Sanad hadits ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir).

Telah berkata Sufyan Ats Tsauri, “Aku sangat suka pada diriku jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam hari dengan ibadah, lalu membangunkan keluarga untuk shalat jika mereka mampu.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 331)

Dan hal tersebut pun memiliki maksud seperti menghidupkan sepuluh malam terakhir bukan berarti kita harus kita harus berlebihan menjalankannya tetapi semampu kita misal kita melaksanakan shalat malam atau hal lain yang berkaitan dengan amal ibadah kita.

Semoga Allah memudahkan kita bersemangat dalam ibadah di akhir-akhir Ramadhan. Amin.

Oleh Ustadzah Karisma Aprilia Chatur Wijaya, dan disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke