Bolehkah Tidur di Dalam Masjid?

Hukum Tidur di Dalam Masjid

Dalam bulan puasa ini kita sering menjumpai orang tidur-tiduran di dalam masjid. Sementara pada zaman sekarang ini banyak masjid yang memasang pengumuman dilarang tidur di masjid. Sebagian orang juga mengatakan bahwa tidur di masjid membuat pemandangan tidak indah dan menampakkan Islam itu loyo dan lemah. Bagiamana sebenarnya hukum masalah ini? Apakah memang tidur di masjid di larang dalam Islam? Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

أَتَانِي نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ فَضَرَبَنِي بِرِجْلِهِ قَالَ أَلَا أَرَاكَ نَائِمًا فِيهِ قُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ غَلَبَتْنِي عَيْنِي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadaku sementara saya sedang tidur di masjid, kemudian beliau mengoyang-goyangku menggunakan kakinya. Beliau berkata: “Kenapa aku melihat kamu tidur dalam masjid?” Aku lalu menjawab, “Aku terkalahkan oleh rasa kantuk.” (Hadits Ad-Darimi Nomor 1363)

Hadits di atas seolah mengisyaratkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang tidur di masjid.

Beberapa sahabat pernah melarang seseorang untuk tidur-tiduran di masjid. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

كُنَّا نَنَامُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ وَنَحْنُ شَبَابٌ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَخَّصَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي النَّوْمِ فِي الْمَسْجِدِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَا يَتَّخِذُهُ مَبِيتًا وَلَا مَقِيلًا وَقَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ذَهَبُوا إِلَى قَوْلِ ابْنِ عَبَّاسٍ

“Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kami tidur di masjid, sedang waktu itu kami masih muda.” Abu Isa berkata; “Hadits Ibnu Umar ini derajatnya hasan shahih. Sebagian ahli ilmu memberi keringanan untuk dibolehkannya tidur di masjid.” Ibnu Abbas berkata; “Jangan kalian jadikan ia (masjid) sebagai tempat untuk tidur siang atau tidur malam.” Dan sebagian dari ahli ilmu berpendapat dengan ucapan Ibnu Abbas tersebut.” (Hadits Tirmidzi Nomor295)

Namun kita jumpai dalam berbagai hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tidur di masjid. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي أَخِي عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ شَرِيكِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُنَا عَنْ لَيْلَةِ أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِي مَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ أَوَّلُهُمْ أَيُّهُمْ هُوَ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ هُوَ خَيْرُهُمْ وَقَالَ آخِرُهُمْ خُذُوا خَيْرَهُمْ فَكَانَتْ تِلْكَ فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى جَاءُوا لَيْلَةً أُخْرَى فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَائِمَةٌ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ فَتَوَلَّاهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ

Telah bercerita kepada kami [Isma’il] berkata telah bercerita kepadaku [saudaraku] dari [Sulaiman] dari [Syarik bin Abdullah bin Abu Namir], aku mendengar [Anas bin Malik] bercerita kepada kami tentang perjalanan malam isra’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari masjid Kabah (Al Haram). Ketika itu, beliau didatangi oleh tiga orang (malaikat) sebelum beliau diberi wahyu, saat sedang tertidur di Masjidil Haram. Malaikat pertama berkata; “Siapa orang ini diantara kaumnya? ‘.. Malaikat yang di tengah berkata; “Dia adalah orang yang terbaik di kalangan mereka’. Lalu malaikat yang ketiga berkata; “Ambillah yang terbaik dari mereka.” Itulah di antara kisah Isra’ dan beliau tidak pernah melihat mereka lagi hingga akhirnya mereka datang berdasarkan penglihatan hati beliau dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam matanya tidur namun hatinya tidaklah tidur, dan demikian pula para Nabi, mata mereka tidur namun hati mereka tidaklah tidur. Kemudian Jibril menghampiri beliau lalu membawanya naik (mi’raj) ke atas langit”. (Hadits Bukhari Nomor 3305)

Beberapa sahabat juga pernah tidur di masjid, misalnya Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ مَا كَانَ لِعَلِيٍّ اسْمٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَبِي تُرَابٍ وَإِنْ كَانَ لَيَفْرَحُ بِهِ إِذَا دُعِيَ بِهَا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام فَلَمْ يَجِدْ عَلِيًّا فِي الْبَيْتِ فَقَالَ أَيْنَ ابْنُ عَمِّكِ فَقَالَتْ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ شَيْءٌ فَغَاضَبَنِي فَخَرَجَ فَلَمْ يَقِلْ عِنْدِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِإِنْسَانٍ انْظُرْ أَيْنَ هُوَ فَجَاءَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُوَ فِي الْمَسْجِدِ رَاقِدٌ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ قَدْ سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ شِقِّهِ فَأَصَابَهُ تُرَابٌ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُهُ عَنْهُ وَهُوَ يَقُولُ قُمْ أَبَا تُرَابٍ قُمْ أَبَا تُرَابٍ

Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa’id] telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz bin Abu Hazim] dari [Abu Hazim] dari [Sahl bin Sa’d] dia berkata; “Tidak ada nama (julukan) yang paling disukai Ali selain Abu Turab, dan dia sangat senang bila dipanggil dengan nama tersebut, suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke rumah Fatimah ‘alaihis salam, namun beliau tidak menjumpai Ali di rumahnya. Maka beliau bertanya; ‘Di manakah anak pamanmu? ‘ Fatimah menjawab; ‘Sebenarnya antara saya dan dia ada permasalahan, malah dia memarahiku. Setelah itu, ia keluar dan enggan beristirahat siang di sini.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seseorang; ‘Lihatlah, di manakah dia berada! ‘ Tidak lama kemudian, orang tersebut datang dan berkata; ‘Wahai Rasulullah, sekarang dia tengah tidur di masjid.’ Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Ali ketika ia sedang berbaring, sementara kain selendangnya jatuh dari lambungnya hingga banyak debu yang menempel (di badannya). Kemudian Rasulullah mengusapnya seraya bersabda: ‘Bangunlah hai Abu Turab! Bangunlah hai Abu Turab! ‘ Hadits Bukhari Nomor 5808

Demikian pula Ibnu Umar radliallahu ‘anhu juga pernah tidur di masjid. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

كُنَّا نَنَامُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ وَنَحْنُ شَبَابٌ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَخَّصَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي النَّوْمِ فِي الْمَسْجِدِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَا يَتَّخِذُهُ مَبِيتًا وَلَا مَقِيلًا وَقَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ذَهَبُوا إِلَى قَوْلِ ابْنِ عَبَّاسٍ

“Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kami tidur di masjid, sedang waktu itu kami masih muda.” Abu Isa berkata; “Hadits Ibnu Umar ini derajatnya hasan shahih. Sebagian ahli ilmu memberi keringanan untuk dibolehkannya tidur di masjid.” Ibnu Abbas berkata; “Jangan kalian jadikan ia (masjid) sebagai tempat untuk tidur siang atau tidur malam.” Dan sebagian dari ahli ilmu berpendapat dengan ucapan Ibnu Abbas tersebut.” (Hadits Tirmidzi Nomor 295 dan Ibnu Majah Nomor 473)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata: “Hadits dari Ibnu Umar ini derajatnya hasan shahih. Sebagian ahli ilmu memberi keringanan untuk dibolehkannya tidur di masjid. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

كُنَّا فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَنَامُ فِي الْمَسْجِدِ نَقِيلُ فِيهِ وَنَحْنُ شَبَابٌ

“Dulu pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami biasa tidur dan istirahat di masjid, saat itu kami masih remaja.” (Hadits Ahmad Nomor 4378)

Demikian pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan shalat Isya hingga tengah malam, para sahabat pun menungguh shalat Isya berjamaah sambil tidur di masjid. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شُغِلَ عَنْهَا لَيْلَةً فَأَخَّرَهَا حَتَّى رَقَدْنَا فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ اسْتَيْقَظْنَا ثُمَّ رَقَدْنَا ثُمَّ اسْتَيْقَظْنَا ثُمَّ رَقَدْنَا ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ لَيْسَ أَحَدٌ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ غَيْرُكُمْ

“bahwasanya pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disibukkan dari Shalat Isya (karena persiapan perang), oleh karena itu beliau mengakhirkan pelaksanaannya, sehingga kami tidur di masjid, kemudian bangun, lalu tidur kembali, kemudian bangun, lalu tidur kembali, kemudian beliau keluar menemui kami seraya bersabda: “Tidak ada seorang pun yang menunggu shalat selain kalian.” (Hadits Abu Daud Nomor 171)

Bahkan telah termasyhur di kalangan ahli sejarah bahwa pada masa itu, di teras masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat sekelompok orang-orang miskin yang tidak memiliki tempat tinggal dan mereka tinggal serta tidur di teras masjid. Mereka dikenal dengan sebutan “ahlu shufah” yang kemudian sekarang disebut dengan “sufi”. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ يَعِيشَ بْنِ طَخْفَةَ بْنِ قَيْسٍ الْغِفَارِيِّ قَالَ كَانَ أَبِي مِنْ أَصْحَابِ الصُّفَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْطَلِقُوا بِنَا إِلَى بَيْتِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَانْطَلَقْنَا فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَطْعِمِينَا فَجَاءَتْ بِحَشِيشَةٍ فَأَكَلْنَا ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ أَطْعِمِينَا فَجَاءَتْ بِحَيْسَةٍ مِثْلِ الْقَطَاةِ فَأَكَلْنَا ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ اسْقِينَا فَجَاءَتْ بِعُسٍّ مِنْ لَبَنٍ فَشَرِبْنَا ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ اسْقِينَا فَجَاءَتْ بِقَدَحٍ صَغِيرٍ فَشَرِبْنَا ثُمَّ قَالَ إِنْ شِئْتُمْ بِتُّمْ وَإِنْ شِئْتُمْ انْطَلَقْتُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ قَالَ فَبَيْنَمَا أَنَا مُضْطَجِعٌ فِي الْمَسْجِدِ مِنْ السَّحَرِ عَلَى بَطْنِي إِذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِي بِرِجْلِهِ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ قَالَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad Ibnul Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Mu’adz bin Hisyam] ia berkata; telah menceritakan kepadaku [Bapakku] dari [Yahya bin Abu Katsir] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Salamah bin ‘Abdurrahman] dari [Ya’isy bin Thakhfah bin Qais Al Ghifari] ia berkata, “Bapakku termasuk ahli suffah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Ikutlah bersamaku ke rumah ‘Aisyah radliallahu ‘anha.” Kami lalu ikut pergi bersamanya. Beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, berilah kami makanan.” ‘Aisyah kemudian membawa Hasyisyah (sejenis makanan yang terbuat dari biji gandum yang dilembutkan lalu ditaburi daging atau kurma), lalu kami pun memakannya.” Beliau kemudian bersabda lagi: “Wahai ‘Aisyah, berilah kami makanan.” ‘Aisyah kemudian membawa Haisah (sejenis makanan yang terbuat dari kurma, terigu dan minyak samin) yang berbentuk seperti burung, lalu kami pun memakannya.” Beliau kemudian bersabda: “Wahai ‘Aisyah, berilah kami minum.” ‘Aisyah kemudian membawa bejana yang berisi susu, lalu kami pun meminumnya.” Beliau kemudian bersabda lagi: “Wahai ‘Aisyah, berilah kami minum.” ‘Aisyah kemudian membawa bejana kecil, lalu kami pun meminumnya.” Beliau kemudian bersabda: “Jika kalian mau silahkan menginap (di sini), dan jika mau silahkan tidur di dalam masjid.” Perawai berkata, “Ketika aku tidur dalam masjid dengan telungkup, tiba-tiba di waktu sahur seseorang membangunkan aku dengan kakinya. Laki-laki itu berkata, “Ini adalah cara tidur yang dibenci oleh Allah.” Aku lalu melihatnya, dan ternyata laki-laki itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Hadits Abu Daud Nomor 4383)

Hadits di atas menceritakan bapaknya Abu Salamah bin ‘Abdurrahman (Abdurrahman bin ‘Auf) yaitu Thakhfah bin Qais Al Ghifari radliallahu ‘anhu termasuk ahlu shufah yang tinggal dan tidur di masjid.

Dan Abu Hurairah adalah salah satu dari “ahlu shufah” yang tinggal dan tidur di masjid. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

إِنَّكُمْ تَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُونَ مَا بَالُ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ لَا يُحَدِّثُونَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ صَفْقٌ بِالْأَسْوَاقِ وَكُنْتُ أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي فَأَشْهَدُ إِذَا غَابُوا وَأَحْفَظُ إِذَا نَسُوا

“Sesunggungnya kalian telah mengatakan bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kalian juga mengatakan tentang sahabat Muhajirin dan Anshar yang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tidak sebanyak yang disampaikan oleh Abu Hurairah. Sungguh saudara-saudaraku dari kalangan Muhajirin mereka disibukkan dengan berdagang di pasar-pasar sedangkan aku selalu mendampingi (mulazamah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan perutku hanya terisi makanan pokok sehingga aku hadir saat mereka tidak hadir dan aku dapat menghafal hadits ketika mereka lupa.” (Hadits Bukhari Nomor 1906)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ ذَرٍّ حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ أَهْلُ الصُّفَّةِ أَضْيَافُ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا يَأْوُونَ عَلَى أَهْلٍ وَلَا مَالٍ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنْ كُنْتُ لَأَعْتَمِدُ بِكَبِدِي عَلَى الْأَرْضِ مِنْ الْجُوعِ وَأَشُدُّ الْحَجَرَ عَلَى بَطْنِي مِنْ الْجُوعِ

Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair telah menceritakan kepadaku Umar bin Dzarr telah menceritakan kepada kami Mujahid dari Abu Hurairah berkata: Ahlush shuffah adalah tamu-tamu orang Islam, mereka tidak punya tempat untuk menempatkan keluarga dan harta mereka. Demi Allah yang tidak ada Ilah selainNya, dulu pernah kubungkukkan badanku sambil duduk di atas tanah karena lapar dan aku mengikatkan batu diperutku.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2401)

Pada masa remaja dan belum menikah, Ibnu Umar tinggal di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي نَافِعٌ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَنَامُ وَهُوَ شَابٌّ أَعْزَبُ لَا أَهْلَ لَهُ فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [‘Ubaidullah] berkata, telah menceritakan kepadaku [Nafi’] berkata, telah mengabarkan kepadaku [‘Abdullah bin ‘Umar], bahwa ia pernah tidur di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat dia masih pemuda lajang dan belum punya keluarga.” (Hadits Bukhari Nomor 421, Nasa’i Nomor 714 Darimi Nomor 1364)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ كُنْتُ نَائِمًا فِي الْمَسْجِدِ عَلَيَّ خَمِيصَةٌ لِي ثَمَنُ ثَلَاثِينَ دِرْهَمًا

“dari [Shafwan bin Umayyah] ia berkata, “Aku tidur di dalam masjid dengan berselimut kain seharga tiga puluh dirham.” (Hadits Abu Daud Nomor 3819 dan Ahmad Nomor 14771)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنِي فَرْوَةُ بْنُ أَبِي الْمَغْرَاءِ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ أَسْلَمَتْ امْرَأَةٌ سَوْدَاءُ لِبَعْضِ الْعَرَبِ وَكَانَ لَهَا حِفْشٌ فِي الْمَسْجِدِ

Telah menceritakan kepadaku [Farwah bin Abu Al Maghra’] telah mengabarkan kepada kami [‘Ali bin Mushir] dari [Hisyam] dari [bapaknya] dari [‘Aisyah] radliallahu ‘anha berkata; Ada seorang wanita berkulit hitam yang bekerja dengan beberapa orang Arab yang telah masuk Islam. Wanita itu memiliki rumah kecil lagi sempit di dekat masjid.” (Hadits Bukhari Nomor 3548)

Ibnu Hajar Asqolani menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa maksudnya hamba sahaya itu tinggal menetap dalam masjid. Hadits ini menunjukkan bolehnya bermalam dan tidur siang di masjid bagi kaum muslimin yang tidak memiliki tempat tinggal baik laki-laki maupun perempuan jika aman dari fitnah. Boleh bernaung di dalam masjid dengan mendirikan kemah atau semacamnya.” (Fathul Bari Jilid 3 Hal. 178)

Pendapat Para Imam Mahzhab

Ibnu Hajar Asqolani ketika menjelaskan tentang hadits-hadits di atas menuliskan: Bab tidurnya laki-laki di masjid (pada kitab jami’ shahih bukhari) menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut (yaitu tidur di masjid). Tapi ada pendapat Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu bahwa hukum perbuatan tersebut (yaitu tidur di masjid) makruh (dibenci atau tidak disukai) kecuali bagi mereka yang hendak shalat. Sedangkan Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu menyatakan makruh secara total (dalam semua kondisi). Sedangkan Imam Malik (Madzhab Maliki) membedakan antara orang yang memiliki rumah dan yang tidak. Bagi mereka yang memiliki rumah maka makruh tidur di masjid. Adapun yang tidak memiliki rumah atau tempat tinggal, boleh tidur di masjid. (Fathul Bari Jilid 3 hal 180).

Tentu saja dengan catatan semua hadits di atas mengisahkan mereka masih lajang, maka tidak boleh suami isteri tinggal di dalam masjid atau di teras masjid walaupun tidak memiliki rumah atau tempat tinggal.

Tidur Di Masjid Di Luar Waktu Tidur

Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya tidur di masjid tidak bisa dipukul rata pada semua kondisi dan semua keadaan. Perlu dicermati bahwa hadits di atas sebagian besar menceritakan bahwa tidur di masjid itu dilakukan di waktu tidur yaitu malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tidur di Masjidil Haram ketika peristiwa Isra’ Mi’raj memang tidur di malam hari. Demikian pula hadits Ibnu Umar yang tidur di masjid terjadi pada malam hari.

Demikian pula kisah sahabat-sahabat yang memang tinggal di masjid sebagai ahlul shufah, mereka tidur di waktu tidur dan tidak berarti bahwa mereka tidur-tiduran terus di masjid walaupun di waktu siang yang seharusnya orang-orang bekerja atau memiliki kegiatan.

Maka tidur di waktu siang atau di saat orang seharusnya berkegiatan menunjukkan kemalasan. Sehingga tidur-tiduran di masjid pada jam-jam produktif di mana seseorang seharusnya berkeja atau memiliki kegiatan, boleh saja dilarang.

Hal ini sering terjadi di bulan Ramadhan di mana para pegawai yang seharusnya bekerja pada jam-jam kerja kemudian malah tidur-tiduran di masjid. Pertama mereka telah korupsi waktu dan melalaikan amanah sebagai pegawai, karena mereka digaji untuk bekerja, dan bukan untuk tidur-tiduran.

Kecuali jika tiduran di masjid itu dilakukan pada saat jam istirahat maka itu boleh-boleh saja sebagaimana hadits tentang Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu yang tidak menceritakan kapan kejadiannya dan kemungkinan di siang hari.

Ibnu Hajar Asqolani menambahkan dalam syarah hadits Bukhari menuliskan: “Hadits dari Sahl bin Sa’ad (yang menceritakan Ali tidur di masjid) memuat faidah antara lain ialah bolehnya istirahat siang di masjid” (Fathul Bari Jilid 3 hal 181)

Perlu dipahami bahwa bangsa Arab ketika itu memiliki tradisi tidur siang setelah shalat zhuhur, karena panasnya cuaca gurun pasir di siang hari. Dengan demikian cerita Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu tidur di masjid di siang hari ini pun masih dalam konteks waktu tidur. Sedangkan di luar waktu tidur tentunya para sahabat memiliki aktifitas dan bukan tidur-tiduran santai di masjid.

Jika para pemuda Islam di pagi dan siang hari tidur-tiduran di masjid padahal seharusnya mereka bisa bekerja dan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat maka boleh saja pengurus masjid menegur dan melarangnya bukan karena tidak boleh tidur di masjid melainkan karena bukan saat nya untuk tidur.

 

Oleh: Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 4
    Shares