Bermakmum Kepada Imam yang Tidak Membaca Qunut atau Sebaliknya.

Sudah sama-sama diketahui barsama bahwa amalan doa qunut shalat subuh merupakan perkara ikhtilaf (perbedaan) di antara para ulama. Bagi kalangan mazhab Hanifah, qunut hanya dilakukan kala shalat witir. (Ibnu Rusyd dalam Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid).

Bagi kalangan mazhab Hambali, qunut hanya dilakukan pada shalat Subuh ketika umat Islam dilanda musibah, atau lebih dikenal dengan momen nazilah. Pandangan ini didasarkan pada riwayat Hadits riwayat Muslim.

Menurut Imam Malik bin Anas radliallahu ‘anhu memandang bahwa doa qunut sifatnya sebuah anjuran saja atau dikenal dengan istilah mustahab, yaitu hal yang dianjurkan namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengamalkannya secara terus-menerus dalam hidupnya. Berliau berpandangan bahwa dalam satu kesempatan memang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam rutin berqunut selama beberapa waktu lamanya, namun dalam kesempatan lain Nabi juga pernah tidak berqunut untuk jangka waktu yang lama.

Berbeda bagi kalangan mazhab Syafi’i, qunut diamalkan pada setiap kali shalat Subuh. Madzhab ini beranggapan bahwa qunut pada shalat subuh tergolong sunnah ab’ad, yakni sunnah yang mendekati wajib, dimana bila ditinggalkan wajib hukumnya diganti dengan sujud sahwi.

Dari perbedaan pendapat tersebut dalam praktiknya tidak jarang mengalami benturan di kalangan umat Islam. Sebagaimana seseorang mengikuti jamaah shalat subuh di mana sang imam tidak mengamalkan qunut sebab dia meyakini qunut saat shalat subuh bukan kesunnahan, atau mungkin sebaliknya.

Menyikapi perkara tersebut haruslah lebih mengedepankan akhlaq dan penghormatan daripada mengedepankan urusan fikih untuk menghindari pertikaian dan permusuhan. Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy;

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi Nomor 1941)

Dengan demikian, semakin baik akhlaqnya maka hal itu menunjukkan semakin kokoh ‘aqidah dan keimanan. Semakin bertambahnya ilmu ‘aqidah dan imannya, maka akan semakin bertambah luhur pula akhlaknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, bahwa akhlak itu merupaan ukuran kesempurnaan iman seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi Nomor 1162)

Dalam menyikapi masalah ini ada baiknya kita mempertimbangkan pandangan Abul Qasim Ar-Rafi‘i dalam kitab Al-‘Aziz yang merupakan anotasi (syarah) atas kitab Al-Wajiz karya Imam Al-Ghazali. Beliau berkata,

وَإِذَا جَوَّزْنَا اقْتِدَاءَ اَحَدِهِمَا بِالْآخَرِفَلَوْ صَلَّي الشَّافِعِيُّ الصُّبْحَ خَلْفَ حَنَفِيٍّ وَمَكَثَ الْحَنَفِيُّ بَعْدَ الرُّكُوعِ قَلِيلًا وَاَمْكَنَهُ اَنْ يَقْنُتَ فِيهِ فَعَلَ وَاِلَّا تَابَعَهُ

“Ketika kita membolehkan mengikuti salah satu dari keduanya, maka seadainya penganut madzhab Syafi’i bermakmum di belakang penganut madzhab Hanafi dan ia (penganut madzhab Hanafi) setelah ruku‘ berdiam sejenak dan memungkinkan si makmum untuk membaca doa qunut, maka bacalah. Jika tidak (berhenti sejenak), maka ikutilah imam,” (Lihat Abul Qasim Ar-Rafi‘i, Al-‘Aziz Syarhul Wajiz, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1417 H/1997 M, juz II, halaman 156).

Dengan begitu dapat difahami bahwa bila imam tidak qunut, walaupun makmum penganut faham kesunnahan qunut, maka sebaiknya makmum mengikuti gerakan imam dengan tidak memanjatkan doa qunut. Atau sebaliknya, bila imam membaca qunut, sedangkan makmum tidak meyakini qunut sunnah, maka makmum tersebut tetap diwajibkan tegak berdiri mengikuti imam dengan niat menghormati imam walaupun dia tidak ikut memanjatkan doa qunut. Sebab bila makmum memaksakan diri untuk menolak imam yang sedang membaca qunut sehingga meninggalkan imam dengan melanjutkan geraka sujud sendiri. Maka hal itu berarti sudah masuk dalam kategori mendahului imam, dengan kata lain si makmum melakukan makar terhadap imam dalam shalat. Sedangkan mereka yang meninggalkan imam terdapat ancaman buruk dari agama. Ada ancaman bagi mereka yang dengan sengaja mendahului gerakan imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَار

“Tidakkah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam takut jika Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai? “(Hadits Riwayat Bukhari Nomor 691)

Kedua kasus tersebut tidak mengurangi keabsahan shalat tersebut. Dalam hal ini mengikuti imam merupakan kewajiban dalam shalat berjamaah, sebab imam diangkat untuk diikuti. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُو

“Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Imam dijadikan untuk diikuti, apabila ia bertakbir maka bertakbirlah kalian dan jika ia sedang membaca (Al-Fatihah atau surat Al Qur’an) maka simaklah (diam dan dengarkan) .“ (Hadits Riwayat Nasa’I Nomor 913, Ahmad Nomor 8534, Ibnu Majah Nomor 837)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits berikut,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاكٍ فَصَلَّى جَالِسًا وَصَلَّى وَرَاءَهُ قَوْمٌ قِيَامًا فَأَشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ اجْلِسُوا فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dari Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di rumahnya ketika Belliau sedang sakit hingga shalat dengan duduk. Saat itu di belakang Beliau ada orang-orang mengikuti shalat dengan berdiri. Maka Beliau memnberi isyarat kepada mereka agar shalat dengan duduk. Setelah selesai Beliau bersabda: “Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti. Maka bila dia ruku’, ruku’lah kalian dan bila dia mengangkat (kepala), maka angkatlah (kepala) kalian”. (Hadits Bukhari Nomor 1046)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat difahami bahwa shalat makmum yang membaca do`a qunut itu sah meskipun imam tidak membacanya, dan atau sebaliknya.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke