Berkreasi dalam Hal Ibadah Ternyata Dibenarkan oleh Agama Islam

Sub Judul;

  1. Tidak semua perkara baru itu bid’ah
  2. Memerintahkan dan melarang suatu amalan sama-sama membutuhkan dalil
  3. Menggunakan hukum bid’ah itu batil dan tertolak sebab akan berdampak pada terberangusnya hukum netral (mubah) yang mana wilayahnya lebih luas yang sengaja disediakan oleh Allah untuk mempermudah urusan umat Islam.
  4. Logika bid’ah yang dibangun kaum Salafy berdampak menghancurkan agama dari dalam, sebab umat Islam akan mudah saling bermusuhan dan bertikai disebabkan saling menuduh bid’ah.
  5. Menciptakan kebaikan baru (bid’ah hasanah) merupakan perintah Allah
  6. Umat Islam boleh berkreasi terhadap hal-hal yang sengaja tidak diatur (didiamkan) oleh Allah

Ulama telah bersepakat segala sesuatu yang diamalkan oleh umat harus memiliki landasan dalam agama, yaitu Al-Quran, hadits, ijmak, atau qiyas. Berangkat dari filosofi atau prinsip dasar hukum ini kemudian berakibat pada sebuah amalan dikategorikan sebagai amalan sunah apabila amalan tersebut memiliki pijakan dalam sumber agama Islam. Sedangkan amalan dikategorikan sebagai amalan bid’ah apabila amalan tersebut tidak memiliki pijakan dalam sumber agama Islam. Baik dalil-dalil yang bersifat umum (am) maupun dalil-dalil yang bersifat khusus (khas).

Namun yang perlu digaris bawahi pengertian amalan sunnah dan bid’ah yang dimaksud dalama hal ini menurut definisi syariah, bukan secara bahasa yang cakupannya terlalu umum sehingga apapun dapat dikenakan label bid‘ah sehingga akan menimbulkan masalah dan kontradiktif. Hal ini disebutkan oleh ulama Madzhab Hanbali, Ibnu Rajab Al-Hanbali sebagai berikut:

وقال الحافظ ابن رجب الحنبلي: والمرادُ بالبدعة: ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يَدُل عليه، أما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه، فليس ببدعة شرعاً، وإن كان بدعة لغة.

Artinya, “Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ‘Yang dimaksud bid‘ah sesat itu adalah perkara baru yang tidak ada sumber syariah sebagai dalilnya. Sedangkan perkara baru yang bersumber dari syariah sebagai dalilnya, tidak termasuk kategori bid‘ah menurut syara’/agama meskipun masuk kategori bid‘ah menurut bahasa,’” (Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali pada Syarah Shahih Bukhari).

Sebagaimana berzakat menggunakan beras, melegalkan pernikahan dengan menerbitkan surat nikah oleh negara, pembuatan paspor dan visa sebagai syarat ibadah haji, pembukuan Al-Qur’an dan Hadits, dan masih banyak lagi contoh bid’ah dalam soal agama merupakan contoh bid’ah baik yang tetap memiliki landasan dalam sumber agama Islam.

Perihal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan soal bid‘ah itu, Guru Besar Hadits dan Ulumul Hadits Fakultas Syariah Universitas Damaskus Syekh Musthafa Diyeb Al-Bugha membuat catatan singkat berikut ini.

(من أحدث) اخترع (في أمرنا هذا) ديننا هذا وهو الإسلام (ما ليس فيه) مما لا يوجد في الكتاب أو السنة ولا يندرج تحت حكم فيهما أو يتعارض مع أحكامها وفي بعض النسخ (ما ليس منه) (فهو رد) باطل ومردود لا يعتد به

Artinya, “Siapa saja yang mengada-ada (membuat hal baru) di dalam urusan (agama) kami (agama Islam) yang bukan bersumber darinya (tidak terdapat dalam Al-Quran atau sunah, tidak berlindung di bawah payung hukum keduanya atau bertolak belakang dengan hukumnya), maka tertolak (batil, ditolak, tidak diperhitungkan),’ (Lihat Ta’liq Syekh Mushtofa Diyeb Al-Bugha pada Jamius Shahih Al-Bukhari, Daru Tauqin Najah, Cetakan Pertama 1422 H, Juz IX).

Jadi yang perlu digaris bawahi dalam pokok atau prinsip perkara syariat adalah;

  1. Memerintahkan suatu amalan dianggap sah, bila memiliki pijakan dalam sumber agama Islam. Dan, sebailknya melarang suatu amalan dianggap benar, bila juga memiliki pijakan dalam sumber agama Islam.
  2. Berarti, baik memerintahkan maupun melarang suatu amalan di mana sama-sama tidak memiliki pijakan dari sumber agama Islam, maka kedua-duanya batil.
  3. Namun, bilamana ada suatu perkara di mana agama Islam membiarkan dan mendiamkan, dengan kata lain agama tidak memerintahkan dan juga tidak melarang, maka tetap boleh dilakukan. Dikarenakan dalam syariat agama Islam di samping ada wilayah perintah dan wilayah larangan, juga ada wilayah netral di mana umat Islam diberi wewenang untuk berkreasi dalam hal kebaikan. Dengan catatan tidak bertentangan dengan ushuluddin/pokok-pokok agama, terdapat kemaslahatan yang dirasakan, dan disandarkan terhadap dalil-dalil tentang kebaikan.

Pemahaman ini didasarkan pada banyaknya dalil umum yang menganjurkan umat Islam memperbanyak melakukan amal muamalah maupun amal ibadah. Di antaranya,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan”. (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Maksudnya ibadah-ibadah yang diperintahkan itu sudah jelas dan ibadah yang dilarang itu juga sudah jelas. Dalam hadits lain disebutkan,

كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَأْكُلُونَ أَشْيَاءَ وَيَتْرُكُونَ أَشْيَاءَ تَقَذُّرًا فَبَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ

“Dahulu orang-orang jahiliyah biasa makan beberapa macam makanan dan meninggalkan beberapa makanan karena jijik. Kemudian Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya dan menurunkan Kitab-Nya, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan (tidak diatur) maka hukumnya dimaafkan (semuanya halal)” (Hadits Abu Daud Nomor 3306)

Dengan demikian arena haram dalam syariat Islam itu sebenarnya sangat sempit. Sedangkan arena halal justru sangat luas. Sebab nash-nash yang shahih dan tegas untuk mengharamkan, jumlahnya sangat minim sekali. Sedang sesuatu yang tidak ada keterangan halal-haramnya, jumlahnya sangat banyak. Dalam hadits lain dijelaskan,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ فَقَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang mentega, keju dan al-Fara (sejenis baju dari kulit). ” Beliau lalu menjawab: “Halal adalah sesuatu yang telah Allah halalkan dalam kitab-Nya, dan haram adalah sesuatu yang telah Allah haramkan dalam kitab-Nya. Adapun yang Allah diamkan, maka itu adalah sesutau yang Allah maafkan. ” (HR. Tirmidzi No. 1648)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin memberikan jawaban dan menerangkan satu persatu kepada si penanya dengan maksud hal-hal yang asalnya tidak diharamkan namun disebabkan terlalu banyak penjelasan dari Nabi malah menyebabkan menjadi diharamkan sehingga hal itu akan memberatkan umat Islam. Tetapi beliau mengembalikan kepada suatu kaidah yang kiranya dengan kaidah itu mereka dapat diharamkan Allah, sedang lainnya halal dan baik. Dan sabda beliau juga,

إن الله فرض فرائض فلا تضيعوها، وحد حدودا فلا تعتدوها، وحرم أشياء فلا تنتهكوها، وسكت عن أشياء رحمة بكم غير نسيان فلا تبحثوا عنها

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu menyia-nyiakannya dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar. Dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia. Allah telah mendiamkan (sengaja tidak mengatur detail dan rinci) beberapa hal (ajaran agama Islam) sebagai tanda kasihnya kepada kamu (agar umat Islam memiliki keleluasaan untuk berkreasi), Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia. ” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Kaidah asal segala sesuatu adalah boleh ini tidak hanya terbatas dalam masalah benda, tetapi meliputi masalah perbuatan, pekerjaan yaitu yang biasa kita istilahkan dengan adat atau mu’amalat dan juga termasuk masalah ibadah.

Prinsip di atas, sesuai dengan apa yang disebut dalam Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:

كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ زَادَ إِسْحَقُ قَالَ سُفْيَانُ لَوْ كَانَ شَيْئًا يُنْهَى عَنْهُ لَنَهَانَا عَنْهُ الْقُرْآنُ

“Kami biasa melakukan azl (mencabut penis saat ejakulasi agar istri tidak hamil) di saat al-Qur’an masih turun. ” [Ishaq] menambahkan; [Sufyan] berkata; Sekiranya azl dilarang, tentu al-Qur’an akan melarang perbuatan kami. (HR. Bukahari dan Muslim No. 2608)

Ini menunjukkan, bahwa apa saja yang didiamkan oleh wahyu, bukanlah terlarang. Mereka bebas untuk mengerjakannya, sehingga ada nash yang melarang dan mencegahnya.

Pemahaman yang dibolehkan untuk berkreasi dalam soal ibadah, terutama soal ibadah sunnah mutlak ini didasarkan pada banyaknya dalil umum yang menganjurkan umat Islam memperbanyak melakukan amal muamalah maupun amal ibadah. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 148)

Dalam ayat lain disebutkan,

أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Surat Al-Mu’minun Ayat 61)

Juga dalam ayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat An-Nahl Ayat 97)

Dalam ayat lain disebutkan,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surat Al-Baqarah Ayat 62)

Dengan begitu umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak perbuatan baik, sebanyak yang dia mau dan sebanyak yang dia mampu, entah dalam soal muamalah maupun dalam soal ibadah.

Namun begitu, yang perlu difahami terkait dengan diperbolehkannya mengkreasi soal ibadah sunnah mutlak adalah bukan pada kaifiyat (tata cara) dasarnya yang berkaitan syarat rukunnya. Namun bolehnya berkreasi lebih pada soal waktu, tempat, dan jumlah berapa kali ibadah sunnah mutlak tersebut hendak dilakukan. Sebagaimana umat Islam boleh berkreasi ibadah sunnah mutlak dalam soal jumlah dan kadar hitungan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

“Berkata Ubai: Wahai Rasulullah, aku sering membawa shalawat untuk baginda, lalu seberapa banyak aku bershalawat untuk baginda? Rasulullah SAW. menjawab: “Terserah. ” Aku bertanya: Seperempat? Rasulullah SAW. menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Setengah? Beliau menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Dua pertiga? “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku berkata: Aku akan menjadikan seluruh doaku untuk baginda. Beliau bersabda: “Kalau begitu, kau dicukupkan dari dukamu dan dosamu diampuni. ” (HR. Tirmidzi No. 2381)

Berkreasi dalam hal ibadah sunnah mutlak terkait dengan waktunya juga dibolehkan oleh Nabi sebagaimana sebuah Hadits berikut,

“bahwa [‘Abdullah bin ‘Amru radliallahu ‘anhuma] berkata; Disampaikan kabar kepada Rasulullah SAW. bahwa aku berkata; “Demi Allah, sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku akan shalat malam sepanjang hidupku. ” Maka Rasulullah SAW. bertanya kepadanya (‘Abdullah bin ‘Amru): “Benarkah kamu yang berkata; “Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku pasti akan shalat malam sepanjang hidupku?”. kujawab; “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku memang telah mengatakannya”. Maka Beliau berkata: “Sungguh kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Akan tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah dan berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulan karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu seperti puasa sepanjang tahun. ” Aku katakan; “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah”. Belau berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah selama dua hari”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu”. Beliau berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari, yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud ‘alaihi salam yang merupakan puasa yang paling utama”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu”. Maka beliau bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu”. (HR. Bukhari No. 3165)

Berkreasi dalam hal ibadah sunnah mutlak terkait dengan tempatnya juga dibolehkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana sebuah Hadits berikut,

الْأَرْضُ لَكَ مُصَلًّى فَصَلِّ حَيْثُ مَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ

“Dan bumi bagimu adalah masjid, maka shalatlah di manapun tempatnya ketika waktu shalat telah tiba. ” (HR. Ibnu Majah No. 745)

“dijadikannya bumi sebagai tempat bersujud dan bersuci, maka di manapun seseorang dari kalangan umatku mendapati (waktu) shalat, shalatlah di situ. ” (HR. Nasai No. 429)

Bahkan dalam urusan ibadah sunnah mutlak dianjurkan setiap muslim membuat tempat khusus di manapun dia sukai untuk dijadikan tempat mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana sabda Nabi,

الْمَرْءُ حَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرُ ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى مِنْهَا

“Hendaknya seseorang memiliki tempat KHUSUS yang ia pergunakan untuk menyendiri (berkhulwat/meditasi) dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah”. (HR. Darimi No. 316)

Berkreasi dalam hal ibadah sunnah mutlak terkait dengan penggunaan redaksi sendiri juga dibolehkan oleh Nabi sebagaimana sebuah Hadits berikut,

ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ أَوْ مَا أَحَبَّ

“Kemudian hendaklah dia memilih setelah itu (di dalam shalat) permintaan doa yang dia kehendaki atau dia inginkan. ” (HR. Muslim No. 609)

Dan masih banyak lagi kreasi-kreasi dalam hal ibadah yang dibenarkan oleh agama Islam. Dengan begitu bekreasi dalam hal ibadah selama tidak bertentangan dengan syarat rukunnya sangat dibenarkan dalam agama Islam, sebagaimana firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا لَكُمْ بِهِ طَاقَةٌ

“Allah Tabaraka Wa Ta’ala tiada akan jenuh hingga kalian sendiri yang merasa jenuh, maka kerjakan amalan sesuai kemampuan kalian. ” (HR. Malik No. 240)

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Hai kaumku, beramallah (bekerja dan beribadah) sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan beramal (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,” (QS. Az-Zumar: 39)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Rasulullah SAW. bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit. ” “Dan bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia kan menekuninya. (HR. Muslim No. 1305)

Islam itu sangat mudah dan fleksibel bagi yang memahami ajaran agamanya dengan utuh.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke