Berlebihan dalam Makan dan Minum

Seorang Muslim hendaknya tidak makan dengan berlebihan. Sebab berlebihan dalam makan merupakan perilaku yang sangat dicela. Nabi bersabda,

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الْآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتْ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ

“Tidaklah anak Adam memenuhi tempat yang lebih buruk daripada perutnya, ukuran bagi (perut) anak Adam adalah beberapa suapan yang hanya dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika jiwanya menguasai dirinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3340 dan Hadits Tirmidzi Nomor 2302)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa seburuk-buruk perkara dalam urusan makan adalah bila menuruti syahwat makan hingga tidak tersisa sedikit ruang dalam lambung perut. Makan dan minum yang baik adalah sebatas untuk menegakkan tulang punggungnya. Maksudnya adalah makan dan minum secukupnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dalam hadits tersebut diberikan gambaran makan yang baik adalah manakala perut dibagi dalam tiga kebutuhan, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas. Dengan begitu kita masuk dalam kategori tidak berlebihan. Dalam sebuah riwayat Hadits juga disebutkan,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا مَا لَمْ يُخَالِطْهُ إِسْرَافٌ أَوْ مَخِيلَةٌ

“Makan dan minumlah, bersedekah dan berpakaianlah kalian dengan tidak berlebih-lebihan atau kesombongan.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3595)

Agama menganjurkan agar dalam makan dan minum itu secara pertengahan saja; cara ini membuat tubuh menjadi sehat dan terhindar dari sifat berlebih-lebihan yang dilarang oleh ayat di atas. Dengan begitu hendaknya umat muslim dalam perilaku makan dan minum sesuai dengan kebutuhan. Allah berfirman,

۞ يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Surat Al-A’raf Ayat 31)

Oleh karenanya, jika seseorang makan sampai perutnya terlalu kenyang dapat menimbulkan rasa malas dalam bergerak, ingin tidur terus dan malas beraktifitas, dan otaknya menjadi lemah sehingga tidak produktif. Sedangkan Islam menginginkan seorang hamba beraktifitas dan produktif, baik dalam masalah dunia maupun dalam masalah ibadah.

Dalam makan jangan meniru perilaku orang-orang kafir, dimana mereka seperti perilaku binatang yang tidak memperhatikan halal dan haramnya, tidak memperhatikan bersih dan kotornya, dan tidak memperhatikan sedikit dan banyaknya. Atau bahkan perilaku binatang tidak memperdulikan apakah makanannya dihasilkan dari cara yang halal atau haram. Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Surat Muhammad Ayat 12)

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang kafir telah bersikap berlebihan dalam perilaku makannya. Mereka makan bukan untuk pengabdian kepada Allah, namun mereka makan hanya untuk kesenang-senangan, karena bagi meraka kehidupan akhirat itu tidak ada. Jadi mereka tidak salah bila berprinsip “hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup”

Mengisi perut secara berlebihan meskipun dengan makanan yang halal, tetap dilarang dan mesti dihindari. Sebab, mengisi perut dengan berlebihan dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit baik jasmani maupun rohani. Secara jasmani makan yang berlebihan bisa menyebabkan kolesterol, penyakit gula, jantung, dan berbagai jenis penyakit lainnya. Karena, Secara medis orang yang banyak makan sangat potensial menjadi gemuk, dan orang yang gemuk rentan dengan berbagai macam penyakit.

Secara rohani orang yang makan berlebihan kata Rasulullah saw. akan malas shalat. Sebab, biasanya bila sudah kekenyanagn seseorang akan diserang rasa kantuk dan akhirnya tidur dengan pulas karena kekenyangan. Shalat hanyalah salah satu saja contoh ibadah yang disebutkan Rasulullah saw. Orang yang suka megisi perutnya dengan kenyang dia tidak hanya malas shalat, tetapi juga malas melaksanakan ibadah dan aktifitas yang lain. Jika malas hanya sampai tingkat merasa berat mengerjakannya masih lumayan, di banding malas sampai ke tingkat meninggalkan atau pembangkangan. Sebab, sangat mungkin hal ini ini terjadi pada seseorang yang malas pada akhirnya meninggalkan kewajiban itu sendiri. Bukankah itu salah satu kekafiran? Dengan demikian berlebihan dalam mengisi perut bisa menyeret seseorang kepada dosa kekufuran terhadap Allah.

Semoga kita terhindah dari sikap berlebih-lebihan. Amin

KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke