Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Mengurus Jenazahnya saat Meninggal

Di antara wujud bakti seorang anak kepada orang tuanya adalah mengurus jenazahnya sesaat setelah mereka meninggal. Berkaitan dengan masalah pengurusan jenazah, ada empat kewajiban utama terhadap jenazah yang mesti dilakukan oleh orang yang hidup. Empat hal ini dihukumi fardhu kifayah, artinya harus ada sebagian kaum muslimin yang melakukan hal ini terhadap mayit. Jika tidak, semuanya terkena dosa. Empat hal yang mesti dilakukan terhadap mayit oleh yang hidup adalah: Memandikan, mengafani, menyolatkan, dan menguburkan. Itulah di antara wujud bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَسْرِعُوا بِجَنَائِزِكُمْ فَإِنَّمَا هُوَ خَيْرٌ تُقَدِّمُونَهُ إِلَيْهِ أَوْ شَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

“Segerakanlah dalam mengurus jenazah kalian. Jika itu kebaikan, kalian telah mendahulukannya. Jika itu keburukan, maka kalian segera menanggalkannya dari punggung kalian.” (Hadits Malik Nomor 512)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ

“Mandikanlah dia dengan air dan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain” (Hadits Bukhari Nomor 1719)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ فَقَالُوا صَلِّ عَلَيْهَا

“dari [Salamah bin Al Akwa’ radliallahu ‘anhu] berkata: “Kami pernah duduk bermajelis dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dihadirkan kepada Beliau satu jenazah kemudian orang-orang berkata: “Shalatilah jenazah ini”. (Hadits Bukhari Nomor 2127)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَرَّبْتُمُوهَا إِلَى الْخَيْرِ وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ ذَلِكَ كَانَ شَرًّا تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

“Segerakanlah penguburan jenazah, karena jika ia adalah seorang yang shalih, maka kalian telah mendekatkannya pada kebaikan. Tetapi, jika ia tidak termasuk orang yang shalih, maka berarti kalian mempercepat meletakkan keburukan dari pundak-pundak kalian.” (Hadits Muslim Nomor 1569)

Itulah kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya setelah keduanya meninggal. Banyak faedah dalam mengurus jenazah orang tuanya. Baik anak maupun orang tuanya sama-sama mendapatkan pahala dari perkara ini. Anak mendapatkan pahala dari nilai baktinya dan orang tua mendapatkan pahala dari amalan-amalan yang dilakukan anaknya selama pengurusan jenazah. Sebagaimana jenazah orang tua juga mendapatkan pahala dari shalat jazanah yang dilakukan oleh anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada Beliau; “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar”. (Hadits Bukhari Nomor 1240, Hadits Muslim Nomor 1570)

Di antara manfaat shalat jenazah adalah terkabulnya do’a-do’a mereka yang shalat janazah untuk si mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Mayat yang dishalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah melebihi seratus orang, dan semuanya mendo’akannya, maka do’a mereka untuknya akan dikabulkan.” (Hadits Muslim Nomor 1576)

Pengampunan bagi mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ إِذَا أُتِيَ بِجِنَازَةٍ فَتَقَالَّ مَنْ تَبِعَهَا جَزَّأَهُمْ ثَلَاثَةَ صُفُوفٍ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا وَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا صَفَّ صُفُوفٌ ثَلَاثَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَيِّتٍ إِلَّا أَوْجَبَ

“Jika Malik bin Hubairah didatangkan jenazah kepadanya dan hanya sedikit orang yang akan menshalatkannya, maka ia membagi shaf menjadi tiga baris kemudian shalat. Setelah itu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Tidaklah tiga shaf kaum muslimin berjajar menshalati jenazah, kecuali telah wajib (pengampunan Allah atas mayit). ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1479)

Shalat, do’a, dan dzikirnya menjadi syafaat bagi mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang, yang mana mereka tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan mengabulkan do’a mereka untuknya.” (Hadits Muslim Nomor 1577)

Ketika shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah, sedangkan di antara hakikat shalat adalah bacaan-bacaan Al-Qur’an. Dengan begitu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an bagi orang yang sudah meninggal hukumnya sunnah. Dan bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan doa orang yang masih hidup untuk orang yang sudah meninggal sangat berfaedah. Ada dua faedah, yakni faedah bagi yang hidup dan faedah bagi yang sudah mati. Salah satu faedah bagi orang yang hidup adalah pahala. Sedangkan salah satu faedahnya bagi orang yang sudah mati adalah syafaat (penolong) bagi mayit, sebagaimana yang telah ditunjukkan pada hadits di atas.

Uruslah jenasah orang tua kita sebagai bentuk bakti kita kepada kedua orang tua. Dengan begitu orang tua kita akan mendapatkan faedah dan kita juga akan mendapatkan pahala.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke