Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Membayarkan Hutangnya

Kata hutang dalam kamus bahasa Indonesia mempunyai arti harta yang dipinjamkan dari orang lain. Hukum hutang bersifat fleksibel tergantung situasi kondisi dan toleransi. Hutang hukumnya boleh bila dalam keadaan normal. Menjadi haram jika untuk dibelanjakan pada perkara keburukan. Dan menjadi wajib jika memberikan kepada orang yang sangat membutuhkan seperti seseorang dalam keadaan sakit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Surat Al-Ma’idah Ayat 2)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ

“Ada seorang laki-laki yang suka menghutangi orang-orang, lalu dia berkata kepada pelayannya, ‘Jika seorang yang kesusahan datang kepadamu, maka berilah kemudahan kepadanya, semoga Allah memberi kemudahan kepada kita.’ Kemudian dia bertemu dengan Allah (meninggal), maka Allah pun memberi kemudahan kepadanya.” (Hadits Muslim Nomor 2922)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَسْلَفَ سَلَفًا فَلْيُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Barang siapa yang memberikan hutang maka hendaknya ia menghutangi pada takaran yang diketahui, timbangan yang diketahui hingga jangka yang diketahui.” (Hadits Nasai Nomor 4537)

Disebabkan kebutuhan manusia yang tidak dapat diprediksi, terkadang manusia tidak dapat mengelak untuk tidak berhutang. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa hukum berhutang jaiz (boleh) dalam Islam, namun mengembalikan hukumnya wajib. Agar tidak menjadi beban kelak di akhirat maka, perkara ini wajib dilaksanakan sesuai dengan syari’at Islam. Tidak boleh ada unsur-unsur keharaman seperti unsur kerugian, unsur tipuan, unsur kedustaan, dan yang juga penting adalah unsur riba.

Baca Juga:

Ruh Seseorang Tertahan Hingga Hutang Dilunasi

Hukum Kirim Pahala dan Menanggung Dosa Orang Lain yang Sudah Meninggal (Kupas Tuntas)

Namun dalam situasi tertentu seseorang terkadang tidak mampu membayar hutang hingga meninggal dunia. Agama menghukumi hutang semasa hidup yang belum terlunasi tetap wajib dibayar, maka konsekwensinya akan ditanggung hingga ke akhirat. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda;

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ مَا كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ

“Jiwa seorang mukmin akan senantiasa tertahan selama ia memiliki hutang.” (Hadits Darimi Nomor 2478)

Ada dua jenis hutang yang wajib dibayarkan oleh ahli warisnya. Di antaranya;

Hutang materiel

Hutang materiel adalah jenis hutang yang bersifat harta benda yang bersifat adami. Lalu bagaimana hukum seseorang yang terburu meninggal namun belum sempat melunasi hutangnya? Dalam hal ini agama menetapkan bahwa hutang tersebut menjadi tanggungan ahli warisnya. Kewajiban anak-anaknya membayar hutang orang tuanya tersebut tentunya tidak berlaku mutlak, melainkan dengan catatan selama orang tuanya meninggalkan warisannya dan atau anaknya dianggap mampu membayar hutang kedua orang tuanya dari hasil kerjanya sendiri. Ketetapan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجَّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ فَقَالَ اقْضُوا اللَّهَ الَّذِي لَهُ فَإِنَّ اللَّهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

“dari [Ibn Abbas], bahwa seorang wanita menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Ibuku bernadzar untuk haji, hanya terburu meninggal dunia, bolehkah aku menggantikan hajinya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Silahkan, berhajilah engkau untuk menggantikannya, bukankah engkau sependapat sekiranya ibumu mempunyai hutang, bukankah engkau yang melunasi?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Lantas Nabi berkata: “Penuhilah hutang Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dilunasi hutangnya.” (Hadits Bukhari Nomor 6771)

Pada hadits di atas terdapat dua jenis hutang yang diwajibkan agama untuk melunasinya. Pertama hutang yang bersifat moril, yakni hutang ibadah Haji. Kedua hutang yang bersifat materiel, yakni hutang harta. Dalam Hadits tersebut kedua-duanya wajib dilunasi oleh ahli warisnya.

Namun begitu, karena terkait dengan hutang adami ini sangat besar. Di mana menyebabkan ruh seseorang yang berhutang akan terkatung-katung di akhiratnya. Maka agama membenarkan manakala ada orang lain sudi untuk menanggung hutangnya agar beban orang yang sudah meninggal menjadi ringan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

عَنْ سَعْدِ بْنِ الْأَطْوَلِ أَنَّ أَخَاهُ مَاتَ وَتَرَكَ ثَلَاثَ مِائَةِ دِرْهَمٍ وَتَرَكَ عِيَالًا فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْفِقَهَا عَلَى عِيَالِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَخَاكَ مُحْتَبَسٌ بِدَيْنِهِ فَاقْضِ عَنْهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ أَدَّيْتُ عَنْهُ إِلَّا دِينَارَيْنِ ادَّعَتْهُمَا امْرَأَةٌ وَلَيْسَ لَهَا بَيِّنَةٌ قَالَ فَأَعْطِهَا فَإِنَّهَا مُحِقَّةٌ

“dari [Sa’d bin Athwal] bahwa saudaranya wafat dengan meninggalkan tiga ratus dirham dan keluarga (anak dan isteri), lalu aku ingin mensedekahkannya kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya saudaramu tertahan karena hutangnya, maka bayarlah hutangnya.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melunasinya, kecuali dua dinar yang diklaim oleh seorang wanita sementara ia tidak mempunyai bukti! ” beliau bersabda: “Berikanlah kepada wanita itu, karena ia berhak.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2424)

Begitu besar persoalan hutang yang tidak terbayar. Sampai-sampai Nabi enggan menshalati seseorang yang masih puya hutang. Maka hendaklah kaum muslimin yang merasa mampu menanggung hutang orang lain akan menjadi mulia di hadapan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُصَلِّي عَلَى رَجُلٍ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَأُتِيَ بِمَيْتٍ فَسَأَلَ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا نَعَمْ عَلَيْهِ دِينَارَانِ قَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ قَالَ أَبُو قَتَادَةَ هُمَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَصَلَّى عَلَيْهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menshalati jenazah yang memiliki utang lalu didatangkan kepada beliau seorang yang telah meninggal, beliau bertanya; “Apakah ia masih memiliki utang?” mereka menjawab, “ya, ia memiliki utang dua dinar.” Beliau bersabda: “Shalatilah sahabat kalian.” Abu Qatadah berkata; “Dua dinar itu menjadi tanggunganku wahai Rasulullah!” lalu beliau menshalatinya.” (Hadits Nasai Nomor 1936)

Hukum boleh membayar hutang oleh orang lain diperkuat dengan dalil dari hadits berikut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

” Bagaimana pendapatmnu jika ibumu mempunyai hutang, apakah kamu wajib membayarkannya?. Bayarlah hutang kepada Allah karena (hutang) kepada Allah lebih patut untuk dibayar”. (Hadits Bukhari Nomor 1720, Hadits Nasai Nomor 2585, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 2900)

Hutang moril

Hutang moril seperti ibadah yang bersifat badaniyah juga boleh ditanggung oleh orang lain. Haji masih termasuk ibadah badaniyah yang juga boleh dilaksanakan untuk membayar hutan dari orang tuanya. Sehingga boleh melaksanakan ibadah haji dengan niat pahalanya dikirimkan kepada orang lain. Baik mereka yang masih hidup maupun mereka yang sudah meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ

“dari [Ibnu Abbas], ia berkata; ada seorang laki-laki yang berkata; “Wahai Rasulullah, ayahku meninggal dan ia belum melakukan haji, apakah saya boleh melakukan haji untuknya? Beliau bersabda: “Bagaimana pendapatmu apabila ayahmu memiliki hutang, apakah engkau membayarnya?” Orang tersebut berkata; “Iya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka hutang kepada Allah lebih berhak.” (Hadits Nasai Nomor 2591)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ

“Perempuan itu berkata, “Wahai Rasulullah! Kewajiban untuk menunaikan haji terpikul atas bapakku yang sudah tua renta. Ia tidak lagi sanggup duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku menggantikannya?” beliau menjawab: “Boleh.” Dan hal itu terjadi pada saat haji wada’. (Hadits Muslim Nomor 2375 dan Hadits Muslim Nomor 2376)

Sangat jelas bahwa walaupun haji merupakan ibadah bersifat badaniyah, namun pahalanya dapat dikirim pada orang yang sudah meninggal.

Masih sama dengan hukum mewakilkan dan mempersembahkan ibadah haji adalah ibadah umrah. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلَا الْعُمْرَةَ وَلَا الظَّعْنَ قَالَ حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ

“dari [Abu Razin Al ‘Uqaili], bahwa ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku sudah tua renta, ia sudah tidak mampu melaksanakan haji, umrah maupun berpergian.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kerjakan haji untuk bapakmu, dan berumrahlah kamu.’ (Hadits Ibnu Majah Nomor 2897, Hadits Ahmad Nomor 15595, dan Hadits Tirmidzi Nomor 852)

Begitu juga hakikat nadzar adalah hutang yang harus dilaksanakan. Bila nadzar dari kedua orang tua belum terlaksanakan hingga wafatnyaa, maka wajib hukumnya ahli waris untuk melaksanakan hutang nadzarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?”. Beliau menjawab: “Tunaikanlah haji untuknya.” (Hadits Bukhari Nomor 1720, Hadits Nasai Nomor 2585, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 2900)

Lunasilah hutang-hutang kedua orang tua kita yang sudah meninggal dunia. Sebab dengan melunasi hutang kedua orang tua kita, maka akan menjadi ladang pahala kita. Di samping beban orang tua kita ringan, ruhnya selamat tidak terkatung-katung di akhirat. Dan apa yang dilakukan kita akan dicatat sebagai amal bakti kita kepadanya. Semoga Allah menghindarkan kita dan kedua orang tua kita dari lilitan hutang. Dan semoga Allah memberikan kekuatan kita untuk menanggung beban dengan melunasi kedua orang tua yang sangat kita cintai. Amin.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke