Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Mengirimkan Pahala Bacaan Al-Qur’an Untuknya

Walaupun ada sebagian umat muslim enggan membacakan Al-Qur’an, dzikir, dan doa bagi mayit dengan alasan bahwa hal itu sia-sia. Namun fakta terdapat dalil yang tidak bisa ditolak bahwa membaca Al-Qur’an dengan niat pahalanya dikirim pada arwah mayit itu dibenarkan oleh Nabi, dan bahkan bisa memberikan faedah bagi pelaku dan mayitnya.

Sebagaimana bacaan surat Al-Baqarah dan surat Yasin yang mana keduanya masih merupakan bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai pengampun dosa ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Al-Baqarah adalah Al-Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al-Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya (Al-Baqarah dan Yasin), sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan diampuni. Bacakanlah surat tersebut (Al-Baqarah dan Yasin) terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (Hadits Ahmad Nomor 19415)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah untuk meringankan beban ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا

“mereka [beberapa orang syaikh]menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu dibacakan di sisi mayit, maka akan diringankannya.” (Hadits Ahmad Nomor 16355)

Surat Yasin juga masih bagian dari Al-Qur’an yang diperintahkan untuk dibacakan bagi orang yang sudah mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ الْعَلَاءِ

“Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang sudah mati diantara kalian.” Dan ini adalah lafazh Ibnu Al ‘Ala`. (Hadits Abu Daud Nomor 2714 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1438)

Sunnah dan faedah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada mayit juga ditunjukkan oleh sebuah riwayat hadits berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan Al-Qur’an (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut,

فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)

“Hadits Riwayat al-Thabrani dengan sanad yang hasan” (Fath al-Bari III/184)

Surat Al-Mulk juga masih bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai penghalang siksa kubur bagi yang sudah meninggal ketika dibacakan bagi orang yang sudah mati dan dibaca dipemakaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ضَرَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِبَاءَهُ عَلَى قَبْرٍ وَهُوَ لَا يَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ حَتَّى خَتَمَهَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ضَرَبْتُ خِبَائِي عَلَى قَبْرٍ وَأَنَا لَا أَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الْمُلْكِ حَتَّى خَتَمَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat kemah di atas pemakaman, ternyata ia tidak mengira jika berada di pemakaman, tiba-tiba ada seseorang membaca surat TABAARAKAL LADZII BIYADIHIL MULKU (Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan) “. sampai selesai, kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah sesungguhnya, aku membuat kemahku di atas kuburan dan saya tidak mengira jika tempat tersebut adalah kuburan, kemudian ada seseorang membaca surat TABARAK (surat) Al Mulk sampai selesai, ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2815)

Seseorang akan dimudahkan masuk surga sebab kiriman pahala dari bacaan-bacaan Al-Qur’an dari anak dan sanak keluarganya yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab(Al-Qur’an)Ku.” (Hadits Darimi Nomor 3235)

Sudah sangat jelas, berdasarkan hadits di atas, kiriman pahala bacaan Al-Qur’an dari mereka yang masih hidup terutama seorang anak dapat memuliakan orang tuanya di Akhirat. Dengan begitu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan niat pahalanya diberikan pada arwah mereka yang sudah meninggal hukumnya sunnah dan sangat bermanfaat bagi mayit.

Baca Juga:

Hukum Kirim Pahala Bacaan Al-Qur’an untuk Arwah Orang Mati

Hukum Menghadiahkan Al-Fatihah Kepada Mayit

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke