Cara Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal^

Sudah diketahui bersama bahwa berbakti kepada orang tua hukumnya wajib. Kewajiban tersebut bukan hanya saat kedua orang tua masih hidup, ternyata kewajiban tersebut terus berlanjut walaupun kedua orang tua sudah meninggal dunia.

Baca Juga;

Perintah dan Keutamaan Menjalin Silaturahmi

Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua dalam Islam

Durhaka Kepada Orang Tua

Besarnya kecintaan seorang anak sebab jasa orang tua terhadap kesuksesan anak, mendorong seorang anak ingin berterima kasih dengan membalas kebaikan orang tua dengan cara bakti. Namun beberapa dari kita tidak memiliki kesempatan untuk itu dikarenakan Allah lebih dahulu memanggil kedua orang tua dari kita.

Terkait hal ini tidak perlu khawatir, masih ada banyak bentuk kebaikan lain yang bisa dilakukan untuk wujud bakti anak pada orang tua meskipun keduanya telah pulang ke rahmatlullah. Sebab antara orang tua dengan anak cucunya masih tetap ada ikatan batin yang saling dapat memberikan faedah meskipun dipisah dengan kematian. Sebagaimana firman Allah,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Surat At-Tur Ayat 21)

Jadi, berdasarkan ayat di atas bakti seorang anak pada kedua orang tuanya masih berlaku dan berfungsi, meskipun dipisah dengan kematian. Berikut akan dijelaskan cara berbakti pada orang tua ketika mereka telah meninggal dunia. Simak selengkapnya dalam uraian berikut ini,

Kirim manfaat doa

Kedudukan doa dari orang yang masih hidup dapat dirasakan manfaatnya bagi mereka yang sudah meninggal. Pemahaman ini didasari oleh banyak dalil yang menunjukkan kebenaran dan kebolehannya. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang (yang masih hidup) yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu (sudah meninggal) dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Surat Al-Hasyr Ayat 10)

Apalagi doa seorang anak yang masih hidup akan terus mengalir kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Salah satu bentuk bakti anak kepada orang tua adalah mendoakan kedua orang tuanya. Karena doa anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal akan sangat bermanfaat saat berada di alam akhirat. Hukum ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (Hadits Muslim Nomor 3084)

Panjatan doa-doa dari orang yang masih hidup merupakan perintah agama. Hal ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh beberapa hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (Hadits Abu Daud Nomor 2804)

Berdasarkan hadits di atas, mendoakan orang yang sudah meninggal, khususnya kepada kedua orang tua merupakan perintah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri juga sering mencontohkan berdoa untuk orang yang meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي إِبْرَاهِيمَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الْمَيِّتِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا

“dari [Abu Ibrahim Al Anshari] dari [bapaknya] bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a saat menshalati mayit, “Ya Allah berilah ampunan bagi yang masih hidup di antara kami dan yang sudah meninggal dunia, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir, kaum laki-laki di antara kami dan kaum wanita, orang yang masih muda di antara kami dan orang yang sudah tua.” (Hadits Nasai Nomor 1960)

Di samping mendoakan mayit telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, doa juga bermanfaat sebagai penolong bagi mayit. Sebagaimana sebuah riwayat hadits berikut,

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Mayat yang dishalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendo’akannya, maka do’a mereka untuknya akan dikabulkan.” (Hadits Muslim Nomor 1576)

Tidak perlu terlalu menyesal manakala kita sebagai anak merasa belum sempurna dalam bakti kepada kedua orang tua semasa hidup mereka. Sebab berkat rahmat Allah yang memberikan kesempatan bagi kita tetap bisa berbakti kepada kedua orang kita dengan banyak mendoakan mereka walaupun mereka sudah meninggal. Sebab doa-doa yang kita panjatkan akan sampai dan sangat bermanfaat kepada mereka. Maka dari itu perbanyaklah mendoakan mereka baik di rumah maupun ketika kita berziarah di pusaranya.

Baca Juga:

Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Kirim Manfaat Doa Kepadanya

Kirim pahala dzikir

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada orang tua kita walaupun mereka sudah meninggal dunia adalah membacakan dzikir-dzikir dengan niat pahalanya dihadiahkan dan dikirimkan kepada keduanya.

Dzikir tergolong dalam ibadah murni badaniyah, yaitu jenis ibadah di mana dalam pengerjaannya menggunakan gerakan badan. Imam Nawawi mengatakan “Ketahuilah bahawa sesungguhnya dzikir tidak hanya tasbih, tahlil, dan takbir, bahkan dzikir ialah setiap amalan ketaatan yang dilakukan kerana Allah”. (al-Adzkar, m/s. 7)

Maksudnya adalah, cakupan dzikir sangat luas meliputi doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, membaca Hadiits, belajar ilmu agama, dzikir shalawat, ziarah kubur, shalat jenazah, berjalan menuju masjid, duduk di dalamnya untuk menunggu shalat ditegakkan, shalat sunnah, dan lain sebagainya.

Hukum berdzikir dengan niat pahalanya dikirimkan dan dihadiahkan kepada kedua orang tua yang sudah meninggal hukumnya boleh. Maksudnya kirim pahala dzikir kepada kedua orang tua yang sudah meninggal pahalanya sampai dan bermanfaat. Berikut penjelasannya,

Banyak dalil sahih yang membenarkan sampainya kiriman pahala dzikir pada orang mati. Di antaranya adalah;

Dzikir kalimat thayyibah sampai pada orang yang sudah meninggal

Kalimat thayyibah (baik) dalam dzikir mencakup tasbih, tahlil, dan takbir, shalawat, dan lainnya. Bacaan dzikir seperti tahlil sangat diperintahkan untuk dibaca dan manfaatnya dikirimkan kepada orang yang meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ قَوْلَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Talqinlah (tuntunlah) orang meninggal (yang sudah dikubur) diantara kalian dengan ucapan dzikir tahlil ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’.” (Hadits Abu Daud Nomor 2710, Hadits Nasai Nomor 1803, Hadits Nasai Nomor 1804, Hadits Ibnu Majah Nomor 1434, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1435)

Dan sebuah hadits yang menerangkan tentang talqin di antaranya adalah riwayat Rosyid bin Sa’ad dari Dlamrah bin Habib, dan dari Hakim bin Umari, ketiga-tiganya berkata:

اذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا يستحبون ان يقال للميت عند قبره يافلان قل لااله الا الله اشهد ان لااله الا الله ثلاث مرات يافلان قل ربي الله ودينى الاسلام ونبيى محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف (رواه سعيد بن منصور فى سننه)

“Apabila telah diratakan atas mayit akan kuburnya dan telah berpaling manusia dari paanya adalah mereka para sahabat mengistihbabkan (menyunatkan) bahwa dikatakan bagi mayit pada kuburnya: Ya fulan: ucapkanlah dzikir tahlil “La Ilaha Illallah, Asyhadu alla Ilaha Illallah, tiga kali”. Hai Fulan katakanlah: Tuhanku Allah, Agamaku Islam dan Nabiku Muhammad saw, kemudian berpalinglah ia.” HR. Sa’id bin Manshur dalam sunannya)

Alasan kenapa disunnahkan bagi orang yang masih hidup mengucapkan dzikir-dzikir seperti tahlil “La Ilaha Illallah, Asyhadu alla Ilaha Illallah” pada saat setelah orang yang meninggal di kuburkan. Sebab ucapan-ucapan dzikir seperti dzikir tahlil sangat bermanfaat bagi mayit yang telah dikubur.

Salah satu manfaatnya adalah membantu mayit dapat menjawab pertanyaan malakiat tersebut dengan mudah. Maka salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan oleh handai taulan yang masih hidup adalah mentalqin (menuntun) mayit dari atas tanah pekuburan dengan ucapan-ucapan dzikir seperti tahlil yang merupakan kalimat tauhid. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِي قَبْرِهِ أُتِيَ

“Apabila (jenazah) seorang muslim sudah didudukkan dalam kuburnya maka dia akan dihadapkan (pertanyaan malaikat),”. (Hadits Bukhari Nomor 1280)

Jadi, keadaan mayit setelah dikubur sempurna maka malaikat akan datang untuk mengajukan beberapa pertanyaan sebagai ikhtibar (menguji) keimanannya. Dengan begitu mengucapkan dzikir-dzikir dari kalimat thayyibah seperti tahlil, takbir, tahmid, tasbih, istghfar, dan lain sebagainya, yang mana hakikatnya masih tergolong ibadah badaniyah hukumnya sunnah dan berfaedah bagi mayit.

Dzikir shalawat sampai pada Nabi yang sudah meninggal

Pahala dzikir shalawat sampai pada Nabi, padahal Nabi sudah meninggal. Maksudnya adalah salah satu bukti kirim pahala dzikir yang dibaca oleh orang hidup sampai dan dapat diterima oleh orang yang sudah meninggal adalah perintah membaca dzikir shalawat kepada Nabi Muhammad, kepada Nabi Ibrahim, dan kepada seluruh keluarga Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim.

Bila golongan Salafi beranggapan bahwa pahala dzikir tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal. Tentunya bacaan dzikir shalawat Ibrahimiyah dari orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal seperti para Nabi dan keluarganya dalam bacaan tasyahud akhir shalat tidak berlaku sebab sia-sia. Tidak berlaku sebab faktanya Nabi dan keluarganya sudah meninggal. Inilah bukti bahwa pemahaman golongan Salafi sangat keliru.

Dengan demikian bacaan dzikir shalawat dari orang yang masih hidup manfaatnya sampai dan diterima oleh orang yang sudah meninggal. Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala ibadah amaliyah membaca shalawat kepada ruh (arwah) Nabi yang suda meninggal adalah keumuman makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzaab: 56)

Seperti pahala pembacaan shalawat kepada Nabi dari ummatnya yang masih hidup kepada Nabi yang sudah meninggal tetap dapat memberikan kemanfaatan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ يَعْنِي بَلِيتَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya hari yang paling utama dari hari-hari kalian adalah hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, sangkakala ditiup dan di hari itu datang hari kiamat. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku. ” Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami bisa sampai kepadamu, sementara engkau telah tiada dan jasadmu telah hancur?” Beliau menjawab: “Allah telah mengharamkan bagi bumi untuk makan jasad para Nabi.” (HR. Ibnu Majah Nomor 1075. Abu Daud Nomor 883. Nasai Nomor 1357. Darimi Nomor 1526)

Bahkan pahala bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim beserta para keluarganya yang sudah meninggalpun masih memberikan manfaat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ قَالَ فَقَالُوا لَهُ فَعَلِّمْنَا قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ إِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah). ” Al Aswad berkata; “Orang-orang pun berkata Abdullah bin Mas’ud, “Ajarkanlah kepada kami, ” Abdullah bin Mas’ud berkata; “Bacalah; (Ya Allah, jadikanlah shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada pemimpin para Nabi yang diutus, imam orang-orang yang bertakwa dan penutup para Nabi, Muhammad, hamba dan rasul-Mu. Seorang imam dan pemimpin kebaikan, serta rasul pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji, kedudukan yang menjadikan iri orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.” (HR. Ibnu Majah Nomor 896)

Dzikir istighfar sampai pada Nabi yang sudah meninggal

Kiriman pahala dari ibadah jasadi anak cucunya sebagai balas budi kepada orang tuanya. Di antaranya adalah doa dan istighfar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

“dari [Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As Sa’idi] ia berkata, “Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari bani Salamah datang kepada beliau. Laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada ruang untuk aku berbuat baik kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal?” beliau menjawab: “Ya. Mendoakan dan (membaca dzikir istighfar) memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan wasiatnya, menyambung jalinan silaturahmi mereka dan memuliakan teman mereka.” (HR. Abu Daud Nomor 4476)

Memperbanyak kiriman pahala bacaan dzikir istighfar dapat mengangkat derajat mayit di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, lalu orang tersebut akan bertanya, ‘Bagaimana ini bisa terjadi? ‘ lalu dijawab, ‘Karena anakmu telah memohonkan ampun (kirim pahala dzikir istighfar) untukmu’.” (HR. Ibnu Majah Nomor 3650)

Membalas dengan pahala dari ibadah doa yang kita lakukan kepada kebaikan orang lain yang telah meninggal. Balas budi orang lain dengan memperbanyak doa untuk orang yang sudah berjasa bagi kita, hingga kita merasa doa kita telah senilai dengan doa Nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“dari [Utsman bin ‘Affan], ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (HR. Abu Daud Nomor 2804)

Semua do’a orang lain dari kaum muslimin bagi setiap muslim lainnya akan bermanfaat bagi (ruhnya) si mayit. Hukum bolehnya bersifat mutlak dari kaum muslimin secara umum. Dalilnya adalah keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu (sudah meninggal) dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan (termasuk yang sudah meninggal) tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Muslim Nomor 4914)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

“dari [Utsman bin ‘Affan], ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian (yang sudah meninggal), dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (HR. Abu Daud Nomor 2804)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَقُولُا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkan jenazah, dan saya hafal do’a yang beliau ucapkan: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka.” (HR. Muslim Nomor 1600)

Salah satu kedudukan Al-Qur’an adalah Tadkirah

Sedangkan kalimat-kalimat thayyibah (baik) seperti kalimat La Ilaha Illallah (tahlil), takbir, tahmid, tasbih, istghfar, dan lain sebagainya tersebut hakikatnya adalah kutipan dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan demikian kedudukan Al-Qur’an merupakan At-Tadzkira, yakni sumber tadzkirah (peringatan) bagi manusia dan juga lafadz-lafadznya merupakan dzikir yang bernilai pahala bila diucapkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

طه. مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ. إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ. تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى. الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (Surat Ta Ha Ayat 1-5)

Dengan begitu mendzikirkan lafadz-lafadz Al-Qur’an walaupun tidak mengerti artinya hukumnya sunnah dan berfaedah bagi para pembacanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti.” (Hadits Muslim Nomor 1337)

Bahkan manfaat mendzikirkan bacaan Al-Qur’an bukan hanya dapat dirasakan oleh orang yang masih hidup, melainkan juga sangat bermanfaat bagi mereka yang sudah meninggal. Di antara manfaatnya adalah meringankan bebannya di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشْيَخَةُ أَنَّهُمْ حَضَرُوا غُضَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ الثُّمَالِيَّ حِينَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Mughirah] telah menceritakan kepada kami [Shafwan] telah bercerita kepadaku [beberapa orang syaikh], mereka menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu (surat Yasin) dibacakan di sisi mayit (orang yang sudah meninggal), maka akan diringankannya.” (HR. Ahmad Nomor 16355)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Al Baqarah adalah Al Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. (bacaan dzikir tahlil) Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya, sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan di ampuni. Bacakanlah surat (Yasin) tersebut terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (HR. Ahmad Nomor 19415)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوهَا عِنْدَ مَوْتَاكُمْ يَعْنِي يس

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacakanlah ia untuk orang-orang yang sudah meninggal dari kalian, yakni YASIIN. ” (HR.Ibnu Majah Nomor 1438)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan al-Quran (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut:

فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)

“HR al-Thabrani dengan sanad yang hasan” (Fath al-Bari III/184)

Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala ibadah badaniyah bacaan Al-Qur’an kepada ruh (arwah) mayit adalah keumuman makna firman Allah, seperti pahala bacaan surat Yasin kepada orang meninggal yang bermanfaat dapat menyebabkan pengampunan dari Allah. Kiriman pahala bacaan Al-Qur’an dari seorang anak dapat memuliakan orang tuanya di Akhirat. Sebagaimana yang disabdakan Nabi,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab (Al-Qur’an)Ku.” (HR. Darimi Nomor 3235)

Beberapa dalil tersebut sudah sangat cukup membuktikan bahwa bacaan-bacaan dzikir Al-Quran baik sebagian maupun keseluruhan pahalanya bisa sampai dan diterima oleh orang yang sudah meninggal.

Manfaat shalat jenazah sampai pada orang yang sudah meninggal

Sesuai devinisi dzikir di atas, berarti shalat jenazah masih masuk ke dalam kategori dzikir. Pahala shalat jenazah di samping untuk yang melakukan shalat juga bermanfaat untuk mayit. Seperti pahala pelaksanaan shalat jenazah dari orang yang masih hidup kepada orang meninggal yang bermanfaat dapat menyebabkan si mayyit mendapat syafaat. Dalil yang menunjukkan tentang sampainya pahala ibadah amaliyah shalat jenazah kepada ruh (arwah) mayit adalah keumuman makna hadits Nabi,

مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ النَّاسِ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ فَسَأَلْتُ أَبَا الْمَلِيحِ عَنْ الْأُمَّةِ فَقَالَ أَرْبَعُونَ

“Tidaklah seseorang meninggal dunia, kemudian mati dishalati oleh segolongan umat manusia, kecuali akan diberi syafa’at’.” Lalu aku bertanya kepada Abul Mulih apa maksud tentang segolongan umat? Ia menjawab; “Empat puluh orang.” (HR. Nasai Nomor 1966)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَمُوتُ أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ النَّاسِ فَيَبْلُغُوا أَنْ يَكُونُوا مِائَةً فَيَشْفَعُوا إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang dari kaum Muslimin meninggal dunia kemudian dishalati oleh umat manusia yang jumlah mereka seratus, lalu kemudian mereka memberi kesaksian baik, kecuali akan diberi syafa’at padanya.” (HR. Nasai Nomor 1965)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ أَنْ يَكُونُوا مِائَةً يَشْفَعُونَ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ قَالَ سَلَّامٌ فَحَدَّثْتُ بِهِ شُعَيْبَ بْنَ الْحَبْحَابِ

“Tidaklah seorang mayit dishalati oleh umat dari kalangan kaum Muslimin yang jumlah mereka mencapai seratus, semuanya memberikan kesaksian baik, kecuali akan diberi syafa’at padanya.” (HR. Nasai Nomor 1964)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَمُوتُ أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَتُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ أَنْ يَكُونُوا مِائَةً فَيَشْفَعُوا لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim yang meninggal, lalu dishalati oleh umat Islam yang jumlahnya mencapai saratus (orang), yang semua mendoa’kannya untuk mendapat syafaat, kecuali akan diberi syafaat.” (HR. Tirmidzi Nomor 950)

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Mayat yang dishalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendo’akannya, maka do’a mereka untuknya akan dikabulkan.” (HR. Muslim Nomor 1576)

Dengan demikian, tidak perlu terlalu khawatir manakala kita sebagai anak merasa belum sempat dalam bakti kepada kedua orang tua semasa hidup mereka. Sebab berkat rahmat Allah yang memberikan kesempatan bagi kita tetap bisa berbakti kepada kedua orang kita dengan banyak membacakan dzikir dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada mereka walaupun mereka sudah meninggal. Sebab pahala dzikir yang kita baca bisa diterima dan sangat bermanfaat kepada mereka. Maka dari itu perbanyaklah membaca dzikir untuk mereka baik ketika kita berada di rumah maupun ketika kita berziarah di pusaranya.

Selengkapnya baca; Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Kirim Pahala Dzikir Kepadanya

Kirim pahala bacaan Al-Qur’an

Walaupun ada sebagian umat muslim enggan membacakan Al-Qur’an, dzikir, dan doa bagi mayit dengan alasan bahwa hal itu sia-sia. Namun fakta terdapat dalil yang tidak bisa ditolak bahwa membaca Al-Qur’an dengan niat pahalanya dikirim pada arwah mayit itu dibenarkan oleh Nabi, dan bahkan bisa memberikan faedah bagi pelaku dan mayitnya.

Sebagaimana bacaan surat Al-Baqarah dan surat Yasin yang mana keduanya masih merupakan bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai pengampun dosa ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Al-Baqarah adalah Al-Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al-Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya (Al-Baqarah dan Yasin), sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan diampuni. Bacakanlah surat tersebut (Al-Baqarah dan Yasin) terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (Hadits Ahmad Nomor 19415)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah untuk meringankan beban ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا

“mereka [beberapa orang syaikh]menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu dibacakan di sisi mayit, maka akan diringankannya.” (Hadits Ahmad Nomor 16355)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang diperintahkan untuk dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ الْعَلَاءِ

“Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang sudah mati diantara kalian.” Dan ini adalah lafazh Ibnu Al ‘Ala`. (Hadits Abu Daud Nomor 2714 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1438)

Sunnah dan faedah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada mayit juga ditunjukkan oleh sebuah riwayat hadits berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan Al-Qur’an (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut,

فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)

“Hadits Riwayat al-Thabrani dengan sanad yang hasan” (Fath al-Bari III/184)

Surat Al-Mulk juga masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai penghalang siksa kubur bagi yang sudah meninggal ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati dan dibaca dipemakaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ضَرَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِبَاءَهُ عَلَى قَبْرٍ وَهُوَ لَا يَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ حَتَّى خَتَمَهَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ضَرَبْتُ خِبَائِي عَلَى قَبْرٍ وَأَنَا لَا أَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الْمُلْكِ حَتَّى خَتَمَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat kemah di atas pemakaman, ternyata ia tidak mengira jika berada di pemakaman, tiba-tiba ada seseorang membaca surat TABAARAKAL LADZII BIYADIHIL MULKU (Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan) “. sampai selesai, kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah sesungguhnya, aku membuat kemahku di atas kuburan dan saya tidak mengira jika tempat tersebut adalah kuburan, kemudian ada seseorang membaca surat TABARAK (surat) Al Mulk sampai selesai, ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2815)

Seseorang akan dimudahkan masuk surga sebab kiriman pahala dari bacaan-bacaan Al-Qur’an dari anak dan sanak keluarganya yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab(Al-Qur’an)Ku.” (Hadits Darimi Nomor 3235)

Sudah sangat jelas, berdasarkan hadits di atas, kiriman pahala bacaan Al-Qur’an dari mereka yang masih hidup terutama seorang anak dapat memuliakan orang tuanya di Akhirat. Dengan begitu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan niat pahalanya diberikan pada arwah mereka yang sudah meninggal hukumnya sunnah dan sangat bermanfaat bagi mayit.

Baca Selengkapnya: Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Mengirimkan Pahala Bacaan Al-Qur’an Untuknya

Sedekah atas nama orang tua

Setiap anak shalih pasti akan selalu bertekad untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Di antara bakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah tetap melanjutkan amal shalih yang sudah menjadi kebiasaan kedua orang tuanya semasa hidupnya. Seorang anak dianjurkan bersedekah dengan niat pahalanya disedekahkan kepada orang tuanya. Sebab status anak merupakan hasil usaha kedua orang tuanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” [an-Najm/53:39].

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ أَطْـيَبَ مَـا أَكَـلَ الرَّجُلُ مِـنْ كَـسْبِهِ ، وَإِنَّ وَلَـدَهُ مِنْ كَسْبِـهِ.

“Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya adalah hasil usahanya. (Shahîh, HR Ahmad (VI/41, 126, 162, 173, 193, 201, 202, 220), Abu Dawud (no. 3528), at-Tirmidzi (no. 1358), an-Nasa-i (VII/241), Ibnu Majah (no. 2137), dan al-Hakim (II/46).

Makna sedekah dari seorang anak yang diatasnamakan orang tua pahalanya bisa sampai dan diterima berdasarkan sebuah riwayat Hadits berikut,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah (tidak lagi bisa menambah) segala amalan(usaha)nya kecuali (tetap mendapat aliran pahala dari) tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 3084)

Berdasarkan hadits tesebut, sedekah dari seorang anak atas nama kedua orang tuanya bukan merupakan makna pengkhususan. Maksudnya adalah Agama juga memperbolehkan menghadiahkan pahala atau manfaat dari seseorang untuk orang lain yang tidak ada hubungan darah. Seperti sahabat Abu Qatadah yang mendermakan uangnya untuk orang lain yang masih memiliki hutang saat meninggal agar ruhnya tidak digantungkan oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَا يُصَلِّي عَلَى رَجُلٍ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَأُتِيَ بِمَيْتٍ فَسَأَلَ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا نَعَمْ عَلَيْهِ دِينَارَانِ قَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ قَالَ أَبُو قَتَادَةَ هُمَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَصَلَّى عَلَيْهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menshalati jenazah yang memiliki utang lalu didatangkan kepada beliau seorang yang telah meninggal, beliau bertanya; “Apakah ia masih memiliki utang?” mereka menjawab, “ya, ia memiliki utang dua dinar.” Beliau bersabda: “Shalatilah sahabat kalian.” Abu Qatadah berkata; “Dua dinar itu menjadi tanggunganku wahai Rasulullah!” lalu beliau menshalatinya.” (Hadits Nasai Nomor 1936)

Apa yang ditunjukkan oleh banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang sampainya manfaat amal shalih seseorang utnuk orang lain yang telah meninggal, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak, dan lain-lain semisalnya. Hadits-hadits tersebut ialah:

Pertama, Seorang laki-laki mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ibunya yang telah wafat namun belum sempat berbicara kepadanya di masa hidupnya. Baik dia yang bersedekah maupun dikirimi hadiah sama-sama mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَلَمْ تُوصِ وَإِنِّي أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ فَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا وَلِيَ أَجْرٌ قَالَ نَعَمْ

“Sesungguhnya seorang laki-laki datang menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; ‘Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak dan ia tidak memberikan wasiat. Aku perkirakan apabila ia dapat berbicara, maka niscaya ia melakukan sedekah, apakah ibuku dan diriku mendapat pahala apabila aku menyedekahkan hartanya? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Ya.'” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2708, Hadits Bukhari Nomor 2554, Hadits Bukhari Nomor 1299, Hadits Muslim Nomor 3082, Hadits Nasai Nomor 3589, dan Hadits Malik Nomor 1255)

Hadits di atas menunjukkan bersedekah menggunakan hartanya sendiri dengan niat pahalanya dipersembahkan untuk arwah orang yang sudah meninggal hukumnya boleh.

Kedua, Seorang wanita mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ibunya yang telah wafat namun belum sempat berbicara kepadanya di masa hidupnya. Baik dia yang bersedekah maupun dikirimi hadiah sama-sama mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَلَوْلَا ذَلِكَ لَتَصَدَّقَتْ وَأَعْطَتْ أَفَيُجْزِئُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقِي عَنْهَا

“bahwa seorang wanita berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal tiba-tiba, jika tidak terjadi hal tersebut niscaya ia telah bersedekah dan memberi. Apakah sah saya bersedekah untuknya? Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2495)

Ketiga, Seorang laki-laki mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ibunya yang telah wafat namun belum sempat berwasiat kepadanya di masa hidupnya. Baik dia yang bersedekah maupun dikirimi hadiah sama-sama mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

“bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku meninggal secara tiba-tiba dan ia tidak sempat berwasiat. Menurut dugaanku, seandainya ia sempat berbicara, mungkin dia akan bersedekah. Apakah ia akan mendapatkan pahalanya jika aku bersedekah atas namanya?” beliau menjawab: “Ya.” (Hadits Muslim Nomor 1672)

Keempat, Seorang laki-laki mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ayahnya yang telah wafat namun belum sempat berwasiat kepadanya di masa hidupnya. Dia yang bersedekah mendapat pahala dan dikirimi hadiah terhapus dosa-dosanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ

“bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ayahku telah meninggal dunia dan meninggalkan harta, namun dia tidak memberi wasiat terhadap harta yang ditinggalkannya, dapatkah harta itu menghapus dosa-dosanya jika harta tersebut saya sedekahkan atas namanya?” beliau menjawab: “Ya.” (Hadits Muslim Nomor 3081, Hadits Ibnu Majah Nomor 2707, dan Hadits Nasai Nomor 3592)

Hadits di atas menunjukkan bersedekah menggunakan harta tinggalan dari orang tuanya dengan niat pahalanya dipersembahkan untuk arwah orang yang sudah meninggal hukumnya boleh.

Kelima, Sa’ad bin ‘Ubadah mendapat pahala dan manfaat dari kebun yang diwakafkan yang diatasnamakan ayahnya yang telah wafat namun Sa’ad bin ‘Ubadah tidak berada di sisinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَخَا بَنِي سَاعِدَةَ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِيَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah radliallahu ‘anhum, saudara dari Bani Sa’idah, bahwa ibunya telah meninggal dunia lalu dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia sedang saat itu aku tidak ada di sisinya. Apakah akan bermanfaat baginya bila aku menshadaqahkan sesuatu untuknya?” Beliau bersabda: “Ya”. Dia berkata: “Aku bersaksi kepada Tuan bahwa kebunku yang penuh dengan bebuahannya ini aku shadaqahkan atas (nama) nya”. (Hadits Bukhari Nomor 2556)

Hadits-hadits di atas sebetulnya intinya sama tentang hukum boleh bersedekah dengan niat pahalanya dikirimkan atau dihadiahkan kepada orang lain yang sudah meninggal. Namun terdapat beberapa perbedaan namun sifatnya hanya jalur periwayatannya dan redaksi penulisan haditsnya saja.

Secara umum hadis ini menyatakan bahwa pahala sedekah sampai kepada orang yang sudah meninggal dan Nabi tidak membedakan antara sedekah yang dilakukan karena wasiat ataupun tidak. Maka hadits ini mencakup kedua kondisi tersebut. Bila ada segolongan umat Islam mengingkari bolehnya orang lain bersedekah atas nama orang lain yang tidak ada hubungan darah jelas batil karena mereka telah mempersempit makna yang umum.

Di samping itu pula bukanlah maksud dari hadits ini bahwa hanya anak yang bisa bersedekah dan mendoakan orang yang sudah meninggal, karena banyak hadits sahih lainnya yang menjelaskan disyariatkannya bersedekah dan berdoa untuk yang sudah meninggal, seperti juga menyalatinya, begitu juga ziarah kubur, tidak ada bedanya apakah hal itu dilakukan oleh keluarga dekat ataupun bukan.

Dalam matan al-Iqna’ – kitab fiqh madzhab hambali – dinyatakan,

وكل قربة فعلها المسلم وجعل ثوابها أو بعضها كالنصف ونحوه، لمسلم حي أو ميت جاز، ونفعه، لحصول الثواب له.

Semua ibadah yang dilakukan seorang muslim, kemudian dia pahalanya atau sebagian pahalanya, misalnya setengah pahalanya untuk muslim yang lain, baik masih hidup maupun sudah meninggal, hukumnya dibolehkan, dan bisa bermanfaat baginya. Karena dia telah mendapatkan pahala. (al-Iqna’, 1/236).

Imam asy-Syaukani berkata, “Hadits-hadits bab ini menunjukkan bahwa sedekah dari anak itu bisa sampai kepada kedua orang tuanya setelah kematian keduanya meski tanpa adanya wasiat dari keduanya, pahalanya pun bisa sampai kepada kedua-nya.

Lebih lanjut lagi, bersedekah yang diniatkan kebaikan pahalanya untuk orang tua yang sudah meninggal, telah menjadi ijma’ (aklamasi) seluruh ulama dari zaman ke zaman bahwa hal itu boleh, dan sampai pahalanya kepada mayit. Tidak satu pun  ulama yang mengingkarinya.

Jadi, silahkan bersedekah sebanyak-banyaknya dengan niat pahalanya untuk orang tua atau bersedekah atas nama orang tua. Dan silahkan bersedekah atau berinfak ke tempat, lembaga, sekolah, masjid atau kepada orang yang membutuhkan.

Demikian, semoga bakti kita semua kepada orang tua terus berlangsung semampu yang kita bisa hingga akhir hayat kita. Baik berupa doa untuk mereka, bersedekah atas nama mereka, memuliakan kerebat dan teman serta menyambung tali keluarga mereka. Amin.

Baca Selengkapnya: Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Menghadiahkan Pahala Sedekah untuknya

Melaksanakan wasiat

Salah satu ciri sebagai anak shalih adalah manakala selalu berbakti kepada kedua orang tuanya, baik ketika mereka masih hidup maupun ketika mereka sudah meninggal.

Salah satu bentuk berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah melaksanakan wasiatnya. Wasiat dari seorang yang sudah meninggal dunia wajib dilaksanakan oleh ahli warisnya. Dasar hukumnya bersumber dari Al-Qur’an, Hadits dan Ijma’ para ulama.

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al-Baqarah Ayat 180)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidaklah seseorang mewasiatkan suatu hak untuk seorang Muslim, lalu wasiatnya belum ditunaikan hingga dua malam, kecuali wasiatnya itu diwajibkan di sisinya.” (Hadits Bukhari Nomor 2533, Hadits Abu Daud Nomor 2478, Hadits Nasai Nomor 3557)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ مَرَضٍ أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَ بِي مِنْ الْوَجَعِ مَا تَرَى وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا قَالَ فَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ الثُّلُثُ يَا سَعْدُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ ذُرِّيَّتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“dari [‘Amir bin Sa’ad bin Malik] dari [bapaknya] berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjengukku pada waktu hajji wada’ ketika aku sakit yang tidak menyebabkan kematian. Aku berkata; “Wahai Rasulullah, aku rasakan sakitku semakin parah. Begaimana pendapat anda, aku memiliki banyak harta namun aku tidak memiliki orang yang akan mewarisinya kecuali satu anak perempuanku. Apakah aku boleh mensedekahkan dua pertiga hartaku?”. Beliau menjawab: “Tidak”. Dia berkata; “Apakah boleh aku bersedekah seperduanya?”. Beliau menjawab: “Sepertiga, wahai Sa’ad. Dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya bila kamu meninggalkan keturunanmu dalam keadaan berkecukupan itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, lalu mereka mengemis meminta-minta kepada manusia.” (Hadits Bukhari Nomor 3643)

Sedangkan para ulama sudah sepakat (ijma’) bahwa wasiat itu hukumnya sunnah muakkad. Selain dalam perkara harta (materi), wasiat juga dibolehkan dalam perkara yang bersifat nonmateri, dengan catatan wasiat itu tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah atau yang melanggar aturan-aturan syariat. Misalnya, wasiat seorang ayah agar anaknya menghafal Al-Qur’an setelah kematiannya, atau membangun masjid (mushala) yang kemudian diwakafkan atas namanya, atau menyembelih kurban atas namanya, dan sebagainya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عَنْ حَنَشٍ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ أَمَرَنِي بِهِ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا أَدَعُهُ أَبَدًا

“dari [Hanasy] dari [Ali] Bahwasanya ia pernah berkurban dengan dua ekor kambing; seekor untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan seekor lagi untuk dirinya sendiri, hingga ia pun ditanya tentang hal itu. Ali menjawab; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan hal itu kepadaku, maka aku tidak akan meninggalkannya selamanya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1415)

Dari riwayat di atas bisa dilihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan kepada Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu agar berkurban dengan menyembelih 2 ekor kambing, yang satu untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan lainnya untuk Ali radliallahu ‘anhu sendiri. Maka jelaslah bahwa dalam hal ini Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu memenuhi wasiat seseorang yang telah wafat, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selengkapnya baca; Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Melaksanakan Wasiatnya

Jangan jadi anak durhaka dengan tidak melaksanakan wasiat-wasiat kedua orang tua kita. Bila kita ikhlas melaksanakan wasiat kedua orang tua kita, niscaya kita sebagai anak akan mendapat pahala dari bakti kita dan orang tua mendapat pahala dari amal wasiat tersebut.

Memenuhi janji yang belum terlaksana

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada orang tua kita walaupun mereka sudah meninggal dunia adalah memenuhi janji-janji mereka yang belum terlaksana semasa hidupnya.

Sudah biasa seseorang berjanji terhadap orang lain, seperti janji mau memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, dan lain sebagainya. Hukum berjanji adalah boleh (jaiz/mubah), namun hukum memenuhi atau menepatinya adalah wajib. Melanggar atau tidak menunaikan janji hukumya haram dan berdosa. Bukan hanya berdosa kepada orang yang kita janjikan namun juga berdosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dasar hukum kewajiban memenuhi janji antara lain adalah:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (Surat Al-Isra’ Ayat 34)

Mereka yang amanah, yaitu orang-orang yang memenuhi janji adalah manusia terpuji. Menepati janji memiliki manfaat besar, bagi dirinya dan bagi orang lain. Mereka yang menepati janji termasuk menjadi golongan orang-orang yang bertakwa dan beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ وَاتَّقَىٰ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 76)

Dengan menepati janji maka akan terhindar dari permusuhan dan pertikaian sehingga akan tercipta suasa aman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Anfal Ayat 72)

Dengan saling memenuhi janji, niscaya akan timbul suasana kerukunan antar sesama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ

“dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu;” (Surat Al-Baqarah Ayat 40)

Begitu juga janji yang belum terlaksana sebab kematian tetap wajib dipenuhi oleh ahli warisnya. Jika semasa hidupnya orang tua pernah berjanji namun belum bisa untuk terlaksana, maka kita sebagai anak shalih yang berbakti kepadanya seharusnya melakukannya dan memenuhi janjinya sehingga orang tua kita yang sudah meninggal lebih tenang dan lebih bahagia di alam kubur dan di akhiratnya. Kewajiban melaksanakan janji dari seorang yang masih hidup untuk orang yang sudah meninggal berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَدْرِيًّا وَكَانَ مَوْلَاهُمْ قَالَ قَالَ أَبُو أُسَيْدٍ بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ قَالَ نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا

“dari [Abu Usaid], sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, Ahli Badar, dan dia termasuk maula mereka, berkata; Abu Usaid berkata; Ketika aku duduk di samping Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba seorang laki-laki Anshar datang dan berkata; Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam apakah masih tersisa kewajiban atasku untuk berbuat baik kepada orang tuaku setelah kematian mereka berdua?. Beliau menjawab ‘Ya’, masih tersisa empat perkara yaitu: mendoakan untuk mereka berdua, meminta ampunan mereka, memenuhi janji mereka yang belum terselesaikan dan memuliakan teman-teman mereka serta silaturrahim yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kamu kecuali dari jalur mereka. Itulah semua yang tersisa dari kewajibanmu untuk berbuat kebaikan kepada orang tuamu setelah mereka meninggal ” (Hadits Ahmad Nomor 15479)

Dengan demikian, tidak perlu terlalu khawatir manakala kita sebagai anak merasa belum sempat dalam bakti kepada kedua orang tua semasa hidup mereka. Sebab berkat rahmat Allah yang memberikan kesempatan bagi kita tetap bisa berbakti kepada kedua orang kita dengan memenuhi janji-janji mereka yang belum terlaksana semasa hidupnya. Sebab dengan kita ikhlas memenuhi janji-janji mereka yang belum terlaksana semasa hidupnya, niscaya beban mereka di akhirat akan lebih ringan. Dan akan meringankan perhitungan amalnya kelak di hadapan Allah.

Baca Juga: Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Memenuhi Janjinya yang Belum Terlaksana

Membayar Hutang Haji dan Umrahnya

Siapapun tentunya sangat mencintai kedua orangtuanya. Wujud kecintaanya dengan cara berbakti kepadanya pada saat mereka masih hidup maupun pada saat mereka sudah meninggal dunia. Salah satu cara seorang anak berbakti kepada orang tuanya adalah bisa dengan melunasi tanggungan-tanggungan semasa hidupnya. Baik tanggungan yang berupa moril maupun tanggungan berupa materiel.

Dengan demikian, seorang anak juga dianjurkan untuk melunasi tanggungan orang tuanya yang berupa moril seperti amal ibadah badaniyahnya. Dan sudah umum kita ketahui hukum ibadah badaniyah seperti haji hukumnya wajib dilaksanakan selama seseorang masih hidup. Namun terkadang kesehatan di masa tua menghalangi seseorang untuk melaksanakannya. Ketika seseorang meninggal dunia namun masih memiliki tanggungan hutang hajinya, maka hukumnya wajib bagi ahli waris melunasinya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجَّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ فَقَالَ اقْضُوا اللَّهَ الَّذِي لَهُ فَإِنَّ اللَّهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

“dari [Ibn Abbas], bahwa seorang wanita menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Ibuku bernadzar untuk haji, hanya terburu meninggal dunia, bolehkah aku menggantikan hajinya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Silahkan, berhajilah engkau untuk menggantikannya, bukankah engkau sependapat sekiranya ibumu mempunyai hutang, bukankah engkau yang melunasi?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Lantas Nabi berkata: “Penuhilah hutang Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dilunasi hutangnya.” (Hadits Bukhari Nomor 6771)

Hutang moril seperti ibadah yang bersifat badaniyah juga boleh ditanggung oleh orang lain. Haji masih termasuk ibadah badaniyah yang juga boleh dilaksanakan untuk membayar hutang dari orang tuanya. Sehingga boleh melaksanakan ibadah haji dengan niat pahalanya dikirimkan kepada orang lain. Baik mereka yang masih hidup maupun mereka yang sudah meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ

“dari [Ibnu Abbas], ia berkata; ada seorang laki-laki yang berkata; “Wahai Rasulullah, ayahku meninggal dan ia belum melakukan haji, apakah saya boleh melakukan haji untuknya? Beliau bersabda: “Bagaimana pendapatmu apabila ayahmu memiliki hutang, apakah engkau membayarnya?” Orang tersebut berkata; “Iya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka hutang kepada Allah lebih berhak.” (Hadits Nasai Nomor 2591)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ

“Perempuan itu berkata, “Wahai Rasulullah! Kewajiban untuk menunaikan haji terpikul atas bapakku yang sudah tua renta. Ia tidak lagi sanggup duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku menggantikannya?” beliau menjawab: “Boleh.” Dan hal itu terjadi pada saat haji wada’. (Hadits Muslim Nomor 2375 dan Hadits Muslim Nomor 2376

Sangat jelas bahwa walaupun haji merupakan ibadah bersifat badaniyah, namun pahalanya dapat dikirim pada orang yang sudah meninggal.

Masih sama dengan hukum mewakilkan dan mempersembahkan ibadah haji adalah ibadah umrah. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلَا الْعُمْرَةَ وَلَا الظَّعْنَ قَالَ حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ

“dari [Abu Razin Al ‘Uqaili], bahwa ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku sudah tua renta, ia sudah tidak mampu melaksanakan haji, umrah maupun berpergian.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kerjakan haji untuk bapakmu, dan berumrahlah kamu.’ (Hadits Ibnu Majah Nomor 2897, Hadits Ahmad Nomor 15595, dan Hadits Tirmidzi Nomor 852)

Begitu juga hakikat nadzar adalah hutang yang harus dilaksanakan. Bila nadzar dari kedua orang tua belum terlaksanakan hingga wafatnyaa, maka wajib hukumnya ahli waris untuk melaksanakan hutang nadzarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?”. Beliau menjawab: “Tunaikanlah haji untuknya.” (Hadits Bukhari Nomor 1720, Hadits Nasai Nomor 2585, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 2900)

Catatan: Dalam hal membayar hutang haji dan umroh ini agama menetapkan bahwa hutang tersebut menjadi tanggungan ahli warisnya. Kewajiban anak-anaknya membayar hutang orang tuanya tersebut tentunya tidak berlaku mutlak, melainkan dengan catatan selama orang tuanya meninggalkan warisannya dan atau anaknya dianggap mampu membayar hutang kedua orang tuanya dari hasil kerjanya sendiri.

Lunasilah hutang-hutang ibadah badaniyah kedua orang tua kita yang sudah meninggal dunia! Sebab dengan melunasi hutang kedua orang tua kita, maka akan menjadi ladang pahala kita. Di samping beban orang tua kita ringan, apa yang kita lakukan juga akan dicatat sebagai amal bakti kita kepadanya. Semoga Allah menghindarkan kita dan kedua orang tua kita terlewat untuk tidak beribadah kepada Allah. Dan semoga Allah memberikan kekuatan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua yang sangat kita cintai. Amin.

Baca Selengkapnya: Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Membayar Hutang Haji dan Umrahnya

Membayar Hutang Puasanya

Siapapun tentunya sangat mencintai kedua orangtuanya. Wujud kecintaanya dengan cara berbakti kepadanya pada saat mereka masih hidup maupun pada saat mereka sudah meninggal dunia. Salah satu cara seorang anak berbakti kepada orang tuanya adalah bisa dengan melunasi tanggungan-tanggungan semasa hidupnya. Baik tanggungan yang berupa moril maupun tanggungan berupa materiel.

Dengan demikian, seorang anak juga dianjurkan untuk melunasi tanggungan orang tuanya yang berupa moril seperti amal ibadah badaniyahnya. Dan sudah umum kita ketahui hukum ibadah badaniyah seperti puasa hukumnya wajib dilaksanakan selama seseorang masih hidup. Namun terkadang kesehatan di masa tua menghalangi seseorang untuk melaksanakannya. Ketika seseorang meninggal dunia namun masih memiliki tanggungan hutang puasanya, maka hukumnya wajib bagi ahli waris melunasinya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki hutang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya.” (Hadits Muslim Nomor 1935)

Sudah sangat jelas bahwa berdasarkan hadits tersebut hukum melaksanakan hutang puasa untuk orang tua hukumnya wajib dan manfaat pahalanya dapat diterima oleh arwah kedua orang tuanya. Pemahaman ini juga diperkuat dengan sebuah riwayat hadits berikut,

إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ فَقَالَ أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ

“Sesungguhnya ibuku telah meninggal, padahal ia masih memiliki hutang puasa selama satu bulan.” Maka beliau pun bersabda: “Bagaimana menurutmu jika ibumu memiliki hutang uang, apakah kamu akan melunasinya?” wanita itu menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (Hadits Muslim Nomor 1936)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa, maka walinya berpuasa (sebagai pengganti) untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2879)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

” Barang siapa yang meninggal dan masih memiliki tanggungan puasa hendaknya ia memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya sebagai gantinya”. (Hadits Tirmidzi Nomor 651)

Dalam hal melunasi hutang puasa selain boleh menggunakan cara melaksanakan ibadah puasanya, juga boleh menggunakan cara memberi makan orang miskin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينٌ

“Barangsiapa meninggal dan masih memiliki tanggungan puasa ramadlan, maka hendaklah diganti dengan memberi makan satu orang miskin setiap harinya. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1747)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ نَذْرٌ قَضَى عَنْهُ وَلِيُّهُ

“dari [Ibnu Abbas], ia berkata; apabila seseorang sakit pada Bulan Ramadhan kemudian meninggal dan belum melakukan puasa maka diberikan makan untuknya dan ia tidak berkewajiban untuk mengqadha`, dan apabila ia memiliki kewajiban nadzar maka walinya yang mengqadha` untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2049)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa meninggal dunia dan memiliki hutang puasa maka walinya (boleh) berpuasa untuknya”. (Hadits Bukhari Nomor 1816)

Lunasilah hutang-hutang ibadah badaniyah kedua orang tua kita yang sudah meninggal dunia! Sebab dengan melunasi hutang kedua orang tua kita, maka akan menjadi ladang pahala kita. Di samping beban orang tua kita ringan, apa yang kita lakukan juga akan dicatat sebagai amal bakti kita kepadanya. Semoga Allah menghindarkan kita dan kedua orang tua kita terlewat untuk tidak beribadah kepada Allah. Dan semoga Allah memberikan kekuatan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua yang sangat kita cintai. Amin.

Baca Juga:

Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Membayarkan Hutangnya

Kata hutang dalam kamus bahasa Indonesia mempunyai arti harta yang dipinjamkan dari orang lain. Hukum hutang bersifat fleksibel tergantung situasi kondisi dan toleransi. Hutang hukumnya boleh bila dalam keadaan normal. Menjadi haram jika untuk dibelanjakan pada perkara keburukan. Dan menjadi wajib jika memberikan kepada orang yang sangat membutuhkan seperti seseorang dalam keadaan sakit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Surat Al-Ma’idah Ayat 2)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ

“Ada seorang laki-laki yang suka menghutangi orang-orang, lalu dia berkata kepada pelayannya, ‘Jika seorang yang kesusahan datang kepadamu, maka berilah kemudahan kepadanya, semoga Allah memberi kemudahan kepada kita.’ Kemudian dia bertemu dengan Allah (meninggal), maka Allah pun memberi kemudahan kepadanya.” (Hadits Muslim Nomor 2922)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَسْلَفَ سَلَفًا فَلْيُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Barang siapa yang memberikan hutang maka hendaknya ia menghutangi pada takaran yang diketahui, timbangan yang diketahui hingga jangka yang diketahui.” (Hadits Nasai Nomor 4537)

Disebabkan kebutuhan manusia yang tidak dapat diprediksi, terkadang manusia tidak dapat mengelak untuk tidak berhutang. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa hukum berhutang jaiz (boleh) dalam Islam, namun mengembalikan hukumnya wajib. Agar tidak menjadi beban kelak di akhirat maka, perkara ini wajib dilaksanakan sesuai dengan syari’at Islam. Tidak boleh ada unsur-unsur keharaman seperti unsur kerugian, unsur tipuan, unsur kedustaan, dan yang juga penting adalah unsur riba.

Baca Juga:

Ruh Seseorang Tertahan Hingga Hutang Dilunasi

Hukum Kirim Pahala dan Menanggung Dosa Orang Lain yang Sudah Meninggal (Kupas Tuntas)

Namun dalam situasi tertentu seseorang terkadang tidak mampu membayar hutang hingga meninggal dunia. Agama menghukumi hutang semasa hidup yang belum terlunasi tetap wajib dibayar, maka konsekwensinya akan ditanggung hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda;

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ مَا كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ

“Jiwa seorang mukmin akan senantiasa tertahan selama ia memiliki hutang.” (Hadits Darimi Nomor 2478)

Ada dua jenis hutang yang wajib dibayarkan oleh ahli warisnya. Di antaranya;

Hutang materiel

Hutang materiel adalah jenis hutang yang bersifat harta benda yang bersifat adami. Lalu bagaimana hukum seseorang yang terburu meninggal namun belum sempat melunasi hutangnya? Dalam hal ini agama menetapkan bahwa hutang tersebut menjadi tanggungan ahli warisnya. Kewajiban anak-anaknya membayar hutang orang tuanya tersebut tentunya tidak berlaku mutlak, melainkan dengan catatan selama orang tuanya meninggalkan warisannya dan atau anaknya dianggap mampu membayar hutang kedua orang tuanya dari hasil kerjanya sendiri. Ketetapan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجَّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ فَقَالَ اقْضُوا اللَّهَ الَّذِي لَهُ فَإِنَّ اللَّهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

“dari [Ibn Abbas], bahwa seorang wanita menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Ibuku bernadzar untuk haji, hanya terburu meninggal dunia, bolehkah aku menggantikan hajinya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Silahkan, berhajilah engkau untuk menggantikannya, bukankah engkau sependapat sekiranya ibumu mempunyai hutang, bukankah engkau yang melunasi?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Lantas Nabi berkata: “Penuhilah hutang Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dilunasi hutangnya.” (Hadits Bukhari Nomor 6771)

Pada hadits di atas terdapat dua jenis hutang yang diwajibkan agama untuk melunasinya. Pertama hutang yang bersifat moril, yakni hutang ibadah Haji. Kedua hutang yang bersifat materiel, yakni hutang harta. Dalam Hadits tersebut kedua-duanya wajib dilunasi oleh ahli warisnya.

Namun begitu, karena terkait dengan hutang adami ini sangat besar. Di mana menyebabkan ruh seseorang yang berhutang akan terkatung-katung di akhiratnya. Maka agama membenarkan manakala ada orang lain sudi untuk menanggung hutangnya agar beban orang yang sudah meninggal menjadi ringan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

عَنْ سَعْدِ بْنِ الْأَطْوَلِ أَنَّ أَخَاهُ مَاتَ وَتَرَكَ ثَلَاثَ مِائَةِ دِرْهَمٍ وَتَرَكَ عِيَالًا فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْفِقَهَا عَلَى عِيَالِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَخَاكَ مُحْتَبَسٌ بِدَيْنِهِ فَاقْضِ عَنْهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ أَدَّيْتُ عَنْهُ إِلَّا دِينَارَيْنِ ادَّعَتْهُمَا امْرَأَةٌ وَلَيْسَ لَهَا بَيِّنَةٌ قَالَ فَأَعْطِهَا فَإِنَّهَا مُحِقَّةٌ

“dari [Sa’d bin Athwal] bahwa saudaranya wafat dengan meninggalkan tiga ratus dirham dan keluarga (anak dan isteri), lalu aku ingin mensedekahkannya kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya saudaramu tertahan karena hutangnya, maka bayarlah hutangnya.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melunasinya, kecuali dua dinar yang diklaim oleh seorang wanita sementara ia tidak mempunyai bukti! ” beliau bersabda: “Berikanlah kepada wanita itu, karena ia berhak.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2424)

Begitu besar persoalan hutang yang tidak terbayar. Sampai-sampai Nabi enggan menshalati seseorang yang masih puya hutang. Maka hendaklah kaum muslimin yang merasa mampu menanggung hutang orang lain akan menjadi mulia di hadapan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُصَلِّي عَلَى رَجُلٍ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَأُتِيَ بِمَيْتٍ فَسَأَلَ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا نَعَمْ عَلَيْهِ دِينَارَانِ قَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ قَالَ أَبُو قَتَادَةَ هُمَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَصَلَّى عَلَيْهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menshalati jenazah yang memiliki utang lalu didatangkan kepada beliau seorang yang telah meninggal, beliau bertanya; “Apakah ia masih memiliki utang?” mereka menjawab, “ya, ia memiliki utang dua dinar.” Beliau bersabda: “Shalatilah sahabat kalian.” Abu Qatadah berkata; “Dua dinar itu menjadi tanggunganku wahai Rasulullah!” lalu beliau menshalatinya.” (Hadits Nasai Nomor 1936)

Hukum boleh membayar hutang oleh orang lain diperkuat dengan dalil dari hadits berikut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

” Bagaimana pendapatmnu jika ibumu mempunyai hutang, apakah kamu wajib membayarkannya?. Bayarlah hutang kepada Allah karena (hutang) kepada Allah lebih patut untuk dibayar”. (Hadits Bukhari Nomor 1720, Hadits Nasai Nomor 2585, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 2900)

Hutang moril

Hutang moril seperti ibadah yang bersifat badaniyah juga boleh ditanggung oleh orang lain. Haji masih termasuk ibadah badaniyah yang juga boleh dilaksanakan untuk membayar hutan dari orang tuanya. Sehingga boleh melaksanakan ibadah haji dengan niat pahalanya dikirimkan kepada orang lain. Baik mereka yang masih hidup maupun mereka yang sudah meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ

“dari [Ibnu Abbas], ia berkata; ada seorang laki-laki yang berkata; “Wahai Rasulullah, ayahku meninggal dan ia belum melakukan haji, apakah saya boleh melakukan haji untuknya? Beliau bersabda: “Bagaimana pendapatmu apabila ayahmu memiliki hutang, apakah engkau membayarnya?” Orang tersebut berkata; “Iya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka hutang kepada Allah lebih berhak.” (Hadits Nasai Nomor 2591)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ

“Perempuan itu berkata, “Wahai Rasulullah! Kewajiban untuk menunaikan haji terpikul atas bapakku yang sudah tua renta. Ia tidak lagi sanggup duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku menggantikannya?” beliau menjawab: “Boleh.” Dan hal itu terjadi pada saat haji wada’. (Hadits Muslim Nomor 2375 dan Hadits Muslim Nomor 2376

Sangat jelas bahwa walaupun haji merupakan ibadah bersifat badaniyah, namun pahalanya dapat dikirim pada orang yang sudah meninggal.

Masih sama dengan hukum mewakilkan dan mempersembahkan ibadah haji adalah ibadah umrah. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلَا الْعُمْرَةَ وَلَا الظَّعْنَ قَالَ حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ

“dari [Abu Razin Al ‘Uqaili], bahwa ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku sudah tua renta, ia sudah tidak mampu melaksanakan haji, umrah maupun berpergian.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kerjakan haji untuk bapakmu, dan berumrahlah kamu.’ (Hadits Ibnu Majah Nomor 2897, Hadits Ahmad Nomor 15595, dan Hadits Tirmidzi Nomor 852)

Begitu juga hakikat nadzar adalah hutang yang harus dilaksanakan. Bila nadzar dari kedua orang tua belum terlaksanakan hingga wafatnyaa, maka wajib hukumnya ahli waris untuk melaksanakan hutang nadzarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?”. Beliau menjawab: “Tunaikanlah haji untuknya.” (Hadits Bukhari Nomor 1720, Hadits Nasai Nomor 2585, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 2900)

Catatan: Dalam hal membayar hutang puasa ini agama menetapkan bahwa hutang tersebut menjadi tanggungan ahli warisnya. Kewajiban anak-anaknya membayar hutang orang tuanya tersebut tentunya tidak berlaku mutlak, melainkan dengan catatan selama anaknya memiliki kemampuan membayar hutang kedua orang tuanya.

Lunasilah hutang-hutang kedua orang tua kita yang sudah meninggal dunia. Sebab dengan melunasi hutang kedua orang tua kita, maka akan menjadi ladang pahala kita. Di samping beban orang tua kita ringan, ruhnya selamat tidak terkatung-katung di akhirat. Dan apa yang dilakukan kita akan dicatat sebagai amal bakti kita kepadanya. Semoga Allah menghindarkan kita dan kedua orang tua kita dari lilitan hutang. Dan semoga Allah memberikan kekuatan kita untuk menanggung beban dengan melunasi kedua orang tua yang sangat kita cintai. Amin.

Baca Selengkapnya; Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Membayarkan Hutangnya

Menjaga Nama Baiknya

Orang tua memiliki kewajiban merawat, menjaga, menafkahi, menyayangi dan menjamin masa depan anak-anaknya. Begitu juga seorang anak memiliki kewajiban berbakti dengan menjaga nama baik orang tua dan keluarganya. Namun, realitasnya kebanyakan anak bukan malah membuat orangtua bangga dan terjaga kehormatannya. Sebaliknya banyak anak yang malah mempermalukan dan menghancurkan nama baik orangtua dan keluarga. Sebab perilaku buruk seorang anak maka akan berdampak pada nama baik orang tuanya tercemar di hadapan orang lain. Oleh karena itu wajib hukumnya menjaga nama baik orang tua sebagai wujud bakti anak kepadanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Sesungguhnya termasuk dari dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri, ” beliau ditanya; “Kenapa hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu orang yang pertama.” (Hadits Bukhari Nomor 5516)

Berdasarkan hadits di atas, maka dengan menjaga perilaku dan sikap diri sendiri sama halnya dengan telah menjaga nama baik orang tua. Berikut beberapa ikhtiyar yang dapat dilakukan seorang anak untuk menjaga nama baik orang tuanya.

Melanjutkan akhlaq mulia orang tua

Berbudi pekerti di dalam maupun di luar rumah. Tidak jarang ketika seseorang berperilaku dan berbudi pekerti luhur orang-orang mengaitkan dengan orang tuanya. Seperti, sopannya anak itu! Siapakah gerangan orang tuanya? Bila kita berprilaku baik yang akan merasa bangga tentunya orang tua kita dan bila kita bersikap buruk tentunya orang tua kita juga yang akan menanggung malu.

Melanjutkan amal shalih orang tua

Tidak jarang seorang anak dikenal oleh orang lain sebab kebaikan orang tua yang dikenal dan dirasakan oleh lingkungannya. Orang lain mengenang orang tua kita karena suka membantu, perduli, ramah, dermawan, dan lainnya. Sehingga ketika kita berperilaku tidak sama dengan orang tua kita, maka hal itu sama halnya kita telah mempermalukan orang tua kita.

Berprestasi

Bertahun-tahun dan berupiah-rupiah telah dikeluarkan oleh orang tua kita sebagai upaya mendidik kita agar menjadi manusia yang berprestasi. Bila upaya orang tua kita hargai dengan bersemangat dan bertekad meraih prestasi dalam duniawinya dan agamanya. Tentunya nama baik orang tua kita akan menjadi harum di mata orang lain.

Menjaga aib keluarga

Dalam membangun keluarga ada pasang surutnya. Terkadang dalam proses perjalannya pernah banyak uang dan pernah banyak hutang. Pernah tertawa bersama dan juga pernah tegang dan menangis bersama. Pernah sepakat dalam satu pandangan dan pernah berbeda pandangan sehingga konflik tidak dapat terelakkan dalam sebuah keluarga.

Entah sedikat atau banyak itulah aib yang dimiliki oleh sebuah rumah tangga. Dan tidak jarang sebuah keluarga menjadi berantakan dan menjadi cemoohan oleh sekitarnya sebab aib keluarga bocor keluar. Tidak semua warga dan tetangga sekitar menyukai keberadaan keluarga kita. Agar keluarga yang dibangun oleh orang tua tidak cemar dan tetap terjaga kehormatannya, maka sebagai anak wajib menjaga nama baik orang tua dengan tidak mudah mengumbar aib keluarga kepada orang lain.

Menghindari perbuatan keji

Yang tidak kalah pentingnya adalah tidak berbuat buruk dan bertindak keji sehingga menimbulkan masalah bagi orang-orang sekitar. Tidak berbuat perkara keji yang bersifat moril maupun berurusan dengan hukum, seperti maksiat, kemungkaran, kriminal, penipuan dan lain sebagainya. Dengan menjauhkan diri dari perbuatan keji niscaya nama baik, martabat dan kehormatan orang tua kita akan tetap terjaga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِيَ امْرَأَةً وَإِنَّ أُمِّي تَأْمُرُنِي بِطَلَاقِهَا قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ

“Sesungguhnya aku memiliki seorang isteri, sedang ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.” Abu Darda` berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kamu mampu, letakkanlah pintu tersebut atau jagalah.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1822)

Perbuatan-perbuatan baik di atas harus tetap dilanjutkan oleh seorang anak ketika orang tua sudah meninggal. Dengan begitu nama baiknya tetap terjaga dan harum di mata orang-orang. Dengan menjaga nama baik tentunya hal itu akan dicatat pahala oleh Allah sebagai bakti seorang anak kepada orang tuanya.

Baca Juga: Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Menjaga Nama Baiknya

Menjaga silaturahmi untuknya

Di antara fenomena yang sering kita jumpai di masyarakat, ada beberapa anak yang memiliki hubungan dekat dengan kerabat atau teman dekat orang tuanya. Namun ketika orang tuanya meninggal, kedekatan ini menjadi pudar.

Umat muslim berkewajiban bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan semua perintahnya. Salah satu perintah mulianya adalah berbakti kepada orang tua baik saat masih hidupnya maupun ketia mereka sudah wafat. Nabi

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“dari [Abdullah bin Mas’ud] dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Amalah apakah yang paling utama? ‘ Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Berjuang pada jalan Allah.” (Hadits Muslim Nomor 120)

Salah satu bentuk berbakti kepada orang tua yang tingkatannya sangat tinggi adalah menjaga hubungan silaturahmi dengan semua keluarga yang masih kerabat dengan orang tua kita dan orang-orang yang menjadi teman dekat orang tua.

أَبَرُّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya kebajikan (bakti kepada orang tua) yang utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturrahim) dengan keluarga sahabat baik ayahnya.” (Hadits Muslim Nomor 4630 dan Hadits Abu Daud Nomor 4477)

Silaturahmi dengan teman teman, relasi, kerabat, handai tolan, dan orang terdekat orang tua hendaknya tetap dilakukan sehingga orang tua juga turut mendapat pahala kebaikannya. Nabi bersabda,

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَدْرِيًّا وَكَانَ مَوْلَاهُمْ قَالَ قَالَ أَبُو أُسَيْدٍ بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ قَالَ نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا

“dari [Abu Usaid], sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, Ahli Badar, dan dia termasuk maula mereka, berkata; Abu Usaid berkata; Ketika aku duduk di samping Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba seorang laki-laki Anshar datang dan berkata; Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam apakah masih tersisa kewajiban atasku untuk berbuat baik kepada orang tuaku setelah kematian mereka berdua?. Beliau menjawab ‘Ya’, masih tersisa empat perkara yaitu: mendoakan untuk mereka berdua, meminta ampunan mereka, memenuhi janji mereka yang belum terselesaikan dan memuliakan teman-teman mereka serta silaturrahim yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kamu kecuali dari jalur mereka. Itulah semua yang tersisa dari kewajibanmu untuk berbuat kebaikan kepada orang tuamu setelah mereka meninggal ” (Hadits Ahmad Nomor 15479)

Dengan demikian, tidak perlu terlalu khawatir manakala kita sebagai anak merasa belum sempurna dalam bakti kepada kedua orang tua semasa hidup mereka. Sebab berkat rahmat Allah yang memberikan kesempatan bagi kita tetap bisa berbakti kepada kedua orang kita dengan menjaga hubungan silaturahmi dengan semua keluarga yang masih kerabat dengan orang tua kita dan orang-orang yang menjadi teman dekat orang tua semasa hidupnya. Sebab pahala menjaga hubungan silaturahmi dengan semua keluarga yang masih kerabat dengan orang tua kita dan orang-orang yang menjadi teman dekat orang tua semasa hidupnya bisa diterima dan sangat bermanfaat kepada mereka. Maka dari itu perbanyaklah menjaga hubungan silaturahmi dengan semua keluarga yang masih kerabat dengan orang tua kita dan orang-orang yang menjadi teman dekat orang tua semasa hidupnya, karena itu akan dicatat sebagai amal bakti kita kepada orang tua.

Selengkapnya baca; Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Menjaga Silaturahmi Untuknya

Tetap menjaga hubungan kekerabatan

Umat Islam berkewajiban bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan semua perintahnya. Salah satu perintah mulianya adalah berbakti kepada orang tua baik saat masih hidupnya maupun ketia mereka sudah wafat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“dari [Abdullah bin Mas’ud] dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Amalah apakah yang paling utama? ‘ Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Berjuang pada jalan Allah.” (Hadits Muslim Nomor 120)

Salah satu bentuk berbakti kepada orang tua yang tingkatannya sangat tinggi adalah tetap menjaga hubungan dengan semua kerabat yang masih ada ikatan darah dengan orang tua kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَبَرُّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya kebajikan yang utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturrahim) dengan keluarga sahabat baik ayahnya.” (Hadits Muslim Nomor 4630)

Bila kita mengaku cinta kepada orang tua, namun kita tidak berbakti kepadanya merupakan omong kosong. Makna berbakti kepada orang tua adalah apapun yang kita lakukan menjadi sebab kemuliaannya di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Bakti saat mereka hidup dengan merawat saat mereka mulai lemah, menafkahi saat mereka kekurangan, dan menghibur saat mereka sedih. Dan, berbakti kepada orang tua saat mereka sudah meninggal adalah dengan menunaikan kewajiban-kewajiabnnya, mendoakan kebaikan atasya, dan mengirim manfaat pahala dari apa yang kita lakukan. Banyak pahala yang dapat dikirimkan kepada orang tua, seperti kirim bacaan dzikir, kirim bacaan Al-Qur’an, kirim pahala sedekah, kirim pahala silaturahmi, dan kirim pahala hubungankekerabatan. Sebab hubungan baik kita sebagai anak kepada kerabat orang tua kita yang sudah meninggal akan menjadi ladang pahala bagi mereka.

Makna perintah menjalin persaudaraan dengan kerabat bukan hanya sekedar menjaga tali persaudaraan, namun lebih dari pada itu bahwa mereka yang memiliki ikatan kekerabatan diperintahkan untuk saling berbuat baik dan saling memberikan kemanfaatan. Sebab berbuat baik kepada sesama kerabat juga merupakan bagian dari unsur keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)

Makna tersirat dari ayat ini seakan-akan Allah mengatakan bahwa orang-orang yang tidak berbuat baik terhadap kerabat adalah orang-orang yang bermasalah dalam keimanannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. (Hadits Bukhari Nomor 12 dan Hadits Muslim Nomor 64)

Menjaga hubungan kekerabatan tetap baik merupakan salah satu wujud bakti seorang anak kepada orang tuanya. Setiap usaha menjaga hubungan baik dengan kerabat, niscaya itu akan menjadi butiran-butiran pahala yang akan terus mengalir (jariyah) meskipun orang tua kita sudah meninggal. Dengan berbakti kepada orang tua niscaya ridha dari Allah akan mudah kita terima.

Selengkapnya baca; Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Tetap Menjaga Hubungan Kekerabatan

Memuliakan teman-temannya

Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia agar lebih mulia dan bermartabat. Kemuliaan seseorang juga disebabkan karena mau memuliakan orang lain, terutama teman, sahabat, dan orang-orang terdekatnya. Esensi memuliakan orang lain di antaranya memenuhi hak-hak mereka, sebab ada hak orang lain dalam diri kita.

Dalam hal memuliakan orang lain ternyata tidak hanya berlaku bagi teman dan relasi kita sendiri. Namun Islam memerintahkan seorang anak tetap memuliakan teman-teman, sahabat, orang-orang terdekat, dan relasi yang dimiliki orang tua semasa hidupnya.

Sebab, tergolong berbakti kepada orang tua yang bernilai pahala adalah tetap memuliakan teman-teman keduanya; termasuk kawan karibnya, rekan kerjanya, kerabatnya keduanya. Seorang anak-anak menghormati dan memuliakan mereka, di antaranya dengan berkata sopan dan baik kepada mereka, menjenguk saat mereka sakit, membantu saat kesusahan, member hadiah, dan semisalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَدْرِيًّا وَكَانَ مَوْلَاهُمْ قَالَ قَالَ أَبُو أُسَيْدٍ بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ قَالَ نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا

“dari [Abu Usaid], sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, Ahli Badar, dan dia termasuk maula mereka, berkata; Abu Usaid berkata; Ketika aku duduk di samping Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba seorang laki-laki Anshar datang dan berkata; Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam apakah masih tersisa kewajiban atasku untuk berbuat baik kepada orang tuaku setelah kematian mereka berdua?. Beliau menjawab ‘Ya’, masih tersisa empat perkara yaitu: mendoakan untuk mereka berdua, meminta ampunan mereka, memenuhi janji mereka yang belum terselesaikan dan memuliakan teman-teman mereka serta silaturrahim yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kamu kecuali dari jalur mereka. Itulah semua yang tersisa dari kewajibanmu untuk berbuat kebaikan kepada orang tuamu setelah mereka meninggal ” (Hadits Ahmad Nomor 15479)

Salah satu alasan kenapa kita tetap berkewajiban memuliakan tetam-teman yang dimiliki orang tua kita adalah seringkali seseorang sukses dan mulia semasa hidupnya berkat bantuan, dukungan, sokongan dari teman-temannya. Seringkali ketika seseorang jatuh dalam hidupnya bisa bangkit kembali berkat bantuan dari teman-temannya. Dan seringkali kebahagiaan hidup orang tua kita berkat didampingi dan mendapat hiburan dari teman-temannya. Susah senang kedua orang tua kita dihabiskan bersama teman-teman dan sahabatnya. Sedangkan kesuksesan dan kemuliaan orang tua manfaatnya dirasakan oleh anak-anaknya. Itulah jasa kebaikan teman-teman orang tua kita yang wajib kita balas dengan memuliakan sepeninggal kedua orang tua kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barang siapa yang diperlakukan dengan baik kemudian dia mengucapkan, ‘JAZAAKALLAAHU KHAIRAN’ maka sungguh dia telah memberikan pujian yang terbaik.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1958)

Jadi dengan demikian kesuksesan seorang anak hasil jerih payah dari orang tua, sedangkan kemuliaan orang tua berkat dukungan dari teman-temannya. Jadi tidak salah manakala Islam sebagai sebuah agama tetap memperhatikan perkara ini dengan mewajibkan anak-anaknya tetap memuliakan teman-teman dan sahabat dari kedua orang tuanya. Muliakanlah teman-teman orang tua kita sebagai bentuk ungkapan rasa terima kasih kita kepada mereka yang telah mendukung kemuliaan kedua orang tua kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak akan bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (Hadits Ahmad Nomor 20845 dan Hadits Tirmidzi Nomor 1877)

Dengan berterima kasih kita kepada teman-teman orang tua kita berarti kita telah mensyukuri kenikmatan dan kemuliaan hidup yang telah kita miliki berkat kedua orang tua kita. Selama kita memuliakan teman-teman kedua orang tua kita maka kita akan mendapat pahala dari bentuk bakti kita. Selama kita berbakti kepada orang tua kita walaupun mereka sudah meninggal, niscaya apa yang kita lakukan akan menjadi sumber pahala yang terus mengalir kepada kedua orang tua kita.

Selengkapnya baca; Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Memuliakan Teman-temannya

Mengurus Jenazahnya

Di antara wujud bakti seorang anak kepada orang tuanya adalah mengurus jenazahnya sesaat setelah mereka meninggal. Berkaitan dengan masalah pengurusan jenazah, ada empat kewajiban utama terhadap jenazah yang mesti dilakukan oleh orang yang hidup. Empat hal ini dihukumi fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian kaum muslimin yang melakukan hal ini terhadap mayit. Jika tidak, semuanya terkena dosa. Empat hal yang mesti dilakukan terhadap mayit oleh yang hidup adalah: Memandikan, mengafani, menyolatkan, dan menguburkan. Itulah di antara wujud bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَسْرِعُوا بِجَنَائِزِكُمْ فَإِنَّمَا هُوَ خَيْرٌ تُقَدِّمُونَهُ إِلَيْهِ أَوْ شَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

“Segerakanlah dalam mengurus jenazah kalian. Jika itu kebaikan, kalian telah mendahulukannya. Jika itu keburukan, maka kalian segera menanggalkannya dari punggung kalian.” (Hadits Malik Nomor 512)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ

“Mandikanlah dia dengan air dan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain” (Hadits Bukhari Nomor 1719)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ فَقَالُوا صَلِّ عَلَيْهَا

“dari [Salamah bin Al Akwa’ radliallahu ‘anhu] berkata: “Kami pernah duduk bermajelis dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dihadirkan kepada Beliau satu jenazah kemudian orang-orang berkata: “Shalatilah jenazah ini”. (Hadits Bukhari Nomor 2127)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَرَّبْتُمُوهَا إِلَى الْخَيْرِ وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ ذَلِكَ كَانَ شَرًّا تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

“Segerakanlah penguburan jenazah, karena jika ia adalah seorang yang shalih, maka kalian telah mendekatkannya pada kebaikan. Tetapi, jika ia tidak termasuk orang yang shalih, maka berarti kalian mempercepat meletakkan keburukan dari pundak-pundak kalian.” (Hadits Muslim Nomor 1569)

Itulah kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya setelah keduanya meninggal. Banyak faedah dalam mengurus jenazah orang tuanya. Baik anak maupun orang tuanya sama-sama mendapatkan pahala dari perkara ini. Anak mendapatkan pahala dari nilai baktinya dan orang tua mendapatkan pahala dari amalan-amalan yang dilakukan anaknya selama pengurusan jenazah. Sebagaimana jenazah orang tua juga mendapatkan pahala dari shalat jazanah yang dilakukan oleh anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada Beliau; “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar”. (Hadits Bukhari Nomor 1240, Hadits Muslim Nomor 1570)

Di antara manfaat shalat jenazah adalah terkabulnya do’a-do’a mereka yang shalat janazah untuk si mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Mayat yang dishalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendo’akannya, maka do’a mereka untuknya akan dikabulkan.” (Hadits Muslim Nomor 1576)

Pengampunan bagi mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ إِذَا أُتِيَ بِجِنَازَةٍ فَتَقَالَّ مَنْ تَبِعَهَا جَزَّأَهُمْ ثَلَاثَةَ صُفُوفٍ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا وَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا صَفَّ صُفُوفٌ ثَلَاثَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَيِّتٍ إِلَّا أَوْجَبَ

“Jika Malik bin Hubairah didatangkan jenazah kepadanya dan hanya sedikit orang yang akan menshalatkannya, maka ia membagi shaf menjadi tiga baris kemudian shalat. Setelah itu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Tidaklah tiga shaf kaum muslimin berjajar menshalati jenazah, kecuali telah wajib (pengampunan Allah atas mayit). ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1479)

Shalat, do’a, dan dzikirnya menjadi syafaat bagi mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang, yang mana mereka tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan mengabulkan do’a mereka untuknya.” (Hadits Muslim Nomor 1577)

Ketika shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah, sedangkan di antara hakikat shalat adalah bacaan-bacaan Al-Qur’an. Dengan begitu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an bagi orang yang sudah meninggal hukumnya sunnah. Dan bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan doa orang yang masih hidup untuk orang yang sudah meninggal sangat berfaedah. Ada dua faedah, yakni faedah bagi yang hidup dan faedah bagi yang sudah mati. Salah satu faedah bagi orang yang hidup adalah pahala. Sedangkan salah satu faedahnya bagi orang yang sudah mati adalah syafaat (penolong) bagi mayit, sebagaimana yang telah ditunjukkan pada hadits di atas.

Uruslah jenasah orang tua kita sebagai bentuk bakti kita kepada kedua orang tua. Dengan begitu orang tua kita akan mendapatkan faedah dan kita juga akan mendapatkan pahala.

Baca Juga: Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Mengurus Jenazahnya saat Meninggal

Menziarahi kuburnya

Kesedihan merupakan fitrah alami yang dimiliki oleh setiap manusia. Mustahil bagi seorang anak shalih tidak merasa sedih ketika ditinggal kedua orang tuanya. Di samping kesedihan yang disebabkan sebuah perpisahan, juga kesedihan karena penyesalan atas kurangnya bakti dan pengabdian kepada keduanya. Islam sebagai agama fitrah tentunya tidak mengabaikan kefitrahan manusia tersebut dengan membenarkan penganutnya untuk tetap menjalin silaturahmi dengan orang tuanya melalui syariat ziarah kubur.

Di samping sebagai sarana silaturahmi untuk melepas kangen antara seorang anak dengan orang tua yang sudah meninggal, ternyata ziarah kubur memiliki keutamaan sebagai sarana berbakti seorang anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal. Pandangan ini didasarkan pada beberapa riwayat hadits berikut,

وَقَدْ رَوَى الْحَكِيمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدِيهِ

“Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dengan keadaan marfu’, ‘Siapa saja yang menziarahi sekali makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap Jumat, niscaya Allah mengampuninya dan ia tercatat sebagai anak yang berbakti kepada keduanya,’” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ رَحِمَهُ اللهُ : ثنا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصٍ السَّعْدِيُّ ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الْوَزْدُولِيُّ ، ثنا خَاقَانُ بْنُ الأَهْتَمِ السَّعْدِيُّ ، ثنا أَبُو مُقَاتِلٍ السَّمَرْقَنْدِيُّ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : ” مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبِيهِ أَوْ أُمِّهِ أَوْ عَمَّتِهِ أَوْ خَالَتِهِ أَوْ أَحَدُ قَرَابَاتِهِ كَانَتْ لَهُ حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ ، وَمَنْ كَانَ زَائِرًا لَهُمَا حَتَّى يَمُوتَ زَارَتِ الْمَلائِكَةُ قَبْرَهُ ” .

Abu Ahmad Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafsh as-Sa’di, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Ibrâhîm bin Musa al-Wazduli’, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Khâqân bin al-Ahtam as-Sa’di’, ia berkata; ‘Telah menceritakan kepada kami Abu Muqâtil as-Samarqandi, dari ‘Ubaidillâh, dari Nâfi’, dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma , ia berkata, ‘ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa menziarahi kubur ayahnya atau ibunya, atau saudara perempuan ayah atau ibunya (bibinya), atau salah seorang kerabatnya, maka ia akan memperoleh pahala haji mabrur. Dan barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya hingga ia meninggal dunia, niscaya para malaikat akan menziarahi kuburannya.” (Hadits’ ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab al-Kâmil fî Dhu’afâ ar-Rijâl II/393 no.2260, Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhû’ât III/240 no.1714, dan as-Suyûthi dalam al-La’âli’ al-Mashnû’ah fî al-Ahâdîts al-Maudhî’ah II/440 no.2527, dan lainnya)

Beberapa ulama menganggap Hadits tersebut dhaif. Di antaranya; Imam Ibnu Hibbân, Imam ‘Abdurrahmân bin Mahdi dalam al-Majruhîn I/256, dan Al-Hâfizh Ibnu Hajar dalam Tahdzîb At-Tahdzîb II/342.

Namun beberapa kalangan umat Islam menolak menziarahi orang tuanya yang sudah meninggal sebagai bentuk berbakti kepada kedua orang tua dengan mengajukan argumentasi bahwa dalil yang digunakan landasan amalan tersebut adalah hadits palsu. Hadits palsu yang mereka maksud adalah,

قَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ رَحِمَهُ اللهُ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الضَّحَّاكِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أََبِي عَاصِمِ ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ خَالِدٍ الأَصْبَهَانِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زِيَادَ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ الطَّائِفِيُّ ، عَنْ هِشَامٍ بن عُرْوَة ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ ، قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَرَأَ يس غُفِرَ لَهُ .”

Abu Ahmad Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin adh-Dhahhâk bin ‘Amr bin Abi ‘Ashim, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Khâlid al-Ashbahâni, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyâd, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim ath-Thâifi, dari Hisyâm bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, dari Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu , ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berziarah ke kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada hari jum’at, lalu ia membaca surat Yasin maka (dosa-dosanya) akan diampuni (oleh Allâh, pent).” (Hadits’ ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil Fî Dhu’afâ ar-Rijâl V/151)

Hadits ini dihukumi مَوْضُوْعٌ (maudhu’, palsu) oleh Imam Abu Ahmad Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil Fî Dhu’afâ ar-Rijâl V/151, Imam ad-Dâruquthni dalam Mizân al-I’tidâl karya adz-Dzahabi III/261, dan Imam Abu Zur’ah ar-Râzi dalam adh-Dhu’âfa’ karya al-‘Uqaili III/274.

Namun begitu dalam penetapan sebuah hukum dalam Islam tentunya tidak bisa hanya berdasarkan satu potong Hadits saja. Bukan Karena Sebuah Hadits Palsu, Kemudian Boleh Membatalkan Sebuah Hukum dalam Islam. Bisa saja satu hadits kedudukannya palsu, namun dalam riwayat lain tidak palsu. Jadi sebuah amal tetap boleh dilakukan berdasarkan kumpulan dari beberapa riwayat Hadits dengan tema yang sama. Di mana riwayat-riwayat hadits yang berbeda-beda dalam sebuah tema yang sama tersebut kedudukannya saling menguatkan.

Di samping itu pula, kalangan Sunni tidak mempermasalahkan menggunakan hadits dengan derajad dhaif apalagi marfu hanya sekedar untuk mendapatkan keutamaan dari fadhailul a’mal. Dengan demikian, berdasarkan beberapa riwayat hadits dengan derajad yang berbeda-beda tersebut di atas hukum menziarahi kubur orang tua dengan niat bakti kepadanya hukumnya boleh dan mengandung manfaat.

Baca Juga:

Bukan Karena Sebuah Hadits Palsu, Kemudian Boleh Membatalkan Sebuah Hukum dalam Islam

Dengan hanya mendatangi makam kedua orang tua saja maka sudah dihitung sebagai ziarah yang bernilai pahala. Yakni pahala mengingat kematian, dan pahala berbakti kepada orang tua. Apalagi di dalam ziarah tersebut ditambah dengan beberapa amalan berikut, niscaya nilai pahalanya akan semakin banyak.

Baca Selengkapnya; Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Menziarahi Kuburnya

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 3
    Shares