Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Memuliakan Teman-temannya

Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia agar lebih mulia dan bermartabat. Kemuliaan seseorang juga disebabkan karena mau memuliakan orang lain, terutama teman, sahabat, dan orang-orang terdekatnya. Esensi memuliakan orang lain di antaranya memenuhi hak-hak mereka, sebab ada hak orang lain dalam diri kita.

Dalam hal memuliakan orang lain ternyata tidak hanya berlaku bagi teman dan relasi kita sendiri. Namun Islam memerintahkan seorang anak tetap memuliakan teman-teman, sahabat, orang-orang terdekat, dan relasi yang dimiliki orang tua semasa hidupnya.

Sebab, tergolong berbakti kepada orang tua yang bernilai pahala adalah tetap memuliakan teman-teman keduanya; termasuk kawan karibnya, rekan kerjanya, kerabatnya keduanya. Seorang anak-anak menghormati dan memuliakan mereka, di antaranya dengan berkata sopan dan baik kepada mereka, menjenguk saat mereka sakit, membantu saat kesusahan, member hadiah, dan semisalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَدْرِيًّا وَكَانَ مَوْلَاهُمْ قَالَ قَالَ أَبُو أُسَيْدٍ بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ قَالَ نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا

“dari [Abu Usaid], sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, Ahli Badar, dan dia termasuk maula mereka, berkata; Abu Usaid berkata; Ketika aku duduk di samping Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba seorang laki-laki Anshar datang dan berkata; Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam apakah masih tersisa kewajiban atasku untuk berbuat baik kepada orang tuaku setelah kematian mereka berdua?. Beliau menjawab ‘Ya’, masih tersisa empat perkara yaitu: mendoakan untuk mereka berdua, meminta ampunan mereka, memenuhi janji mereka yang belum terselesaikan dan memuliakan teman-teman mereka serta silaturrahim yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kamu kecuali dari jalur mereka. Itulah semua yang tersisa dari kewajibanmu untuk berbuat kebaikan kepada orang tuamu setelah mereka meninggal ” (Hadits Ahmad Nomor 15479)

Salah satu alasan kenapa kita tetap berkewajiban memuliakan tetam-teman yang dimiliki orang tua kita adalah seringkali seseorang sukses dan mulia semasa hidupnya berkat bantuan, dukungan, sokongan dari teman-temannya. Seringkali ketika seseorang jatuh dalam hidupnya bisa bangkit kembali berkat bantuan dari teman-temannya. Dan seringkali kebahagiaan hidup orang tua kita berkat didampingi dan mendapat hiburan dari teman-temannya. Susah senang kedua orang tua kita dihabiskan bersama teman-teman dan sahabatnya. Sedangkan kesuksesan dan kemuliaan orang tua manfaatnya dirasakan oleh anak-anaknya. Itulah jasa kebaikan teman-teman orang tua kita yang wajib kita balas dengan memuliakan sepeninggal kedua orang tua kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barang siapa yang diperlakukan dengan baik kemudian dia mengucapkan, ‘JAZAAKALLAAHU KHAIRAN’ maka sungguh dia telah memberikan pujian yang terbaik.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1958)

Jadi dengan demikian kesuksesan seorang anak hasil jerih payah dari orang tua, sedangkan kemuliaan orang tua berkat dukungan dari teman-temannya. Jadi tidak salah manakala Islam sebagai sebuah agama tetap memperhatikan perkara ini dengan mewajibkan anak-anaknya tetap memuliakan teman-teman dan sahabat dari kedua orang tuanya. Muliakanlah teman-teman orang tua kita sebagai bentuk ungkapan rasa terima kasih kita kepada mereka yang telah mendukung kemuliaan kedua orang tua kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak akan bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (Hadits Ahmad Nomor 20845 dan Hadits Tirmidzi Nomor 1877)

Dengan berterima kasih kita kepada teman-teman orang tua kita berarti kita telah mensyukuri kenikmatan dan kemuliaan hidup yang telah kita miliki berkat kedua orang tua kita. Selama kita memuliakan teman-teman kedua orang tua kita maka kita akan mendapat pahala dari bentuk bakti kita. Selama kita berbakti kepada orang tua kita walaupun mereka sudah meninggal, niscaya apa yang kita lakukan akan menjadi sumber pahala yang terus mengalir kepada kedua orang tua kita.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke