Bid’ah Bukan Hukum Islam

Bantahan Bagi Penuduh Bid’ah

Bid’ah Bukan Hukum Islam

Bila ada pihak yang mudah menuduh bid’ah terhadap suatu amalan atau ibadah, namun tidak menyertakan dalil qath’i (jelas) yang melarang baik dari Al-Qur’an maupun Hadits, maka hal itu merupakan kebohongan (kidzbah) yang mengatasnamakan agama. Dengan kata lain, bila ada pihak-pihak yang mempersoalkan tanpa disertai satupun dalil larangan yang khusus dan spesifik atas suatu amalan seperti kebolehan mengirim pahala bacaan Al-Fatihah atau bacaan Al-Qur’an kepada orang yang sudah meninggal berdasarkan keumuman sebagian dalil-dalil yang ada, maka asumsi tersebut tertolak. Hal ini berdasarkan firman Allah bahwa mengharamkan hal-hal yang tidak diharamkan oleh Allah merupakan kedustaan agama, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung (terlaknat).” (QS. An-Nahl [16]: 116)

Bila sebuah perkara dipaksakan untuk dianggap sebagai sebuah larangan agama Islam namun tanpa ada dasar dari dalil Al-Qur’an dan Hadits maka hal itu akan disebut kidzbah (kedustaan) yang mana hal itu tergolong kelancangan terhadap kewenangan Allah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan rasulNya, tetapi hendaklah kamu bertakwakepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui…(QS. Al-Hujurat: 1)

Bila ada pihak-pihak tetap memaksa mempersoalkan suatu amalan dengan menganggap bid’ah dengan dalih Nabi tidak pernah mencontohkan amalan tersebut dengan dasar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara (mutasyabihat-red) adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka’. (HR. Nasai Nomor 1560)

Perlu diketahui bahwa istilah BID’AH itu tidak termasuk hukum dalam Islam karena dalam Islam hukum hanya ada lima; Wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Jadi bid’ah merupakan istilah asing dalam hukum Islam sehingga tidak bisa dijadikan hujjah syariah atau tidak bisa dijadikan dasar berhukum dalam Islam. Tertolaknya berhukum dengan istilah BID’AH karena hal ini termasuk perkara syubhat (tidak jelas) dan produk hukumnya pun juga tidak jelas sehingga cenderung menimbulkan fitnah beragama. Disamping itu hadits-hadits yang bertema BID’AH tergolong nash-nash mutasyabihat (tidak jelas) sehingga dilarang dan haram hukumnya menggunakan hadits-hadits tersebut sebagai dasar hukum, hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas kategorinya), itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (tidak jelas kategorinya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka (akan mudah) mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS.Ali Imran: 7)

Ayat ini sangat jelas sekali Allah melarang dengan keras bahkan mengancam orang-orang menggunakan ayat-ayat dan hadits-hadit yang tergolong mutasyabihat, karena nash-nash mutasyabihat akan mudah menimbulkan fitnah dan perpecahan dalam agama. Pertanyaannya kenapa hadits-hadits bertema BID’AH tergolong mutasyabihat yang haram untuk digunakan sebagai dasar berhukum Islam? Karena hadits-hadits bertema BID’AH sudah memenuhi syarat dan memenuhi kategori mutasyabihat.

Lalu apa kategori mutasyabihat?

  1. Bila tidak jelas objek perkaranya.
  2. Bila tidak jelas kategori dan kriteria perkaranya.
  3. Bila tidak jelas kaifiyatnya (tata caranya)
  4. Bila tidak jelas spesifikasi waktunya pelaksanannya.
  5. Bila tidak jelas spesifikasi tempatnya pelaksanannya.
  6. Bila tidak jelas kadarnya.
  7. Bila tidak jelas batasannya (karena keumuman maknanya)

Coba perhatikan dengan seksama dari semua hadits-hadits yang betema bid’ah kata yang digunakan adalah PERKARA/AMRUN (أَمْرٌ) dimana kata “perkara” tersebut sama sekali tidak ada petunjuk satupun bahwa yang dikendaki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu memang benar-benar “PERKARA AGAMA”. Adapun bila ada pihak-pihak yang memaksakan makna “PERKARA” tersebut adalah “PERKARA AGAMA” itu hanya berdasarkan asumsi dan logika pentakwilan mereka saja yang tidak didasari dengan satupun dalil yang secara qath’i dapat mendukungnya. Oleh karena itu, sudah jelas dan dapat disimpulkan bahwa PERKARA BID’AH adalah perkara SYUBHAT dan MUTASYABIHAT yang haram hukumnya digunakan dasar hukum. Dan bila dipaksakan maka hukumnya batal.

Namun tetap boleh menggunakan ayat-ayat mutasyabihat sebagai dasar hukum bila telah memenuhi syarat;

Pertama: Bukan sebagai hujjah utama namun setatusnya sebagai hujjah penunjang saja.

Kedua: Sedangkan hujjah utama harus ada dalil larangan yang khusus dan spesifik.

Semisal ada seseorang membid’ahkan dengan maksud mengharamkan amalan bersalaman setelah jamaah shalat, membacakan surat Yasin untuk orang mati, bertawasul, maulid Nabi, dan sebagainya. Namun mereka sama sekali tidak menunjukkan dalil satupun yang melarang. Mereka hanya beretorika bahwa perkara tersebut tidak pernah dilakukan (dicontohkan) oleh Nabi. Maka anggapan mereka batal. Sebab prinsip hukum dalam Islam ada dua; Perintah atau larangan. Jadi bila memerintahkan atau melarang sesuatu atas nama agama namun tidak ada dalilnya maka hal tersebut tertolak. Jadi, baik memerintahkan maupun melarang suatu amal namun tidak disertai dalil yang qat’i maka perkara tersebut masuk ke dalam perkara yang mubah sebab agama mendiamkan perkara tersebut agar bebas dilakukan oleh umatnya sebagai bentuk rahmat dan keringanan. Pandangan ini berdasarkan pada banyak dalil. Untuk lebih jelasnya, baca juga ulasan artikel yang terkait berikut ini;

Hukum Asal Semua Amalan Adalah Boleh

Bila tidak memenuhi syarat tersebut maka ayat-ayat berkategori “MUTASYABIHAT” statusnya tidak dapat dijadikan dasar berhukum dalam Islam.

Lebih jelasnya terkait Hadits-Hadits tentang bid’ah tidak boleh digunakan sebagai dalil baca buku “Menyoal Kehujjahan Hadits Bid’ah” yang ditulis oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad. Dapatkan di toko-toko terdekat kesayangan Anda.

وَاللهَ أَعْمُ بِالصَّوَابِ

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 139
    Shares