Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Menziarahi Kuburnya

Kesedihan merupakan fitrah alami yang dimiliki oleh setiap manusia. Mustahil bagi seorang anak shalih tidak merasa sedih ketika ditinggal kedua orang tuanya. Di samping kesedihan yang disebabkan sebuah perpisahan, juga kesedihan karena penyesalan atas kurangnya bakti dan pengabdian kepada keduanya. Islam sebagai agama fitrah tentunya tidak mengabaikan kefitrahan manusia tersebut dengan membenarkan penganutnya untuk tetap menjalin silaturahmi dengan orang tuanya melalui syariat ziarah kubur.

Di samping sebagai sarana silaturahmi untuk melepas kangen antara seorang anak dengan orang tua yang sudah meninggal, ternyata ziarah kubur memiliki keutamaan sebagai sarana berbakti seorang anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal. Pandangan ini didasarkan pada beberapa riwayat hadits berikut,

وَقَدْ رَوَى الْحَكِيمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدِيهِ

“Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dengan keadaan marfu’, ‘Siapa saja yang menziarahi sekali makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap Jumat, niscaya Allah mengampuninya dan ia tercatat sebagai anak yang berbakti kepada keduanya,’” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ رَحِمَهُ اللهُ : ثنا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصٍ السَّعْدِيُّ ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الْوَزْدُولِيُّ ، ثنا خَاقَانُ بْنُ الأَهْتَمِ السَّعْدِيُّ ، ثنا أَبُو مُقَاتِلٍ السَّمَرْقَنْدِيُّ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : ” مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبِيهِ أَوْ أُمِّهِ أَوْ عَمَّتِهِ أَوْ خَالَتِهِ أَوْ أَحَدُ قَرَابَاتِهِ كَانَتْ لَهُ حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ ، وَمَنْ كَانَ زَائِرًا لَهُمَا حَتَّى يَمُوتَ زَارَتِ الْمَلائِكَةُ قَبْرَهُ ” .

Abu Ahmad Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafsh as-Sa’di, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Ibrâhîm bin Musa al-Wazduli’, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Khâqân bin al-Ahtam as-Sa’di’, ia berkata; ‘Telah menceritakan kepada kami Abu Muqâtil as-Samarqandi, dari ‘Ubaidillâh, dari Nâfi’, dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma , ia berkata, ‘ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa menziarahi kubur ayahnya atau ibunya, atau saudara perempuan ayah atau ibunya (bibinya), atau salah seorang kerabatnya, maka ia akan memperoleh pahala haji mabrur. Dan barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya hingga ia meninggal dunia, niscaya para malaikat akan menziarahi kuburannya.” (Hadits’ ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab al-Kâmil fî Dhu’afâ ar-Rijâl II/393 no.2260, Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhû’ât III/240 no.1714, dan as-Suyûthi dalam al-La’âli’ al-Mashnû’ah fî al-Ahâdîts al-Maudhî’ah II/440 no.2527, dan lainnya)

Beberapa ulama menganggap Hadits tersebut dhaif. Di antaranya; Imam Ibnu Hibbân, Imam ‘Abdurrahmân bin Mahdi dalam al-Majruhîn I/256, dan Al-Hâfizh Ibnu Hajar dalam Tahdzîb At-Tahdzîb II/342.

Namun beberapa kalangan umat Islam menolak menziarahi orang tuanya yang sudah meninggal sebagai bentuk berbakti kepada kedua orang tua dengan mengajukan argumentasi bahwa dalil yang digunakan landasan amalan tersebut adalah hadits palsu. Hadits palsu yang mereka maksud adalah,

قَالَ أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ رَحِمَهُ اللهُ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الضَّحَّاكِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أََبِي عَاصِمِ ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ خَالِدٍ الأَصْبَهَانِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زِيَادَ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ الطَّائِفِيُّ ، عَنْ هِشَامٍ بن عُرْوَة ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ ، قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَرَأَ يس غُفِرَ لَهُ .”

Abu Ahmad Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin adh-Dhahhâk bin ‘Amr bin Abi ‘Ashim, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Khâlid al-Ashbahâni, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyâd, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim ath-Thâifi, dari Hisyâm bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, dari Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu , ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berziarah ke kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada hari jum’at, lalu ia membaca surat Yasin maka (dosa-dosanya) akan diampuni (oleh Allâh, pent).” (Hadits’ ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil Fî Dhu’afâ ar-Rijâl V/151)

Hadits ini dihukumi مَوْضُوْعٌ (maudhu’, palsu) oleh Imam Abu Ahmad Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil Fî Dhu’afâ ar-Rijâl V/151, Imam ad-Dâruquthni dalam Mizân al-I’tidâl karya adz-Dzahabi III/261, dan Imam Abu Zur’ah ar-Râzi dalam adh-Dhu’âfa’ karya al-‘Uqaili III/274.

Namun begitu dalam penetapan sebuah hukum dalam Islam tentunya tidak bisa hanya berdasarkan satu potong Hadits saja. Bukan Karena Sebuah Hadits Palsu, Kemudian Boleh Membatalkan Sebuah Hukum dalam Islam. Bisa saja satu hadits kedudukannya palsu, namun dalam riwayat lain tidak palsu. Jadi sebuah amal tetap boleh dilakukan berdasarkan kumpulan dari beberapa riwayat Hadits dengan tema yang sama. Di mana riwayat-riwayat hadits yang berbeda-beda dalam sebuah tema yang sama tersebut kedudukannya saling menguatkan.

Di samping itu pula, kalangan Sunni tidak mempermasalahkan menggunakan hadits dengan derajad dhaif apalagi marfu hanya sekedar untuk mendapatkan keutamaan dari fadhailul a’mal. Dengan demikian, berdasarkan beberapa riwayat hadits dengan derajad yang berbeda-beda tersebut di atas hukum menziarahi kubur orang tua dengan niat bakti kepadanya hukumnya boleh dan mengandung manfaat.

Baca Juga:

Bukan Karena Sebuah Hadits Palsu, Kemudian Boleh Membatalkan Sebuah Hukum dalam Islam

Dengan hanya mendatangi makam kedua orang tua saja maka sudah dihitung sebagai ziarah yang bernilai pahala. Yakni pahala mengingat kematian, dan pahala berbakti kepada orang tua. Apalagi di dalam ziarah tersebut ditambah dengan beberapa amalan berikut, niscaya nilai pahalanya akan semakin banyak.

Berikut di antara beberapa amalan yang dapat dilakukan seorang anak ketika menziarahi kubur otang tuanya agar nilai pahalanya semakin banyak. Yaitu,

Kirim manfaat doa

Doa seorang anak yang masih hidup akan terus mengalir kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Salah satu bentuk bakti anak kepada orang tua adalah mendoakan kedua orang tuanya. Karena doa anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal akan sangat bermanfaat saat berada di alam akhirat. Hukum ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (Hadits Muslim Nomor 3084)

Panjatan doa-doa dari orang yang masih hidup merupakan perintah agama. Hal ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh beberapa hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (Hadits Abu Daud Nomor 2804)

Berdasarkan hadits di atas, mendoakan orang yang sudah meninggal, khususnya kepada kedua orang tua merupakan perintah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri juga sering mencontohkan berdoa untuk orang yang meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي إِبْرَاهِيمَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الْمَيِّتِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا

“dari [Abu Ibrahim Al Anshari] dari [bapaknya] bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a saat menshalati mayit, “Ya Allah berilah ampunan bagi yang masih hidup di antara kami dan yang sudah meninggal dunia, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir, kaum laki-laki di antara kami dan kaum wanita, orang yang masih muda di antara kami dan orang yang sudah tua.” (Hadits Nasai Nomor 1960)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَرُوِيَ إنَّ الرَّجُلَ لَيَمُوتُ وَالِدَاهُ وَهُوَ عَاقٌّ لَهُمَا فَيَدْعُو اللَّهَ لَهُمَا مِنْ بَعْدِهِمَا فَيَكْتُبُهُ اللَّهُ مِنْ الْبَارِّينَ

Artinya, “Diriwayatkan bahwa seorang anak yang kedua orang tuanya wafat sementara ia pernah berdurhaka terhadap keduanya, lalu ia berdoa kepada Allah sepeninggal keduanya, niscaya Allah mencatatnya sebagai anak yang berbakti,” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Selengkapnya baca artikel berikut; Kirim Manfaat Doa kepada Orang Tua yang sudah Meninggal

Kirim pahala dzikir

Bacaan kalimat thayyibah (baik) dalam dzikir seperti tasbih, tahlil, dan takbir, shalawat, dan lainnya sangat bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal. Seyogianya sebagai bentuk bakti seorang membacakan bacaan dzikir dengan niat pahalanya dikirim kepada kedua orang tuanya ketika ziarah kuburnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ قَوْلَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Talqinlah (tuntunlah) orang meninggal (yang sudah dikubur) diantara kalian dengan ucapan dzikir tahlil ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’.” (Hadits Abu Daud Nomor 2710, Hadits Nasai Nomor 1803, Hadits Nasai Nomor 1804, Hadits Ibnu Majah Nomor 1434, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1435)

Dan sebuah hadits yang menerangkan tentang talqin di antaranya adalah riwayat Rosyid bin Sa’ad dari Dlamrah bin Habib, dan dari Hakim bin Umari, ketiga-tiganya berkata:

اذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا يستحبون ان يقال للميت عند قبره يافلان قل لااله الا الله اشهد ان لااله الا الله ثلاث مرات يافلان قل ربي الله ودينى الاسلام ونبيى محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف (رواه سعيد بن منصور فى سننه)

“Apabila telah diratakan atas mayit akan kuburnya dan telah berpaling manusia dari paanya adalah mereka para sahabat mengistihbabkan (menyunatkan) bahwa dikatakan bagi mayit pada kuburnya: Ya fulan: ucapkanlah dzikir tahlil “La Ilaha Illallah, Asyhadu alla Ilaha Illallah, tiga kali”. Hai Fulan katakanlah: Tuhanku Allah, Agamaku Islam dan Nabiku Muhammad saw, kemudian berpalinglah ia.” (HR. Sa’id bin Manshur dalam sunannya)

Kiriman pahala dari ibadah jasadi anak cucunya sebagai balas budi kepada orang tuanya. Di antaranya adalah doa dan istighfar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

“dari [Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As Sa’idi] ia berkata, “Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari bani Salamah datang kepada beliau. Laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada ruang untuk aku berbuat baik kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal?” beliau menjawab: “Ya. Mendoakan dan (membaca dzikir istighfar) memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan wasiatnya, menyambung jalinan silaturahmi mereka dan memuliakan teman mereka.” (HR. Abu Daud Nomor 4476)

Memperbanyak kiriman pahala bacaan dzikir istighfar dapat mengangkat derajat mayit di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, lalu orang tersebut akan bertanya, ‘Bagaimana ini bisa terjadi? ‘ lalu dijawab, ‘Karena anakmu telah memohonkan ampun (kirim pahala dzikir istighfar) untukmu’.” (HR. Ibnu Majah Nomor 3650)

Membalas dengan pahala dari ibadah doa yang kita lakukan kepada kebaikan orang lain yang telah meninggal. Balas budi orang lain dengan memperbanyak doa untuk orang yang sudah berjasa bagi kita, hingga kita merasa doa kita telah senilai dengan doa Nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“dari [Utsman bin ‘Affan], ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (HR. Abu Daud Nomor 2804)

Selengkapnya baca artikel berikut; Hukum Kirim Pahala Dzikir pada Orang Mati

Kirim pahala ibadah membaca Al-Qur’an

Di antara amalan yang juga bermanfaat bagi kedua orang tua kita adalah bacaan Al-Qur’andengan niat pahalanya dihadiahkan kepadanya. Anak shalih yang berbakti kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal tentunya tidak akan segan untuh sering membaca Al-Qur’an saat menziarahi makamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab(Al-Qur’an)Ku.” (Hadits Darimi Nomor 3235)

Berdasarkan Hadits tersebut seseorang akan dimudahkan masuk surga sebab kiriman pahala dari bacaan-bacaan Al-Qur’an dari anak dan sanak keluarganya yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal.

Begitu juga bacaan surat Al-Baqarah dan surat Yasin yang mana keduanya masih merupakan bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai pengampun dosa ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Al-Baqarah adalah Al-Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al-Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya (Al-Baqarah dan Yasin), sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan diampuni. Bacakanlah surat tersebut (Al-Baqarah dan Yasin) terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (Hadits Ahmad Nomor 19415)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah untuk meringankan beban ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا

“mereka [beberapa orang syaikh]menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu dibacakan di sisi mayit, maka akan diringankannya.” (Hadits Ahmad Nomor 16355)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang diperintahkan untuk dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ الْعَلَاءِ

“Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang sudah mati diantara kalian.” Dan ini adalah lafazh Ibnu Al ‘Ala`. (Hadits Abu Daud Nomor 2714 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1438)

Sunnah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada mayit juga ditunjukkan oleh sebuah riwayat hadits berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan Al-Qur’an (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]

Sudah sangat jelas, berdasarkan hadits di atas, kiriman pahala bacaan Al-Qur’an dari mereka yang masih hidup terutama seorang anak dapat memuliakan orang tuanya di Akhirat. Dengan begitu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan niat pahalanya diberikan pada arwah mereka yang sudah meninggal hukumnya sunnah dan sangat bermanfaat bagi mayit.

Pelbagai keterangan ini sudah cukup untuk menerangkan keutamaan ziarah ke makam kedua orang tua. Keterangan ini tidak menyarankan orang untuk berbuat durhaka terhadap kedua orang tua, lalu membasuhnya dengan ziarah sepeninggal mereka. Dan juga suudah sangat jelas bahwa terdapat manfaat timbal balik dalam melakukan ziarah makam orang tua. Disatu sisi, orang tua yang telah tiada bisa merasakan kebahagiaan dengan hadirnya anak-anak tercinta di makamnya, disisi lain, anak-anak dapat meneruskan baktinya kepada orang tua hanya dengan melakukan ziarah kubur dan mendoakannya.

Jadi tidak salah pada sebagian tradisi di Indonesia yang berkaitan dengan ziarah kubur, nyekar atau nyadran, merupakan tradisi yang didukung oleh syariat agama Islam. Maka tidak perlu ragu-ragu lagi untuk berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal dengan berbagai macam amalan yang telah dicontohkan dan dianjurkan Nabi.

Tabur bunga di atas Kuburannya

Di antara amalan yang juga bermanfaat bagi kedua orang tua kita adalah menyirami pusara dengan air dan ditaburi bunga. Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatu az-Zain menerangkan bahwa hukum menyiram kuburan dengan air dingin adalah sunnah. Tindakan ini merupakan sebuah pengharapan (tafa’ul) agar kondisi mereka yang dalam kuburan tetap dingin. Beliau berkata,

وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْبِ (نهاية الزين, ص.۱٥٤)

Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum.

Hal ini sebenarnya pernah pula dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

” أن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) رش على قبر ابراهيم ابنه ووضع عليه حصباء ”

“Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. menyiram (air) di atas kubur Ibrahim, anaknya, dan meletakkan kerikil diatasnya.”

Begitu juga dengan meletakkan karangan bunga ataupun bunga telaseh yang biasanya diletakkan di atas pusara ketika menjelang lebaran. Hal ini dilakukan dalam rangka Itba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diterangkan dalam hadits,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di dekat dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya suka mengadu domba.” Kemudian beliau mengambil sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelahnya menjadi dua bagian kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini?” beliau menjawab: “Semoga siksa keduanya diringankan selama batang pohon ini basah.” (Hadits Bukhari Nomor 211)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hadits di atas bersifat mutlak dan umum, sehingga dibolehkan bagi siapa saja untuk meletakkan pelepah kurma atau pun bunga-bunga dan semua tumbuh-tumbuhan yang masih basah di atas kuburan. Bahkan sebagian dari mereka mengatakan hal itu dianjurkan. Ini pendapat sebagian ulama Syafi’iyah.

Baca selengkapnya; Hukum Tabur Bunga di atas Kuburan

Sedekah atas nama orang tua

Ziarah kubur kita akan semakin sempurna bila disertai dengan mengeluarkan sedekah dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada kedua orang tua. Banyak dalil tentang anjuran bersedekah dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada orang tua yang sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَلَمْ تُوصِ وَإِنِّي أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ فَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا وَلِيَ أَجْرٌ قَالَ نَعَمْ

“Sesungguhnya seorang laki-laki datang menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; ‘Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak dan ia tidak memberikan wasiat. Aku perkirakan apabila ia dapat berbicara, maka niscaya ia melakukan sedekah, apakah ibuku dan diriku mendapat pahala apabila aku menyedekahkan hartanya? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Ya.'” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2708, Hadits Bukhari Nomor 2554, Hadits Bukhari Nomor 1299, Hadits Muslim Nomor 3082, Hadits Nasai Nomor 3589, dan Hadits Malik Nomor 1255)

Hadits di atas menunjukkan bersedekah menggunakan hartanya sendiri dengan niat pahalanya dipersembahkan untuk arwah orang yang sudah meninggal hukumnya boleh.

Seorang wanita mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ibunya yang telah wafat namun belum sempat berbicara kepadanya di masa hidupnya. Baik dia yang bersedekah maupun dikirimi hadiah sama-sama mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَلَوْلَا ذَلِكَ لَتَصَدَّقَتْ وَأَعْطَتْ أَفَيُجْزِئُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقِي عَنْهَا

“bahwa seorang wanita berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal tiba-tiba, jika tidak terjadi hal tersebut niscaya ia telah bersedekah dan memberi. Apakah sah saya bersedekah untuknya? Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2495)

Seorang laki-laki mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ibunya yang telah wafat namun belum sempat berwasiat kepadanya di masa hidupnya. Baik dia yang bersedekah maupun dikirimi hadiah sama-sama mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

“bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku meninggal secara tiba-tiba dan ia tidak sempat berwasiat. Menurut dugaanku, seandainya ia sempat berbicara, mungkin dia akan bersedekah. Apakah ia akan mendapatkan pahalanya jika aku bersedekah atas namanya?” beliau menjawab: “Ya.” (Hadits Muslim Nomor 1672)

Hadits-hadits di atas sebetulnya intinya sama tentang hukum boleh bersedekah dengan niat pahalanya dikirimkan atau dihadiahkan kepada orang lain yang sudah meninggal. Namun terdapat beberapa perbedaan namun sifatnya hanya jalur periwayatannya dan redaksi penulisan haditsnya saja.

Baca Selengkapnya: Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Orang yang Sudah Meninggal

Jadi, silahkan bersedekah sebanyak-banyaknya dengan niat pahalanya untuk orang tua atau bersedekah atas nama orang tua. Dan silahkan bersedekah atau berinfak ke tempat, lembaga, sekolah, masjid atau kepada orang yang membutuhkan.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Baca Juga:

Hukum Kirim Pahala Bacaan Al-Qur’an untuk Arwah Orang Mati

Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Maksud Seseorang Hanya Memperoleh Usahanya Sendiri

Hukum Menghadiahkan Al-Fatihah Kepada Mayit

Maksud Dosa tidak Bisa Ditanggung Orang Lain

Hukum Menggantikan dan Mewakilkan Ibadah

Definisi Dzikir dan Macam-macamnya

Maksud Orang Mati Putus Amalnya

Bagikan Artikel Ini Ke