Cinta Tanah Air Menurut Islam

Pendahuluan

Mengutip pandangan Ustadz Supriyono bahwa Nasionalisme berasal dari kata nation (B. Inggris) yang berarti bangsa. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata bangsa memiliki beberapa arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berperintahan sendiri; (2) golongan manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal usul yang sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan, dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi (Lukman Ali. Dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1994, hal. 98).

Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua pengertian: paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa. Nasionalisme dalam arti sempit dapat diartikan sebagai cinta tanah air. Selanjutnya, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan nasionalisme yaitu nasionalisme dalam arti sempit.

Al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat mendefinisikan tanah air dengan al-wathan al-ashli.

اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ

Artinya; al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya. (Ali Al-Jurjani, al-Ta’rifat, Beirut, Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1405 H, halaman 327)

Hukum mencintai

Tidak ada yang salah dengan rasa cinta. Allah membekali setiap orang memiliki rasa cinta. Ketika rasa cinta itu sedang merekah, pasti pemiliknya akan merasa bahagia. Hukum dasar mencintai dalam agama Islam adalah mubah, sebab hal ini tergolong dalam tabi’at asal penciptaan manusia. Manusia boleh mencintai apapun selain cintanya kepada Allah. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Surat Ali ‘Imran Ayat 14)

Begitu juga mencintai tanah air, tanah kelahiran, negeri, atau mencintai tanah tumpah darah statusnya juga sama dengan mencintai perkara-perkara yang lainnya. Cinta negeri sama halnya cinta jiwa dan harta; merupakan tabiat dan fitrah manusia.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penuturan para ahli tafsir adalah Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 85,

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Tanah Air). Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”.(Surat Al-Qasas Ayat 85)

Para mufassir dalam menafsirkan kata “معاد” terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada yang menafsirkan kata “معاد” dengan Makkah, akhirat, kematian, dan hari kiamat. Namun menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat yang lebih mendekati yaitu pendapat yang menafsirkan dengan Makkah (sebagai tanah air Nabi dan kaum muslimin).

Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:

وفي تَفسيرِ الآيةِ إشَارَةٌ إلَى أنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإيمانِ، وكَانَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ كَثِيرًا: اَلْوَطَنَ الوَطَنَ، فَحَقَّقَ اللهُ سبحانه سُؤْلَهُ ……. قَالَ عُمَرُ رضى الله عنه لَوْلاَ حُبُّ الوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوءِ فَبِحُبِّ الأَوْطَانِ عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.

Artinya: “Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”. (Ismail Haqqi al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut, Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442)

Seluruh manusia berperan serta dalam kecintaan ini, baik dia kafir maupun mukmin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung (tanah air)mu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka.” (Surat An-Nisa’ Ayat 66)

Syekh Wahbah Al-Zuhaily dalam tafsirnya al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj menyebutkan:

وفي قوله: (أَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) إِيْمَاءٌ إِلىَ حُبِّ الوَطَنِ وتَعَلُّقِ النَّاسِ بِهِ، وَجَعَلَه قَرِيْنَ قَتْلِ النَّفْسِ، وَصُعُوْبَةِ الهِجْرَةِ مِنَ الأوْطَانِ.

Artinya: “Di dalam firman-Nya (وِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) terdapat isyarat akan cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.” (Wahbah Al-Zuhaily, al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj, Damaskus, Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, 1418 H, Juz 5, hal. 144)

Pada kitabnya yang lain, Tafsir al-Wasith, Syekh Wahbah Al-Zuhaily mengatakan:

وفي قَولِهِ تَعَالى: (أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ) إِشَارَةٌ صَرِيْحَةٌ إلَى تَعَلُقِ النُفُوْسِ البَشَرِيَّةِ بِبِلادِها، وَإِلَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مُتَمَكِّنٌ فِي النُفُوْسِ وَمُتَعَلِقَةٌ بِهِ، لِأَنَّ اللهَ سُبْحانَهُ جَعَلَ الخُرُوْجَ مِنَ الدِّيَارِ وَالأَوْطانِ مُعَادِلاً وَمُقارِنًا قَتْلَ النَّفْسِ، فَكِلَا الأَمْرَيْنِ عَزِيْزٌ، وَلَا يُفَرِّطُ أغْلَبُ النَّاسِ بِذَرَّةٍ مِنْ تُرابِ الوَطَنِ مَهْمَا تَعَرَّضُوْا لِلْمَشَاقِّ والمَتَاعِبِ والمُضَايَقاتِ.

Artinya: Di dalam firman Allah “keluarlah dari kampung halaman kamu” terdapat isyarat yang jelas akan ketergantungan hati manusia dengan negaranya, dan (isyarat) bahwa cinta tanah air adalah hal yang melekat di hati dan berhubungan dengannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan keluar dari kampung halaman dan tanah air, setara dan sebanding dengan bunuh diri. Kedua hal tersebut sama beratnya. Kebanyakan orang tidak akan membiarkan sedikitpun tanah dari negaranya manakala mereka dihadapkan pada penderitaan, ancaman, dan gangguan.” (Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir al-Wasith, Damaskus, Dar Al-Fikr, 1422 H, Juz 1, hal. 342)

Ayat Al-Qur’an selanjutnya yang menjadi dalil cinta tanah air, menurut ahli tafsir kontemporer, Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi yaitu pada QS. At-Taubah ayat 122,

۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepada (tanah air-negeri)nya, supaya mereka itu dapat menjaga (kehormatan) dirinya.” (Surat At-Taubah Ayat 122)

Syekh Muhammad Mahmud al-Hijazi dalam Tafsir al-Wadlih menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:

وتُشِيرُ الآيةُ إلى أنَّ تَعَلُّمَ العلمِ أَمْرٌ واجِبٌ على الأمَّةِ جَميعًا وُجُوبًا لا يَقِلُّ عَن وُجوبِ الجِهادِ والدِّفاعُ عَنِ الوَطَنِ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ، فَإِنَّ الوَطَنَ يَحْتاجُ إلى مَنْ يُناضِلُ عَنْهُ بِالسَّيفِ وَإِلَى مَنْ يُنَاضِلُ عَنْهُ بِالْحُجَّةِ وَالبُرْهَانِ، بَلْ إِنَّ تَقْوِيَةَ الرُّوحِ المَعْنَوِيَّةِ، وغَرْسَ الوَطَنِيَّةِ وَحُبِّ التَّضْحِيَةِ، وَخَلْقَ جِيْلٍ يَرَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ، وَأَنَّ الدِّفَاعَ عَنْهُ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ. هَذَا أَسَاسُ بِنَاءِ الأُمَّةِ، ودَعَامَةُ اسْتِقْلَالِهَا.

Artinya: “Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat secara keseluruhan, kewajiban yang tidak mengurangi kewajiban jihad, dan mempertahankan tanah air juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang (senjata), dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahwasannya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang berwawasan ‘cinta tanah air sebagian dari iman’, serta mempertahankannya (tanah air) adalah kewajiban yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kemerdekaan mereka.” (Muhammad Mahmud al-Hijazi, Tafsir al-Wadlih, Beirut, Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, hal. 30)

Ayat-ayat di atas sebagaimana telah jelaskan oleh para mufassir dalam kitab tafsirnya masing-masing merupakan dalil cinta tanah air di dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Degan begitu hukum mencintai tanah air hukumnya boleh, dan bahkan cenderung wajib manakala negeri di mana seseorang tinggal menjamin harga dirinya, jiwa raganya, dan bahkan menjamin agamanya. Sebab ikatan yang terbangun sejak kecil sangat kuat, tabiat manusia diciptakan akan selalu mencintai tanah kelahirannya, baik seorang yang beriman maupun orang-orang kafir. Sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh ayat di atas.

Mencintai tanah air merupakan sunnah Nabi

Di samping dalil-dalil Al-Qur’an memperbolehkan dan dalam situasi tertentu hukumnya wajib mencintai dan membela tanah airnya. Mencintai tanah air juga merupakan kesunnahan yang telah dicontohkan sendiri oleh Nabi. Sebab, mencintai tanah air merupakan hal yang sifatnya alami terjadi pada diri setiap manusia. Karena sifatnya yang alamiah melekat pada diri manusia, maka hal tersebut tidak dilarang oleh agama Islam, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai Islam.

Kecintaan terhadap tanah air merupakan simbol dari ikatan batin yang sangat dalam bagi seseorang, di mana dia mengalami suka dan duka sepanjang sejarah seseorang tinggal dan dilahirkan di sana. Kecintaan kepada tanah air sebagai tabi’at setiap orang yang positif dan tidak sedikitpun bertentangan denangan ajaran agama Islam.

Untuk hal ini bahkan Nabi sendiri terang-terangan menunjukkan dan mencontohkan kepada umatnya bagaimana kecintaan beliau kepada tanah kelahirannya (Makkah) dan tanah airnya (Madinah) di mana beliau tinggal. Dalam beberapa riwayat Hadits menujukkan Nabi begitu cintanya kepada tanah airnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, Beliau mempercepat jalan unta Beliau dan bila menunggang hewan lain Beliau memacunya karena (kerinduan dan) kecintaannya (kepada Madinah).” (Hadits Bukhari Nomor 1753 dan Hadits Tirmidzi Nomor 3363)

Mengomentari hadits di atas, dalam Fath al-Bari, Jilid III, hal. 621, al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini menunjukkan keutamaan kota Madinah dan disyariatkannya cinta tanah air.”

Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini (wafat 855 H) dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan:

وَفِيه: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ

Artinya; “Di dalamnya (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.” (Badr Al-Din Al-Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)

Imam Jalaluddin Al-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih menyebutkan:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا»، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: جُدُرَاتِ، تَابَعَهُ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ. (درجات): بفتح المهملة والراء والجيم، جمع “درجة”، وهي طرقها المرتفعة، وللمستملي: “دوحات” بسكون الواو، وحاء مهملة جمع دوحة، وهي الشجرة العظيمة. (أوضع): أسرع السير. (مِنْ حُبِّها) أي: المدينةِ، فِيْهِ مَشْرُوعِيَّةُ حُبِّ الوَطَنِ والحَنينِ إليه.

Artinya: “Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengkabarkan padaku Humaid, bahwasannya ia mendengar Anas radliallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Bercerita kepadaku Qutaibah, bercerita padaku Ismail dari Humaid dari Anas, ia berkata: dinding-dinding. Harits bin Umair mengikutinya.” (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih, Riyad, Maktabah Al-Rusyd, 1998, Juz 3, hal. 1360)

Sependapat dengan Ibn Hajar Al-Asqalany, Imam Suyuthi di dalam menjelaskan hadits sahabat Anas di atas, memberikan komentar: di dalamnya (hadits tersebut) terdapat unsur disyari’atkannya cinta tanah air dan merindukannya.

Kecintaan terhadap sebuah negeri yang menjadi tumpah darahnya sangat disunnahkan, sebagaimana yang dicontohkan Nabi yang sangat cinta kepada Makkah sebagai tanah kelahirannya, dan cinta kepada Madinah sebagai tanah airnya di mana beliau hidup dan memperjuangkan agama Islam di sana. Sebagai wujud kecintaan Nabi pada kedua kota tersebut adalah senantiasa mengunjungi Makkah, menjaga Madinah serta mendoakan kedua kota tersebut. Sebagaimana doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang ditunjukkan pada riwayat hadits berikut,

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا وَصَاعِنَا

“Ya Allah, berilah kecintaan kami terhadap Madinah sebagaimana kecintaan kami terhadap Makkah atau lebih cinta lagi, dan pindahkanlah demamnya ke daerah Juhfah, ya Allah berkahilah kami di mud dan sha’ kami.” (Hadits Bukhari Nomor 5895, Hadits Muslim Nomor 2444, dan Hadits Malik Nomor 1385)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran beliau, Makkah. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

“Dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Alangkah baik (cantik-indah)nya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR Ibnu Hibban)

Kecintaan Nabi terhadap kota Makkah tidak melebihi cinta beliau terhadap kota-kota lain, sebab kota Makkah merupakan tanah air, tumpah darah, dan tempat kelahiran Nabi. Begitu hebatnya kecintaan Nabi pada tanah airnya, yang ditunjukkan dengan puji-pujian terhadap kota ini dalam sabdanya,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَّةَ مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kota Makkah: “Alangkah bagusnya dirimu wahai Makkah dan alangkah cintanya diriku terhadap dirimu, seandainya kaumku tidak mengeluarkanku darimu, niscaya saya tidak akan bertempat tinggal melainkan di selain tanahmu.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan shahih gharib melalui jalur ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3861 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 3922)

Dengan begitu, mencintai tanah air sebagai wujud nasionalisme juga merupakan kesunnahan agama yang mana Nabi telah mencontohkannya.

Membela tanah air setara dengan jihad

Setiap muslim wajib membela tanah airnya manakala para pemimpinnya telah menyeru untuk itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (Surat An-Nisa’ Ayat 59)

Apalagi manakala seorang pemimpin dalam sebuah negeri telah menyerukan untuk melawan pihak-pihak yang hendak menghancurkan sebuah negeri (tanah air) yang telah damai, maka sebagai warga dari sebuah negeri yang baik, maka wajib hukumnya ikut membela untuk mempertahankan tanah airnya sebagai bentuk kecintaannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ

“Bila datang kepadamu seseorang (pemberontak dari dalam atau penjajah dari luar) yang hendak mematahkan tongkatmu (memecah belah-menghancurkan jama’ah/penduduk sebuah negeri) atau memecah belah persatuan kalian, maka perangilah dia.” (Hadits Muslim Nomor 3443)

Jika terbunuh sebab mencintai, mempertahankan, membela, dan apalagi memperjuangkan kehormatan harta benda, kehormatan jiwanya, kehormatan agama, kehormatan keluarga, dan kehormatan tanah kelahiran akan dinilai setara dengan pahala jihad oleh Allah. Dari Sa’id bin Zaid ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Barang siapa yang terbunuh mempertahankan hartanya maka ia adalah syahid, barang siapa yang terbunuh mempertahankan keluarganya maka ia adalah syahid, barang siapa yang terbunuh mempertahankan agamanya ia adalah syahid dan barang siapa yang terbunuh mempertahankan darahnya maka ia adalah syahid.” (Hadits Nasai Nomor 4027 dan Hadits Tirmidzi Nomor 1341)

Meskipun dalam hadits tersebut tidak disebutkan tanah air secara jelas, namun tanah kelahiran juga merupakan salah satu kehormatan yang dimiliki setiap manusia. Maka mati ketika membela tanah air itu kedudukannya tentunya lebih pantas lagi menerima status syahid. Sebab harta dan keluarga ada di dalam tanah airnya.

Kecintaan kita kepada tanah air harus lebih ditambah bilamana negeri tersebut ramah terhadap umat Islam dan mendukung tegaknya nilai-nilai agama Islam. Bukan hanya cinta, bahkan kita wajib membela negeri tersebut sebagai bentuk jihad di jalan Allah. Sebagaimana firman Allah yang mewajibkan patuh pada penguasa suatu negeri, walaupun bukan negeri muslim di mana negeri tersebut menjamin kehidupan dan agama seorang muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Surat Al-Mumtahanah Ayat 8)

Apalagi nilai jihad akan semakin tinggi manakala membela sebuah negeri di mana para pemimpinnya mendukung tegaknya nilai-nilai Islam. Sebuah negeri di mana kaum muslimin memiliki keleluasaan untuk mengamalkan ajaran agamanya. Baik negara tersebut negara Islam ataupun bukan negara Islam, maka hukumnya lebih wajib untuk membelanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai seorang laki-laki yang berperang supaya dikatakan pemberani, berjuang karena membela kesukuan dan berjuang karena ingin dipuji, maka manakah yang disebut berjuang di jalan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Barangsiapa berjuang untuk menegakkan kalimat Allah setinggi-tingginya, maka itulah yang disebut berjuang di jalan Allah.” (Hadits Muslim Nomor 3525 dan Hadits Bukhari Nomor 2894)

Bila tidak memiliki kemampuan membela tanah air

Namun begitu, manakala sudah sangat nyata tidak memiliki kemampuan dan tidak mungkin mampu untuk melawan penjajah, pemberontak, atau pemerintah yang dzalim sehingga mengancam harkat dan martabat hidup dan agamanya. Maka diperkenankan untuk terlebih dahulu menghindar dengan berhijrah meninggalkan tanah airnya hingga kemampuan tersebut dimiliki. Agar penindasan tidak terjadi berulang-ulang terhadap orang-orang lemah yang menjadi tanggung jawab kita. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (tanah airnya)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,” (Surat An-Nisa’ Ayat 97)

Sikap muslim menghadapi dua negeri muslim yang sedang bertikai

Sikap seorang muslim sudah sangat jelas manakala yang dihadapi rongrongan dari pihak yang tidak pro Islam terhadap negeri yang pro Islam. Lalu bagaimana sikap kita manaka menghadapi situasi yang mana pertikaiannya terjadi antara dua negeri yang sama-sama kehidupan Islamnya berkembang di sana. Terkait hal ini Allah telah memberikan panduan dengan cara kita mendamaikan kedua negeri tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Surat Al-Hujurat Ayat 9)

Syubhat

Walaupun mencintai dan membela tanah air setiap orang, tentunya jangan sampai melampaui batas agar niat kita untuk mendapatkan ridha Allah malah mendatangkan laknat-Nya. Di antara yang perlu difahami adalah,

Pertama,

Untuk menunjukkan kecintaan seseorang pada tanah air bukan kemudian diperbolehkan berbohong atas nama agama. Maksudnya adalah boleh saja seseorang mencintai tanah airnya dengan mengungkapkan selogan,

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ

“Cinta tanah air sebagian dari iman”

Namun dengan catatan bahwa seseorang tersebut tidak boleh meyakini kalimat tersebut adalah sebuah Hadits. Sebab kalimat “Cinta tanah air sebagian dari iman” hanya sebuah selogan yang diciptakan oleh para ulama. Dengan kata lain, walaupun kalimat “Cinta tanah air sebagian dari iman” kandungan maknanya sebetulnya sangat sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam, namun kalimat tersebut secara redaksinya bukanlah Hadits.

Kedua,

Sah-sah saja kita mencintai makhluq hidup; cinta kepada pasangan, cinta pada hobi, cinta pada harta, cinta pada anak keturunan, dan cinta pada tanah air. Namun jangan sekali-kali kecintaan kita kepada makhluq melebihi dari kecintaan kita kepada pencinta makhluq tersebut. Yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَمَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ كَانَ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ

“Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mencintai orang lain, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, orang yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan orang yang lebih suka untuk dilemparkan kepada api daripada dia kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut.” (Hadits Muslim Nomor 61)

Bila cinta kita kepada Allah melebihi apapun, dan bila kita mencinta apapun karena Allah, niscaya kita akan dapat merasakan manisnya Iman. Semogo kita tergolong hamba yang dapat merasakan manisnya iman sebab kecintaan kita pada tanah air karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin.

Kesimpulan

Menurut Kiyai Ahmad Ishomuddin Berdasarkan penjelasan di atas, maka setiap orang beragama selain berkewajiban untuk mencintai agama yang dianutnya–dengan cara memahami dan mengamalkannya dengan sebenar-benarnya–juga berkewajiban untuk mencintai tanah airnya, karena mencintai tanah air itu tidak bertentangan dengan agama dan bahkan merupakan bagian dari ajaran agama yang wajib juga diamalkan.

Orang yang beragamanya benar dan cinta terhadap tanah airnya akan selalu memerhatikan keamanan tanah air, tempat hidupnya, kampung halamannya. Ia tidak akan membuat kegaduhan demi kegaduhan, tidak menebar kebencian dan saling permusuhan di antara setiap orang dan setiap suku serta para pemilik indentitas berbeda yang menempati setiap jengkal tanah airnya.

Orang yang mencintai tanah air karena perintah agamanya bahkan sanggup mengorbankan harta benda atau apa saja, bahkan mengorbankan nyawanya untuk kepentingan mempertahankan tanah airnya dari setiap ancaman, baik yang datang dari dalam maupun dari luar.

Cukuplah kiranya kita belajar kepada bangsa-bangsa lain yang penduduk negerinya berpecah belah, saling menumpahkan darah, saling bunuh dan masing-masing mereka berjuang atas nama agama yang sama, namun mereka tidak peduli kepada nasib tanah airnya. Itu semuanya terjadi karena kecintaan mereka pada agama yang tidak diiringi dengan kecintaan kepada tanah air yang juga merupakan tuntutan agamanya.

Dilihat dari sejarahnya, sangat wajar bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencintai dua negeri ini: Mekah sebagai tempat kelahiran beliau dan Madinah sebagai tempat hijrah Rasul. Sebab itu, rasa cinta tanah air atau nasionalisme bukanlah paham thagut dan kafir sebagaimana dituduhkan oleh sebagian kelompok.

Kalau dikatakan paham kafir dan bertentangan dengan Islam, buktinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri juga cinta pada tanah kelahirannya. Tidak ada bedanya rasa cinta kita terhadap bangsa Indonesia dengan cinta Rasul terhadap Mekah dan Madinah. Oleh karenanya, para ulama mengatakan, “hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air bagian dari keimanan.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad yang dikembangkan dari tulisan;

“Dalil-dalil Cinta Tanah Air dari Al-Qur’an dan Hadits” oleh Ustadz Supriyono. Dan

“Beberapa Dalil tentang Cinta Tanah Air” Oleh KH. Ahmad Ishomuddin

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 182
    Shares