Durhaka Kepada Orang Tua

Ketika diperhatikan kenapa para orang tua begitu bersemangat dan ikhlas merawat anak-anaknya. Di samping mereka sebagai harapan masa depan, anak juga sebagai amanah dari Allah yang harus dijaga sebaik-baiknya oleh orang tua. Setiap orang tua pasti bahagia memiliki seorang anak yang berbakti atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jasa dan kebaikan orang tua tidak ternilai harganya. Seperti perjuangan seorang ibu yang telah mempertaruhkan nyawa saat melahirkan anaknya. Begitu juga kedudukan ayah mencari rezeki untuk menghidupi keluarga setiap hari dengan mempertaruhkan keselamatan nyawanya di tempat kerjanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh (berbakti) yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Surat Al-Ahqaf Ayat 15)

Pengertian Durhaka

Durhaka (al-‘uquuq) berasal dari al-‘aqqu yang berarti al-qath’u yaitu memutus, membelah, merobek, atau memotong. Islam memandang sikap dan perkataan seorang anak bilamana melukai hati dan mengecewakan harapan orang tua adalah tindakan yang dianggap durhaka.

Jerih payah orang tua layak untuk dibalas kebaikan dari seorang anak. Setiap orang tua yang melahirkan dan memiliki anak pasti berharap menjadi anak shalih dan shalihah serta berbakti kepada orang tua. Namun faktanya tidak semua anak dapat berbakti kepada orang tua dengan banyak faktor yang melatar belakanginya. Keinginan orang tua anaknya berbakti berubah menjadi kedurhakaan pastilah akan berdampak kekecewaan. Islam sebagai agama sangat melarang anak durhaka kepada kedua orang tua (‘uqûqul wâlidain). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ وَمَنَعَ وَهَاتِ وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesunhgguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak wanita hidup-hidup dan serta membenci kalian dari qiila wa qaola (memberitakan setiaapa yang didengar), banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta”. (Hadits Bukhari Nomor 2231)

Bentuk kedurhakaan

Berikut beberapa bentuk kedurhakaan anak kepada orang tua yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits,

Berkata kasar

Berkata kasar menjadi bagian dari kedurhakaan. Berkata seperti “ah” dan semacamnya, atau membentak dan bersuara keras kepada orang tua merupakan kedurhakaan. Jangankan memukul atau melukai orang tua, berkata “ah” saja sangat dilarang oleh agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Surat Al-Isra’ Ayat 23)

Perasaan manusia yang umurnya semakin bertambah biasanya perasaannya semakin sensitif. Walaupun kita tidak bermaksud melukai perasaannya, namun bilamana ucapan kita kasar atau nada kita tinggi bisa jadi hal semacam itu menyebabkan perasaan orang tua nelangsa.

Bersikap buruk

Banyak sikap buruk yang menyebabkan seorang anak dianggap durhaka kepada orang tuanya. Di antara contoh sikap durhaka adalah memandang sepele orang tua saat anak telah sukses. Tidak menghormati. Tidak menuruti perintah yang baik. Membuat orang tua bersedih dan menangis Dengan alasan gengsi tidak mengakui sebagai orang tua di hadapan orang lain walaupun cuma bercanda. Selalu memberatkan beban orang tua dengan menuntut banyak hal. Dengan alasan memperhatikan anak dan istri lalu mengabaikan keadaan orang tua yang berjasa pada kesuksesan seorang anak. Meninggalkan orang tua di saat mereka mulai lemah dan tidak berdaya.

Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kedurhakaan seorang anak kepada orang tua, sebagaimana celaan seorang anak pada orang tua yang telah disebut dalam riwayat haditsnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مِنْ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Di antara dosa besar adalah seorang laki-laki mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ‘Apakah (mungkin) seorang laki-laki mencela orang tuanya? ‘ Beliau menjawab: “Ya. Dia mencela bapak seseorang lalu orang tersebut (membalas) mencela bapaknya, lalu dia mencela ibunya, lalu orang tersebut (membalas) mencela ibunya.” (Hadits Muslim Nomor 130)

Menelantarkan dan tidak melayani

Salah satu bentuk kedurhakaan seorang anak pada orang tuanya adalah menelantarkan orang tua saat mereka mulai lemah di usia senjanya dan tidak melayani orang tua saat orang tua membutuhkan seperti dalam kondisi sakit.

Kebaikan dan jasa orang semenjak kecil tidak berbalas bakti seorang anak. Anak durhaka adalah manakala tidak membalas kebaikan orang tua di mana mereka tidak pernah lelah melayani, merawat, menyusui, mengajari duduk dan berjalan, mengajari berbicara dan berbagai kemampuan lainnya.

Namun sebaliknya ketika orang tua mulai melemah dan pikun seorang anak durhaka akan menganggap orang tuanya sebagai beban. Sehingga tidak heran banyak kasus pada akhirnya orang tua berada di panti asuhan dan bahkan menggelandang di jalanan. Naudzubillah min dzalik.

Agar kita tidak termasuk anak durhaka maka layani kebutuhannya dan jaga orang tua di masa senjanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Surat Al-Ahqaf Ayat 15)

Azab bagi Anak Durhaka

Anak durhaka kepada orang tua akan mendapat azab di akhirat kelak. Dan akan ditimpa kesengsaraan hidup. Sebab hidupnya jauh dari restu orang tua. Berikut beberapa azab anak durhaka,

Menjadi syirik

Islam sebagai agama sangat melarang anak durhaka kepada kedua orang tua (‘uqûqul wâlidain), bahkan memasukkannya ke dalam dosa-dosa besar yang sebanding dengan syirik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْكَبَائِرُ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ ثُمَّ عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

“Seorang arab badui menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya; ‘Waya Rasulullah, apa yang dianggap dosa-dosa besar itu? ‘ Beliau menjawab: “Menyekutukan Allah” ‘Lantas selanjutnya apa? ‘ Tanyanya. Nabi menjawab: “Mendurhakai orang tua.” (Hadits Bukhari Nomor 6409)

Diharamkan surga

Anak durhaka menyebabkan orang tua kecewa berdampak diharamkan mencium aroma surga dan masuk kedalamnya. Nabi bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ وَالدَّيُّوثُ وَثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمُدْمِنُ عَلَى الْخَمْرِ وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى

“Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat; anak yang durhaka kepada orang tua, wanita yang menyerupai laki-laki, dan Dayyuts, yaitu seorang yang merelakan keluarganya berbuat kekejian. Dan tiga golongan mereka tidak akan masuk surga; anak yang durhaka kepada orang tua, pecandu khamer, dan orang yang selalu menyebut-nyebut pemberiannya.” (Hadits Nasai Nomor 2515)

Dibenci Allah

Anak durhaka kepada orang tua akan dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah terdapat pada ridha seorang bapak, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya seorang bapak.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1821)

Berlumur dosa

Agama sangat melarang perbuatan durhaka kepada orang tua. Bahkan termasuk dalam dosa besar yang setara dengan mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لَا يَسْكُتُ

“Tidak maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang termasuk dari dosa besar? Kami menjawab; “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.” -ketika itu beliau tengah bersandar, kemudian duduk lalu melanjutkan sabdanya: “Perkataan dusta dan kesaksian palsu, perkataan dusta dan kesaksian palsu.” Beliau terus saja mengulanginya hingga saya mengira beliau tidak akan berhenti.” (Hadits Bukhari Nomor 5519)

Mendapat adzab dunia

Anak durhaka kepada orang tua akan mendapat azab dunia. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Al-hakim dan al-Ashbahani, dari abu bakrah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersauba, “Setiap dosa akan diakhirkan oleh Allah sekehendak-Nya sampai hari kiamat, kecuali dosa mendurhakai kedua orang tua. sesungguhnya Allah akan menyegerakan (balasan) kepada pelakunnya didalam hidupnya sebelum mati”.

Dosanya sulit terampuni

Anak durhaka kepada orang tua dosa-dosanya sulit terampuni. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radliallahu ‘anha ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “dikatakan kepada orang yang durhaka kepada kedua orang tua, “berbuatlah sekehendakmu, sesungguhnya Aku tidak akan mengampuni. “Dan dikatakan kepada orang yang berbakti kepada orang tua, perbuatlah sekehendakmu, sesungguhnya Aku mengampunimu.” (HR. Abu Nu’aim).

Shalatnya sia-sia

Anak durhaka kepada orang tua shalatnya sia-sia. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Abu al-Hasan bin Makruf. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat orang dibenci kedua orang tuannya yang tidak menganiaya kepadannya”.

Penyebab kafir

Anak durhaka kepada orang tua telah dianggap bersifat kafir. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan membenci kedua orang tuamu. Barang siapa mengabaikan kedua orang tua, maka dia kafir”.

Pahala amal terhapus

Anak durhaka kepada orang tua segala amal perbuatannya dihapuskan. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga hal yang menyebabkan terhapusnya seluruh amal, yaitu syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, seorang alim yang dipermainkan oleh orang dungu dan jahil”.

Meskipun beberapa Hadits di atas kedudukannya lemah, namun hadits tersbut tidak masalah bila dijadikan sebagai dasar fadhailul a’mal atau sebagai hikmah terhadap azab-azab yang akan diterima manakala anak durhaka kepada orang tuanya.

Sangat jelas sekali bahwa durhaka kepada orang tua termasuk ke dalam dosa-dosa besar. Dosa dan siksaanya begitu pedih baik di dunia ataupun di akhirat. Semoga kita dihindari menjadi anak durhaka. Dan begitu juga semoga kita tidak memiliki keturunan yang durhaka kepada kita. Semoga kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk berbakti, menghormati dan memuliakan orang tua kita, amin.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 35
    Shares