Bertawakal Tanpa Meninggalkan Usaha

Tawakal merupakan bagian dari ajaran Islam yang sangat penting. Karenanya, tawakal sangat ditekankan di dalam Al Qur’an. Kata “tawakal” disebut di dalam Kitab Suci ini tidak kurang dari 30 kali yang tersebar di dalam 19 surah yang berbeda, misalnya surah Ali Imran, ayat 122; Al-Maidah, ayat 11; Al-A’raf, ayat 89; dan sebagainya. Tawakal inilah yang merupakan salah satu hal yang membedakan antara orang beriman dengan orang tidak beriman.

Tawakal merupakan suatu sikap pasrah seorang hamba kepada Tuhannya yang disertai dengan kesungguhan hati dan berusaha untuk menjauhi segala yang dilarang-Nya untuk menggapai ketentraman hidup di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman;

وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ(۲) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ…

Artinya, “Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya.”(QS. Ath Tholaq: 2-3).

Pengertian Bertawakal Kepada Allah

Banyak diantara para ulama yang telah menjelaskan makna tawakal, diantaranya adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau mengatakan, “Tawakal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakali.” (Faidhul Qadir, 5/311). Dan para ulama’ lain diantaranya adalah Ibnu ‘Abbas radhiyAllahu’anhuma mengatakan bahwa tawakal bermakna percaya sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Imam Ahmad mengatakan, “Tawakal berarti memutuskan pencarian disertai keputus-asaan terhadap makhluk.”. Al Hasan Al Bashri pernah ditanya tentang tawakal, maka beliau menjawab,“Ridha kepada Allah Ta’ala”,. Ibnu Rojab Al Hanbali mengatakan,“Tawakal adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya kepada Allah Ta’ala dalam memperoleh kemashlahatan dan menolak bahaya, baik urusan dunia maupun akhirat secara keseluruhan.”. Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan,“Tawakal yaitu memalingkan pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.”

Menurut Imam Ahmad bin Hambal, atau yang lebih dikenal dengan Imam Hambali, tawakal merupakan perbuatan hati. Artinya, tawakal bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Juga bukan merupakan sebuah wacana atau sekedar pengetahuan belaka. Tetapi sekali lagi, tawakal merupakan perbuatan hati sehingga tidak bisa diwujudkan dalam bentuk fisik, seperti berdiam diri tanpa melakukan suatu ikhtiar lahiriyah.

Menangkal keburukan dengan tawakkal

Bahwa sikap tawakkal dapat menolak keburukan diukir oleh Allah dalam Al-Qur’an sebuah peristiwa selamatnya Ibrahim dari api yang membakar tubuhnya sebab sikap tawakkalnya terhadap Allah. Allah berfirman,

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (Surat Al-‘Ankabut Ayat 24)

Nabi Ibrahim oleh Allah diselamatkan dari api disebabkan sikap tawakkalnya terhadap Allah. Ibnu Abbas berkata, “Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia dilemparkan ke tengah bara api adalah: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah sebaik-baik pelindung’. Sebagaimana sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ } قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا {إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ}

“dari [Ibnu ‘Abbas] Hasbunallah wa ni’mal wakil adalah ucapan Ibrahim Alaihis Salam ketika di lemparkan ke api. Juga diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika orang-orang kafir berkata; “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Hadits Bukhari Nomor 4197)

Sikap tawakkal merupakan simbol keimanan seseorang. Dengan sikap tawakkal, maka Allah akan menyelamatkan hambanya dari marabahaya. Sebab Allah tidak akan membiarkan hambanya yang beriman berada dalam keburukan.

Tawakal merupakan pintu rezeki

Sikap tawakkal tidak hanya dapat menangkal keburukan, bahkan dengan tawakkal menjadi sebab datangnya banyak anugerah dari Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberi rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rizki terhadap burung, ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4154 dan Hadits Tirmidzi Nomor 2266)

Pada hadits di atas menerangkan bahwa orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah, tentu rezekinya akan dimudahkan oleh-Nya. Bagaimana tidak mungkin terjadi jika orang tersebut telah bertawakal kepada Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Abu Hatim Ar Razy berkata, “Hadist ini merupakan tonggak tawakal. Tawakal kepada Allah itulah faktor terbesar dalam mencari rezeki.” Oleh karena itu, seseorang yang bertawakal kepada Allah, Insyaallah Dia akan dicukupi oleh Allah rezekinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya.” (Surat At-Talaq Ayat 3)

Bukan Berarti Bertawakal Meniadakan Usaha

Sebuah pengertian yang salah, jika seseorang mengartikan hanya dengan bertawakal saja tanpa adanya usaha dia bisa mewujudkan apa yang diinginkannnya. Karena Allah memerintahkan hambanya untuk berusaha dan juga bertawakal dalam mencari rezeki. Allah berfirman,

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Surat Ali ‘Imran Ayat 159)

Membulatkan tekad atau berusaha itu mewujudkannya dengan tindakan dan bertawakal dengan hati yang percaya bahwa Allah akan memudahkannya. Mungkin banyak dari orang yang berkata; “Jika bertawakal kepada Allah saja itu akan diberi rezeki, kenapa kita harus susah payah dan berusaha untuk mencari penghidupan. Bukankah kita hanya cukup bertawakal saja?”. Perkataan itu sungguh menunjukkan pernyataan yang salah tentang hakikat dari tawakal.

Hakikat tawakkal itu terwujud dalam kesempurnaan ikhtiyar seseorang. Semakin seseorang bertawakkal maka dia akan semakin berikhtiyar. Bentuk rendahnya tawakkal seseorang itu terlihat ketika ikhtiyarnya rendah. Sebab tawakkal itu tampak dalam tindakan dan usaha seseorang ketika dia ingin mengapai suatu tujuan atau sesuatu yang diinginkannya. Makna ini didapat dari sebuah sabda Nabi yang menegor seorang sahabat dimana keinginan dia untuk tawakkal namun dengan cara meniadakan iktiyar. Nabi bersabda,

عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ (رواه الترمذي)

“Dari Anas bin Malik ra, ada seseorang berkata kepada Rasulullah SAW. ‘Wahai Rasulullah SAW, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal, atau aku lepas ia dan aku bertawakal?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Jadi, wujud dari tawakkal seseorang adalah manakala ia semakin berikhtiyar dalam kehidupannya. Ketika kita bertawakal kepada Allah bukanlah berarti kita meninggalkan usaha. Namun seharusnya setiap muslim berusaha dan bersungguh-sungguh untuk bisa mencukupi kebutuhannya. Hanya saja kita tidak boleh menyandarkan diri pada usaha dan kerja keras, tetapi harus menyakini bahwa segala urusan itu hanya milik Allah dan rezeki itu hanyalah dari Dia semata.

Oleh: Ustad Yazid Faturrozy dan disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 59
    Shares