Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan

Pengertian

Pembahasan ini sama dengan tema; Menyikapi Berita Bohong (Hoax) dalam Islam

Fitnah adalah berita bohong atau sekarang lebih dikenal dengan istilah hoax. Sudah diketahu bersama bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dalam Al-Qur’an sendiri fitnah tidak memiliki satu makna, dan kata fitnah juga digunakan dalam beberapa makna. Walaupun begitu pembahasan kali ini kata fitnah akan menggunakan kelaziman makna yang berlaku di kalangan orang Indonesia.

Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya).

Kenapa fitnah dianggap lebih berbahaya daripada membunuh, dikarenakan dalam fitnah dampak buruknya akan lebih besar, lebih bahaya, dan lebih luas. Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah,

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

“dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan,” (QS. Al-Baqarah: 191)

Jadi maksud fitnah dikatakan bahanya lebih besar sebab kebohongan yang dilancarkan dimaksudkan untuk menjatuhkan atau merendahkan martabat seseorang, agar supaya seseorang itu menanggung akibat dari apa yang sebenarnya tidak dia kerjakan. Maka tidaklah heran ketika permusuhan, pertikaian, dan kekacauan sebuah kaum berawal dari fitnah atau berita bohong tersebut.

Bahaya fitnah

Dampak fitnah akan selalu menimbulkan kekacauan yang menyebabkan sesama muslim saling memperolok-olok, menghina, pertengkaran, bahkan sampai terjadi peperangan. Tercatat dalam banyak sejarah bagaimana para Nabi terdahulu harus terkucilkan, terdzalimi, dan bahkan harus terbunuh disebabkan berita hoax. Dan akhir-akhir ini sebuah negara seperti Iran, Libya, Syiria, Yaman, dan lainnya harus hancur luluh lantah berawal dari maraknya berita hoax yang disebar berulang-ulang sehingga dipercaya kebenarannya oleh orang awam. Sangat bahaya dampak dari fitnah ini. Perhatikan himbauan dan peringatan dari Nabi berikut agar umat Islam terhidar dari permusuhan dan pertikaian. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya. hartanya, dan kehormatannya.” (Hadits Muslim Nomor 4650)

Fitnah atau berita bohong yang dipercaya oleh orang-orang akan berdampak pada prasangka buruk sesama manusia sehingga pemicu terjadinya permusuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Hujurat Ayat 12)

Yang kita saksikan bersama akhir-akhir ini adalah, dampak dari munculnya perasangka buruk antar sesama adalah saling memperolok-olok dan saling merendahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Hujurat Ayat 11)

Itulah dampak buruk dan bahaya dari berita bohong yang sengaja disebarkan dengan tujuan menjatuhkan martabat seseorang.

Hukum menyebar fitnah

Dosa besar dan siksa pedih di neraka akan diterima bagi mereka yang dengan sengaja ikut menyebarkan fitnah. Berita bohong merupakan dosa terbesar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَبَائِرَ أَوْ سُئِلَ عَنْ الْكَبَائِرِ فَقَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالَ قَوْلُ الزُّورِ أَوْ قَالَ شَهَادَةُ الزُّورِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang dosa-dosa besar, atau ditanya tentang dosa-dosa besar, maka beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, membunuh jiwa, durhaka terhadap kedua orang tua” lalu beliau bersabda lagi, “Maukah kalian untuk aku beritahukan tentang dosa-dosa terbesar?” beliau bersabda lagi: “Perkataan dusta, ” atau beliau berkata: “Persaksian dusta (palsu).” (Hadits Muslim Nomor 128)

Para penyebar fitnah mulutnya akan dirobek-robek oleh Allah di akhirat kelak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Aku tadi malam bermimpi ada dua orang yang membawaku, keduanya berkata; “Dan yang kamu lihat seseorang yang dirobek-robek mulutnya adalah seorang pendusta yang selalu berbicara dengan kedustaannya hingga dibawanya sampai ke ufuk (cakrawala) sana, dan ia selalu seperti itu hingga datang hari Kiamat.” (Hadits Bukhari Nomor 5631)

Para penyebar fitnah dan pengadu domba akan disiksa di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

“Ketahuilah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa. Dan mereka berdua disiksa bukan karena melakukan dosa besar. Salah seorang di antara mereka disiksa karena suka mengadu-domba sedangkan yang lainnya disiksa karena tidak memasang satir saat kencing.” Kemudian beliau meminta pelepah kurma basah, lalu membelahnya menjadi dua. Kemudian beliau menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: “Semoga pelepah ini bisa meringankan siksa keduanya, selama ia belum kering.” (Hadits Muslim Nomor 439)

Sikap bijak menghadapi fitnah

Jangan tergesa-gesa menyebarkan berita

Menghindari timbulnya berbagai macam kerusakan, kekacauan, provokasi, ketakutan, dan kebingungan di tengah-tengah masyarakat akibat penyebaran berita bohong adalah dengan cara jangan tergesa-gesa ikut menyebarkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

التَّأَنِّي مِنَ اللهِ , وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 10/104)

Tidak semua yang kita dengarkan boleh kita sampaikan kepada orang lain, bisa jadi sebagian cerita dan berita tersebut merupakan kebohongan. Tidak jarang disebabkan terlalu bersemangat dalam bercerita pada akhirnya nafsu menambahkan cerita yang sebetulnya tidak ada dalam kenyataannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan.” (Hadits Muslim Nomor 6)

Tabayyun sebelum mempercayai berita

Jangan mempercayai sebuah berita sebelum dilakukan check and recheck. Apalagi berita yang daangnya dari orang fasik. Konfirmasi dan klarifikasi sebuah kebenaran berita akan lebih banyak manusia yang selamat menjadi korban berita bohong. Belum tentu semua berita itu benar dan valid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Tidak jarang seseorang menjadi korban bully, persekusi, atau bahkan harus kehilangan nyawa sebab telah lebih dulu menyebar sebuah berita bohong sebelum berita tersebut diperiksa kebenarannya. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk memeriksa suatu berita dengan teliti, yaitu mencari bukti-bukti kebenaran berita tersebut. Hindarilah terlibat dalam penyebaran berita bohong, sebab berita bohong merupakan perkara besar (dosanya) di sisi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ. وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”. (Surat An-Nur Ayat 15-16)

Kesimpulan

Penyebaran fitnah akan menimbulkan gejolak yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Fitnah juga sangat dibenci oleh Allah dan bahkan, terbilang dosa besar terbesar. Maka hindarilah untuk terlibat dalam penyebaran fitnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

“jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (Surat Al-Hajj Ayat 30)

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 17
    Shares