Beribadah Namun Tertipu

Setan tidak hanya menggoda manusia dari perkara buruk saja, namun setan juga dapat menyesatkan manusia dari kebaikan, namun seringkali kita tidak menyadarinya. Ketahuilah bahwa setan menyesatkan manusia dari segala penjuru arah. Dia selalu berupaya menyesatkan manusia dari arah depan, belakang, maupun dari segala penjuru arah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Surat Al-A’raf Ayat 17)

Dari ayat ini kita diberi tahu bahwa setan menggoda manusia dengan segala macam cara dan tipu daya, agar manusia terjerumus kedalam kemaksiatan dan kemungkaran. Sikap berlebihan (ifrath) dalam beribadah kedudukannya juga sama dengan sikap meremehkan (tafrith) amal ibadah. Yaitu sama-sama berasal dari setan yang dianggap buruk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Waspada Dengan Tipu Dayanya Setan

Adalkalanya kita melakukan berbagai macam amal salih yang berupa shalat tahajud dimalam hari, puasa di siang harinya, mengaji, menghafal, dan juga menghadiri majelis-majelis ilmu dan berbagai amalan lain yang besifat islami dan salih dengan anggapan bahwa kita telah menjadi manusia baik yang disukai Allah. Dengan amal kebaikan tersebut kita merasa telah menjadi orang yang paling bertaqwa di antara manusia di sekitar kita, atau bahkan merasa sudah merasa pantas dirinya masuk masuk surga di akhirat nanti. Sekali-kali tidak! Perasaan itu telah menipu Anda! Pemahaman itu jelas tidaklah benar dan salah besar! Jika seorang hamba sudah merasa menjadi orang baik sebab amal baiknya, yang demikian itu sebetulnya justru sebaliknya yang terjadi. Mereka yang merasa seperti itu sejatinya benar-benar sudah terkena oleh tipu daya setan. Perasaan telah menjadi orang baik tersebut disebut sebagai tipu daya setan dikarenakan perasaan tersebut sudah masuk dalam kategori berbangga diri dan kesombongan. Perhatikan peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan hal ini dalam firman-Nya,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا. الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Surat Al-Kahf Ayat 103-104)

Sebuah amal baik dan amal ibadah yang dikerjakan namun disertai dengan kesombongan akan sia-sia. Amal kebaikan walaupun sedikit namun dilakukan disertai dengan keikhlasan dengan mengharap keridhaan Allah pasti berpahala besar. Sebaliknya, amal kebaikan walaupun banyak namun dilakukan disertai dengan ujub (membanggakan diri) dan takabur (sombong) akan sia-sia.

Kenikmatan Di balik Keimanan Terhadap Takdir Allah

Sungguh berbahagialah orang yang sudah tertancap rasa sabar, tawakal, dan qanaah terhadap takdir Allah. Rasa qanaah yang tertancap dalam jiwa tersebut akan membimbingnya untuk ridha dan bersabar terhadap ujian yang diberikan Allah. Juga mudah untuk bersyukur atas karunia yang diberikan Allah. Dalam batinnya tertanam pengertian bahwa semua hal yang ada di dunia ini berasal dari Allah, baik itu musibah, kesenangan, kematian, jodoh, dan semua kejadian. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (Surat Al-Hadid Ayat 22-23)

Apabila ia diuji oleh Allah dengan suatu kebaikan yang menimpanya maka ia tidak akan ujub, dan dan apabila suatu musibah yang menimpanya maka ia akan bersabar dan selalu berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena semuanya itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman,

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Alloh. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Takwir: 29)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلَّا قَدْ كُتِبَ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ فَمَنْ كَانَ مِنَّا مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنَّا مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ قَالَ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى } الْآيَةَ

“Tidak ada seorangpun dari kalian dan juga tidak satupun jiwa yang bernafas melainkan telah ditentukan tempatnya di surga atau di neraka dan melainkan sudah ditentukan jalan sengsaranya atau bahagianya”. Kemudian ada seorang yang berkata,: “Wahai Rasulullah, dengan begitu apakah kita tidak pasrah saja menunggu apa yang sudah ditentukan buat kita dan kita tidak perlu beramal?. Karena barangsiapa diantara kita yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka pasti dia sampai kepada amalan orang yang berbahagia, sebaliknya siapa diantara kita yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara maka pasti dia akan sampai kepada amalan orang yang sengsara”. Maka Beliau bersabda: “(Tidak begitu). Akan tetapi siapa yang telah ditetapkan sebagai orang yang berbahagia, dia akan dimudahkan untuk beramal amalan orang yang berbahagia dan sebaliknya orang yang telah ditetapkan sebagai orang yang akan sengsara maka dia pasti akan dimudahkan beramal amalan orang yang sengsara”. Kemudian Beliau membaca firman Allah subhanahu wata’ala QS Al Lail ayat 5 – 6 yang artinya: (“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga) “).” (Hadits Bukhari Nomor 1274)

Sudah banyak seorang hamba yang diuji oleh Allah dengan kebaikan, kekayaan dan lain-lain, namun malah menjadikannya sombong, merendahkan orang lain, lalai dengan ibadahnya, kemudian menjadikannya terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan yang menjauhkan dirinya dari rahmat Allah SWT.

Dan juga sebaliknya, ada yang diuji dengan keburukan (kemaksiatan musibah dan lain-lain) namun malah membuat dirinya takut dengan azab Allah dan membuatnya bertaubat dan diberikannya kedudukan yang mulia disisinya. Inilah makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Furqan Ayat 70)

Yakinlah Semua Hal Yang Dari Allah Itu Baik

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman didalam sebuah hadits Qudsi,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (Hadits Bukhari Nomor 6856 dan Hadits Muslim Nomor 4851)

Ketika kita sudah yakin bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji kita dengan segala bentuk ujian kita tingggal berprasangka baik kepada-Nya saja, karena ketika kita berprasangka baik, kita dapat membentengi diri kita dari sifat-sifat yang buruk.

Dan juga sebaliknya ketika seorang hamba sudah merasakan semua hal yang terjadi padanya itu adalah sebuah kesalahan takdir atau menjadikannya sombong dan membangga-banggakan diri maka hal itu akan menjadikannya semakin jauh dari-Nya. Naudzubillahi min dzalik.

Jangan jadikan amal ibadah kita sia-sia disebabkan amal ibadah kita bukan untuk Allah atau bukan utuk akhirat. Bisa jadi amal yang kita lakukan terlihat sebagai ibadah yang bersifat ukhrawi, namun hakikatnya apa yang kita perbuat tersebut menjadi amal duniawi, sebab amal ibadah yang kita lakukan untuk selain Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya.” (Hadits Bukhari Nomor 1)

Ibadah yang dipersembahkan bukan untuk Allah, namun diniatkan agar mendapat pujian orang lian merupakanm kesyirikan yang sangat tersembunyi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar bersama kami, sementara kami saling mengingatkan tentang Al Masih Ad Dajjal, maka beliau bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian daripada Al Masih Ad Dajjal?” Abu Sa’id berkata, “Kami menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda: “Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4194)

Semoga allah senantiasa memberikan taufiqnya, agar kita dapat menjaga kemurnian amal ibadah kita hanya untuk Allah. Amin.

Oleh: Ustad Masrufkun Nafi’, dan disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke