Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Menjaga Nama Baiknya

Orang tua memiliki kewajiban merawat, menjaga, menafkahi, menyayangi dan menjamin masa depan anak-anaknya. Begitu juga seorang anak memiliki kewajiban berbakti dengan menjaga nama baik orang tua dan keluarganya. Namun, realitasnya kebanyakan anak bukan malah membuat orangtua bangga dan terjaga kehormatannya. Sebaliknya banyak anak yang malah mempermalukan dan menghancurkan nama baik orangtua dan keluarga. Sebab perilaku buruk seorang anak maka akan berdampak pada nama baik orang tuanya tercemar di hadapan orang lain. Oleh karena itu wajib hukumnya menjaga nama baik orang tua sebagai wujud bakti anak kepadanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Sesungguhnya termasuk dari dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri, ” beliau ditanya; “Kenapa hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu orang yang pertama.” (Hadits Bukhari Nomor 5516)

Berdasarkan hadits di atas, maka dengan menjaga perilaku dan sikap diri sendiri sama halnya dengan telah menjaga nama baik orang tua. Berikut beberapa ikhtiyar yang dapat dilakukan seorang anak untuk menjaga nama baik orang tuanya.

Melanjutkan akhlaq mulia orang tua

Berbudi pekerti di dalam maupun di luar rumah. Tidak jarang ketika seseorang berperilaku dan berbudi pekerti luhur orang-orang mengaitkan dengan orang tuanya. Seperti, sopannya anak itu! Siapakah gerangan orang tuanya? Bila kita berprilaku baik yang akan merasa bangga tentunya orang tua kita dan bila kita bersikap buruk tentunya orang tua kita juga yang akan menanggung malu.

Melanjutkan amal shalih orang tua

Tidak jarang seorang anak dikenal oleh orang lain sebab kebaikan orang tua yang dikenal dan dirasakan oleh lingkungannya. Orang lain mengenang orang tua kita karena suka membantu, perduli, ramah, dermawan, dan lainnya. Sehingga ketika kita berperilaku tidak sama dengan orang tua kita, maka hal itu sama halnya kita telah mempermalukan orang tua kita.

Berprestasi

Bertahun-tahun dan berupiah-rupiah telah dikeluarkan oleh orang tua kita sebagai upaya mendidik kita agar menjadi manusia yang berprestasi. Bila upaya orang tua kita hargai dengan bersemangat dan bertekad meraih prestasi dalam duniawinya dan agamanya. Tentunya nama baik orang tua kita akan menjadi harum di mata orang lain.

Menjaga aib keluarga

Dalam membangun keluarga ada pasang surutnya. Terkadang dalam proses perjalannya pernah banyak uang dan pernah banyak hutang. Pernah tertawa bersama dan juga pernah tegang dan menangis bersama. Pernah sepakat dalam satu pandangan dan pernah berbeda pandangan sehingga konflik tidak dapat terelakkan dalam sebuah keluarga.

Entah sedikat atau banyak itulah aib yang dimiliki oleh sebuah rumah tangga. Dan tidak jarang sebuah keluarga menjadi berantakan dan menjadi cemoohan oleh sekitarnya sebab aib keluarga bocor keluar. Tidak semua warga dan tetangga sekitar menyukai keberadaan keluarga kita. Agar keluarga yang dibangun oleh orang tua tidak cemar dan tetap terjaga kehormatannya, maka sebagai anak wajib menjaga nama baik orang tua dengan tidak mudah mengumbar aib keluarga kepada orang lain.

Menghindari perbuatan keji

Yang tidak kalah pentingnya adalah tidak berbuat buruk dan bertindak keji sehingga menimbulkan masalah bagi orang-orang sekitar. Tidak berbuat perkara keji yang bersifat moril maupun berurusan dengan hukum, seperti maksiat, kemungkaran, kriminal, penipuan dan lain sebagainya. Dengan menjauhkan diri dari perbuatan keji niscaya nama baik, martabat dan kehormatan orang tua kita akan tetap terjaga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِيَ امْرَأَةً وَإِنَّ أُمِّي تَأْمُرُنِي بِطَلَاقِهَا قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ

“Sesungguhnya aku memiliki seorang isteri, sedang ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.” Abu Darda` berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kamu mampu, letakkanlah pintu tersebut atau jagalah.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1822)

Perbuatan-perbuatan baik di atas harus tetap dilanjutkan oleh seorang anak ketika orang tua sudah meninggal. Dengan begitu nama baiknya tetap terjaga dan harum di mata orang-orang. Dengan menjaga nama baik tentunya hal itu akan dicatat pahala oleh Allah sebagai bakti seorang anak kepada orang tuanya.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke