Fatwa Syaikh Albani “Dzikir Banyak Adalah Bid’ah”

Berikut penjelasan sekaligus bantahan dan sanggahan terhadap fatwa Syaikh Nashiruddin al-Albani seorang ulama Hadits yang dijadikan rujukan oleh golongan Salafi atau lebih dikenal dengan golongan Wahabi, namun tidak diakui dan ditolak keulamannya oleh kalangan Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni). Kalangan Sunni menolak keulamaan Syaikh Albani karena beberapa hal di antaranya keilmuan Syaikh Albani tidak bersanad (bersambung) sebab dalam belajar ilmu haditsnya tanpa guru (otodidak), dan fatwa-fatwanya di samping banyak menyelisihi ijma para ulama juga antara satu fatwa dengan fatwa lainnya saling bertentangan.

Salah satu fatwa yang kontroversial adalah Syaikh Albani membid’ahkan dzikir dengan hitungan yang banyak. Berikut kutipan fatwanya,

قد يقول قائل : إن العد بالأصابع كما ورد في السنة لا يمكن أن يضبط به العدد إذا كان كثيرا ، فالجواب : إنما جاء هذا الإشكال من بدعة أخرى و هي ذكر الله في عدد محصور كثير لم يأت به الشارع الحكيم ، فتطلبت هذه البدعة بدعة أخرى و هي السبحة ! فإن أكثر ما جاء من العدد في السنة الصحيحة ، فيما ثبت لدي إنما هو مئة ، و هذا يمكن ضبطه بالأصابع بسهولة لمن كان ذلك عادته (السلسلة الضعيفة ج 1 / ص 160)

“Jika ada yang bertanya: Sesungguhnya menghitung dengan jari sebagaimana yang ada dalam hadis tidaklah mungkin bisa digunakan apabila bilangan dzikirnya banyak. Jawabnya: Kejanggalan ini disebabkan dari bid’ah yang lain yaitu dzikir kepada Allah dalam hitungan tertentu yang banyak, yang tidak ada dalam syariat. Maka dzikir banyak ini menuntut bid’ah yang lain, yaitu tasbih (alat hitung dzikir). Sebab hitungan terbanyak sebuah dzikir dalam hadis yang sahih menurut saya hanya 100. Hal ini bisa menggunakan dengan jari dengan mudah bagi mereka yang terbiasa” (as-Silsilah adl-Dlaifah 1/160)

Ada dua pont yang dibid’ahkan dalam fatwa dia di atas, yakni;

  1. Berdzikir dengan jumlah yang banyak adalah bid’ah.
  2. Menghitung jumlah dzikir menggunakan tasbih (alat hitung dzikir) adalah bid’ah.

Tanggapan;

Sangat terlihat sekali bahwa fatwa Syaikh Albani hanya berdasarkan asumsi, dan nalar pribadinya saja tanpa didasari oleh dalil sama sekali. Di samping itu, fatwa Syaikh Albani bertentangan terhadap empat hal. Yakni,

Bertentan dengan Al-Qur’an,

Apa yang dikatakan oleh Syaikh Albani ini bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (Surat Al-Ahzab Ayat 41)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Ahzab Ayat 35)

Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang yang beriman untuk dzikir kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya tanpa batas (Baca Tafsir Ibnu Katsir), namun Syaikh Albani mengatakan bahwa dzikir banyak dengan jumlah tertentu adalah bid’ah. Bagi Albani semua bid’ah adalah sesat dan masuk neraka. Maka orang yang berdzikir banyak akan masuk neraka.

Bertentangan dengan Hadits

Fatwa Syaikh Albani tersebut juga tidak sesuai dengan banyak riwayat sahih. Di antaranya,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

“dari [Aisyah radliallahu ‘anha] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berdzikir dalam setiap waktunya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3306)

Terkait hadits di atas, anehnya fatwa Syaikh Albani menyelisihi komentarnya sendiri terhadap kesahihan Hadits tersebut. Sebagaimana komentar dari Ibnu Rajab al-Hanbali:

وقد ذكرنا قولَ عائشة : كان النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – يذكر الله على كلِّ أحيانه (أحمد 6/70 و153 ، والترمذي ( 3384) ، والمعنى : في حال قيامه ومشيه وقعوده واضطجاعه ، وسواء كان على طهارةٍ أو على حدث (جامع العلوم والحكم محقق – ج 52 / ص 9)

Telah kami sebutkan dari Aisyah bahwa Nabi Muhammad Saw berdzikir kepada Allah dalam setiap waktunya” HR Ahmad dan Turmudzi [Disahihkan sendiri oleh Albani]. Maknanya: baik ketika Nabi berdiri, berjalan, duduk, tidur, baik dalam keadaan suci atau hadats (Jami’ al-Ulum wa al-Hikam 52/9)

Sementara hadits-hadits tentang anjuran dan keutamaan berdzikir sebanyak-banyaknya tidak terbatas jumlahnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَنْبِئْنِي مِنْهَا بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ قَالَ لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ (رواه الترمذي رقم 3375 واحمد رقم 17716 وابن ماجه رقم 3793 وابن حبان رقم 814 والحاكم رقم 1822 والبيهقي في شعب الايمان رقم 512 والطبراني في الاوسط رقم 1441 وقال الحافظ فى الفتح 11 / 210 : صححه ابن حبان و الحاكم)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr bahwa ada seorang dari pedalaman bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Sesungguhnya syariat Islam telah banyak bagi saya, sampaikanlah pada saya sebagiannya yang bisa saya jadikan sebagai pegangan! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jangan hentikan mulutmu basah karena berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla” (HR Turmudzi No 3375, Ahmad No: 17716, Ibnu Majah No: 3793, Ibnu Hibban No: 814, al-Hakim No: 1822, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No: 512, dan al-Thabrani dalam al-Ausath No: 1441, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Hadis ini disahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim)

Begitu juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkan hitungan jumlah dzikir sepenuhnya terhadap umatnya. Beliau mengatakan “terserah”. Sebagaimana riwayat hadits berikut,

قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Berkata Ubai: Wahai Rasulullah, aku sering membawa shalawat untuk baginda, lalu seberapa banyak aku bershalawat untuk baginda? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terserah. ” Aku bertanya: Seperempat? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Setengah? Beliau menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Dua pertiga?”Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku berkata: Aku akan menjadikan seluruh doaku untuk baginda. Beliau bersabda: “Kalau begitu, kau dicukupkan dari dukamu dan dosamu diampuni. ” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. (HR. Tirmidzi No. 2381)

Seorang sahabat dibenarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat hitungan sendiri dalam dzikir istighfar:

أَيْنَ أَنْتَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ تَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Kemana kamu dari istighfar hai Hudzaifah? Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah tujuh puluh kali dalam sehari. ” (HR. Ibnu Majah No. 3807)

Sangat jelas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membatasi berapa jumlah hitungan dzikir yang harus diamalkan. Sebab semakin banyak dzikir maka akan semakin banyak pahala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ الذِّكْرَ وَيُقِلُّ اللَّغْوَ وَيُطِيلُ الصَّلَاةَ وَيُقَصِّرُ الْخُطْبَةَ وَلَا يَأْنَفُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَ الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ فَيَقْضِيَ لَهُ الْحَاجَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memperbanyak dzikir dan sedikit melakukan perbuatan sia-sia. Beliau juga memperpanjang shalat dan mempersingkat khutbah, serta tidak sungkan untuk berjalan bersama para janda dan orang-orang miskin lalu memenuhi kebutuhannya.” (Hadits Nasai Nomor 1397)

Bertentangan dengan ijma ulama

Apa yang dikatakan Albani ini hanya nalar pribadi tanpa dasar yang bertentangan dengan ijma mayoritas umat Islam, seperti amaliyah para sahabat, dan Tabiin. Justru banyak sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berdzikir dalam jumlah ribuan. al-Hafidz Ibnu Katsir berkata:

وروى الامام أحمد عن عكرمة قال: قال أبو هريرة: إني لاستغفر الله عز وجل وأتوب إليه كل يوم اثنتي عشرة ألف مرة، وذلك على قدر ديتي: وروى عبد الله بن أحمد عن أبي هريرة: أنه كان له خيط فيه اثنا عشر ألف عقدة يسبح به قبل أن ينام. وفي رواية ألفا عقدة فلا ينام حتى يسبح به، وهو أصح من الذي قبله. (البداية والنهاية – ج 8 / ص 120)

“Ahmad meriwayatkan dari Ikrimah, bahwa Abu Hurairah berkata: Sungguh saya meminta ampunan kepada Allah (istighfar) dan bertaubat setiap hari sebanyak 12.000 kali, hal ini sesuai dengan tebusan dosa saya. Abdullah bin Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Hurairah memiliki benang yang terdiri dari 12.000 ikatan yang ia gunakan sebelum tidur. Dalam riwayat lain sebanyak 2000 ikatan, Abu Hurairah tidak tidur hingga bertasbih dengannya. Riwayat ini lebih sahih dari sebelumnya” (al-Bidayah wa an-Nihayah 8/120)

Berapa jumlah Shalawat yang dibaca? Ibnu Qayyim menjelaskan:

عن الأعمش عن زيد بن وهب قال لي ابن مسعود رضي الله عنه يا زيد بن وهب لا تدع إذا كان يوم الجمعة أن تصلي على النبي ألف مرة تقول اللهم صل على محمد النبي الأمي (جلاء الأفهام – ج 1 / ص 87)

“Dari A’masy, dari Zaid ibnu Wahb, telah berkata Ibnu Mas’ud kepada saya: Wahai Zaid, jangan kau tinggalkan di hari Jumat untuk bersalawat kepada Nabi 1000 kali” (Jala’ al-Afham 1/87)

Begitu pula seorang Tabiin berikut ini:

وكان خالد بنُ معدان يُسبِّحُ كلَّ يوم أربعين ألف تسبيحة سوى ما يقرأ من القرآن ، فلما مات وضع على سريره ليغسل ، فجعل يُشير بأصبعه يُحركها بالتسبيح (أخرجه : أبو نعيم في ” الحلية ” 5/210 وتذكرة الحفاظ – ج 1 / ص 93)

“Khalid bin Ma’dan bertasbih setiap hari sebanyak 40.000 tasbih selain al-Quran. Ketika meninggal ia diletakkan di atas meja untuk dimandikan, ternyata jarinya bergerak bertasbih” (Abu Nuaim dalam al-Hilyah 5/210 dan adz-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffadz 1/93)

Maka, bagaimana mungkin Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lainnya melakulan perbuatan bid’ah yang sesat? Siapakah sebenarnya yang berbuat bid’ah; apakah Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud dan para sahabat atau Albani sendiri?

Dengan begitu, berdasarkan banyak riwayat hadits di atas, tidaklah benar jika berdzikir dengan batas lebih dari 100 sebagai perbuatan bid’ah seperti tuduhan tak berdasar dari Syaikh Albani di atas.

Bertentangan dengan mayoritas fatwa ulama Salafi

Fatwa Syaikh Albani bukan hanya bertentangan dengan nash Al-Qur’an, Hadits, dan fatwa para ulama Sunni. Namun fatwa Albani tersebut juga bertentangan dengan lebih banyak pendapat para ulama Salafi sendiri. Di antaranya fatwa ulama dari golongan Salafi sendiri Ibnu Qayyim, murid Ibnu Taimiyah, berkata:

عن قتادة عن أنس عن النبي أكثروا الصلاة علي يوم الجمعة وكان الصحابة رضي الله عنهم يستحبون إكثار الصلاة على النبي يوم الجمعة (جلاء الأفهام – ج 1 / ص 87)

“Dari Qatadah, dari Anas bahwa Rasulullah bersabda: Perbanyaklah salawat kepada saya di hari Jumat. Dan para sahabat menganjurkan memperbanyak salawat kepada Nabi di hari Jumat” (Jala’ al-Afham 1/87)

Bahkan sekelompok Ulama Salafi yang tergabung dalam Arsyif Multaqa Ahli Hadis memberi fatwa yang berbeda dari pernyataan Albani diatas:

فان قال قائل : أكثر ما ورد في العدد مائة، فهل يجوز الزيادة على ذلك؟ وهل يشترط أن يكون له ورد ؟ نقول وبالله التوفيق : أولا- جاء النص في أكثر من مائة ، عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم من قال: ( لا اله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير مائتي مرة في يوم لم يسبقه أحد كان قبله ولم يدركه أحد كان بعده إلا بأفضل من عمله ) روى الإمام أحمد في مسنده بسند صحيح حديث رقم 6740 ، 7005 ثانيا- فعل الصحابة الكرام – رضي الله عنهم – في ا لعد أكثر من مائة وهم الذين عاشوا في زمن الوحي وأشربوا مقاصد التشريع ، قال أبو هريرة – رضي الله تعالى عنه – :”إني لأستغفر الله وأتوب إليه كل يوم اثني عشر ألف مرة وذلك على قدر ذنبي” تذكرة الحفاظ 1/35 وأخرجه أبو نعيم في الحلية بسند صحيح وقال الحافظ السيوطي – رحمه الله – في المنحة : روى الحافظ عبد الغني في الكمال في ترجمة أبي الدرداء عويمر – رضي الله تعالى عنه – أنه كان يسبح في اليوم مائة ألف تسبيحة ، وذكر أيضا عن سلمة بن شيبيب قال كان خالد بن معدن يسبح في اليوم أربعين ألف تسبيحة.ا.هـ وأخرج الترمذي في الدعاء عن سلمة بن عمرو قال:كان عمير بن هاني يصلي كل يوم ألف ركعة ،ويسبح ألف تسبيحة (أرشيف ملتقى أهل الحديث 4 – ج 1 / ص 8893)

“Pertanyaan: Bolehkah membaca wirid diatas 100? Jawaban: Pertama; ada nas hadis yang menyebutkan lebih dari 100, yaitu 200 (HR Ahmad dengan sanad sahih). Kedua; perbuatan sahabat, mereka hidup di masa wahyu dan mengetahui tujuan-tujuan syariat, seperti Abu Hurairah beristighfar 12.000 kali.  Abu Darda’ bertasbih 100.000 dalam sehari. Khalid bin Ma’dan dalam sehari bertasbih 40.000 kali. Umair bin Hani’ salat dalam sehari 1000 rakaat dan bertasbih 1000 kali”

Hitungan dzikir dalam nash

Walaupun dzikir tidak dibatasi dengan jumlah hitungan, namun ada beberapa situasi di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengjitung jumlah dzikirnya. Berikut jumlah hitungan dzikir yang tertera dalam beberapa riwayat Hadits,

Dzikir dengan jumlah tiga kali

قَالَ ذَلِكَ (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ) ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ ذَكَرَ اللَّهَ وَسَبَّحَهُ وَحَمِدَهُ ثُمَّ دَعَا عَلَيْهَا بِمَا شَاءَ اللَّهُ فَعَلَ هَذَا حَتَّى فَرَغَ مِنْ الطَّوَافِ

Beliau mengucapkan hal tersebut (LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI IN QADIIR) sebanyak tiga kali, kemudian berdzikir kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya serta memujinya kemudian berdoa di atasnya dengan yang dikehendaki Allah, beliau melakukan hal ini hingga selesai dari thawafnya. (Hadits Nasai Nomor 2925)

كَلِمَاتٌ لَا يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِهِ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا كُفِّرَ بِهِنَّ عَنْهُ وَلَا يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ ذِكْرٍ إِلَّا خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ عَلَيْهِ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Ada beberapa bacaan, tidaklah seseorang membacanya tiga kali saat berdiri dari majlisnya kecuali Allah akan menghapus dosanya karenanya. Dan tidaklah seseorang yang mengucapkannya dalam masjlis yang baik dan majlis dzikir, kecuali dengannya Allah akan menutup amal baiknya sebagaimana kertas yang diakhiri dengan kalimat: ‘ALLAHUMMA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA (Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan taubat kepada-Mu).” (Hadits Abu Daud Nomor 4216)

Dzikir dengan jumlah sepuluh kali

خَلَّتَانِ لَا يُحْصِيهِمَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ يُسَبِّحُ أَحَدُكُمْ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا وَيَحْمَدُ عَشْرًا وَيُكَبِّرُ عَشْرًا فَهِيَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ فِي اللِّسَانِ وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ وَأَنَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهُنَّ بِيَدِهِ وَإِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ أَوْ مَضْجَعِهِ سَبَّحَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَهِيَ مِائَةٌ عَلَى اللِّسَانِ وَأَلْفٌ فِي الْمِيزَانِ

“Ada dua perkara yang jika dilakukan oleh orang muslim maka ia masuk surga. Kedua perkara tersebut ringan, namun jarang yang mengamalkannya.” Abdullah bin ‘Amru melanjutkan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda lagi: ‘Shalat lima waktu lalu setiap selesai shalat bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali. Semua hal tersebut bernilai seratus lima puluh di lisan dan seribu lima ratus di mizan (timbangan amal di akhirat). Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghitung dzikir dengan jari-jarinya, lalu bersabda: ‘Jika kalian hendak menuju kasur atau tempat tidur, hendaklah bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, serta bertakbir tiga puluh empat kali, maka hal itu bernilai seratus kali di lisan dan seribu di mizan.” (Hadits Nasai Nomor 1331)

Dzikir dengan jumlah tiga puluh tiga kali

مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ يُسَبِّحُ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَيَحْمَدُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَيُكَبِّرُهُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ

“Ada beberapa dzikir setelah shalat yang tidak merugikan bagi orang yang mengucapkannya, yaitu setiap selesai shalat bertasbih kepada Allah tiga puluh tiga kali, bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali, serta bertakbir kepada Allah tiga puluh empat kali.” (Hadits Nasai Nomor 1332)

Dzikir dengan jumlah tujuh puluh kali

أَيْنَ أَنْتَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ تَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Kemana kamu dari istighfar hai Hudzaifah? Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah tujuh puluh kali dalam sehari. ” (HR. Ibnu Majah No. 3807)

Dzikir dengan jumlah seratus kali

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ

“Barang siapa yang membaca laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lahuu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadir Tidak ada ilah (yang berhaq disembah) selain Allah Yang Maha Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh orang budak, ditetapkan baginya seratus hasanah (kebaikan) dan dijauhkan darinya seratus keburukan dan baginya ada perlindungan dari (godaan) setan pada hari itu hingga petang dan tidak ada orang yang lebih baik amalnya dari orang yang membaca doa ini kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (Hadits Bukhari Nomor 5924)

إِنَّهُ لَيُغَنُّ عَلَى قَلْبِي حَتَّى أَسْتَغْفِرَ اللَّهَ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sungguh, kalbuku akan terasuki kelalaian dari dzikir kepada Allah, sehingga saya beristighfar kepada Allah seratus kali.” (Hadits Ahmad Nomor 17175 dan Hadits Muslim Nomor 4870)

Hukum menghitung dzikir menggunakan alat “tasbih”

Berdzikir telah jelas manfaat dan pahalanya. Dan menghitung dzikir menggunakan alat “tasbih” sudah biasa kita lihat dilakukan oleh banyak kaum muslimin. Namun ketika Syaikh Albani dan golongan Salafi menghukumi menghitung dzikir menggunakan alat “tasbih” sebagai sesuatu amalan yang bid’ah, tentunya hal ini tidaklah benar.

Di antara pertimbangan pendapat Albani dan kaum Salafi tidaklah tepat adalah kenyataannya pada masa Salaf terdahulu para sahabat dan tabi’in sudah terbiasa menggunakan alat hitung tasbih untuk berdzikir. Tindakan para sahabat dan Salafus Shalih ini ternyata sangat dibenarkan oleh Nabi. Sebagaimana yang tergambar jelas dalam sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهَا أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ قَالَ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ

“dari [Aisyah binti Sa’d bin Abu Waqqash] dari [ayahnya] bahwa ia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui seorang wanita dan dihadapannya terdapat biji kurma, atau kerikil yang ia gunakan untuk bertasbih. Kemudian beliau berkata: “Maukah aku kabarkan kepadamu mengenai apa yang lebih ringan bagimu dari hal ini atau lebih baik? Yaitu mengucapkan; SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIS SAMAA’I, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIL ARDHI, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA BAINA DZALIK, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA HUWA KHALIQUN. ALLAAHU AKBAR MITSLA DZALIK, WAL HAMDULILLAAHI MITSLA DZAALIK, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHI MITSLA DZAALIK. (Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan di langit, Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptaan di bumi, Maha Suci Allah sebanyak apa yang ada diantara hal itu, Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan, Allah Maha Besar sebanyak itu, segala puji bagi Allah sebanyak itu, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah sebanyak itu). (Hadits Tirmidzi Nomor 3491 dan Hadits Abu Daud Nomor 1282)

Hadits tersebut derajatnya shahih (dapat dilihat dalam kitab ‘Aunul Ma’bud jilid IV hal 366). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits di atas menetapkan jumlah bilangan dzikir. Tidak dijelaskan secara langsung, melainkan menggunakan sya’ir. Hadits ini juga menjadi dasar atas bolehnya bertasbih dengan menggunakan alat tasbih (semacam biji kurma, kerikil dan lain sebagainya), karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjumpai seorang perempuan yang berdzikir dengan benda-benda semacam itu, beliau tidak mengingkari dan tidak melarangnya.

Kata yang Rasul sampaikan pada saat itu adalah أخبرك بما هو أيسر عليك من هذا أو أفضل “Akan kuberitahu kepadamu tentang sesuatu yang lebih mudah dan lebih utamadari hal ini”. Kata ini mengandung Irsyad (petunjuk). Sebuah arahan kepada perkara yang lebih utama, tidak menghilangkan kebolehan bertasbih dengan alat tasbih. (Lihat: Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, jilid IV, hal.366. Tuhfatul Ahwadzy Syarh Jami’ Turmudzi , Juz 9 hal. 366)

Dalam Hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ

“Hendaklah kalian bertasbih, tahlil dan taqdis (mengucapkan subhanal malikil qudus dan hitunglah dengan jari jemari, karena hal itu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap (apa yang ia lakukan) dan apa yang ia ucapkan. Dan janganlah kalian lalai, sehingga kalian melupakan rahmat (Allah).” (Hadits Tirmidzi Nomor 3507 dan Hadits Abu Daud Nomor 1283)

*Taqdis ialah ucapan سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ atau سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ المَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa ujung jari akan dimintai pertanggung jawaban dan akan ditanya, hal ini mengandung arti bahwa ujung jari tersebut menyaksikan tasbihnya seorang hamba, maka bertasbih dengannya adalah lebih utama dari pada bertasbih dengan alat tasbih. (Lihat: Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, jilid IV, hal. 366).

Di sini, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan “Maukah aku kabarkan kepadamu mengenai apa yang lebih ringan bagimu dari hal ini atau lebih baik?” bukan berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membatasi atau melarang bertasbih dengan menggunakan alat hitung “tasbih”, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya hendak menunjukkan alat dzikir tasbih yang lebih baik, lebih ringan, dan lebih praktis digunakan dalam kondisi dan situasi apapun dibanding harus repot-repot membawa alat hitung kemana-mana, yakni jari tangan. Pemberi tahuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan keutamaan berdzikir menggunakan tangan sebab, tangan yang dipergunakan dzikir akan menjadi saksi kelak di akhirat.

Hakim bin Ad-Dailamy mengatakan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash bertasbih dengan menggunakan kerikil. Ibnu Sa’ad mengatakan dalam Thabaqat bahwa Fatimah binti Husain bin Ali bin Abi Thalib juga bertasbih dengan tali yang diikat (dibuat simpul-simpul). Ibnu Sa’ad juga mengatakan bahwa Abu Hurairah bertasbih dengan menggunakan biji kurma yang dikumpulkan, dan ia memiliki benang yang dibuat seribu ikatan, ia tidak tidur kecuali setelah bertasbih dengannya. (Tuhfatul Ahwadzy Syarh Jami’ Turmudzy, Juz 9 hal. 367)

Dengan begitu tuduhan dan dakwahan Syaik Albani terhadap penggunaan alat hitung dzikir “tasbih” tidaklah dibenarkan sebab bertentangan dengan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ijma ulama. Untuk ebih jelasnya baca artikel terkait berikut,

Menghitung Dzikir Menggunakan Alat Tasbih

Kesimpulan

Sudah sangat jelas bahwa perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk hambanya berdzikir sebanyak-banyaknya adalah tanpa batas. Dianjurkan berdikir sebanyak-banyaknya adalah sebanyak yang disanggupi oleh masing-masing pengamalnya. Sedangkan kesanggupan seseorang sangat berbeda dengan orang lain, maka terkait dengan jumlah hitungan Allah menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing kesanggupan dari hambanya. Sebagaimana beberapa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا لَكُمْ بِهِ طَاقَةٌ

“Allah Tabaraka Wa Ta’ala tiada akan jenuh hingga kalian sendiri yang merasa jenuh, maka kerjakan amalan sesuai kemampuan kalian. ” (HR. Malik No. 240)

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Hai kaumku, beramallah (bekerja dan beribadah) sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan beramal (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 39)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit. “Dan bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia kan menekuninya.” (HR. Muslim No. 1305)

Jadi bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganjurkan berdzikir sebanyak-banyaknya sesuai dengan kesanggupan masing-masing, namun kemudian Syaikh Albani membatas-batasi jumlahnya, dengan begitu fatwa Syaikh Albani adalah bid’ah. Maksud bid’ah fatwanya di sini adalah bahwa Syaikh Albani telah berbohong atas nama Agama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Surat An-Nahl Ayat 105)

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat An-Nahl Ayat 116-117)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Hujurat Ayat 1)

Begitu juga fatwa Albani terkait pembid’ahan penggunaan alat hitung dzikir “tasbih” merupakan fatwa yang batal dan batil.

Oleh KH. Ainur Rofiq yang dikembangkan dari artikel “Bantahan Untuk Albani yang memfatwakan “Dzikir Banyak Adalah Bid’ah”” oleh Ustadz Muhammad Ma’ruf Khozin Surabaya

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 32
    Shares