Dalil-Dalil Kehujjahan Hadits

  1. Hadits Sebagai Sumber Ajaran Islam

Allah telah menurunkan Islam sebagai penutup agama samawi (langit). Untuk itu, Allah telah menurunkan Rasulullah dengan Al-Qur’an sebagai mu’jizat agung dan sebagai hujjah (dasar) segala kebutuhan. Adapun selain Al-Qur’an, ada dari Rasulullah baik perkataan ataupun perbuatan yang sering kita sebut sebagai hadits yang memberikan penjelasan tentang apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan perincian terhadap isi yang masih global.

Di dalam Al-Qur’an sendiri kita dapati perintah-perintah, akan tetapi tidak disertakan bagaimana pelaksanaannya, seperti misalnya perintah shalat, puasa dan sebagainya. Dalam hal yang demikian ini tidak lain kita harus melihat kepada hadits. Namun demikian, hadits juga merupakan wahyu dari Allah SWT. Terkadang hadits juga merupakan hasil ijtihad Rasul yang juga tercermin dari wahyu. Seperti firman Allah berikut:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm Ayat 3-4)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS.  An-Nisa’ Ayat 59)

  1. Dalil-dalil kehujjahan hadits

Yang dimaksud dengan kehujahan Hadits (hujjiyah hadits) adalah keadaan Hadits yang wajib dijadikan hujah atau dasar hukum (al-dalil al-syar’i), sama dengan Al-Qur’an dikarenakan adanya dalil-dalil syariah yang menunjukkannya. Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya Ushul Al-Fiqh Al-Islami, orang yang pertama kali berpegang dengan dalil-dalil ini di luar ‘ijma adalah Imam Asy-Syafi’I (w. 204 H) dalam kitabnya Ar-Risalah dan Al-Umm.

Menurut ulama ushul fiqh hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad baik ucapan, perbuatan, maupun ketetapan yang dapat dijadikan dalil hukum shara’. Oleh karena itu produk hadits ditempatkan sebagai sumber hukum islam setelah Al-Quran. Dalil yang menjelaskan terdapat dalam QS. Al-Nisa: 80

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS.  An-Nisa’: 80)

Persoalan yang kemudian muncul,apakah semua perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi merupakan sumber atau syariah atau bukan. Abd al-Muni’im al-Namr membagi hadits menjadi dua yaitu hadits syariah (hadits yang secara hukum wajib diikuti oleh kaum muslimin) dan hadits non syariah (hadits yang secara hukum tidak mengikat untuk di ikuti oleh kaum muslimin).

Adapun yang termasuk dalam kategori hadits syariah yaitu:

  1. Hadits yang timbul dari nabi dalam posisi dan kedudukannya sebagai al-tabligh yangharus mengkomunikasikan atau menyampaikan risalah islam kepada umat.
  2. Hadits-hadits yang timbul dari nabi dalam kedudukanya sebagai pemimpin kaum muslimin seperti mengutus tentara, pengelola harta negara, mengangkat hakim dan sebagainya.
  3. Hadits yang timbul dari nabi dalam kedudukannya sebagai hakim, yaitu ketika nabi menghukum dan menyelesaikan persengketaan yang terjadi di kalangan umatnya.

Adapun yang termasuk dalam kategori Non hadits syariah yaitu :

  1. Hadits yang berkenaan dengan kebutuhan setiap manusia pada umumnya seperti makan, minum,tidur dan sebagainya.
  2. Hadits yang yang berkenaan dengan pergaulan dan kebiasaan individu dan masyarakat seperti bercocok tanam, pengobatan, model pakaian dan sebagainya.
  3. Hadits yang berkaitan dengan pengaturan masyarakat dalam aspek-aspek tertentu, seperti menyebarkan pasukan ke pos-pos tertentu dalam peperangan, mengaturbarisan dan sebagainya.

Islam menempatkan hadits setingkat dibawah Al-Qur’an, artinya hadits adalah dasar Tasyri’ (penetapan hukum) sesudah Al-Qur’an yang dikuatkan oleh beberapa dalil.

  1. Dasar Keimanan

Orang yang beriman kepada Allah haruslah beriman kepada ke-Rasulan Muhammad SAW dengan menerima apa yang dia bawa. Allah berfirman,

وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ

“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya. (QS.  Al-An’am: 124)

Dan untuk meyakinkan bahwa yang disampaikan Rasulullah berasal dari Allah, ditegaskan kembali dalam firman-Nya,

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan berkatalah orang-orang musyrik: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya”. Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS.  An-Nahl: 35)

Setelah tertanam dalam hati tentang kewajban percaya kepada Rasul, dengan jelas Allah memerintahkan agar kita mengikuti apa yang dibawa oleh beliau. Seperti dalam firman Allah,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS.  Al-A’raf: 158)

  1. Dasar Al-Qur’an

Kembali kepada Allah berarti kembali kepada Al-Qur’an dan kembali kepada Rasul-Nya. Ada dua buah ayat mengenai hal ini, yakni;

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS.  Al-Hasyr: 7)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS.  An-Nisa’: 65)

  1. Dasar Hadits

Banyak  hadits yang menunjukkan kita harus mengikuti apa yang didatangkan Rasulullah :

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik Nomor 1395)

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abi Daud, Ibnu Majah, Tirmizi:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham, (HR. Ibnu Majah Nomor 42)

  1. Hadits yang diriwayatkn oleh Abu Daud :

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al -Qur’an dan yang semisal bersamanya (As Sunnah). (HR. Abu Daud Nomor 3988)

  1. Dasar Ijma’

Semua umat Islam sepakat untuk mengamalkan Sunah Nabi. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatab pernah berjongkok di depan Hajar Aswad seraya berkata: “Sungguh aku tahu bahwa engkau (hajar aswad) hanyalah sebuah batu, seandainya aku tidak melihat kekasihku (Rasulullah) menciummu dan mensalamimu pasti aku tidak akan mensalamimu dan menciummu.”

Pernah suatu ketika Ibnu Umar ditanya, sebagai mana yang diriwayatkan oleh Musnad Ahmad, kenapa tidak ditemukan tentang ketentuan sholat bagi musyafir dalam Qur’an, lalu beliau menjawab,”Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad kepada kita yang sebelumnya kita tak tahu apa-apa. Kita melakukan perbuatan sebagaimana beliau lakukan.”Dalam riwayat lain Ibnu Umar menambahkan,”Kita sebelumnya dalam kesesatan kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kita maka dengan petunjuk itulah ita berpegang.”

Perkataan Imam Syafi’i yang diungkap oleh As-Sya’roni dalam muqodimah Al-Mizanul Kubro, semuanya memberi pengertian bahwasegala pendapat Ulama harus kita tinggalkan jika berlawanan dengan suatu hadits yang shohih. Dan kita harus sadar, walaupun Al-Qur’an dan Hadits semuanya berasal dari Allah tapi kedudukan keduanya berbeda.

Kedudukan Al-Qur’an sebagai dasar Tasyri’ yang pertama dan Hadits sebagai dasar Tasyri’ yang kedua sesudahnya dengan alasan :

No Al-Qur’an Hadits
1 Kitabullah, lafazd dan maknanya berasal dari Allah SWT Walaupun ia juga merupakan wahyu, tetapi perwujudannya oleh Nabi sendiri (manusia)
2 Sebagai hukum dasar Sebagai pelaksanaannya, menerangkan atau mendatangakan apa yang belum didatangkan Al-Qur’an
3 Diterima dengan jalan Qoth’i, artinya yang diterima memang benar demikian Diterima dengan jalan Dzonni (sangkaan), keyakinan kita kepada hadits hanya secara global
4 Hadits sendiri  menyatakan bahwa kedudukannya adalah di bawah Al-Qur’an

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmizi bahwa ketika Nabi mengutus Mu’adz bin Jaba’ untuk menjadi hakim di Yaman beliau bertanya,” dengan apa engkau akan menetapkan hukum?”Muadz menjawab,” Kitabullah”beliau berrtanya lagi,”Jika tak kau dapati?”Mu’adz menjawab,”Sunah Rasulullah”, beliau bertanya lagi,”Kalau disana pun tidak kau dapati?”Mu’adz menjawab,” Aku akan berijtihad dengan akalku. Berikut redaksi hadits selengkapnya,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus Mu’adz ke Yaman, lalu beliau bertanya: “Bagaimana engkau memutuskan hukum?” ia menjawab; Aku memutuskan hukum dari apa yang terdapat di dalam kitabullah. Beliau bertanya lagi: “Jika tidak ada di dalam kitabullah?” ia menjawab; Dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bertanya: “Jika tidak terdapat di dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab; Aku akan berijtihad dengan pendapatku. Beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi Nomor 1249)

  1. Keingkaran terhadap Kehujjahan As-Sunah
  2. Pada Masa Muttaqodimin

Sebagaimana yang disebutkan Imam Syafi’i ,ini terjadi di Bashroh, yang merupakan markas kaum Mu’tazilah. Mereka adalah orang-orangyang menentang para ahli hadits. Beberapa alasan mereka adalah sebagia berikut :

  1. Mereka meragukan kebenaran sanad. Hal ini disebabkan adanya perowi yang salah atau ragu bahkan ada yang berdusta dan pembuat hadits palsu.
  2. Mereka beranggapan bahwa Al-Qur’an telah mencakup menjelasan segala sesuatunya dengan cukup. Dalam hal ini terjadilah As-sunah bersifat dzonni tsubutnya (samar ketetapan hukumnya), bertentangan dengan Al-Qur’an yang bersifat Qoth’i tsubutnya( sudah pasti ketetapannya).

Ada pula kelompok yang menolak kuhujjahan Sunah, yakni kaum Syi’ah dari kelompok Raflidoh. Karena keyakinan mereka bahwa sesungguhnya kenabian adalah hak Ali r.a, dan jatuh ketangan Muhammad adalah kekeliruan malaikat Jibril menyampaikannya. Untuk menjawab keingkaran yang terjadi perlu disampaikan adalah Ulama tidak asal saja menerima riwayat. Mereka melakukan penyaringan ketat terhadap perowi hadits baik dari segi keadilan maupun ke-dhobithannya.

  1. Pada Masa Mutaakhihirin (dewasa ini)

Diantara tokoh yang menghidupkan kembali persoalan itu adalah Dr.Taufiq Shidqi. Dia menulis pada majalah Al Manar edisi 7 dan 12 dengan judul “Islam huwa Al-Qur’an”. Di dalamnya dipaparkan dasar untuk mengingkari sunah, yaitu:

  1. Firman Allah dalam QS. An-An’am :38 dan QS.An-Nahl :89

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS.  Al-An’am: 38)

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS.  An-Nahl: 89)

Menurutnya kedua ayat tersebut telah mencakup segala sesuatu tentang agama, telah disampaikan hukum bahkan perinciannya. Dia menambahkan, adalah mustahil kalau ada yang tercecer dalam Al-Qur’an sedang Allah menjamin itu tidak akan terjadi.

  1. Allah menjamin keselamatan Al-Qur’an sebagaimana yang terdapat Qs. Al-Hijr: 9. Seandainya sunah merupakan hujjah dalam islam, pasti difirmankan tentang penjagaan hadits.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS.  Al-Hijr: 9)

  1. Seandainya sunah merupakan Hujjah, tentu nabi akan memerintahkan sahabat untuk menulisnya, dan mereka akan mengumpulkan dan membukukannya. Sebagaiman tersebut QS. Al-Isro’: 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS.  Al-Isra’: 36)

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun”. Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. (QS. Al-An’am: 148)

  1. Riwayat dari nabi sendiri bahwa sunah bukalah hujjah dalam islam, sabda nabi :

“Sesungguhnya hadits akan tersebar dariku, maka apabila hadits itu mendatangkan sesuatu yang sesuai dengan Al-Qur’an berarti dia benar dariku, akan tetapi apabila itu membawa sesuatu yang membawa sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an, maka itu bukan dari aku.”

  1. Sesuatu yang baru yang belum pernah disampaikan Al-qur’an, berarti bertentangan dengan Al-Qur’an dan tidak bisa menjadi hujjah. Jika apa yang disampaikan dalam hadits sudah ada dalam Al-qur’an, untuk apa mengambil hadits dan tidak mengambil langsung dari Al-Qur’an.
  2. Jawaban Terhadap Keingkaran Sunah

Terhadap dalil yang disampaikan oleh para pengingkar dipembahasan sebelumnya dapat dierikan jawaban sebagai berikut :

  1. Yang terkandung dalam al-Qur’an itu sifatnya global dan pokok-pokok, hanya sebagian yang diungkapkan secara jelas dan terperinci. Dan bagian penjelasan itulah yang diserahkan kepada Rasulullah melalui haditsnya.
  2. Jaminan Allah untuk menjaga Adz-Dzikr bukanlah berarti hanya Al-Qur’an tetapi mencakup As-Sunah dan segenap syari’at dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Hal ini dapat dibuktikan dalam QS. An-Nahl: 43 yang berbunyi:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. An-Nahl: 43)

  1. Semuanya bukanlah bermaksud untuk memalsukan hadits, tetapi menurut Muhammad Abu Zahwin adalah karena ‘uzur yang memaksa atau ijtihad mereka disebabkan ada perubahan dalam masyarakat.
  2. Tidak benar ketika disebutkan para ulama pada abad kedua menilai keshohihan hadits hanya dari segi matannya. Mereka menyaring hadits dan membuat ketentuan dalam prosesnya dari segi matan dan sanadnya.
  3. Tindakan mereka itu adalah tindakan kaum orientalis yang tidaklah benar. Mereka melontarkan tuduhan itu karena terbawa oleh kebencian mereka terhadap islam dan berusaha kuat untuk merobohkan islam.
  4. Fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman hidup, sumber hokum dan ajarandalam islam, antara satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Keduanyamerupakan satu kesatuan Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama banyakmemuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global. Oleh karena itu kehadiranhadits, sebagai sumber ajaran kedua tampil untuk menjelaskan keumuman isi Al-Qur’an  tersebut.

Allah SWT menurunkan Al-Qur’an bagi umat manusia, agar Al-Qur’an inidapat di pahami oleh manusia, maka Rasul SAW diperintahkan untuk menjelaskankandungan dan cara-cara melaksanakan ajarannya kepada mereka melalui hadits-haditsnya. Oleh karena itu, fungsi hadits Rasul SAW  sebagai penjelas Al-Qur’an tersebut bermacam-macam, yaitu :

  1. Bayan at-Taqrir

Bayan at-taqrir disebut juga dengan bayan at-ta’kid dan bayan al-itsbat. Yang dimaksud dengan bayan ini, ialah menetapkan dan memperkuat apa yang telahditerangkan dalam Al-Qur’an. Fungsi hadits dalam hal ini hanya memperkokoh isikandungan Al-Qur’an.

  1. Bayan at-Tafsir

Yang dimaksud dengan bayan at-tafsir adalah bahwa kehadiran haditsberfungsi untuk memberikan rincian dan tafsiran terhadapayat-ayat Al-Qur’an yang masih bersifat mujmal memberikan persyaratan atau batasan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat mutlak dan mengkhususkan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang masihbersifat umum. Diantara contoh tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang masih mujmal adalah perintah mengerjakan shalat, puasa, zakat, di syariatkannya jual beli, nikah, qishas dan sebagainya.Ayat-ayat Al-Qur’an tentang masalah ini masih bersifat mujmal, baik mengenai cara mengerjakan, sebab-sebabnya, syarat-syarat, atau halangan-halangannya. Oleh karenaitu,melalui haditsnya menafsirkan danmenjelaskan masalah-masalah tersebut.

  1. Bayan at-Tasyri’

Yang dimaksud dengan bayan at-tasyri’ adalah mewujudkan suatu hokumatau ajaran-ajaran yang tidak di dapati dalam Al-Qur’an, atau dalam Al-Qur’an hanya terdapat pokok-pokoknya saja.Hadits Rasul SAW dalam segala bentuknya (baik yang qauli, fi’li, maupuntaqriri) berusaha menunjukkan suatu kepastian hokumterhadap berbagai persoalan yang muncul, yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an.Beliau berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh para sahabat atau yang tidak diketahuinya, dengan menunjukan bimbingan dan menjelaskan duduk persoalannya. Hadits-hadits rasul SAW yang termasuk dalam kelompok ini, diantaranya hadits tentang penetapan haramnya mengumpulkan syuf’ah, hokummerajam pezina wanita yang masih perawan, dan hokum tentang  hak waris bagiseorang anak.

  1. Bayan an-Nasakh

Dalam bayan jenis ini terjadi perbedaan pendapat  yang sangat tajam. Ada yang mengakui dan menerima fungsi hadits sebagai nasikh terhadap sebagian hukum Al-Qur’an dan ada juga yang menolaknya.

Kata nasakh secara bahasa berarti ibthal (membatalkan), izalah (menghilangkan), tahwil (memindahakan), dan taghyir (mengubah).Para ulamamengartikan bayan an-nasakh ini banyak yang melalui pendekatan bahasa, sehinggadiantara mereka terjadi perbedaan pendapat antara ulama mutaakhirin dengan ulamamutaqaddimin.Menurut pendapat yang dapat di pegang dari ulama mutaqaddimin, bahwa terjadinya nasakh ini karena adanya dalil syara’ yang mengubah suatu hukummeskipun jelas, karena telah berakhir masa keberlakuannya serta tidak biasdiamalkan lagi, dansyari’ menurunkan ayat tersebut tidak di berlakukan untukselama-lamanya.

Jadi, intinya ketentuan yang dating kemudian tersebut menghapus ketentuan yang datang terdahulu, karena yang terakhir dipandang lebih luas dan lebih cocokdengan nuansanya. Ketidakberlakuan suatu hokum harus memenuhi syarat-syaratnya yang ditentukan, teruta masyarat/ketentuan adanya naskh dan mansukh. Padaakhirnya, hadits sebagai ketentuan yang dating kemudian dari pada Al-Qur’an dapatmenghapus ketentuan dan isi kandung Al-Qur’an.Demikianmenurutpendapat paraulama yang menganggapadanyabayan an-nasakh. Kelompok yang membolehkanadanya nasakh jenis ini adalah golongan mu’tazilah, hanafiyah, dan madzhab IbnuHazm Al-Dhahiri.

Hanya sajamu’tazilah membatasi fungsi naskhinihanya berlaku untuk hadits-hadits yang mutawatir.Sebab al-kitab itu nasakhnya diriwayatkan secara mutawatir.Sementara golongan hanafiyah yang dikenalagaklonggardalamhalnasakh Al-Qur’an dengan sunnah ini, tidak mensyaratkan haditsnya mutawatir, bahkan hadits masyhur (yang merupakanhaditsahad) pun juga bisa menasakh hukum sebagian ayat      Al-Qur’an. Bahkan Ibnu Hazm sejalan dengan adanya naskh kitab dengan sunnah inimeskipun dengan hadit sahad. Ibnu Hazm memandang bahwa naskh termasukbagian bayan Al-Qur’an. Sementara yang menolak naskh jeni sini adalah imam Syafi’i dan sebagian besar pengikutnya. Meskipun naskh tersebut dengan hadits yang mutawatir. Kelompok lain yang menolak adalah sebagian besar pengikut madzhabzhahiriyah dan kelompok khawarij.

Sumber

Katagori: Ulumul hadits